"Engkau tidurlah. Semalam engkau tidak tidur, engkau tentu lelah," katanya.
Han Beng menggeleng kepalanya. "Aku tidak mengantuk dan semalam aku sudah duduk mengaso di sini. Alam indah bukan main dan rasa lelah pun hilang. Lihat, matahari demikian indahnya, Giok Cu," katanya, menunjuk ke depan.
Bagian sungai itu lebar sekali seperti lautan dan matahari nampak seperti sebuah bola merah yang amat besar, dan sinarnya belum menyilaukan mata. Giok Cu memandang bola yang perlahan-lahan muncul dari permukaan air di depan, ia kagum bukan main. Memang penglihatan itu indah sekali. Sukar membayangkan betapa bola kemerahan seperti emas yang indah dan redup itu sebentar lagi akan menjadi bola api yang selain panas, juga tidak mungkin dapat dipandang mata karena menyilaukan. Lebih sukar untuk mengerti betapa bola api yang teramat jauh itu menjadi sumber tenaga, bahkan menjadi sumber kehidupan di permukaan bumi! Setiap kali kita melihat matahari, sepatutnya kita bersukur dan memuji nama Sang Maha Pencipta yang demikian penuh kuasa dan kasih sayang kepada seluruh alam semesta, terutama begitu kasih sayang kepada manusia.
Kini matahari telah berubah menjadi bola emas yang cerah sekali, mulai tak tahan mata memandang gemilangnya sinar matahari, dan bola emas itu membuat jalan emas di permukaan air Sungai Huang-ho. Bola emas yang mulai berkobar dan menggugah seluruh permukaan bumi dari tidur lelap.
Tiba-tiba perhatian Han Beng dan Giok Cu tertarik akan munculnya sebuah perahu besar yang datang dari tepi dan agaknya sengaja menghadang perjalanan perahu kecil mereka. Tukang perahu juga melihatnya dan tiba-tiba tukang perahu itu menggigil ketakutan.
"Celaka ........... kita dihadang bajak sungai !"
bisiknya. Mendengar ini, Han Beng dan Giok Cu memandang penuh perhatian. Di atas perahu besar itu nampak belasan orang dan beberapa orang di antara mereka memegang golok besar. Wajah mereka beringas dan jelas nampak bahwa mereka adalah orang-orang kasar yang sudah biasa mempergunakan kekerasan untuk memaksakan kehendak mereka. Bajak sungai! Dan pada layar perahu yang setengah berkembang itu terdapat gambar tengkorak putih. Terdengar para bajak itu mulai berteriak-teriak dan tertawa-tawa ketika mereka melihat seorang gadis cantik di atas perahu kecil yang mereka hadang.
Kemudian nampak seorang laki-laki tinggi besar bermuka hitam menjenguk ke bawah dan melihat betapa para bajak itu minggir untuk memberi tempat Si Muka Hitam itu, mudah diduga bahwa tentulah dia itu kepalanya. Melihat Giok Cu, Si Muka Hitam juga tertawa dan terdengar dia berseru nyaring. "Heiii, perahu yang di bawah, Serahkan gadis itu kepadaku, baru perahu boleh lewat dengan aman! Kalau tidak, gadis itu akan kami rampas dan kalian akan kami bunuh, kami jadikan umpan ikan, ha-ha-ha!"
Giok Cu marah sekali, akan tetapi ia didahului Han Beng yang berkata tenang, "Giok Cu, engkau tinggallah menjaga di sini, biar aku yang menghadapi mereka. Ini adalah wilayahku!" Setelah berkata demikian, sekali meloncat, Han Beng telah melayang ke atas perahu besar.
Giok Cu ingin menyusul, akan tetapi ia teringat bahwa Han Beng berjuluk Huang-ho Sin-liong (Naga Sakti Sungai Kuning), maka ia pun tersenyum. Han Beng telah menjadi seorang pendekar yang mengambil sungai itu sebagai wilayahnya, di mana ia menentang semua kejahatan di sepanjang sungai!
Sementara itu, para bajak terkejut melihat pemuda tinggi besar dan tampan gagah itu melayang seperti terbang saja ke atas perahu mereka. Akan tetapi, karena mereka berjumlah enam belas orang, tentu saja mereka tidak takut dan segera mereka menyambut pemuda itu dengan bacokan-bacokan golok besar di tangan mereka. Akan tetapi, begitu pemuda itu menggerakkan kaki dan tangannya, empat orang bajak berteriak kesakitan, golok mereka beterbangan dan tubuh mereka pun terlempar ke luar dari perahu besar. Air sungai muncrat ketika tubuh mereka menimpa air. Sementara itu, begitu para bajak laut menyerbu lagi, kembali empat orang terlempar oleh kaki tangan Han Beng dan tubuh mereka terbanting ke air.
Melihat betapa dalam dua gebrakan saja Han Beng telah melemparkan delapan orang anak buahnya keluar perahu, kepala bajak sungai yang bermuka hitam itu menjadi terkejut, akan tetapi juga marah sekali. Dia mengeluarkan bentakan nyaring dan menyerang dengan senjatanya, yaitu sebatang tombak panjang yang besar dan berat. Ujung tombak yang runcing itu meluncur ke arah perut Han Beng! Namun, pemuda ini dengan tenang saja miringkan tubuh sehingga tombak itu lewat di samping pinggangnya dan begitu ia menurunkan tangan kanan, dia telah menangkap tombak itu. Si Kepala Bajak mencoba untuk menarik tombaknya, namun sama sekali tidak berhasil. Dia semakin marah dan melepaskan tangan kanannya dari gagang tombak, melangkah maju dan menghantamkan tangan kanannya dengan kepalan yang besar itu ke arah muka Han Beng! Pemuda itu menyambutnya dengan tangan kiri yang terbuka.
"Plakkkk!" Kepalan tangan kanan kepala bajak yang kuat dan besar itu bertemu dengan telapak tangan Han Beng yang segera mencengkeram, dan kepala bajak itu menjerit-jerit kesakitan, mencoba untuk menarik tangannya namun tidak dapat terlepas. Dua orang bajak menyerang dengan golok, namun dua kali kaki Han Beng melayang dan tubuh dua orang itu pun terlempar keluar dari perahu!
"Aduh, ampun.............. aduhhhhh, ampun. Tai-
hiap. !" Kepala bajak itu mengaduh-aduh karena
kepalan tangan yang dicengkeram itu seperti dipanggang dalam api saja rasanya. Panas dan nyeri bukan main, sampai menusuk ke tulang sumsum dan meremas jantung.
"Hemmm, orang macam engkau ini seharusnya dibasmi!" kata Han Beng sambil mendorongkan tangannya dan cengkeramannya dilepaskan. Kepala bajak itu terjengkang dan dia memegangi tangan kanannya yang tulang-tulangnya remuk itu dengan tangan kiri, mengaduh-aduh. Ketika dia melihat anak buahnya masih memegang goloknya, dia membentak.
"Buang senjata kalian dan berlutut minta ampun kepada Tai-hiap!"
Sisa bajak yang tinggal lima orang itu dengan ketakutan lalu membuang golok mereka dan menjatuhkan diri berlutut, mengangguk-angguk seperti sekumpulan ayam mematuki beras sambil minta ampun.
Sepuluh orang bajak yang terlempar ke air sungai tadi tidak menderita luka. Mereka berenang dan menuju ke perahu kecil, dengan maksud untuk menangkap gadis cantik di perahu itu. Akan tetapi, mereka disambut hantaman dayung oleh Giok Cu. Biarpun ada yang mencoba untuk menyelam dengan maksud menggulingkan perahu, namun dayung itu tetap saja dapat menghantam mereka dalam air dan berturut-turut, sepuluh orang bajak sungai itu pingsan dan tubuh mereka hanyut perlahan-lahan?
Han Beng melihat hal itu. Dia khawatir kalau bajak-bajak yang dipukuli dayung oleh Giok Cu itu tewas, maka dia pun berkata kepada para bajak, "Kalian selamatkan dulu kawan- kawan kalian itu!"
Kepala bajak yang masih meringis kesakitan karena buku- buku jari tangan kanannya patah-patah, memerintah, "Cepat tolong mereka!" Dan lima orang anak buahnya itu berloncatan ke air, berenang dan masing-masing menjambak rambut dua orang kawan yang pingsan dan menyeret mereka ke perahu. Biarpun dengan susah payah, akhirnya mereka berhasil juga menyeret tubuh sepuluh orang bajak yang pingsan itu ke atas perahu.
"Ampun, Taihiap Kami seperti buta saja, tidak mengenal seorang gagah. Bukankah Tai-hiap ini Huang-ho Sin-liong?"
Han Beng mengangguk. "Sebetulnya, sudah menjadi tugasku untuk membunuh kalian semua!"
"Ampun, Tai-hiap, ampunkan kami kami tidak
mengenal Tai-hiap maka berani berbuat lancang. " "Hmmm, keparat kau! Jadi kalau berhadapan dengan yang kuat kalian tidak berani, akan tetapi kalau berhadapan dengan orang lemah kalian lalu berbuat jahat dan sesuka hati kalian?"
"Ampun, kami tidak berani lagi. " kata kepala bajak.
Pada saat itu, nampak bayangan berkelebat dan Giok Cu telah berdiri di perahu itu. Melihat ini, kepala bajak dan anak buahnya menjadi semakin terkejut. Baru mereka tahu bahwa bukan hanya Huang-ho Sin-liong yang lihai, bahkan nona yang cantik itu pun lihai bukan main. Dari caranya merobohkan sepuluh orang bajak di air dan caranya meloncat dari perahu kecil ke perahu besar saja sudah membuktikan kelihaiannya.