"Tayjin, ada kasus gadis ini," sahut kepala pengawal sambil menunjuk Lu Hui San yang berdiri ditengah-tengah ruang itu.
"Ayahnya tidak mau membayar pajak, maka kalian tangkap dia?" tanya Ma Tayjin sambil menatap Lu Hui San dengan terbelatak.
"Wuah.
Bukan main cantiknya!" "Betul, Tayjin," bisik penasihat sambil tersenyum.
"Belum pernah aku melihat gadis secantik itu." "Tapi gadis itu membawa pedang." Ma Tayjin mengerutkan kening.
"Apakah dia gadis rimba persilatan?" "Tidak mungkin.
Sebab gadis itu begitu halus, mungkin pedang itu cuma pedang mainan," sahut penasihat itu.
"Ngmm!" Ma Tayjin manggut-manggut, kemudian membentak Lu Hui San.
"Cepatlah engkau berlutut!" Akan tetapi, Lu Hui San tetap berdiri tegak sambil menatap Ma Tayjin dengan dingin.
"Kurang ajar!" Ma Tayjin memukul meja.
"Sungguh berani engkau tidak berlutut" Pengawal!
Cepat hajar dia!" Akan tetapi, para pengawal diam saja dengan kepala tertunduk.
Itu membuat Ma Tayjin bertambah gusar.
"Kenapa kalian tidak menuruti perintahku?" Disaat bersamaan, mendadak Lu Hui San tertawa dingin.
"Apakah engkau Ma Tayjin?" "Betul!
Cepatlah engkau berlutut!" bentak Ma Tayjin dengan mata melotot.
"Kalau engkau masih berdiri, kakimu akan dipatahkan!" "Oh?" Lu Hui San tertawa dingin lagi.
"Begitukah sikap seorang pembesar?" "Kurang ajar engkau!" Ma Tayjin memukul meja lagi.
"Petugas, cepat hukum gadis liar itu!" "Ya, Tayjin," sahut beberapa petugas, dan segera mendekati Lu Hui San.
"Hukum dia dengan sepuluh kali pukulan!" Ma Tayjin memberi perintah lagi.
"Ya." Petugas-petugas itu mengangguk.
Akan tetapi, di saat bersamaan mendadak Lu Hui San mengayunkan tangannya, dan terdengarlah suara Plak Plok Plak Plok!
"Aduuuh!" jerit para petugas itu sambil memegang pipi.
"Haah?" Ma Tayjin terkejut bukan main, sehingga matanya terbelalak lebar.
"Gadis liar!
Engkau berani menampar para petugas?" "Hmmm!" dengus Lu Hui San dingin.
"Hari ini aku harus menghukummu, karena engkau telah berlaku sewenangwenang terhadap para penduduk kota ini!" "Apa"!" Ma Tayjin tertegun.
Sementara para penduduk yang berdiri di luar kantor sudah mulai berteriak-teriak.
"Hukum Ma Tayjin!
Dia telah membuat para penduduk kota ini sengsara!" "Pengawal, cepat usir orang-orang itu!" bentak Ma Tayjin.
Para pengawal diam saja.
Maka sudah barang tentu Ma Tayjin menjadi bertambah gusar, Sehingga wajahnya menjadi merah padam.
"Kenapa kalian diam saja" Apakah kalian juga mau dihukum?" "Ma Tayjin!" sahut Lu Hui San dingin.
"Mereka takut kepadaku.
Maka bagaimana mungkin mereka berani menuruti perintahmu?" "Engkau...." Ma Tayjin melotot.
"Ma Tayjin, hari ini aku harus menghukummu!" tegas Lu Hui San sambil melangkah maju ke hadapan pembesar itu, kemudian mengeluarkan sebuah medali pemberian Lu Thay Kam.
"Kenal benda ini?" "Haaah...?" Ma Tayjin dan penasihatnya terbelalak, dan sekujur badan mereka pun mulai menggigil ketakutan.
"Maaf!
Maaf...." Ma Tayjin dan penasihatnya segera memberi hormat kepada Lu Hui San, tetapi gadis itu hanya tersenyum dingin.
"Kini kalian berdua sebagai terdakwa, maka cepat berdiri di sana!" bentak Lu Hui San.
"Ya, ya...." Ma Tayjin dan penasihatnya menurut, lalu segera berdiri di tengah-tengah ruang itu dengan kaki bergemetar.
Ternyata mereka mengenali medali itu.
Sementara para pengawal, petugas dan penduduk kota yang berdiri di luar terheran-heran menyaksikannya.
Mereka sama sekali tidak tahu apa yang telah terjadi.
Lu HUi San duduk di kursi Ma Tayjin, kemudian mendadak ia memukul meja, sehingga membuat jantung Ma Tayjin dan penasihat itu nyaris copot.
"Kalian berdua masih belum berlutut?" Ma Tayjin dan penasihat?ya segera menjatuhkan diri berlutut di hadapan Lu Hui San.
Para pengawal dan para petUgas tercengang melihatnya.
Sedangkan para penduduk kota yang ada diluar langsung bersorak-sorak.
"Ma Tayjin berlutut!
Ha ha ha!" "Ma Tayjin harus dihukum, karena dia pembesar korup!" Betapa terkejutnya Ma Tayjin dan penasihat itu ketika mendengar suara seruan.
Wajah mereka langsung berubah pucat pias "Nona, aku bukan pembesar korup!" "B?hong!" Terdengar suara sahutan di luar.
"Dia sembarangan menaikkan pajak demi kantongnya sendiri!" "Nona, itu . . . .
itu . . . .
"Tergagap Ma Tayjin.
"Maksudmu itu adalah peraturan dari ibu kota?" tanya Lu Hui San.
"Yaa!" Ma Tayjin mengangguk.
"Oh?" Lu Hui San menatap penasihat itu, kemudian tanyanya dingin.
"Betulkah itu peraturan dari ibu kota?" Penasihat itu menundukkan kepala.
"Baik!" Lu Hui San tertawa dingin.
"Kalau engkau tidak mau menjawab dengan jujur, akan kupenggal kepalamu!" "Ampun!
Ampun...!" Penasihat itu segera membenturkan kepalanya ke lantai.
"Jangan penggal kepalaku!" "Kalau begitu, engkau harus menjawab dengan jujur!" bentak Lu Hui San.
"Sebetulnya, itu bukan peraturan dari ibu kota, me1ainkan . . . ." "Dia yang mengusulkan menaikkan pajak para penduduk kota ini!" potong Ma Tayjin berkilah sambil menuding penasihat itu.
"Ma Tayjin bertanya padaku, karena isterinya lebih dan sepuluh.
Mereka harus hidup mewah.
Karena itu, aku terpaksa mengusulkan begitu," sahut penasihat itu.
"Isterinya juga banyak, lebih dan lima!
Maka hasil kenaikan pajak itu kami bagi dua." Ma Tayjin memberitahukan.
"Bagus!
Bagus!" Lui Hui San tertawa dingin.
"Kalian berdua memang telah bekerja-sama, maka aku harus menghukum kalian!" "Ampun!
Ampun...!" "Nona!" Terdengar suara seruan di luar.
"Jangan memberi ampun pada mereka!" Lui Hui San manggut~manggUt, kemudian berseru.
"Petugas!" "Ya!" Sahut para petugas itu sambil memberi hormat.
"Siapa di antara kalian yang bersedia melaksanakan tugas untuk memukul pantat mereka berdua?" tanya Lui Hui San.
"Kami semua bersedia!" sahut para petugas.
Mereka memang merasa sakit hati terhadap Ma Tayjin dan penasihatnya, lantaran sering dicaci-maki.
Ma Tayjin dan penasihat itu bersenang-senang dengan para isterinya, sementara mereka harus menghadapi para penduduk kota yang kadang-kadang mengamuk di kantor itu.
"Bagus!" Lu Hui San manggut-manggut lalu berseru.
"Pengawal!" "Ya!" Sahut para pengawal sambil memberi hormat.
"Tengkurapkan Ma Tayjin dan penasihatnya!" Para pengawal itu langsung menekan badan Ma Tayjin dan penasihat itu sampai tengkurap dilantai.
"Ampun, Nona!
Ampun...
kami tidak akan bertindak sewenang-wenang lagi!" ujar Ma Tayjin berjanji.
"Tapi sesuai dengan hukum kerajaan, kalian berdua harus ditindak!" sahut Lui Hui San, lalu memberi perintah kepada para petugas.
"Pukul pantat mereka masing-masing dua puluh lima kali!" Para petugas segera mengambil alat pemukul.
"Ampun.!" Tak lama kemudian terdengar suara pukulan.
"Aduuuh!
Aduuuh!" jerit Ma Tayjin dan penasihat itu kesakitan.
"Aduuh . . . !" "Asyiiik!" seru para penduduk kota yang diluar.
"Rasakan sekarang, mereka berdua sering menyuruh para petugas memukul kita, kini giliran mereka dipukul!
Asyiiiik!" Setelah memukul dua puluh lima kali, barulah para petugas itu berhenti.
Ma Tayjin dan penasihatnya merintih-rintih.
Pantat mereka membengkak dan memar.
"Nona!" ujar para petugas sambil memberi hormat.
"Kami ingin mengundurkan diri, tidak mau jadi petugas di sini lagi!" "Baik!" Lui Hui San mengangguk.
"Kami juga tidak mau jadi pengawal di sini lagi!" ujar para pengawal sambil memberi hormat.
"Tidak apa-apa!" Lu Hui San manggut-manggut, kemudian menuding penasihat yang masih tengkurap di lantai.
"Cepat berikan mereka pesangon tiga bulan gaji, cepat!" Penasihat itu segera bangkit berdiri, tapi terjatuh lagi.
Terpaksalah ia merangkak ke dalam.
"Horeee!" Seru para penduduk kota yang diluar.
"Ada anjing merangkak-rangkak!" Tak seberapa lama kemudian, penasihat itu sudah kembali ke ruang depan dengan tertatih-tatih.
Ia lalu memberikan uang pesangon kepada para petugas dan pengawal tersebut.
"Nona!
Kami ucapkan banyak terimakasih.
Sampai jumpa!" Mereka segera meninggalkan ruang kantor itu sambil tertawatawa.
"Nah, dengar baik-baik!
Mulai sekarang kalian tidak boleh bertindak sewenang-wenang lagi!
Kalau kalian masih berlaku begitu...." "Ya, ya!" Ma Tayjin berusaha bangkit berdiri.
"Kami tidak berani lagi!" "Bagus, bagus!" Lu Hui San tertawa, lalu meninggalkan ruang kantor itu sambil tersenyum-senyum.
Para penduduk kota bersorak sorai penuh kegembiraan.
"Terimakasih, Nona!
Terimakasih...!" Sementara Ma Tayjin dan penasihatnya berbisik-bisik.
Wajahnya masih tampak pucat pias.
"Tahukah engkau siapa gadis itu?" "Tentunya dia utusan dan Lu Kong Kong," jawab penasihat itu dengan suara rendah.
"Kalau tidak salah, gadis itu adalah putri kesayangan Lu Kong Kong." Ma Tayjin memberitahukan.
"Haaah"!" Penasihat itu nyaris pingsan seketika, kemudian meraba-raba kepalanya seraya berkata.
"Untung kepalaku tidak copot!" -oo0dw0oo- Setelah meninggalkan kota itu, Lu Hui San melanjutkan perjalanannya.
Hatinya merasa geli teringat akan kejadian yang lucu tadi.
Hingga hari menjelang sore, Ia sampai di sebuah tempat yang agak sepi.
Mendadak Ia mendengar suara dentangan senjata, seperti suara pertarungan.
Cepat dia melesat menuju tempat asalnya suara itu.
Setibanya di situ, ia melihat belasan orang berpakaian merah tengah mengeroyok seorang pemuda dan seorang gadis.
Menyaksikan itu, timbullah niatnya untuk membantu.
"Sungguh tak tahu malu kalian, belasan orang mengeroyok dua orang!" bentak Lu Hui San sambil mendekati mereka yang sedang bertarung, membuat mereka berhenti seketika.
"Siapa engkau?" bentak salah seorang berpakaian merah.
"Kalian tidak perlu tahu siapa aku.
Pokoknya aku harus bantu mereka!" sahut Lu Hui San sambil menghunus pedangnya.
"Haaaa?" Terbelalak belasan orang berpakaian merah.
Mereka tampak terkejut.
"Han Kong Kiam (Pedang Cahaya Dingin)!
Mari kita kabur!" Belasan orang berpakaian merah langsung melarikan diri.
Melihat hal itu Lu Hui San tercengang.
Kemudian ia menyarung pedangnya kembali.
"Kenapa mereka begitu takut pada pedangku?" gumamnya dengan kening berkerut.
"Nona!" Pemuda itu mendekati Lu Hui San sambil memberi hormat "Terimakasih atas bantuanmu.
"Sama-sama," sahut Lu Hui San sambil tersenyum.
"Terimakasih Nona." Gadis itU pun memberi hormat.
"Namaku Lam Kiong Soat Lan, dan kawanku Toan Beng Kiat.
Bolehkah kami tahu namamu?" "Namaku Lu Hui San!" jawabnya sambil balas memberi hormat.
"N?ma yang indah sekali..." ujar Toan Beng Kiat.