"Untung bahwa racun ini hanya racun biasa saja, Nona. Belum terlalu jauh menjalar, hanya di sekitar luka. Engkau tidak berkeberatan kalau aku menyedot racun itu dan luka di pahamu?" Sejenak mereka saling pandang dan melihat sinar mata tajam yang penuh kejujuran itu, gadis itu lalu mengangguk.
Liu Bhok Ki lalu menundukkan mukanya dan menyedot luka itu dengan mulut. Di mengerahkan sin-kang sehingga sedotannya itu kuat sekali. Setelah menyedot dia meludahkan darah bercampur racun yang tersedot, lalu mengulangi lagi. Sampai lima kali dia menyedot dan setiap kali disedot, gadis itu merasakan kenyerian yang menusuk jantung namun dia mempertahankan diri dan tidak mau mengeluh, hanya menggigit bibir sendiri. "Nah, sekarang kurasa racun itu sudah keluar semua," kata Liu Bhok Ki sambil menyusut bibirnya, dan memeriksa luka itu. "Dengan obat luka tentu akan cepat sembuh." Dia lalu mengeluarkan obat bubuk dari saku bajunya, menaburkan obat itu kedalam luka dan membalut paha itu dengan kain bersih robekan sabuknya. Setelah itu, dia memeriksa luka-luka lain, akan tetapi hanya luka biasa saja, tidak berbahaya.
Gadis itu kembali memberi hormat "Lo-cian-pwe telah menolong diriku bahkan telah menyelamatkan nyawaku. Kalau tidak ada Lo-cian-pwe, tentu aku sudah tewas di tangan gerombolan itu."
"Sudahlah, Nona. Engkau tidak perlu banyak sungkan dan tidak boleh terlalu banyak bicara. Jawab saja secara pendek hal-hal pokok yang ingin kuketahui. Gerombolan apakah mereka tadi?"
"Mereka perampok-perampok," jawab gadis itu. "Bagaimana engkau bentrok dengan mereka? Jelaskan
singkat saja."
"Ketika aku lewat di sini aku melihat mereka itu merampok sebuah keluarga yang lemah. Aku menolong keluarga itu dan berhasil mengusir para perampok. Akan tetapi mereka itu datang lagi membawa dua orang yang lihai tadi dan aku terdesak."
Liu Bhok Ki mengangkat tangan. "Cukup, Nona. Aku melihat engkau lemah kali, kalau bicara engkau menjadi pu¬cat dan nampak kesakitan. Apakah ada sesuatu yang terasa sakit?"
"Dalam dadaku .......... nyeri dan kalau bicara ah,
semakin nyeri." "Coba aku memeriksanya," kata Liu Bhok Ki dan dia pun berdiri di belakang gadis itu, lalu berlutut sedangkan gadis itu duduk bersila. Liu Bhok Ki menempelkan telapak tangannya pada punggung itu, menekan-nekan.
"Ah, ternyata selain luka beracun pahamu,, juga engkau menderita luka dalam oleh pukulan yang cukup kuat Nona."
"Tadi ............. Si Muka Hitam itu berhasil memukul
punggungku."
"Hemmm, sekarang ke manakah engkau hendak pergi?" tanya Liu Bhok Ki kini sudah berada kembali di depan gadis itu sambil memperhatikan wajah yang bulat berkulit putih dan bermata tajam itu.
"Aku akan melanjutkan perjalanan mungkin ke kota raja. Aku sedang mencari Pamanku " kata gadis itu lirih dan
hati-hati karena kalau dipakai bicara, dadanya seperti ditusuk rasanya.
Liu Bhok Ki menggeleng-geleng kepalanya. "Nona, engkau perlu mengaso dan perlu perawatan. Keadaanmu tidak memungkinkan engkau melakukan per jalanan, apalagi yang jauh dan seorang diri pula. Engkau seorang gadis muda, itu akan menghadapi banyak rintangan di jalan dan dalam keadaan seperti ini, kalau itu akan berbahaya sekali. Kalau engkau mau, Nona, marilah engkau ikut bersamaku. Aku akan melanjutkan perjalanan dengan berperahu sehingga tidak melelahkan dan kalau tiba di tempat tinggalku, aku akan merawatmu sampai sembuh. Kalau engkau sudah sembuh dan sehat kembali, baru engkau dapat melanjutkan perjalananmu. Sekarang tidak perlu banyak bicara. Kalau engkau mau, marilah."
Gadis itu nampak ragu dan bingung, ucapan kakek itu memang benar. Ia terluka parah dan dalam keadaan seperti itu, kalau muncul orang-orang jahat, dan mengganggunya, tentu ia tidak akan mampu membela diri lagi. Akan tetapi, ia baru saja bertemu dengan kakek ini. Sama sekali tidak mengenalnya dan tidak tahu orang macam apakah adanya kakek Ini.
"Lo-cian-pwe ........ siapakah ?" Akhirnya ia
memberanikan diri bertanya belum mengambil keputusan.
Liu Bhok Ki tersenyum. Dia dapat menduga apa yang membuat gadis itu meragu, maka dia pun menjawab, "Harap engkau jangan khawatir, Nona. Aku Bhok Ki. disebut orang Sin-tiauw dan selamanya aku tidak pernah berbuat jahat apalagi kepada seorang gadis muda yang sepantasnya menjadi anakku."
Sepasang mata bintang itu terbelak "Ah, kiranya Lo-cian- pwe adalah Sin tiauw Liu Bhok Ki? Paman pernah bercerita kepadaku tentang Lo-cian-pwe."
"Siapakah Pamanmu itu?" "Dia bernama Lie Koan Tek "
"Lie Koan Tek? Tokoh Siauw-Lim pai itu? Pantas kulihat tadi permainan siang-kiam (sepasang pedang) darimu adalah ilmu pedang Siauw Lim-pai. Kiranya engkau murid Siauw lim- pai! bagaimana, Nona? Apakah engkau menerima usulku tadi demi kebaikan sendiri?"
Keraguan kini lenyap sama sekali dan mata gadis itu. Sudah lama ia dengar tentang nama besar Sin-tiauw Liu Bhok Ki sebagai seorang pendekar perkasa walaupun menurut pamannya, watak pendekar ini aneh dan keras. Namun, ia tidak melihat kekerasan dalam sepak terjangnya tadi. "Baiklah, Lo-cian-pwe dan sebelumnya terima kasih atas kebaikan Lo-cian-pwe kepadaku."
"Hemmm, siapakah namamu? Sudah pantasnya aku mengetahuinya." Gadis itu agak tersipu. Orang telah melimpahkan bantuan kepadanya dan ia pun lupa untuk memperkenalkan namanya! "Namaku Bi Lan, Lo-cian-pwe."
"Nah, Bi Lan, mari kau ikut dengan aku. Terpaksa engkau harus kupondong karena kakimu itu akan menjadi bengkak kalau kau pakai berjalan jauh. Sungai itu tidak berapa jauh lagi dan setelah tiba di sana, kita selanjutnya menggunakan perahu."
Gadis itu tidak membantah, dan ia melawan perasaan malunya dengan memejamkan mata ketika merasa betapa tubuhnya diangkat oleh lengan yang kokoh kuat itu.
Sambil memondong tubuh gadis i Liu Bhok Ki mempergunakan ilmu berlari cepat sehingga dalam waktu dua jam saja dia sudah tiba di Sungai Huang ho. Dia lalu menyewa perahu melanjutkan perjalanan sampai ke kaki bukit Kim-
hong-san di lembah Huang-ho. Kemudian, kembali dia memondong tubuh Bi Lan mendaki puncak dan semenjak hari itu Sin-tiauw Liu Bhok Ki merawat Bi Lan dengan penuh perhatian. Gadis itu merasa terharu dan bersukur sekali karena kakek itu merawatnya dengan penuh ketelitian seolah- olah ia dirawat oleh ayahnya sendiri.
Setelah gadis itu agak pulih kesehatannya dan tidak lagi nyeri dadanya kalau bicara, barulah Liu Bhok Ki menanyakan riwayatnya. Bi Lan kini tinggal sedikit lemah saja, akan tetapi luka-lukanya sudah sembuh, baik luka di badan maupun luka di dalam dadanya.
Kwi Bi Lan hidup berdua saja dengan ibunya karena ayahnya telah meninggal dunia ketika ia masih kecil. Oleh pamanya, yaitu Lie Koan Tek adik kandung ibunya, ia dimasukkan ke dalam perguruan silat seorang murid Siauw- lim-pai, bahkan kemudian pamannya itu melanjutkan memberi pelajaran ilmu silat Siauw-Lim pai kepada keponakannya itu. Bi Lan dan ibunya hidup di sebuah dusun sebagai petani. Biarpun agak jarang, namun Lie Koan Tek tentu singgah di dusun itu kalau dia kebetulan melakukan perjalanan melalui daerah itu sehingga hubungan antara paman dan keponakan itu cukup akrab. Akan tetapi, dua bulan yag lalu, ibu Bi Lan jatuh sakit dan meninggal dunia. Tentu saja Bi Lan yang menjadi sebatangkara itu merasa ber¬duka sekali. Hanya dibantu oleh para tetangga, ia mengurus penguburan jenazah Ibunya, dan setelah itu ia hidup menyendiri kesepian. Pamannya Lie Koan Tek yang sudah lama tidak pernah datang itu ditunggu-tunggunya, akan tetapi tidak pernah muncul. Akhirnya, Bi Lan mengambil keputusan nekat untuk mencari pamannya.