"Hemmm, mereka adalah ketua Pouw beng-pang yang bernama Kim-bwe-eng Gan Lok dan wakilnya yang bernama Kim-kauw-pang Pouw In Tiong!"
"Tepat sekali! Hanya bedanya, ketuanya yang berjuluk Gan Lok itu menurut Suhu berjuluk Kiu-bwe-houw (Harimau Ekor Sembilan) dan senjatanya pecut ekor sembilan dan cakar harimau, bukan golok rantai seperti sekarang. Akan tetapi jelas mereka berdua itu yang dulu juga ikut memperebutkan kita."
Dugaan Han Beng memang tepat. Ketua Pouw-beng-pang itu memang tokoh kang-ouw yang dahulu berjuluk Kiu-bwe- houw dan bersenjata pecut ekor sembilan. Akan tetapi setelah dia terlibat dalam pemberontakan dan menjadi buruan pemerintah, dia lalu mengubah julukannya menjadi Kim-bwe- eng dan mengganti pula senjatanya dengan golok rantai. Perubahan julukan dan senjata ini, sedikit banyak menolongnya dalam pelarian sampai dia menjadi ketua Pouw- beng-pang seperti sekarang.
Setelah menyetujui ajakan Han Beng untuk bekerja sama, pemuda dan gadis itu lalu melakukan perjalanan cepat, memasuki kembali kota Siong-an.
"Kita harus berhati-hati," kata Han Beng. "Sebaiknya memasuki kota Siong-an pada malam hari. Bagaimanapun juga, kepala daerah kota itu, Cang Tai-jin, adalah sekutu pemberontak dan tentu dia menyebar petugas untuk mengejar kita."
"Mengapa kita berkunjung ke Siong-an ?" tanya Giok Cu. "Liu Tai-jin telah memesan kepadaku bahwa kalau aku
hendak menghubunginya, aku dapat mengadakan kontak dengan seorang pedagang obat yang membuka toko obat di kota Siong-an. Orang itu bernama Kui Song dan dia adalah mata-mata dari Liu Tai-jin."
Mereka berdua menanti di luar kota sampai hari menjadi gelap, barulah mereka menggunakan ilmu kepandaian mereka memasuki kota itu dengan meloncat pagar tembok kota dan bagaikan dua bayangan mereka berkelebatan mencari rumah tinggal Kui Song.
ooOOoo
Tidak sukar mencari toko itu. Mereka berdua berjalan mondar-mandir beberapa kali di jalan depan toko obat itu. Setelah melihat keadaan di toko itu sepi, juga di jalan mulai sepi karena malam mulai larut, dan para penjaga toko obat itu mulai menutup toko, mereka lalu menghampiri para penjaga toko. Karena mengira mereka hendak membeli obat, seorang penjaga toko menyambut mereka.
"Kongcu dan Siocia (Tuan Muda dan Nona) hendak mencari obat apakah?"
"Kami hendak menawarkan rempah-rempah dan obat-obat yang kami bawa dari hulu sungai. Apakah Paman Kui Song ada? Kami ingin bicara sendiri perdagangan ini dengan dia."
Penjaga toko itu memandang dengan mata menyelidik. "Kalau hendak menawarkan dagangan, sebaiknya kalau besok pagi saja engkau datang lagi. Kui Sin-she (Tabib Kui) sedang beristirahat dan tidak boleh diganggu."
"Hemmm, akan tetapi selain menawarkan dagangan, juga kami mempunyai urusan penting, mengenai pesanan Paman Kui. Harap sampaikan kepadanya bahwa kami perlu bertemu karena urusan yang amat penting."
Orang itu kembali mengamati Han Beng dan Giok Cu, lalu bertanya denga hati-hati.
"Siapakah Ji-wi (Anda Berdua) dan keperluan apakah yang penting itu. Akan kusampaikan kepada Kui Sin-she."
"Katakan saja bahwa aku orang she Si membawa berita penting untuk orang she Liu."
Kini penjaga toko itu tidak banyak cakap lagi, lalu masuk ke dalam dan dua orang kawannya melanjutkan pekerjaan mereka menutup toko. Tak lama kemudian, dia kembali lagi bersama seorang pria berusia lima puluh tahun, bertubuh tinggi kurus, berpakaian seperti seorang sastrawan dan memiliki pandang mata yang tajam. Melihat Han Beng, dia mengamati dengan tajam, lalu bertanya dengan suara lirih.
"Huang-ho Sin-liong ?"
Han Beng mengangkat kedua tangan ke depan dada. "Aku Si Han Beng mempunyai urusan penting dengan Paman Kui Song. Dan ini adalah Nona Bu Giok Cu, seorang sahabat baik."
Kui Song cepat membalas penghormatan mereka. "Mari, silakan masuk. Kita bicara di dalam saja," katanya sambil melempar pandang dengan penuh perhatian ke jalan raya. Dia mengangguk lega ketika melihat suasana yang sunyi di luar. Sambil mengantar dua orang tamunya masuk, dia berkata kepada tiga orang penjaga toko itu, "Setelah tutup kalian berjaga di luar."
Setelah masuk ke dalam, ternyata rumah itu luas juga dan selain tiga orang pria yang bertugas menjaga toko dan menjaga di luar, di dalam terdapat pula dua orang pemuda yang bertugas sebagai pelayan pula. Padahal, seperti juga yang berada di luar, mereka berlima itu adalah lima orang perajurit pengawal yang memiliki kepandaian silat lumayan, dan sengaja diperbantukan kepada Kui Song yang bertugas sebagai seorang penyelidik atau mata-mata. Tidak ada seorang pun wanita di situ. Kui Song tidak begitu bodoh untuk memboyong keluarganya yang berada di kotaraja, karena di Siong-an dia mempunyai tugas yang berbahaya. Kalau tugasnya gagal dan ketahuan pihak musuh, nyawanya terancan bahaya. Di kota raja, Kui Song mempunyai kedudukan sebagai seorang perwira tinggi. Karena dia mengerti tentang obat-obatan, maka dia menyamar sebagai seorang tabib yang berdagang obat di kota itu.
Setelah mereka duduk di ruangan dalam, Kui Song berkata, "Harap Si Tai-hiap jangan heran bahwa aku sudah menduga bahwa engkau adalah Huang-ho Sin liong yang terkenal itu karena aku sudah menerima keterangan dari Liu Tai-jin! tentang dirimu. Oleh karena itu, begitu! pembantuku melapor bahwa ada tamu she Si yang hendak menyampaikan berita! penting untuk Liu Tai-jin, aku segera dapat menduga siapa adanya engkau. Dan maafkan aku, bagaimana dengan Nona Bu ini? Aku belum mengenalnya."
"Justeru ialah yang menjadi pembawa berita dan keterangan yang teramat penting tentang gerombolan pemberontak karena ia baru saja keluar dari sana dan sempat melihat dan mendengar tentang persekutuan mereka itu. Nona Bu ini adalah seorang sahabatku yang dapat dipercaya sepenuhnya, dan ia adalah seorang pendekar wanita yang amat lihai."
Mendengar ini, Kui Song segera bangkit dan memberi hormat kepada Giok Cu. "Ah, kalau begitu, harap maafkan aku, Li-hiap (Pendekar Wanita). Nah, sekarang harap Ji-wi suka menceritakan, berita apa yang amat penting itu?"
"Bahwa terdapat bukti adanya persekutuan antara Cang Tai-jin dengan pihak gerombolan pemberontak dan tentang perkumpulan Pouw-beng-pang yang bersekutu dengan orang- orang Hui untuk memberontak dengan dalih berjuang demi kepentingan rakyat tertindas," kata Han Beng. Mendengar ucapan itu, wajah Kui Song berseri.
"Itu sungguh berita yang amat penting! Memang itulah yang ditunggu-tunggu oleh Liu Tai-jin. Tuntutan terhadap Cang Tai- jin sebagai seorang yang menyalahgunakan tugas dan wewenang-nya, memaksa rakyat untuk menjadi pekerja paksa tanpa bayaran membuat terusa memang merupakan urusan besar, akan tetapi lebih besar lagi kalau dia bersekutu dengan gerombolan pemberontak. Si Tai-hiap, harap ceritakari dengan jelas."
"Nona Bu ini yang dapat bercerita lebih jelas. Kami sengaja hendak menyampaikan hal ini kepada Paman Kui Song, karena kami tidak ada waktu untu'k menghadap sendiri kepada Liu Tai-jin. Juga kami tidak ingin mencampuri urusan pemerintah, hanya ingin membantu untuk menentang kejahatan saja. Giok Cu, ceritakanlah."
Giok Cu lalu menceritakan tentang semua hal yang dilihat dan didengarnya Betapa Cang Tai-jin, kepala daerah Siong-an bersekutu dengan gerombolan pemberontak dan sebagai utusan dari wakilnya, dia mengutus Kim-bwe Sam houw, tiga orang tokoh sesat yang amat terkenal di daerah Siong-an itu. Kemudian ia juga bercerita tentang Kim-kauw-pang Pouw In Tiong, juga tentang Yalami Cin, kepala suku Hui yang bersekutu dengan para pemberontak yang bersembunyi di balik nama pejuang pembela rakyat itu!
Mendengar keterangan itu, Kui Song gembira bukan main. "Ah, sungguh keterangan kalian ini amat penting! Tak kusangka mereka sudah bergerak sejauh itu! Mereka mempunyai anak buah kurang lebih lima ratus orang ditambah orang-orang Hui kurang lebih dua ribu orang? Berbahaya sekali! Kalau mereka bergerak sekarang, kota Siong-an dapat mudah mereka duduki. Penjagaan di sini tidak begitu kuat. Ah, berita ini harus cepat kusampaikan kepada Liu Tai-jin di kota raja! Ji-wi telah berjasa besar dan akan dilaporkan kepada Liu Tai-jin. Kalau kemudian Liu Tai-jin melaporkan ke istana, tentu Ji-wi akan mendapat anugerah besar dari Sribaginda Kaisar. Liu Tai-jin adalah seorang atasan yang amat adil dan bijaksana."
Giok Cu mengerutkan alisnya dan menjawab dengan suara yang dingin.
"Aku tidak pernah mengharapkan ini balasan jasa! Aku tidak menganggap ini sebagai jasa, melainkan sebagai kewajiban, maka tidak perlu Paman membuat laporan."
"Apa yang dikatakan Nona Bu benar, Paman Kui. Kami sudah merasa cukup puas kalau pemberontakan itu dapat dibasmi sebelum terjadi perang yang hanya akan menyengsarakan rakyat. Dan kami percaya bahwa Liu Tai-jin akan menyeret pembesar-pembesar seperti Cang Tai-jin itu ke pengadilan. Kalau rakyat tidak dipaksa bekerja, kalau diberi jaminan dan penerangan yang baik tanpa paksaan dan tekanan, aku yakin rakyat akan dengan suka rela membantu penyelesaia pembuatan terusan itu. Jangan rakyat yang sudah miskin itu ditindas dan dijadikan kerja paksa lagi."
"Jangan khawatir, Tai-hiap dan Li-hiap. Biarpun di mana- mana terdapat pembesar-pembesar korup yang menekan rakyat semacam Cang Tai-jin, namun masih ada pemimpin- pemimpin seperti Liu Tai-jin yang menjalankan tugasnya dengan baik, bijaksana, dan adil."