Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 59

Memuat...

"Ketua Seng Hwee Kauw itu pun membunuh kakek tuaku." Toan Beng Kiat memberitahukan.

"Maksudmu Tui Hun Lojin?" tanya Lie Ai Ling.

"Ya!" Toan Beng Kiat mengangguk.

"Nenekku pun dibunuhnya." Lam Kiong Soat Lan memberitahukan.

"Maka kami semua ingin membunuh Seng Hwee Sin Kun itu!" "Seng Hwee Sin Kun?" Lie Ai Ling tertegun.

"Siapa dia?" "Ketua Seng Hwee Kauw," sahut Lam Kiong Soat Lan.

"Kalau begitu, kami harus membantu," ujar Lie Ai Ling sungguh-sungguh.

"Goat Nio juga pasti mau membantu" "Terima kasih," ucap Toan Beng Kiat.

"Kalau begitu, mari kita menyerbu ke markas Seng Hwee Kauw!" ujar Kam Hay Thian mendadak.

"Kita sudah tahu di mana markas itu." "Kita memang sudah tahu markas Seng Hwee Kauw, tapi kita tidak boleh langsung menyerbu ke sana." ujar Toan Beng Kiat.

"Kenapa?" Kam Hay Thian mengerutkan kening.

"Bukankah tadi orang itu memberitahukan bahwa di sana terdapat jebakan" Lagipula kita kurang pengalaman.

Lebih baik kita berunding dulu dengan kakekku dan kakek Lim," usul Toan Beng Kiat dan menambahkan.

"Kita tidak boleh bertindak ceroboh!" Kening Kam Hay Thian terus berkerut, seperti hendak berkata tapi diurungkan.

"Memang lebih baik berunding dulu dengan kedua kakek itu.

Sebab, mereka sangat berpengalaman," ujar Siang Koan Goat Nio.

"Kita tidak boleh bertindak semau kita, terlalu berbahaya!" Kam Hay Thian mengangguk sambil memandang Siang Koan Goat Nio "Aku menuruti pendapatmu." Lam Kiong Soat Lan dan Lui Hui San saling memandang, sedangkan Toan Beng Kiat tampak melongo.

"Eeeh?" Terheran-heran Lie Ai Ling sambil memandang mereka.

"Kenapa kalian jadi begitu, persis seperti orang bloon?" Toan Beng Kiat tersenyum.

"Ucapan Hay Thian tadi...." "Kenapa ucapannya?" "Katanya dia menuruti pendapat Goat Nio!" Toan Beng Kiat memberitahukan.

"Itu yang mengejutkan kami." "Kenapa harus terkejut" Pendapat yang benar memang harus dituruti, jadi tidak usah terkejut!" sahut Ai Ling keheranan.

Sementara wajah Kam Hay Thian telah kemerah-merahan, tadi dia mengucapkan kata-kata tanpa disadari.

Sedangkan Siang Koan Goat Nio cuma bersikap biasa-biasa saja.

Semua percakapan Itu bagaikan angin lalu baginya.

"Ayoh!" ajak Lam Kiong Soat Lan mendadak.

"Mari kita berangkat ke markas pusat Kay Pang!" Yang lain mengangguk, mereka lalu berangkat menuju ke markas pusat Kay Pang.

-oo0dw0oo- Di ruang tengah di dalam markas Seng Hwee Kauw, tampak Seng Hwee Sin Kun, Leng Bin Hoatsu, Pek Bin Kui, Pat Pie Lo Koay, Tok Chiu Ong, dan Hek Sim Popo dengan wajah serius.

Kelihatannya mereka sedang merundingkan sesuatu.

"Kita semua telah menerima laporan itu, bahwa telah muncul Chu Ok Hiap dan lainnya membunuh para anggota kita.

Maka aku ingin bertanya, bagaimana menurut kalian?" Seng Hwee Sin Kun bertanya kepada mereka.

"Tentunya kita harus membunuh mereka," sahut Hek Sim Popo.

"Benar!" sambung Tok Chiu Ong.

"Kita harus membunuh mereka, sebab telah membunuh puluhan anggota kita." "Ngmm!" Seng Hwee Sin Kun manggut-manggut.

"Sebetulnya sasaranku adalah orang tua mereka." "Kalau begitu," ujar Pat Pie Lo Koay mengemukakan pendapatnya.

"Kita tidak perlu membunuh mereka.

Kita buat mereka terluka agar orangtua mereka muncul!

Bagaimana menurut Kauwcu?" "Aku setuju," sahut Seng Hwee Sin Kun manggut-manggut, kemudian memandang Pek Bin Kui.

"Bagaimana menurutmu?" "Apa yang dikatakan Pat Pie Lo Koay memang bisa diterima," sahut Pek Bin Kui sambil tersenyum.

"Kita melukai mereka dengan tujuan memancing orangtua mereka keluar.

Setelah itu kita membunuh orangtua mereka!" "Benar!" Seng Hwee Sin Kun tertawa gelak.

"Itu tujuan utama kita." "Tapi " ujar Pek Bin Kui untuk melukai mereka, tentunya tidak bisa mengandalkan pada para anggota kita.

Kepandaian mereka masih terlalu rendah.

Oleh karena itu, kita harus memilih beberapa anggota berkepandaian cukup tinggi, ditambah dua orang di antara kita, barulah bisa melukai mereka!" "Ngmmm!" Seng Hwee Sin Kun manggut-manggut "Kalau begitu, siapa di antara kalian bersedia melakukan pekerjaan ini?" "Aku!" sabut Pat Pie Lo Koay.

"Aku!." sahut Tok Chiu Ong kemudian "Kami berdua bersedia!" "Bagus!

Kalau begitu, tugas kuserahkan pada kali?n berdua," ujar Seng Hwee Sin Kun.

"Ya Kauwcu," sahut Pat Pie Lo Koay dan Tok Chiu Ong.

"Pek Bin Kui!" Seng Hwee Sin Kun menatapnya "Engkau masih punya rencana lain?" "Ada, Kauwcu!" Pek Bin Kui mengangguk.

"Apa rencanamu?" "Begini," sahut Pek Bin Kui.

"Seng Hwee Kauw harus mulai membuat kejutan dalam rimba persilatan.

Maksudku Seng Hwee Kauw harus mulai membunuh para anggota Kay Pang, para murid Siauw Lim Pay dan Butong Pay!" "Ngmrnm!" Seng Hwee Sin Kun manggut-manggut.

"Benar.

Sebab Kay Pang, Siauw Lim Pay dan Butong Pay sangat kuat bagi rimba persilatan.

Kalau Seng Hwee Kauw ingin menguasai rimba persilatan, terlebih dahulu harus turun tangan terhadap Kay Pang, Siauw Lim Pay, dan Butong Pay!" "Kalau begitu..." ujar Leng Bin Hoatsu.

"Kita harus pilih anggota-anggota yang handal untuk membantai para anggota Kay Pang, para murid Siauw Lim Pay, dan para murid Butong Pay!" "Tugas tersebut kuserahkan padamu!" ujar Seng Hwee Sin Kun.

"Ya, Kauwcu?" Leng Bin Hoatsu mengangguk.

"Oh ya!" ujar Pek Bin Kui mendadak.

"Hiat Ih Hwe cukup kuat dalam rimba persilatan, kelihatannya Hiat Ih Hwe agak sehaluan dengan kita.

Alangkah baiknya kita bekerja sama dengan mereka!" "Gagasan bagus!" Seng Hwee Sin Kun tertawa.

"Kalian tahu siapa ketua Hiat Ih Hwe itu?" "Tahu!" sahut Tok Chiu Ong.

"Ketua Hiat Ih Hwe adalah Lu Kong Kong." "Apa?" Terbelalak mata Seng Hwee Sin Kun.

"Betulkah Lu Thay Kam ketua Hiat Ih Hwe?" "Betul!" Tok Chiu Ong mengangguk.

"Kalau begitu, kita harus ajak Hiat Ih Hwe bekerjasama," ujar Seng Hwee Sin Kun dan menambahkan.

"Sebab keuangan kita terbatas.

Apabila bekerjasama dengan pihak Hiat Ih Hwe, berarti Lu may Kam akan membantu kita dalam hal keuangan, sementara kita akan membantunya membunuh para menteri dan jenderal yang berani menentangnya." "Betul!" Leng Bin Hoatsu manggut-manggut.

"Kita harus cari kesempatan untuk mengadakan hubungan dengan pihak Hiat Ih Hwe." "Baik!" Seng Hwee Sin Kun manggut-manggut.

"Tugas ini kuserahkan padamu!" "Ya, Kauwcu!" Leng Bin Hoatsu mengangguk.

"Aku akan mengatur semua itu." "Hmm!" Mendadak Seng Hwee Sin Kun mendengus dingin.

"Bu Lim Sam Mo tidak berhasil membunuh Tio Cie Hiong, namun aku harus berhasil membunuhnya.

Bahkan juga harus membunuh orang-orang yang punya hubungan dengan dia!

Ha ha ha...!" -oo0dw0oo- Bagian 24 Rimba Persilatan mulai dilanda banjir darah Betapa gusarnya Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong ketika menerima laporan, bahwa banyak anggota Kay Pang dibunuh oleh Seng Hwee Kauw.

Karena itu, mereka segera memanggil keempat pelindung untuk berunding.

"Kini Seng Hwee Kauw telah mulai membunuh para anggota kita, bagaimana menurut kalian?" tanya Lim Peng Hang.

"Kita harus melawan!" usul salah seorang pelindung.

"Sudah berapa banyak anggota kita yang jadi korban?" tanya Gouw Han Tiong.

"Sudah puluhan," jawab pelindung itu dan memberitahukan.

"Tapi pihak Seng Hwee Kauw juga banyak yang mati.

"Kalau begitu, perintahkan pada pemimpin cabang!

Mereka harus berhati-hati menghadapi Seng Hwee Kauw, kalau tidak kuat melawan, harus segera ke mari!" ujar Lim Peng Hang.

"Ya, Pangcu!" Mendadak Gouw Han Tiong menghela nafas panjang.

"Kini aku mulai mencemaskan Beng Kiat dan Soat Lan.

"Kalau begitu, kita harus mengutus beberapa anggota kita pergi cari mereka," ujar Lim Peng Hang.

"Aku pun khawatir, tentunya pihak Seng Hwee Kauw juga akan turun tangan terhadap mereka.

Walau kepandalan mereka sangat tinggi, namun belum berpengalaman." Gouw Han Tiong menghela nafas panjang lagi, disaat bersamaan muncul seorang pengemis tua dan melapor.

"Pangcu!

Ketua Siauw Lim dan Butong berkunjung ke mari." "Cepat persilakan mereka masuk!" pinta Lim Peng Hang.

Pengemis tua itu segera pergi.

Tak lama muncullah Hui Khong Taysu dan It Hian Tojin dengan wajah muram.

"Selamat datang!" ucap Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong, mereka bangkit berdiri sambil memberi hormat.

"Omitohud!" sahut Hui Khong Taysu.

"Maaf, kedatangan kami telah mengganggu Lim Pangcu dan Gouw Hu Pangcu!" "Tidak apa-apa.

Silakan duduk!" ujar Lim Peng Hang.

Hui Khong Taysu dan It Hian Tojin duduk, kemudian ketua Siauw Lim Pay berkata.

"Omitohud!

Rimba persilatan mulai dilanda banjir darah...." "Taysu sudah tahu tentang itu?" tanya Lim Peng Hang.

"Justru karena itu, kami ke mari untuk berunding dengan Lim Pangcu dan Gouw Hu Pangcu.

Omitohud!" "Bagaimana keadaan partai kalian?" tanya Gouw Han Tiong.

"Omitohud!" jawab Hui Khong Taysu.

"Sudah banyak murid kami yang mati, begitu pula para murid Butong!" "Para anggota kami pun sudah banyak yang jadi korban." Lim Peng Hang memberitahukan sambil menghela nafas panjang.

"Omitohud...." Hui Khong Taysu menggeleng-geleng kepala.

"Kita semua mengira rimba persilatan akan aman dan tenang setelah Bu Lim Sam Mo mati.

Namun nyatanya, kini malah muncul Seng Hwe Kauw dan Hiat Ih Hwe." "Hanya Tiong Ngie Pay yang berdiri di atas keadilan," ujar It Hian Tojin.

"Sebab ketua Tiong Ngie Pay adalah Yo Suan Hiang" Lim Peng Hang menimpali.

"Pantas!" It Hian Tojin manggut-manggut dan melanjutkan.

"Tapi kini Tiong Ngie Pay juga dalam bahaya, karena Seng Hwee Kauw pasti akan membunuh para anggota Tiong Ngie Pay?" "Omitohud!" ucap Hui Khong Taysu.

"Kalau begitu, kemungkinan tujuh partai besar dan Kay Pang harus bergabung lagi untuk melawan Seng Hwee Kauw." "Ngmmm!" Lim Peng Hang manggut-manggut.

"Lim Pangcu," ujar It Hian Tojin mengusulkan.

"Tentang kejadian itu, bukankah lebih baik diberitahukan pada pihak Hong Hoang To?"" "Aku justru sedang memikirkannya.

Post a Comment