Kini...
putra Toan Wie Kie dan putri Lam Kiong Soat Lan sudah berada di Tionggoan" Lim Peng Hang memberitahukan.
"Mereka sedang melakukan penyelidikan terhadap Seng Hwee Kauw." "Apa?" Terbelalak mata It Hian Tojin.
"Kalau begitu, mereka berdua pasti dalam bahaya?" "Karena itu, kami akan menyuruh beberapa anggota Kay Pang pergi mencari mereka," ujar Lim Peng Hang.
It Hian Tojin manggut-manggut.
"Lim Pangcu, kapan engkau akan berangkat ke pulau Hong Hoang To?" "Belum pasti!" Lim Peng Hang menggeleng kepala.
"Setahuku, pihak Hong Hoang To sudah tidak mau mencampuri urusan rimba persilatan." "Omitohud!" Hui Khong Taysu menghela nafas.
"Kini rimba persilatan dalam keadaan begitu gaw?t, bagaimana mungkin mereka diam saja?" "Mungkin Taysu dan Tojin belum tahu, dua tahun lalu Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin telah dibunuh orang." "Omitohud...." Bukan main terkejutnya Hui Khong Taysu dan It Hian Tojin.
"Siapa yang membunuh mereka?" "Kemungkinan besar Seng Hwee Kauw." Lim Peng Hang memberitahukan.
"Karena Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin mati dengan badanm hangus." "Hangus?" It Hian Tojin tersentak "Mereka dibakar"!" "Bukan." Lim Peng Hang menggeleng kepala.
"Terkena semacam pukulan yang mengandung api." "Omitohud..." Hui Khong Taysu menghela nafas panjang.
"Sungguh mengenaskan kematian mereka!
Omitohud." "Kini muncul Seng Hwee Kauw, maka kami menduga pembunuh mereka adalah ketua Seng Hwee Kauw itu," ujar Gouw Han Tiong dan menambahkan.
"Karena itulah Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan pergi menyelidiki Seng Hwee Kauw itu." "Aaaah!" It Hian Tojin menghela nafas panjang.
"Rimba persilatan tidak pernah aman dan tenang, kelihatannya Tio Cie Hiong harus muncul lagi di rimba persilatan." "Dia dan anakku telah bersumpah tidak akan mencampuri urusan rimba persilatan lagi!" tukas Lim Peng Hang memberitahukan.
"Tapi Bun Yang cucuku telah mengembara dalam rimba persilatan." "Bagaimana kepandaiannya?" tanya It Hian Tojin.
"Mungkin sudah menyamai kepandaian ayahnya!" sahut Lim Peng Hang.
"Menurut aku, kemungkinan besar dia akan mewakili ayahnya untuk menyelamatkan rimba persitatan." "Omitohud!" ucap Hui Khong Taysu.
"Mudah-mudahan!
Kalau tidak, kaum rimba persilatan golongan putih pasti celaka semua." "Lalu apa langkah kita, Taysu7" tanya Lim Peng Hang.
"Omitohud!
Alangkah baiknya Lim Pangcu pergi ke pulau Hong Hoang To untuk memberitahukan tentang kejadian ini.
Mereka mau campur atau tidak, itu tergantung pada kebijaksanaan mereka.
Lagi pula Sam Gan Sin Kay harus mengetahui tentang kejadian ini!" Lim Peng Hang mengangguk "Tapi ayahku sudah tua, aku menghendakinya hidup tenang di pulau itu!" "Tapi ada Tio Cie Hiong yang masih muda.
Seandainya dia tidak mau mencampuri urusan ini, kita tidak bisa bilang apaapa," ujar It Hian Tojin.
"Mungkin sudah menjadi nasib rimba persilatan?" "Belum tentu," sela Gouw Han Tiong.
"Sebab anak Tio Cie Hiong juga berkepandaian tinggi, tent?nya dia tidak akan lepas tangan." "Kalau begitu, harus segera cari anak Tio Cie Hiong itu," usul It Hian Tojin.
"Aku yakin diapUn sudah tahu, kemungkinan besar dia akan ke mari," sahut Lim Peng Hang.
"Dia pasti minta petunjukku." "Aaaakh...!" keluh It Hian Tojin.
"Kita semua sudah tua, tapi kapan akan bisa hidup tenang?" "Omitohud!" ucap Hui Khong Taysu.
"Mungkin sudah merupakan takdir" -oo0dw0oo- Sementara itu, Toan Beng Kiat, Lam Kiong Soat Lan, Kam Hay Thian, Lu Hui San, Siang Koan Goat Nio, dan Lie Ai Ling terus melanjutkan perjalanan menuju ke markas pusat Kay Pang.
Hari ini mereka beristirahat di sebuah rimba.
Siang Koan Goat Nio duduk seorang diri di bawah pohon.
Tak lama muncul Kam Hay Thian mendekatinya, lalu duduk di sisinya.
"Maaf, aku duduk di sini," ucap Kam Hay Thian.
"Tidak apa-apa," sahut Siang Koan Goat Nio sambil tersenyum.
"Duduk saja!" "Goat Nio!" Kam Hay Thian memandangnya.
"Sejak kita berkenalan, kenapa engkau tidak pernah bercakap-cakap dengan aku?" "Engkau harus tahu." Siang Koan Goat Nio tersenyum lagi.
"Sifatku agak pendiam, jadi jarang bercakap-cakap dengan siapa pun." "Aaah..." Kam Hay Thian menghela nafas.
"Mungkinkah karena menganggapku sangat sadis, maka tidak mau bercakap-cakap deng?n aku?" "Aku tidak beranggapan begitu terhadapmu," kilah Siang Koan Goat Nio.
"Kita semua teman baik.
Jadi, alangkah baiknya jangan ada kesalah-pahaman diantara kita." "Goat Nio..." Kam Hay Thian ingin mengatakan sesuatu, namun tersangkut di tenggorokan sehingga tak dapat dikeluarkannya.
Sedangkan Siang Koan Goat Nio terdiam.
Kelihatannya gadis itu sudah tahu apa yang akan dikat?kan Kam Hay Thian.
Sementara Lam Kiong Soat Lan terus mencari Kam Hay Thian.
Begitu pula Lu Hui San.
Akhirnya mereka melihat Kam Hay Thian duduk di sisi Siang Koan Goat Nio.
Kedua gadis itu saling memandang, wajahnya tampak muram.
Lalu melangkah pergi.
Kebetulan berpapasan dengan Toan Beng Kiat, begitu melihat Lu Hui San, wajah pemuda itu langsung berseri.
"Hui San...!" "Beng Kiat!" Lu Hui San berusaha senyum, sedangkan Lam Kiong Soat Lan terus berjalan pergi dengan kepala tertu?duk.
"Eeeh?"gumam Toan Beng Kiat.
"Kenapa dia" Kok wajahnya tampak muram?" "Dia melihat Kam Hay Thian duduk di sisi Siang Koan Goat Nio," ujar Lu Hui San memberitahukan.
"Apakah dia jatuh hati pada Kam Hay Thian" tanya Toan Beng Kiat.
"Mungkin!" Lu Hui San mengangguk dan menghela nafas panjang.
"Lho" Kenapa engkau2 Kok mendadak menghela nafas panjang?" "Aku khawatir...." cetus Lu Hui San sambil duduk.
"...
akan terjadi bad?i asmara di antara kita." "Badai asmara?" "Ya!" Lu Hui San mengangguk.
"Lam Kiong Soat Lan jatuh hati pada Kam Hay Thian, sedangkan pemuda itu malah jatuh hati pada Siang Koan Goat Nio." "Bagaimana tanggapan Goat Nio?"" tanya Toan Beng Kiat cepat.
"Entahlah!" Lui Hui San menggeleng kepala.
"Goat Nio sama sekali tidak memperlihatkan tanggapan apapun, tetap bersikap biasa dan tenang saja." "Aduuuh!
Bagaimana itu?" Toan Beng Kiat mengerutkan kening.
"Masih ada Lie Ai Ling, gadis itu entah jatuh hati pada siapa?" tukas Lui Hui San.
"Seandainya dia jatuh hati padamu, itu tidak akan jadi masalah.
Tapi kalau dia juga jatuh hati pada Kam Hay Thian, bukankah akan menimbulkan masalah?" "Tapi, aku tidak tertarik pada Ai Ling!" sahut Toan Beng Kiat.
"Aku...
aku tertarik...." "Aku tahu," potong Lu Hui San cepat.
"Tapi aku belum memikirkan itu, engkau harus maklum." "Aku mengerti!" Toan Beng Kiat tersenyum.
"Yang penting engkau sudah tahu perasaanku." Gadis itu hanya tersenyum, lalu menggeleng-gelengkan kepala.
Sementara Lam Kiong Soat Lan terus berjalan dengan kepala tertunduk, kemudian duduk di bawah sebuah pohon sambil melamun dengan wajah muram sekali.
Di saat itulah muncul Lie Ai Ling mendekatinya, kemudian memandangnya sambil duduk di sisinya.
"Soat Lan!
Kenapa engkau duduk melamun di sini?" "Aku...." Lam Kiong Soat Lan agak tergagap ditanya demikian, "Aku tidak melamun." "Tidak melamun" Lie Ai Ling menggeleng-gelengkan kepala.
"Jangan membohongiku, itu tidak baik lho!" "Aku tidak membohongimu" "Soat Lan, aku tahu" "Tahu apa?" "Engkau sangat tertarik kepada Kam Hay Thian, namun pemuda itu tidak begitu menaruh perhatian kepadamu, bahkan mendekati Siang Koan Goat Nio." "Ai Ling!
Engkau...." "Semua itu tidak terlepas dan mataku," Lie Ai Ling menghela nafas panjang dan melanjutkan.
"Kelihatannya Lu Hui San pun tertarik kepada Kam Hay Thian, itu cukup mencemaskanku" "Ai Ling...." Lam Kiong Soat Lan memandangnya.
"Kita semua adalah kawan baik yang harus bersatu dan bahu-membahu.
Jangan dikarenakan urusan ini kita menjadi terpecah belah," ujar Lie Ai Ling sungguh-sungguh.
"Aku tahu itu...." Lam Kiong Soat Lan tersenyum "Kita semua tidak akan terpecah belah, percayalah!" "Syukurlah kalau begitu!" Lie Ai Ling manggut-manggut "Kita semua pun harus ingat akan satu hal." "Hal apa?" "Cinta tidak bisa dipaksa dan tidak boleh sepihak, sebab itu akan menimbulkan penderitaan." "Heran?" ujar Lain Kiong Soat Lan seakan bergumam.
"Engkau bersifat periang dan lincah, tapi Justru berpikiran begitu jauh dan cermat" "Kakak Bun Yang selalu menasihatiku," Lie Ai Ling memberitahukan sambil tersenyum "Aku sangat menghormatinya, sebab dia adalah pemuda yang sangat baik." "Maksudmu anak Paman Cie Hiong?" "Betul" Lie Ai Ling mengangguk dan menambahkan.
"Terus terang, di?
dan Siang Koan Goat Nio merupakan pasangan yang serasi." "Mereka berdua sudah bertemu?" "Belum" "Kalau belum, dari mana engkau tahu bahwa mereka berdua merupakan pasangan yang serasi?" "Kakak Bun Yang sangat baik, penuh pengertian dan berperasaan halus, juga berhati bajik.
Sedangkan Siang Koan Goat Nio lemah lembut, cantik manis dan berpengertian pula.
Oleh karena itu, ak?
yakin bahwa mereka berdua merupakan pasangan yang serasi." "Ooooh!" Lam Kiong Soat Lan manggut-manggut dan berkata.
"Engkau besar bersama dia, kenapa engkau tidak mencintainya?" "Aku sangat mencintainya, tapi itu merupakan cinta terhadap seorang kakak, bukan terhadap seorang kekasih." Lie Ai Ling tersenyum.
"Lagi pula aku tahu diri, maka tidak berani memikirkan itu.
Apabila aku berpikir begitu, tentu akan membuat diriku menderita sekali." "Ai Ling!" Lam Kiong Soat Lan menatapnya kagum, "Engkau sungguh luar biasa sekali?" "Tidak juga," Lie Ai Ling tersenyum dan menambahkan.
"Kalau kita tahu itu akan membuat kita menderita, kenapa masih mau memikirkannya, bukan?" "Betul, betul." Lam Kiong Soat Lan tersenyum.
"Terimakasih atas petunjukmu yang sangat berharga ini!" "Seharusnya engkau berterimakasih kepada kakak Bun Yang, sebab dia sering memberi pengertian kepadaku." "Oooh!" Lam Kiong Soat Lan manggut~manggut, walau ?a tidak pernah bertemu Tio Bun Yang, tapi ta telah merasa kagum kepadanya dalam hati -oo0dw0oo- Mereka berenam melanjutkan perjalanan lagi menuju markas pusat Kay Pang.
Namun terjadi keanehan pada mereka, sebab masing-masing membungkam, kecuali Lie Ai Ling, yang masih tampak riang gembira.
"Hei!" serunya sambil tertawa-tawa.
"Kenapa kalian berempat berubah menjadi bisu" Jangan begitu ah!
Tidak enak nih!" "Ai Ling!" Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala.
"Kenapa aku" Semula kita melakukan perjalanan sambil mengobrol, tapi kini kalian berempat berubah menjadi bisu.
Tidak baik begitu, sebab kita semua adalah kawan baik yang harus bersatu.
Ada apa-apa jangan disimpan dalam hati, sebab akan membuat kita terpecah belah." "Ha-ha!" Toan Beng Kiat tertawa.
"Tidak ada apa-apa di antara kami berempat.