Bagaimana mungkin aku begitu gampang tersinggung?" ujar Lu Hui San.
"Bagus!" Lam Kiong Soat Lan tersenyum lebar.
"H?i San, engkau memang gadis yang baik!" "Engkaupun begitu." Mendadak mereka mendengar suara jeritan wanita minta tolong.
Mereka bertiga saling memandang, lalu segera beriari menuju tempat asal suara itu.
Terlihat belasan orang berpakatan hijau berusaha memperkosa seorang wanita.
Mati-matian wanita itu meronta, menendang, dan menggigit.
Plaaak!
Salah seorang berpakaian hijau menamparnya.
"Aduuuh!"Wanita itu jatuh.
Pakaiannya telah tersobek sanasini tidak karuan.
Betapa gusarnya Toan Beng Kiat, Lam Kiong Soat Lan, dan Lu Hui San menyaksikan.
Mereka bertiga serentak membentak.
"Berhenti!" Belasan orang berpakaian hijau menoleh Ketika melihat Lam Kiong Soat Lan dan Lu Hui San, tertawalah mereka.
"Ha ha ha!
Ada gadis cantik mengantarkan diri, kita akan bersenang-senang dengan mereka!" "Siapa kalian" Kenapa begitu kurang ajar?" tanya Toan Beng Kiat sambil mengerutkan kening.
"Kami anggota Seng Hwee Kauw!" "Oooh!" Toan Beng Kiat manggut-manggut.
"Ternyata kalian para anggota Seng Hwee Kauw.
Katakan, siapa ketua kalian!" "Ketua kami adalah Seng Hwee Sin Kun!" sahut salah seorang angota Seng Hwee Kauw sambil menatapnya.
"Oooh, kalian...." "Memang kami!" Toan Beng Kiat manggut-manggut.
"Bukankah tempo hari kawan-kawan kalian yang ingin membunuh kami?" "Ha ha ha!" Anggota Seng Hwee Kauw tertawa gelak.
"Kami memang sedang cari kalian, tak disangka bertemu di sini!
Ha ha!
Hari ini kalian harus mampus!" "Oh?" Toan Beng Kiat mulai menghunus pedangnya, begitu pula Lam Kiong Soat Lan dan Lu Hui San.
"Serang mereka!" seru anggota Seng Hwee Kauw yang rupanya pimpinan gerombolan berpakaian hijau itu.
Belasan anggota Seng Hwee Kauw langsung menyerang Toan Beng Kiat, Lam Kiong Soat Lan, dan Lu Hui San dengan berbagai macam senjata tajam.
Terjadilah pertarungan sengit, Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan menggunakan Thian Liong Kiam Hoat, sedangkan Lu Hui San menggunakan Ie Hoa Ciap Bok Kam Hoat.
Pertarungan berjalan imbang, karena belasan anggota Seng Hwee Kauw berkepandaian cukup tinggi.
Karena itu, Toan Beng Kiat, Lam Kiong Soat Lan, dan Lu Hui San harus mengeluarkan jurus-jurus andalan.
Toan Beng Kiat berhasil melukai salah seorang anggota Seng Hwee Kauw, setelah mengeluarkan jurus Thian Liong Jip Hai (Naga Kahyangan Masuk Ke Laut).
Lam Kiong Soat Lan juga berhasil melukai seorang anggota Seng Hwee Kauw.
Ternyata ia mengeluarkan jurus Thian Liong Cioh Cu (Naga Kahyangan Merebut Mutiara).
Mereka berdua masih belum menggunakan Kim Kong Cap Sah Ciang (Tiga Betas Jurus Pukulan Cahaya Emas), sebab mereka belum dalam bahaya.
Lu Hui San juga telah berhasil melukai lawannya, Ia mengeluarkan jurus Hoa Khay Yap Cing (Bunga Memekar Daun Menghijau).
Tiga anggota Seng Hwee Kauw telah terluka, mereka roboh dengan mulut merintih-rintih kesakitan, karena bahu mereka terluka oleh pedang.
"Cepat serang mereka dengan senjata rahasia!" seru kepala anggota Seng Hwee Kauw.
Seketika para anggota Seng Hwee Kauw menyerang mereka bertiga dengan berbagai macam senjata rahasia Sementara Toan Beng Kiat, Lam Kiong Soat Lan dan Lu Hui San segera berdiri ke arah tiga jurusan dengan punggung saling bertemu punggung.
Begitu mendengar suara desiran senjata rahasia, mereka pun langsung memutarkan pedang masing-masing membentuk payung untuk menangkis serangan maut itu.
Ting!
Tang!
Tring!
Semua senjata rahasia tertangkis dan jatuh berpentalan.
Bersamaan dengan itu tampak sosok bayangan melayang turun.
Tanpa berbasa-basi lagi, orang itu langsung menyerang para anggota Seng Hwee Kauw itu.
Sosok bayangan yang ternyata Kam Hay Thian menyerang mereka menggunakan Pak Kek Kiam Hoat.
Mengeluarkan jurus Keng Thian Tung Te (Mengejutkan Langit Menggetarkan Bumi).
Seketika terdengar suara jeritan yang menyayat hati.
Dua anggota Seng Hwee Kauw terkapar berlumuran darah.
Dada mereka berlubang tertembus pedang Kam Hay Thian.
Dua nyawa pun melayang seketika.
Kemunculan Kam Hay Thian membuat Toan Beng Kiat, Lam Kiong Soat Lan, dan Lu Hui San merasa memperoleh bantuan.
Mereka menyerang lebih cepat Hingga hanya beberapa jurus mereka berhasil melukai iawan-lawannya.
Yang paling ganas adalah Kam Hay Thian.
Dia sama sek?li tidak memberi ampun pada para anggota Seng Hwee Kauw.
Hanya sebentar saja ia telah membunuh delapan anggota Seng Hwee Kauw.
Sisa enam orang telah dilukai Toan Beng Kiat, Lam Kiong Soat Lan, dan Lui Hui San.
Keenam anggota Seng Hwee Kauw itu merintih-rintih kesakitan.
Saat itu Kam Hay Thian mengayunkan pedangnya ke arah mereka.
"Aaakh!
Aaaakh....!" Terdengarlah suara yang menyayat hati.
Dada keenam anggota Seng Hwee Kauw tertembus pedang Kam Hay Thian.
Darah segar mengucur deras, membasahi tubuh mereka yang seketika itu juga telah berjatuhan tewas Dengan tenang Kam Hay Thian menyarungkan pedangnya.
Sementara Toan Beng Kiat, Lam Kiong Soat Lan, dan Lui Hui San menatapnya terbelalak kaget Mereka tidak menyangka pemuda itu begitu sadis.
"Terima kasih atas bantuan Anda." ucap Toan Beng Kiat seraya mendekatinya.
"Aku bernama Toan Beng Kiat, mereka berdua bernama Lam Kiong Soat Lan dan Lu Hui San." "Oooh!" Kam Hay Thian balas memberi hormat.
"Namaku Kam Hay Thian, julukanku adalah Chu Ok Hiap (Pendekar Pembasmi Penjahat)!" "Kam Hay Thian?" Terperangah Toan Beng Kiat.
Begitu pula Lam Kiong Soat Lan dan Lu Hui San.
"Kalian kenal aku?" Kam Hay Thian juga tertegun akan sikap mereka, padahal ia tidak kenal mereka.
"Kami tahu tentang engkau," sahut Toan Beng Kiat sambil tersenyum.
"Bibi Suan Hiang yang memberitahukan." "Kalau begitu, tentunya kalian sudah pergi kemarkas Tiong Ngie Pay," tukas Kam Hay Thian sambil tersenyum.
"Betul." Kam Hay Thian mengangguk.
"Eeeeh?" Mendadak Lam Kiong Soat Lan meneng?k ke sana ke mari.
"Kemana wanita itu?" "Sudah pergi," sahut Kam Hay Thian.
"Aku melihat dia kabur terbirit-birit ketakutan." "Oooh!" Lam Kiong Soat Lan manggut-manggut sambil menatapnya.
Kelihatannya gadis ini sangat tertarik pada pemuda itu.
"Julukanmu Chu Ok Hiap, pantas tidak memberi ampun pada mereka," ujar Toan Beng Kiat.
"Kita jangan mengobrol di sini!" sela Lam Kiong Soat Lan.
"Tempat ini sudah berubah seram dengan adanya mayatmayat itu.
Mari kita cari tempat lain saja!" Mereka meninggalkan tempat itu, menuju sebuah sungai tak jauh dan tempat pertempuran.
"Mari kita duduk di pinggir sungai.
Lihat, ?irnya jernih sekali!" seru Lam Kiong Soat Lan girang.
"Baik!" Kam Hay Thian menyambut gembira.
Mereka segera menuju ke pinggir sungai, kemudian duduk di sana dan mulai mengobrol.
Kam Hay Thian manggut-manggut sambil memandangi Toan Beng Kiat.
"Saudara Kam, kepandaianmu sungguh tinggi sekali," puji Toan Beng Kiat kagum.
"Bolehkah kami tahu siapa gurumu?" "Aku...." Tergagap Kam Hay Thian sambil menggelenggelengkan kepala.
"Aku tidak punya guru." "Luar biasa!" sela Lam Kiong Soat Lan sambil tertawa kecil.
"Tidak punya guru kok bisa berkepandaian begitu tinggi?" "Aku belajar sendiri di dalam sebuah goa...." jawab Kam Hay Thian lalu menuturkan tentang itu.
"Oh" Toan Beng Kiat terbelalak "Guru kami pernah menceritakan tentang kitab pusaka itu!" "Siapa guru kalian?" "Tayli Lo Ceng" sahut Toan Beng Kiat "Guru kami bilang, kitab-kitab pusaka itu milik Bu Lim Sam Mo?" Toan Beng Kiat menyapa sambil memandangi Kam Hay Thian, "Saudara Kam, engkau sungguh beruntung memperoleh kitab-kitab pusaka itu.
Tapi harus hati-hati, jangan sampai direbut orang!" ujar Toan Beng Kiat "Kitab-kitab pusaka itu telah kubakar, aku khawatir akan direbut penjahat." "Hay Thian!" Lam Kiong Soat Lan memanggil namanya "Kenapa engkau begitu sadis" Sama sekali tidak memberi ampun pada para anggota Seng Hwee Kauw tadi" "Nona Soat Lan," Kam Hay Thian menjelaskan.
"Sesuai dengan julukan, ?ku tidak memberi ampun pada para penjahat" "Chu Ok Hiap?" Lam Kiong Soat Lan tertawa "Julukan itu memang cocok untukmu!" Kam Hay Thian manggut-manggut, sementara Lu Hui San yang sejak tadi terdiam mulai membuka mulut.
"Kenapa engkau begitu membenci para penjahat?" "Sebab ayahku dibunuh penjahat, maka aku harus membasmi mereka!" sahut Kam Hay Thian.
"Oh ya, kenapa kalian juga bertarung dengan para penjahat itu?" "Mereka ingin memperkosa wanita yang kabur terbirit-birit itu," jawab Lam Kiong Soat Lan.
"Kalian tahu siapa mereka itu?" "Mereka para anggota Seng Hwee Kauw." "Seng Hwee Kauw?" gumam Kam Hay Thian dengan wajah berubah.
"Eh?" Lam Kiong Soat Lan menatapnya "Kenapa engkau?" "Kalian tahu siapa ketua mereka?" tanya Kam Hay Thian dengan mata mulai membara.
"Seng Hwee Sin Kun." "Pasti dia!
Pasti dia!" seru Kam Hay Thian sambil meloncat bangun "Aku harus bunuh dia!
Aku harus bunuh dia!" "Saudara Kam!" Toan Beng Kiat segera bangkit berdiri.
Dipegangnya bahu pemuda itu.
"Tenang, duduklah!" "Maaf!" ucap Kam Hay Thian sambil duduk kembali.
"Aku terlampau emosi!" "Engkau kenal Seng Hwee Sin Kun itu?" tanya Lam Kiong Soat Lan sambil menatapnya.
"Ada dendam di antara kalian?" "Mungkin Seng Hwee Sin Kun itulah pembunuh ayahku," jawab Kam Hay Thian penuh kegeraman.
"Tanpa sengaja ayahku menotong Seorang tua, sebelum orang tua itu menghembuSkan nafas penghabisan, dia menyerahkan sebuah kitab pada ayahku," Kam Hay Thian menghela nafas dan melanjutkan, "Karena kitab itu, maka ayahku dibunuh penjahat itu." "Penjahat itu merebut kitab tersebut?" tanya Toan Beng Kiat.
"Ya!" Kam Hay Thian mengangguk.
"Kitab apa itu?" tanya Lam Kiong Soat Lan.
"Kitab Seng Hwee Cin Keng," jawab Kam Hay Thian memberitahukan "Kitab ilmu silat yang amat tinggi sekali.
"Seng Hwee Cin Keng "gumam Toan Beng Kiat.