Ban-tok Mo-Ii terkejut, demikian pula seluruh anggauta Thian-te-kauw. Kalau Sang Kauw-cu (Kepala Agama) sendiri sudah begitu menghormati mahluk itu mereka tidak ragu lagi bahwa tentu itulah penjelmaan Thian-te Kwi-ong! Ban tok Mo-Ii dan para anggauta juga segera menjatuhkan diri berlutut menghadap patung hidup itu. Para tamu juga terkejut dan mereka semua bangkit berdiri, tidak menjatuhkan diri berlutut namun berdiri dengan sikap hormat. Siangkoan Bok, Siangkoan Tek, dan Ouw Kok Sian juga cepat mundur dan berdiri dengan sikap hormat dan bingung. Mereka juga heran sekali melihat betapa patung itu kini menjadi dua dan yang sebuah lagi hidup! Memang patung hidup itu mengenakan pakaian seperti yang dipakai pemuda pengacau tadi, akan tetapi wajahnya jelas berubah menjadi wajah patung Thian-te Kwi-ong. Tadinya mereka menduga bahwa tentu pemuda pengacau itu yang mengenakan kedok, akan tetapi setelah mengamati penuh ketelitian, mereka mau percaya bahwa itu bukan semacam topeng, melainkan wajah yang sesungguhnya karena wajah itu hidup, tidak mati seperti topeng atau kedok!
Kini patung hidup itu mengembangkan kedua lengannya ke depan dan terdengar suaranya, suara yang parau besar dan dalam, tidak seperti suara pemuda tadi. Suaranya aneh dan penuh wibawa. "Para pemujaku, dengarlah baik-baik dan taati perintahku! Cui-beng Sai-kong Can Siok telah kupanggil karena aku membutuhkannya dalam kerajaanku! Dan aku menunjuk puteranya, Can Hong San, kini menjadi penggantinya memimpin kalian semua!" Tiba-tiba terdengar lagi ledakan dan nampak lagi asap hitam tebal. Ketika asap menbuyar, patung hidup itu sudah lenyap dan yang nampak adalah Can Hong San yang sudah berdiri di atas meja sembahyang. Dengan gerakan indah pemuda itu melompat turun dari atas meja, menghadapi Lui Seng Cu dan Bani tok Mo-Ii.
Dua orang pimpinan Thian-te-kauw itu bangkit berdiri dan sejenak mereka mengamati wajar Hong San. Pemuda ini pui tersenyum dan terdengar suaranya lantang gembira.
"Apakah kalian masih belum mau percaya? Thian te Kwi- ong sendiri yang berkenan memberitahu kalian! Aku adalah Can Hong San, aku putcra tunggal mendiang Cui beng Sai- kong Can Siok dan aku yang ditugaskan untuk menjadi penggantinya." Lalu dia memandang kepada Siangkoan Bok, Sjangkean Tek dau Ouw Kok Sian sambil berkata, "Aku sungguh tidak ingin bermusuhan dengan Sam-wi, melainkan ingin bersahabat. Silakan sam-wi mundur kembali ke tempat masing-masing karena urusan ini adalah urusan pribadi antara para pimpinan Thian-te-kauw."
Tiga orang itu belum sampai dirobohkan, jadi belum kehilangan muka. Akan tetapi mereka maklum kalau tadi dilanjutkan, mereka pun akan roboh. Kini, mereka mendapatkan kesempatan baik untuk mundur tanpa kehilangan muka, karena urusan pribadi antara para pimpinan Thian-te-kauw memang tidak sepatutnya mereka ikut mencampuri. Mereka pun kembali ke tempat duduk masing- masing dan yang berdiri di panggung hanya tinggal dua orang ketua itu yang berhadapan dengan Hong San.
Sejenak Hong San saling tatap dengan dua orang ketua itu dan dia tahu bahwa biarpun mereka berdua kini agaknya percaya kepadanya, namun masih terdapat keraguan dan ketidak-puasan.
"Bagaimana sekarang pendapat kalian? Apakah kalian sudah percaya kepadaku dan mau mengakui aku sebagai pengganti Cui-beng Sai-kong dan memimpin Thian-te-kauw?" tanya Hong San den sikap tenang, ramah dan suara lembut.
"Hemmm, bagaimana kami harus menjawab?" Lui Seng Cu menjawab. "Memang kami sudah menyaksikan sendiri bahwa engkau dapat mengubah diri menjadi pujaan kami Thian-te Kwi-ong, akan tetapi engkau masih begini muda,
sedangkan memimpin Thian-te-kauw membutuhkan seorang yang sudah berpengalaman agar perkumpulan ini dapat meperoleh kemajuan."
"Juga seorang ketua harus memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sehingga akan mampu menjaga nama dan kehormatan perkumpulan yang diasuhnya, sambung Ban-tok Mo-li.
Hong San tersenyum. "Pendapat kalian berdua memang benar. Aku pun berpendapat demikian. Oleh karena itu, aku tidak ingin menurunkan kalian dari kedudukan kalian yang sekarang. Hok-hou Toa-to tetap menjadi Kauw-cu dan Ban tok Mo-li tetap menjadi Thian-te Pang cu. Akan tetapi kalian berdua berada dibawah pengawasan dan kekuasaanku, karena aku yang menjadi pemimpin umum. Pekerjaan sehari- hari boleh kalian laksanakan, akan tetapi segala hal yang penting harus lebih dahulu mendapat persetujuanku. Dan tentang ilmu kepandaian, kalau yang kuperlihatkan tadi belum meyakinkan hati kalian, nah, kalian boleh maju sendiri untuk mengujiku" Berkata demikian, tangan kanan Hong San
bergerak dan tahu-tahu dia telah memegang sebatang pedang di tangan kanan, dan sulingnya masih berada di tangan kirinya.
"Lui Seng Cu, engkau terkenal dengan julukan Hok-houw Toa-to, ingin sekali aku mencoba kehebatan golok besarmu dan melihat sampai di mana kemajuanmu menerima bimbingan ilmu silat dari Ayahku!" katanya dan kini suaranya mengandung wibawa dan tegas, tidak lagi bersikap seperti orang bermain-main seperti tadi. Lui Seng Cu juga tidak berani mengajak Ban-tok Mo-li untuk melakukan pengeroyokan lagi. Bagaimanapun juga, dia sudah hampir merasa yakin bahwa pemuda ini memang pengganti Cui-be Sai-kong, entah puteranya entah muridnya, namun buktinya mampu mengubah diri menjadi raja iblis itu. Dan kesempatan mengadu ilmu silat ini pun memberi kesempatan baginya untuk membuktikan apakah benar pemuda ini putera gurunya, karena kalau hal ini benar tentu pemuda itu mengenal ilmu-ilmu yang dipelajarinya dari Cui- beng kong.
Tanpa mengeluarkan kata-kata lagi, Lui Seng Cu sudah mencabut sebatang golok besar yang berkilauan saking tajamnya. Sebelum menjadi murid Cui-beng Sai-kong, Lui Seng Cu sudah menjadi perampok tunggal yang di takuti. Karena kebetulan saja, yaitu berjumpa dengan Cui-beng Sai- kong dan hendak merampoknya, maka dia berkenalan dengan pendiri Thian-te-kauw itu. Denga mudah dia dikalahkan dan sejak itula dia menjadi pengikut dan menerima pelajaran dan Cui-beng Sai-kong. Bukan hanya tentang penyembahan Thian kui-mo, akan tetapi sedikit ilmu sihir dan juga ilmu silat Koai- liong-kun (Silat Naga Setan).
"Lui Seng Cu, engkau boleh mulai menyerangku!" kata Hong San. Nada suaranya sudah memerintah.
"Lihat serangan!" Lui Seng Cu berseru. Biarpun kauw-cu ini nampaknya sudah percaya dan tunduk kepada Hong San namun ketika dia menyerang tahulah Hong San bahwa sebenarnya di dalam hatinya kauw-cu ini masih merasa penasaran. Dalam serangan itu terkandung kemaarahan dan kebencian sehingga serangan itu merupakan gerakan dahsyat yang amat berbahaya dan mematikan, liong San dapat mengerti kemarahan Kauw-cu ini. Bagaimanapun juga, tentu orang yang sudah berpengalaman ini masih merasa penasaran kalau harus mempunyai atasan seorang pemuda seperti dia! Maka, dia pun ingin memamerkan kepandaiannya. Melihat serangan golok itu, dia tahu bahwa dari ayahnya, kauw-Cu ini hanya menerima pelajaran Koai-Liong kiam saja yang agaknya kini di sesuaikan dengan gerakan golok. Dia memutar pedangnya, dengan jurus-jurus dari ilmu pedang Koai-liong kiam dan karena memang tingkat kepandaian pemuda ini jauh lebih tinggi, maka Liu Seng Cu seolah-olah menghadapi sebuah dinding baja yang amat kuat, yang menolak seluruh jurus serangannya! Dia pun mengenal gerakan pedang pemuda itu yang memainkan ilmu pedang Koai liong kiam, akan tetapi demikian hebatnya permainan itu sehingga pandangan matanya menjadi silau dan dia seperti berhadapan dengan dinding baja yang sudah ditembus!
Setelah lewat tiga puluh jurus, habislah sudah semua jurus Koai liong kiam dia mainkan untuk menyerang, pemuda itu dan kini dia pun yakin bahwa memang pemuda ini telah mewarisi ilmu-ilmu dari gurunya, bukan hanya ilmu silat, akan tetapi juga ilmu mengubah diri menjadi Thian-te Kwi-ong. Tiba- tiba dia teringat akan sesuatu. Biarpun tidak banyak, dia pernah mempelajari ilmu sihir. Belum tentu pemuda ini mengenal sihir pula dan kalau demikian halnya, Betapapun lihainya ilmu silat pemuda ini, kalau sampai dapat dia kuasai dengan sihirnya, maka dia akan mampu menundukkannya! Di samping harapan ini, juga dia dapat mempergunakannya sebagai ujian sampai di mana pemuda ini mewarisi ilmu-ilmu dari Cui-beng Sai-kong yang diaku sebagai ayahnya itu.
"Can Hong San, berlututlah engkau!" tiba-tiba kauw-cu itu membentak sambil mengerahkan seluruh kekuatan sihirnya. Semua anggauta Thian-te-kauw memandang dengan hati tegang. Mereka semua tahu bahwa kauw-cu mereka memiliki ilmu sihir yang amat kuat dan dia dapat memaksa setiap orang dengan perintah sihirnya. Akan tetapi, terjadilah hal yang sama sekali tidak mereka duga. Pemuda yang memegang pedang dan suling itu sama sekali tidak berlutut, bahkan dia berkata dengan suara yang nyaring.
"Engkaulah yang berlutut di depanku, Lui Seng Cu!" Dan kauw-cu itu tiba-tiba saja menjatuhkan diri berlutut di depan Hong San! Lui Seng Cu terkejut bukan main. Tadi pemuda itu sama sekali tidak terpengaruh oleh bentakannya dan ketika pemuda itu menjawab, dia sama sekali tidak merasakan kekuatan sihir yang memaksanya untuk berlutut, akan tetapi tiba-tiba saja dua buah lututnya disambar ujung suling dan itulah yang memaksanya jatuh berlutut karena kedua kakinya terasa lumpuh!
Akan tetapi, untuk mengambil orang, Hong San cepat menghampiri, dengan gerakan cepat tanpa diketahui orang, dia telah membebaskan totok? itu dan menarik lengan Kauw- cu itu bangkit berdiri kembali. Kini Kauw-cu sudah takluk benar karena dia tahu bahwa dia berhadapan dengan orang yang jauh lebih pandai darinya. Dia merasa seperti berhadapan dengan gurunya saja! Dia memberi hormat dan berkata lirih, "Can Kongcu (Tuan Muda Can), saya mengaku kalah." Dengan kepala tertunduk kauw-cu itu lalu mundur dan duduk kembali tempat semula. Akan tetapi dia segera berbisik kepada dua orang muridnya, Siok Ban dan Phoa Kian So yang tadi juga kalah ketika mengeroyok Hong San, agar mereka berdua mempersiapkan tempat duduk yang paling baik untuk pemuda yang kini berhadapan dengan Ban-tok Mo li itu. Dia sendiri lalu menonton dan ingin tahu Bagaimana Ban-tok Mo-li akan menandingi pemuda yang luar biasa itu. Ban-tok Mo-li adalah seorang yang amat cerdik, juga ia memiliki tingkat kepandaian yang lebih tinggi dibandingkan Liu Seng Cu, atau para tamu yang hadir disitu. Sesuai dengan julukannya, yaitu Ban-tok Mo-li (Iblis Betina Selaksa Racun), ia seorang ahli dalam menggunakan racun sehingga ilmu silatnya menjadi semakin berbahaya lagi. Bukan hanya pukulan telapak tangannya yang mengandung hawa beracun, bahkan kuku- kuku jari tangannya mengandung racun, dan ia dapat pula mempergunakan ludah beracun untuk menyerang lawan! Ia tadi sudah melihat kehebatan pemuda itu bermain senjata. Golok Lui Seng Cu yang amat lihai itu pun sama sekali bukan tandingan pemuda itu. Kalau ia mempergunakan sepasang senjatanya, yaitu kipas dan pedang, agaknya akan berat pula baginya, untuk dapat keluar sebagai pemenang Maka mengingat akan keahliannya mempergunakan racun dalam pukulannya, pun ingin mengajak pemuda itu untuk bertanding dalam tangan kosong dulu sebelum terpaksa menggunakan kipas dai pedangnya. Seperti juga Lui Seng Cu tentu saja ia tidak rela kalau harus menjadi bawahan seorang pemuda, kecuali kalau ia sudah yakin bahwa pemuda itu jauh lebih lihai daripadanya.
"Can Kongcu," ia menirukan panggilan yang dipergunakan Lui Seng Cu tadi. "Sebenarnya aku sendiri pun mulai percaya bahwa engkau adalah pewaris dari pendiri Thian-te-kauw dan engkau berhak memimpin perkumpulan kita. Akan tetapi karena kemunculanmu Begini tiba-tiba, tentu saja hati kami menjadi penasaran. Karena itu, aku pun Ingin sekali menguji kepandaianmu, dan lebih dulu aku ingin menguji ilmu kepandaianmu bertangan kosong."
Hong San memandang dan hatinya kagum. Wanita ini kabarnya sudah berusia lima puluh tahun lebih, bahkan hampir enam puluh tahun, akan tetapi sungguh orang takkan percaya kalau melihatnya. Pantasnya ia baru berusia tiga puluh tahun lebih! Masih cantik dan bentuk tubuhnya masih padat dan ramping, dan anehnya, ada sesuatu yang menarik hanya pada wajah itu, seperti wajah seorang wanita yang pernah dikenainya. Perasaan pemuda ini memang tidak menipunya. Yang membuat ia merasa kenal adalah karena wajah Ban-tok Mo-li Pha Bi Cu mirip sekali, hanya berbeda usia dengan wajah puterinya, yaitu Sim Lan Ci, isteri Coa Siang Lee yang hampir saja menjadi korban perkosaan Hong San Hong San tersenyum. Dia sudah mendengar dari ayahnya bahwa Ban- tok Mo-li adalah seorang wanita yang lihai lebih lihai dibandingkan Lui Seng Cu. Dari nama julukannya saja dia pun sudah menduga bahwa wanita ini tentu ahli racun dan memiliki pukulan-pukulan beracun maka sengaja menantangnya bertanding dengan tangan kosong. Tentu saja dia tidak merasa gentar. Ayahnya adalah seorang datuk besar golongan sesat, dan dia sudah banyak belajar dari ayahnya tentang pukulan yang mengandung hawa beracun dan bagaimana untuk mengatasinya.
"Baik sekali, Ban-tok Mo-li. Aku pun tidak ingin kita yang hanya menguji kepandaian sampai terluka oleh senjata tajam walaupun aku tahu bahwa kedua tangan dan kedua kakimu tidak kalah ampuhnya dibandingkan senjata tajam Pedang bagaimanapun. Nah, aku sudah siap!" Dia pun menyimpan kembali pedang dan sulingnya, lalu berdiri tegak menghadapi Ban-tok Mo-li, kelihatan tenang saja dan acuh, namun diam- diam dia siap siaga dengan penuh kewaspadaan.
"Can Kongcu, sambut seranganku!" Ban-tok Mo-li tanpa sungkan lagi mendahului, membuka serangan dengan pukulan tangan kanan terkepal ke arah muka disusul cengkeraman tangan kiri yang membentuk cakar ke arah perut.
"Bagus sekali!" Hong San memuji sambil mengelak ke belakang, akan tetapi kaki kanan wanita itu menyusul dengan tendangan dahsyat mengarah dadanya!"
"Plakkk!" Hong San menangkis dan tubuh Ban-tok Mo-li berputar di atas sebelah kaki saking kerasnya tangkisan itu. Namun, wanita itu tidak menjadi gugup, bahkan sambil berputar, kaki tetap melancarkan tendangan susu bertubi-tubi.
Hong San berloncatan mengelak, ia membalas dengan tamparan tangannya kearah wanita itu. Karena tamparan hebat, maka terpaksa Ban-tok Mo-li menghentikan desakan tendangannya untuk mengelak. Kemudian ia mengeluarkan gerengan halus seperti seekor kucing yang dielus lehernya dan ke dua lengannya tergetar. Hong San melihat betapa kedua tangan dan sebagian lengan yang nampak dari lengan baju itu berubah menghitam! Tahulah dia bahwa wanita itu telah mengeluarkan simpanannya yaitu kedua tangan bahkan sampai lengan yang mengandung hawa beracun yang amat berbahaya, maka diam-diam dia pun mengerahkan tenaga sin- kangnya untuk melindungi tubuh dari hawa racun.