Hong San mengangguk dan tersenyum. Dia dapat menduga bahwa tentu semua jawaban di kuil itu mengandung harapan yang menyenangkan bagi para tamu, dengan diberi syarat tertentu. Kalau dia gagal, misalnya, maka jawaban itu tetap tepat karena bukankah di situ sudah diperingatkan tentang bayang-bayang yang harus dihindarkan? Kalau gagal berarti dia tidak berhasil menghindarkan bayang-bayang itu! Sungguh jawaban yang amat cerdik. Menyenangkan dan memberi harapan sekaligus juga bersyarat untuk menjaga kegagalan.
Dia mengucapkan terima kasih dan menyerahkan sumbangan yang cukup besar. Petugas itu menerima dengan gembira. "Semoga Thian-te Kwi-ong memberkatimu, Kongcu. Untung sekali Kongcu datang hari ini karena mulai besok, selama tiga hari, kuil akan tutup dan tidak menerima tamu."
"Eh, kenapa?"
"Perkumpulan kami akan mengadakan perayaan ulang tahun untuk ke tiga kailnya bagi Kauw-cu (Kepala Agama) kami."
"Kenapa harus ditutup?"
"Karena kami seluruh petugas harus menghadiri upacara perayaan itu yang akan diadakan di sini. Terpaksa tidak melayani umum selama tiga hari."
"Jadi yang boleh hadir hanyalah para anggauta Thian-te- kauw?"
"Benar, Kongcu. Tentu saja ada pula tamu-tamu yang diundang, yaitu sahabat dari para pimpinan kami. Nah, selamat jalan, Kongcu. Semoga Kongcu berhasil menjadi ketua perkumpulan itu. Oya, perkumpulan apakah itu, Kongcu?" Sambil melangkah pergi, Hong San menjawab singkat, "Thian-te-kauw."
Petugas itu terbelalak dan bengong memandang Hong San yang melangkah pergi meninggalkan kuil. Dia ragu-ragu Keliru dengarkah dia? Ataukah ada nama perkumpulan yang sama? Ataukah pemuda yang nampaknya kaya raya itu memang sinting? Kemudian dia mengangkat pundak. Bagaimanap juga, pemuda itu telah memberi derma yang cukup banyak untuk kuil mereka. Dia pun melupakan Hong San dan melayani tamu lain. Hari itu memang banyak tamu berkunjung ke kuil karena sudah tersiar kabar bahwa kuil Thian-te-kauw atau juga kuil Thian-te Kwi-ong akan berlibur dan ditutup selama tiga hari.
Mendengar laporan petugas tadi bahwa mulai besok Thian- te-kauw akan mengadakan perayaan ulang tahun dari kauw- cu, Hong San tidak jadi berkunjung kepada Ban-tok Mo-li. Sebaliknya, dia mencari keterangan tentang Thian-teauw kepada penduduk Ceng-touw dan mendengar bahwa kauw-cu (ketua agama) Thian-te-kauw adalah Hok-houw Toa-to Lui Seng Cu, sedangkan Ban-tok Mo-li adalah pangcu (ketua perkumpulan) Thian-te-pang yang berdiri sebagai perkumpulan yang mengurus tentang Thian-te-kauw dan penyebarannya. Dia lalu kembali ke rumah penginapan di mana ia menyewa sebuah kamar. Kini tahulah dia bahwa murid mendiang ayahnya itu mengangkat diri menjadi ketua Thian-kauw dan agaknya ada persekutuan antara dia dengan Ban-tok Mo-li yang nenjabat ketua perkumpulan Thian-te- pang. Baik sekali pikirnya dan dia mengambil keputusan untuk mengangkat diri menjadi ketua umum di atas kedua orang pemimpin itu, baik secara halus maupun Kasar. Untuk itu dia telah membuat persiapan. Bagaimanapun juga, murid ayahnya itu masih setia menggunakan patung buatan ayahnya, yaitu patung Thian-te Kwi-ong yang menyeramkan, presis wajah patung itu dengan topeng yang dibawanya untuk keperluan mengubah diri menjadi Thian-te Kwi-ong! Ilmu mengubah diri dengan penyamaran yang amat rapi ini dia pelajari dari ayahnya, berikut ilmu sihir dan penggunaan obat pasang yang mengeluarkan asap tebal.
ooOOoo
Keterangan yang diberikan petugas kuil kepada Hong San itu memang benar. Thian-te-kauw yang urusan luarnya dilaksanakan oleh perkumpulan Thian-te-pang, akan mengadakan perayaan ulang tahun dari ketua perkumpulan agama itu. Ketua Thian-te-kauw adalah Hok-houw Toa-to Lui Seng Cu dan kalau semua anggauta mengenakan pakaian biasa walaupun para petugas kuil berseragam kuning putih, namun ketuanya ini kalau bertemu dengan orang luar atau kalau kebetulan keluar dari kuil selalu mengenakan jubah longgar berwarna kuning walaupun rambutnya tidak dicukur. Tiga tahun yang lalu, setelah bersama Ban-tok Mo-li berhasil mengembangkan Thian-te-kauw, Hok-houw Toa-to Lui Seng Cu secara resmi, disaksikan semua anggauta dan para tamu undangan, menyatakan dirinya sebagai kauw-cu (kepala agama) dari Thian-te-kauw. Sedangkan Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu diangkat menjadi pangcu (ketua perkumpulan) dari Thian-te-pang.
Karena kedua orang ketua ini dapat bekerja sama dengan amat baiknya dan keduanya memang merupakan tokoh-tokoh yang berkepandaian tinggi, maka Thian-te-pang menjadi perkumpulan yang besar dan berpengaruh, sedangkan Thian- te-kauw juga menarik banyak orang menjadi anggautanya. Kedua orang tokoh ini tidak bodoh. Mereka tidak mau lagi sembarangan melakukan upacara korban kepada Thian-Te Kwi-ong dengan darah pemuda dan perawan. Kalau hal ini mereka lakukan, maka mereka melaksanakannya dengan sembunyi dan hanya untuk kepentingan mereka memperkuat ilmu hitam mereka saja. Bagi para anggauta dan penganut, korban berupa sumbangan barang berharga atau uang.
Untuk menyambut perayaan peringatan ulang tahun yang ke tiga, semua anggauta Thian-te-pang datang berkumpul. Jumlah mereka tidak kurang dari tiga ratus orang! Dan mereka juga mengundang sahabat-sahabat mereka yang terdiri dari tokoh-tokoh dunia kang-ouw para tokoh sesat yang biarpun tidak menjadi anggauta Thian-te-pang dan bukan penganut Thian-te-kauw, namun merupakan sahabat dari Ban-tok Mo-li atau dari Lui Seng Cu.
Sejak pagi, sudah berdatangan para anggauta dari luar daerah Ceng-touw utusan dari cabang-cabang, dan berdatangan pula para undangan, yaitu tokoh-tokoh kang-ouw yang jumlahnya lebih dari dua puluh orang. Di antara mereka yang mendapat tempat kehormatan di panggung bersama dua orang ketua itu adalah para sahabat lama seperti Siang koan Bok dengan puteranya Siangkoan Tek, Ouw Kok Sian dengan muridnya Ban To dan masih banyak lagi. Dua orang murid utama Thian-te-pangcu Lui Seng Cu, yaitu Siok Boan dan Poa Kian So menjadi penyambut para tamu undangan itu dan mereka berdua mempersilakan para tamu yang terpilih untuk duduk di panggung kehormatan. Yang lainnya duduk di kursi sebelah bawah bersama utusan dari cabang-cabang, kemudian paling belakang duduk para anggauta Thian-te- pang.
Di atas panggung yang luas itu, selain kursi para pengurus dan para undangan yang mendapat tempat kehormatan juga terdapat sebuah meja sembahyang besar penuh dengan hidangan sembahyang dan di belakang meja berdirilah sebuah patung yang menyeramkan, yaitu patung Thian-te Kwi-ong yang mereka sembah dan puja.
Dengan sikap ramah pang-cu dan kauw-cu yang duduk sebelah menyebelah di atas panggung menyambut para tamu yang sebelum dipersilakan duduk lebih dahulu memberi hormat kepada mereka sambil mengucapkan selamat. Sebagai Thian-te Pang-cu, Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu nampak anggun berwibawa. Dalam usianya yang sudah hampir enam puluh tahun itu, wanita ini masih nampak mu dan cantik. Hal ini dibantu sekali ole wataknya yang pesolek, dengan pakai serba indah terbuat dari sutera ya mahal, rambutnya yang disanggul ke atas dihiasi perhiasan emas permata dan san bil tersenyum-senyum manis nenek itu duduk mengipasi dirinya dengan sebuah kipas yang dipegang di tangan kirinya. Setiap kali menerima kehormatan dari tamu yang baru tiba, ia menutup kipas itu dan membalas penghormatan dengan merangkap kedua tangan di depan dada. Dilihat begitu saja, ia merupakan seorang nenek yang masih cantik dan pesolek, dan kipas itu nampaknya seperti perlengkapan pakaian saja atau untuk bergaya. Akan tetapi, bagi yang sudah, mengenal siapa Ban-tok Mo-li, akan memandang kipas yang indah itu dengan hati ngeri dan gentar. Mereka tahu bahwa kipas di tangan wanita itu merupakan sebuah senjata yang ampuh dan berbahaya sekali.
Di sebelah kanan Ban-tok Mo-li duk Lui Seng Cu yang berjuluk Hok-hoi Toa-to dan yang menjadi Thian-te Kauw-Cu atau Kepala Agama. Dia mengenakan pakaian jubah kuning yang juga terbuat dari sutera mahal, dan rambutnya yang masih nampak hitam itu diikat dengan kain sutera putih. Kakek ini usianya sudah enam puluh tahun, akan tetapi dia nampak jauh lebih muda. Hal ini yang dipakai untuk berpropaganda bahwa penyembah Thian-te Kwi-ong akan diberkahi umur panjang dan awet muda. Dengan sikap yang dibuat-buat seperti sikap seorang alim, dia menyambut para tamu yang datang mengucapkan selamat kepadanya.
Akhirnya tibalah saatnya upacara dimulai. Pertama-tama akan diadakan sembahyangan besar-besaran. Seorang di antara murid-murid Thian-te-pang sudah membakar ujung hio- swa dan kedua orang ketua itu sudah bangkit dari tempat duduk mereka. Akan tetapi pada saat itu, di depan tempat perayaan, tepat di tengah-tengah lorong yang menuju ke situ, nampak asap tebal mengepul setelah terdengar suara ledakan keras. Tentu saja semua orang menjadi kaget, tidak terkecuali dua orang ketua itu. Mereka sudah berloncatan menuju ke halaman itu. Akan tetapi, setelah asap tebal itu perlahan-lahan buyar tertiup angin dan akhirnya terbang ke udara, di situ tidak nampak sesuatu. Semua orang bertanya-tanya siapa gerangan yang menimbulkan ledakan yang diikuti asap tebal itu. Tidak nampak seorang pun di situ yang asing bagi mereka. Lui Seng Cu saling pandang dengan Phang Bi Cu. Kedua orang ketua ini terkejut dan heran. Akan tetapi diam-diam Lui Seng Cu merasa ngeri. Asap tebal itu mengingatkan dia akan gurunya, yaitu Cui-beng Sai-kong. Akan tetapi, tidak mungkin gurunya muncul seperti itu, apalagi sekarang tidak nampak seorang pun manusia di dalam asap tebal itu. Semenjak gagal dalam usahanya mengadu domba antara para to-su dan para hwesio, Cui-beng Sai-kong melarikan diri dan tak pernah pula Lui Seng Cu mendengar tentang gurunya itu, apalagi bertemu. Dan dia pun segera melegakan hatinya. Andaikata benar gurunya yang datang, dia tidak perlu takut karena bukankah selama ini dia berjasa dengan mengembangkan Thian-te- kauw yang didirikan oleh Cui-beng Sai-kong?
Setelah masing-masing menerima segenggam hio-swa (dupa biting) dari seorang petugas, dua orang ketua itu menghadap ke arah patung Thian-te Kwi-ong di belakang meja sembahyang untuk mulai sembahyang, disaksikan oleh semua tamu dan juga para anggauta Thian-te-kauw yang sudah menjatuhkan diri berlutut dan menghadap ke arah patung intuk ikut menghormati patung itu.
Akan tetapi pada saat itu terdengar suara yang datangnya dari patung itu! “Hok-houw Toa-to Lui Seng Cu, engkau telah mengkhianati Thian-te Kwi-ong!"
Tentu saja Lui Seng Cu dan juga Ban-tok Mo-li terkejut bukan main. Bahkan Lui Seng Cu menatap patung itu iengan muka berubah pucat, dan timbul lagi dugaannya bahwa gurunya tentu telah hadir di situ walaupun belum memperlihatkan diri. Agaknya gurunya bersembunyi di balik patung itu, maka dengan sikap hormat dia menghadap ke arah patung dan berkata, suaranya lirih. "Suhu yang mulia harap suka memperlihatkan diri dan mendengarkan keterangan teecu. Sama sekali teecu (murid) tidak pernah mengkhianati Thian-te Kwi-ong."