Halo!

Naga Sakti Sungai Kuning Chapter 112

Memuat...

Bahkan ketika dia pergi, dia masih sempat membawa sekantung emas dari kamar "beng-cu" Gan Lok sehingga kini di dalam buntalan pakaiannya, terdapat emas yang cukup banyak! Dia maklum bahwa cita-cita besar itu telah runtuh dan dia harus dapat menemukan pegangan lain yang lebih kuat. Ayahnya telah tiada, dan dia sekarang hidup seorang diri, maka dia harus dapat menggantikan kedudukan ayahnya yang pernah jaya! Ayahnya telah gagal dalam usahanya memperoleh kedudukan tinggi. Selama dua tahun ayahnya meninggalkan dia, meninggalkan pertapaannya di Himalaya untuk bertualang dan dari ayahnya dia mendengar bahwa ayahnya telah mendirikan suatu kelompok penganut atau penyembah Thian-te Kwi-ong (Raja Iblis Bumi Langit) dan menurut ayahnya, banyak orang yang sudah menjadi pengikutnya, dan yang menyebarkan kepercayaan itu, terutama sekali adanya seorang murid dan pembantunya, yaitu Hok-houw Toa-to Lui Seng Cu! Dia itulah yang harus dicarinya. Dia harus menggantikan kedudukan ayahnya, mengepalai kelompok itu dan memperkuat diri!

Dia sama sekali tidak merasa menyesal bahwa dia telah membunuh ayahnya sendiri. Ayah kandungnya. Kalau tidak dibunuhnya, tentu dia yang mati di tangan ayahnya. Bahkan kebetulan sekali ayahnya mati, karena dia dapat malang, melintang, menggantikan kedudukan ayahnya. Dia pernah mendengar dari ayahnya akan nama tokoh-tokoh dunia kang- ouw yang kiranya akan dapat dijadikan sekutunya. Mereka itu selain Hok-houw Toa-to Lui Seng Cu, juga Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu, yang tinggal di Ceng-touw. Kemudian Siangkoan Hok, kepala bajak laut yang tinggal di Pulau Hiu, dan Ouw Kok Sian, majikan daerah pegunungan Liong-san. Dia harus menemui mereka, mengajak mereka bersekutu dengan menggunakan nama ayahnya. Kalau mereka tidak mau, akan dipaksanya! Demikianlah, pada suatu pagi tibalah dia di kota Ceng-touw di Propinsi Shan-tung. Tidak sukar baginya untuk menemukan rumah Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu yang amat terkenal di dunia kang-ouw. Setelah menemukan rumah Ban-tok Mo-li, rumah yang megah dan indah itu, dia pun langsung saja memasuki pekarangan rumah dengan sikap yang amat tenang.

Memang rumah itu tempat tinggal Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu. Sekitar enam tujuh tahun yang lalu, Bu Giok Cu pernah tinggal di tempat itu sebagai murid Ban-tok Mo-li yang cantik dan lihai. Akan tetapi sekarang, keadaan wanita iblis itu sudah mengalami banyak perubahan. Kini Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu sudah berusia lima puluh tujuh tahun, sudah seorang nenek. Akan tetapi nenek yang bagaimana! Biarpun usianya sudah ima puluh tujuh tahun, ia masih nampak cantik pesolek, dengan pakaian mewah! Dan tentang ilmu kepandaian, ia malah lebih lihai dan lebih matang dibandingkan tujuh tahun yang lalu. Seperti kita ketahui, tujuh tahun yang lalu, karena tidak cocok dengan perbuatan gurunya yang menjadi pengikut penyembah Thian-te Kwi-ong dan menjadi kekasih Lui Seng Cu, tokoh sesat yang memimpin kelompok penyembah Raja Iblis itu, Giok Cu, melarikan diri dari rumah itu. Ia dikejar oleh Ban-tok Mo-li dan Lui, Seng Cu, dan tentu sudah tertawan kembali kalau saja tidak ditolong oleh Hek-bin Hwesio dan kemudian menjadi muridnya.

Sejak dihajar oleh Hek-bin Hwesioi itulah, Ban-tok Mo-li dan Lui Seng Cu lebih banyak berdiam di rumah. Akan tetapi mereka tidak tinggal diam, sebaliknya mereka berdua itu menggembleng diri dengan bermacam ilmu, menggabungkan ilmu mereka berdua, dan selain itu juga mereka memperkembang-luaskan! penyembahan Thian-te Kwi-ong sehingga memperoleh banyak sekali pengikutl Dengan ilmu silat dan sihir yang dikuasa Lui Seng Cu, mereka dapat menarik minat banyak orang, terutama sekali dari dunia sesat. Bahkan kini, untuk melakukan upacara sembahyang pemujaan Thian-te Kwi-ong, di samping kanan rumah Ban-tok Mo-li didirikan sebuah bangunan seperti kelenteng dan di sini ditaruh sebuah patung Thian-te Kwi-ong yang menyeramkan. Dan mulai terkenallah suatu aliran kepercayaan atau agama baru yang dikenal dengan sebutan Thian-te-kauw (Agama Bumi Langit)!

Namun, tidak seperti agama lain yang menganjurkan kehidupan beribadat dan saleh, di mana para petugasnya mengenakan pakaian sederhana bahkan ada yang diharuskan mencukur rambut, berpantang makanan bernyawa dan pantang kesenangan duniawi, para pengikut Thian-te-kauw ini tidak ada pantangan apa pun! Bahkan para anggauta yang bekerja di dalam kelenteng itu, baik prianya maupun wanitanya, terdiri dari orang-orang muda yang tampan dan cantik, mengenakan pakaian serba indah pesolek, berdandan dan berias muka! Satu-satunya tanda bahwa mereka adalah petugas dan anggauta Thian-te-kauw hanyalah adanya lencana di dada mereka, tanda gambar bulatan Im Yang berwarna merah dan putih!

Banyak orang berduyun datang untuk menjadi anggauta, atau sekedar untuk bersembahyang di dalam kelenteng itu minta berkah, minta ringan jodoh, obat, rejeki dan sebagainya. Atau ada yang hanya ingin mengagumi para pelayan kelenteng yang cantik-cantik dan tampan-tampan! Dan lebih daripada itu, mereka itu murah senyum, mudah bergaul dan mudah pula diajak kencan!

Akan tetapi, keadaan yang menyenangkan dan menarik minat masyarakat biasa ini hanya di luar saja. Di sebelah dalam, Lui Seng Cu yang dibantu Ban-tok Mo-li memperkuat diri! Mereka menarik banyak tokoh sesat untuk bergabung dan bersekutu, juga di samping itu, para anggauta yang sudah dipercaya, lalu digembleng ilmu silat sehingga kini jumlah anggauta Thian-te-kauw yang sudah lihai ilmu silatnya terdapat ratusan orang. Mereka ini lalu disebar ke daerah lain untuk memperkembangkan Thian-te-kauw. Selama tujuh tahun saja, Thian-te-kauw meluas dan memiliki cabang di banyak tempat, dengan kelenteng-kelenteng yang mewah dan menyenangkan. Mulailah banyak uang mengalir masuk, karena pandainya para anggauta Thian-te-kauw menyebar berita bahwa kelenteng Thian-te-kauw amat manjur dan bahwa Thian-te Kwi-ong memenuhi segala permintaan orang. Mungkin karena amat percaya, maka banyak orang terkabul keinginan hati mereka setelah melakukan sembahyang di kelenteng Thian-te-kauw, dan untuk imbalan, mereka memberi sumbangan yang besar sehingga Thian-te-kauw, dalam waktu tujuh tahun saja, menjadi perkumpulan agama baru yang kaya!

Demikianlah keadaan Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu dan Lui Seng Cu sekarang. Lui Seng Cu dahulunya merupakan seorang perampok tunggal yang ditakuti karena dia lihai sekali. Terutama sekali permainan goloknya amat dahsyat. Golok besarnya itulah yang membuat dia di juluki orang Hok- houw Toa-to (Si Golok Besar Penaluk Harimau). Akan tetapi setelah dia bertemu dan ditalukkan oleh mendiang Cui-beng Sai-kong, dia lalu menjadi murid dan pembantu datuk besar itu, bahkan lalu menjadi penyebar kepercayaan baru yang memuja Thian-te Kwi-ong itu. Melalui kepercayaan ini pula dia berhasil memikat hati Ban-tok Mo-li yang kemudian menjadi pembantu dan juga kekasihnya. Bahkan tempat tinggal Ban- tok Mo-li di kota Ceng-touw dijadikan pusat Thian-te-kauw!

Ketika Can Hong San memasuki pekarangan dan melihat banyak orang mendatangi bangunan kuil di sebelah rumah besar itu, dia pun tertarik dan menuju ke kuil itu. Di depan kuil itu dia melihat papan yang bertulisan dengan huruf besar THIAN TE KAUW dan dia pun menahan senyumnya. Agaknya pembantu dan murid ayahnya, Hok-houw Toa-to Li Seng Cu bekerja dengan amat baiknya menyebar-luaskan agama baru itu, pikirnya. Kalau ayahnya masih hidup, tentu dia akan senang sekali. Kini karena ayahnya sudah tidak ada, dialah yang senang. Thian-te-kauw! Inilah sesuatu yang dapat dijadikan dasar untuk memperkuat diri! Dan dia sudah sepatutnya menjadi ketua Thian-te-kauw! Kiranya, selain ayahnya, hanya dia seorang yang mampu mengubah diri menjadi Thian-te Kwi-ong! Dia lalu memasuki kuil dan melihat- lihat keadaan. Seorang anggauta Thian-te-kauw yang bertugas di kuil itu menghampirinya. Dia seorang pria muda yang tampan dan usianya kurang lebih dua puluh tahun, namun sikapnya ramah sekali, keramahan yang merupakan syarat dari tugasnya.

“Selamat pagi, Kongcu. Dapatkah saya membantumu? Hendak sembahyang apakah ? Pemujaan? Atau pernyataan syukur?"

Hong San tersenyum. Dia melihat betapa para petugas di kuil itu semua masih muda dan para tamu pria dilayani pelayan pria yang muda dan tampan, pura tamu wanita dilayani gadis-gadis yang manis pula. Tidak seperti kuil biasa. Mereka berpakaian seragam putih kuning, bukan jubah pendeta, dan hanya di dada mereka terdapat tanda anggauta Thian-te-kauw.

"Terima kasih, aku ingin sembahyang dan ada permohonan," katanya.

Pelayan kuil itu mendekat dan bertanya dengan suara lirih. "Permohonan apakah, Kongcu? Jodoh? Rejeki? Pangkat? Obat?"

Hong San juga berbisik ketika menjawab, "Aku ingin mengajukan permohonan agar berhasil menjadi ketua sebuah perkumpulan."

Pemuda itu terbelalak dan menatap wajah Hong San. "Kongcu masih semuda ini sudah memiliki cita-cita besar! Sungguh mengagumkan! Kedudukan ketua? Kedudukan.

itu sama dengan pangkat. Mari, Kongcu, jangan khawatir, saya akan memberi petunjuk bagaimana caranya melakukan sembahyang mengajukan permohonan." Dengan cekatan dan menyenangkan, pemuda itu lalu menjadi penunjuk cara bersembahyang. Hong San menurut saja dan setelah bersembahyang mengajukan permohonannya untuk "menjadi ketua perkumpulan" tanpa menyebut nama perkumpulan itu, dia dianjurkan untuk mengambil jawaban melalui "ciam", yaitu batang-batang bambu yang bernomor. Setelah memperoleh nomor jawaban, pelayan kuil itu mengambilkan kertas bertulis yang nomornya sama dengan nomor batang bambu yang terpilih oleh Hong San. Hong San menerima kertas itu dan membaca syair yang ditulis dengan indahnya.

Bulan sedang cemerlang langit tiada awan

hindari bayang-bayang agar mencapai tujuan.

"Boleh saya tafsirkan syair jawaban ini untukmu, Kongcu?" tanya Si Petugas.

Hong San tersenyum. Tidak ditafsirkan pun dia sudah tahu, akan tetapi dia hendak melihat bagaimana petugas itu bergaya. Diberikannya kertas jawaban itu. Si Petugas yang masih muda membacanya lalu mengangguk-angguk dengan wajah cerah.

"Aih, ternyata Thian-te Kwi-ong memberkahimu, Kongcu. Permohonanmu terkabul! Coba dengarkan. Bulan sedang cemerlang, langit tiada awan, berarti bahwa waktunya amat baik bagi Kongcu dan tidak terdapat halangan sesuatu untuk mencapai tujuan. Akan tetapi di sini ada kalimat hindari bayang-bayang agar mencapai tujuan. Kongcu diperingatkan agar berhati-hati dan jangan tergoda, jangan goyah dan mencurahkan perhatian sepenuhnya kepada kedudukan ketua yang hendak Kongcu capai. Nah, jawaban ini jelas dan juga amat baik, bukan?"

Post a Comment