Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 58

Memuat...

"Mulai apa?" Lie Ai Ling tertawa.

Siang Koan Goat Nio diam saja, sedangkan Lie Ai Ling terus tertawa gembira.

"Tidak lama lagi, Hong Hoang Lihiap dan Kim Siauw Siancu akan muncul di Tionggoan!" ujarnya.

"Julukan-julukan itu memang tepat bagi kalian," ujar Kou Hun Bijin sambil tertawa.

"Putriku memang Kim Siauw Siancu, dan engkau Hong Hoang Lihiap!

Hi hi hi...!" "Kapan kalian akan berangkat?" tanya Tio Tay Seng.

"Besok," sahut Lie Ai Ling.

"Baiklah," Tio Tay Seng manggut-manggut, kemudian memberi nasihat dan lain sebagainya.

Lie Ai Ling mendengar dengan penuh perhatian, begitu pula Siang Koan Goat Nio.

Keesokan harinya, berangkatlah mereka ke Tionggoan dengan hati penuh rasa kegembiraan.

-oo0dw0ooTiraikasih Belasan hari kemudian, Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling sudah tiba di Tionggoan.

Mereka melanjutkan perjalanan menuju ke markas pusat Kay Pang.

"Goat Nio!" ujar Lie Ai Ling sambil tersenyum.

"Kali ini kita harus berhasil bertemu Kakak Bun Yang.

Siang Koan Goat Nio hanya tersenyum.

"Engkau rindu sekali padanya" "Tentu" Lie Ai Ling mengangguk "Sudah hampir tiga tahun aku tidak bertemu dia" "Jangan-jangan . . . ." Siang Koan Goat Nio menghentikan ucapannya.

Dipandangnya Ai Ling.

"Kenapa tidak dilanjutkan?" sergah Ai Ling.

"Maksudku, jangan-jangan engkau mencintainya," ujar Siang Koan Goat Nio sambil tertawa kecil.

"Memang!" Lie Ai Ling mengangguk "Tempo hari sudah kukatakan padamu, babwa aku mencintainya sebagai kakak, bukan sebagai kekasih.

Jadi, engkau harus paham, dia adalah kakakku yang paling baik di dunia" "Oh, ya?" Siang Koan Goat Nio tersenyum.

"Sungguh!" ujar Lie Ai Ling "Aku berharap engkau berjodoh dengan dia, itu karena aku sangat cocok dengan engkau!" "Aku tahu maksud baikmu, tapi Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala "Belum tentu dia akan tertarik padaku" "Aku berani jamin!" Lie Ai Ling tertawa kecil "Kalau dia bertemu engkau, pasti tertarik" Sekonyong-konyong terdengar suara tawa, lalu muncul belasan orang berpakaian hijau.

"Ha ha ha!

Sungguh kebetulan, kita bertemu dua gadis yang cantik sekali Sungguh beruntung kita hari ini!" "Siapa kalian?" bentak Lie Ai Ling.

"Kami anggota-anggota Seng Hwee Kauw.

Nona sungguh cantik sekali, tentunya kalian tak menolak bersenang-senang dengan kami," ujar orang berpakaian hijau yang merupakan kepala anggota-anggota Seng Hwee Kauw itu.

"Ciss!" dengus Lie Ai Ling.

"Apakah kalian tidak berkaca?" "Kami tidak perlu mengaca, karena biar bagaimanapun kalian berdua harus melayani kami bersenang-senang," ujar kepala anggota Seng Hwee Kauw itu sambil tertawa terkekehkekeh.

"Kami juga harus bersenang~senang dengan mereka!" seru yang lain.

"Jangan melupakan kami!" "Jangan khawatir!" Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu tertawa.

"Kalian semua pasti mendapat giliran, tapi jangan berebutan!" Betapa gusarnya Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling mendengar percakapan kotor itu.

Siang Koan Goat Nio segera mengeluarkan suling emasnya, sedangkan Lie Ai Ling menghunus pedang pusaka Hong Hoang Kiam.

Kelihatannya kegua gadis itu sudah siap bertarung.

"He-he-he!" Kepala anggota Seng Hwee Kauw t?rtawa.

"Kalian ingin bertarung dengan kami?" "Ya!" Sahut Lie Ai Ling.

"Kami tidak takut pada kalian!" "Nona, Nona!

Dari pada kita bertarung dengan senjata, bukankah lebih baik kita bertarung yang enak dan penuh kenikmatan" Pokoknya kalian berdua akan merasa puas." Kegusaran Lie Ai Ling telah memuncak.

Ia langsung menyerang dengan menggunakan ilmu pedang Hong Hoang Kiam Hoat.

Begitu melihat Lie Ai Ling mulai menyerang, Siang Koan Goat Nio juga menyusulnya.

Gadis itu menggunakan Cap Pwee Kim Siauw Ciat Hoat.

Seketika terjadilah pertarungan sengit, belasan jurus kemudian, Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling tampak mulai terdesak.

Sehingga ked?anya harus mengeluarkan jurus-jurus andalan.

Di saat itulah mendadak berkelebatan beberapa sosok bayangan, langsung menyerang para anggota Seng Hwee Kauw itu.

Ternyata mereka Toan Beng Kiat, Lam Kiong Soat Lan, Lu Hui San dan Kam Hay Thian.

Dapat dibayangkan, betapa terkejutnya para anggota Seng Hwee Kauw saat itu.

Mereka bertarung sambil mundur siap melarikan diri.

Akan tetapi, bagaimana mungkin Kam Hay Thian membiarkan mereka melarikan diri.

Pedangnya berkelebatan ke sana ke mari laksana kilat.

Dia mengeluarkan jurus Thian Gwa Kiam In (Bayangan Pedang di Luar Langit).

Terdengarlah suara jeritan menyayat hati.

Tiga anggota Seng Hwee Kauw telah roboh berlumur darah.

Dada mereka berlubang tertembus pedang Kam Hay Thian.

"Hay Thian!

Jangan bunuh mereka semua!" seru Toan Beng Kiat mengingatkannya.

"Ya!" sahut Kam Hay Thian.

Sementara Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling juga telah berhasil melukai lawannya.

Begitu pula Toan Beng Kiat, Lam Kiong Soat Lan dan Lu Hui San.

Para anggota Seng Hwee Kauw yang terluka itu bergelimpangan dan mengerang kesakitan.

Sedangkan Kam Hay Thian terus menyerang.

Terdengar lagi suara jeritan, tiga anggota Seng Hwee Kauw roboh mandi darah lagi.

Dada mereka pun berlubang mengucurkan darah segar.

Mayat-mayat bergelimpangan berlumur darah.

Pertarungan itu berhenti.

Tampak beberapa anggota Seng Hwee Kauw yang terluka itu masih merintih-rintih.

Kam Hay Thian mendekati mereka dengan tatapan dingin, kemudian mendadak menggerakkan pedangnya.

"Aaaakh!

Aaaakh!

Aaaakh...!" Para anggota yang terluka itu pun dibunuhnya tanpa ampun, hanya tersisa satu orang.

Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling menyaksikan itu dengan mata terbeliak ngeri.

Mereka berdua sama sekali tidak menyangka pemuda itu begitu bengis.

"Engkau harus menjawab dengan jujur, mungkin aku akan mengampuni nyawamu!" bentak Kam Hay Thian pada anggota Seng Hwee Kauw itu.

"Ya!

Ya...." jawab orang itu ketakutan.

"Berada di mana markas Seng Hwee Kauw?" "Di . . . .di . . . .Lembah Kabut Hitam!" "Terletak di mana Lembah Kabut Hitam itu?" "Di...

di kaki Hek Ciok San (Gunung Batu Hitam)!" "Engkau pernah memasuki Lembah Kabut Hitam itu?" "Tidak pernah!

Sebab...

sebab kami cuma merupakan anggota biasa.

Jadi tidak boleh masuk!" "Di lembah itu terdapat jebakan?" "Bagus!" Kam Hay Thian tertawa dingin, kelihatannya ia sudah siap menghabiskan nyawa orang itu.

"Tahan, Saud?ra Kam!" teriak Toan Beng Kiat memperingatkan.

"Biar dia kembali ke sana untuk melapor!" Kam Hay Thian mengangguk, lalu menatap orang itu.

"Cepat enyah dan sini!" Dengan sempoyongan orang itu berlari meninggalkan tempat pertempuran, Kam Hay Thian terus tertawa dingin.

Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling mendekati mereka, lalu memberi hormat.

"Terimakasih atas bantuan kalian!" "Sama-sama," sahut Lam Kiong Soat Lan sambil memandang mereka.

"Kita tidak pernah bertemu, tapi rasanya sudah tahu." Lie Ai Ling tertegun memandangi mereka.

"Kalau tidak salah.." ujar Lam Kiong Soat Lan sambil tersenyum.

"Kalian b?rdua pasti Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling.

"Dari mana kau tahu?" tanya Lie Ai Ling dengan mata membeliak.

Lam Kiong Soat Lan tersenyum, sementara Siang Koan Goat Nio terus memandanginya.

"Kalau begitu, kalian pasti Lam Kiong Soat Lan dan Toan Beng Kiat." "Betul," Lam Kiong Soat Lan tertawa gembira, kemudian menunjuk Lu Hui San dan Kam Hay Thian dan memperkenalkan mereka.

"Mereka adalah Lu Hui San dan Kam Hay Thian." Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling segera memberi hormat pada mereka, Lu Hui San dan Kam Hay Thian langsung balas memberi hormat.

"Selamat berjumpa!" ucap Lu Hui San sambil tersenyum.

"Sama-sama," sahut Lie Ai Ling sambil tertawa.

"Bagus, kita semua berkumpul disini." "Aku Toan Beng Kiat," ujar pemuda itu memperkenalkan diri, lalu tanyanya.

"Kenapa kalian bertarung dengan para anggota Seng Hwee Kauw itu?" "Kami tidak paham sama sekali.

Mereka muncul lalu mencetuskan kata-kata kotor, membuat kami tersinggung dan merasa diremehkan," tutur Ai Ling.

"Mereka memang jahat," ujar Kam Hay Thian, "Karena itu, aku tidak memberi ampun pada mereka!" "Engkau sungguh sadis!" ujar Lie Ai Ling menggelenggelengkan kepala.

"Yang sudah terluka pun engkau bunuh.

huh!

Aku jadi seram dan takut." "Terhadapku?" tanya Kam Hay Thian dengan kening berkerut.

"Ya!" Lie Ai Ling mengangguk.

"Engkau sangat bengis." "Jangan merasa seram maupun takut!" sela Toan Beng Kiat sambil tersenyum dan melanjutkan.

"Dia sadis cuma terhadap penjahat, karena dia adalah ChU Ok Hiap!" "Pendekar Pembasmi Penjahat?" "Ya!" "Pantas tidak memberi ampun pada para penjahat" Lie Ai Ling manggut-manggut "Apa julukan kalian?" tanya Lam Kiong Soat Lan ingin mengetahuinya.

"Bolehkan engkau memberitahukan pada kami?" Lie Ai Ling tersenyum.

"Julukanku Hong Hoang Lihiap, julukan Goat Nio adalah Kim Siauw Siancu." "Sungguh indah julukan-julukan itu!" Lam Kiong Soat Lan tertawa kecil.

"Aku belum punya julukan." "Tidak apa-apa," ujar Lie Ai Ling.

"Kelak engkau pasti punya julukan.

Lam Kiong Soat Lan tersenyum.

Sementara Toan Beng Kiat memandang mereka seraya bertanya.

"Nona Ai Ling, kedua orang tuamu adalah Lie Man Chiu dan Tio Hong Hoa?" "Betul." Lie Ai Ling mengangguk.

"Kedua orang tuamu pasti Toan Wie Kie dan Gouw Sian Eng." "Betul," Toan Beng Kiat manggut-manggut.

"Orang tua kita merupakan teman baik, kita pun harus jadi teman baik." "Tentu." Lie Ai Ling tertawa.

"Oh ya." Lam Kiong Soat Lan menatap Siang Koan Goat Nio.

"Kedua orang tuamu pasti Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin yang awet muda itu." "Betul!" Siang Koan Goat Nio mengangguk.

"Aku pun tahu kedua orang tuamu.

Mereka adalah Lam Kiong Bie Liong dan Toan Pit Lan." "Tidak salah." Lam Kiong Soat Lan tersenyum, kemudian memberitahukan.

"Kedua orang tua Kam Hay Thian adalah Kam Pek Kian dan Lie Siu Sien, paman Cie Hiong kenal mereka." "Oooh!" Lie Ai Ling manggut-manggut, lalu memandang Lu Hui San seraya bertanya.

"Siapa kedua orang tuamu?" "Ayahku adalali Lu Kam Thay, sedangkan ibuku sudah lama meninggal," jawab Lu Hui San.

Sementara Kam Hay Thian terus memandang Siang Koan Goat Nio.

Dia kelihatan tertarik pada gadis itU.

"Ei!

Engkau!" Mendadak Lie Ai Ling men?njuk Kam Hay Thian.

"Engkau begitu membenci para anggota Seng Hwee Kauw, kelihatannya punya dendam dengan mereka." "Betul." Kam Hay Thian mengangguk.

"Ketua mereka membunuh ayahku!" Lie Ai Ling manggut-manggut.

"Pantas kalau begitu," gumamnya.

Post a Comment