Halo!

Naga Sakti Sungai Kuning Chapter 106

Memuat...

"Ayah Ibuku telah tewas!"

"Ohhh ! Kalau begitu sama dengan Ayah Ibuku

........... " kata Han Beng menyesal.

“Ahhh! Ayah Ibumu juga tewas, Han Beng?" Pemuda itu mengangguk dan keduanya termenung. Kalau tadi mereka saling bertemu, keduanya menjadi gembira sekali, kini mereka merasa bahwa ada ikatan yang lebih erat di antara mereka karena mereka berdua ternyata memiliki nasib yang sama pula!

"Biar kuceritakan saja semua pengalamanku, Giok Cu. Ketika terjadi peristiwa hebat di sungai itu, ketika para tokoh kang-ouw yang tadinya berebutan anak naga, kemudian berbalik memperebutkan kita karena kita telah minum darah anak naga atau ular itu, kita saling berpisah. Aku tentu sudah tewas atau setidaknya ditawan orang jahat kalau saja tidak ditolong oleh Suhuku yang pertama. Suhu itu pun tentu takkan mampu melindungi aku kalau tidak dibantu oleh Suhuku ke dua. Dan di dalam perebutan di sungai itulah Ayah dan Ibuku tewas, entah oleh siapa, Giok Cu. Aku lalu mengikuti Suhuku yang pertama selama lima tahun, lalu Suhu ke dua selama lima tahun, kemudian aku masih berguru lagi kepada seorang tosu. Baru saja aku turun dari Gunung Thai-san dan Suhu menasehati aku untuk membebas rakyat yang tertindas oleh adanya kerja paksa pembuatan terusan, juga untuk menentang kejahatan."

"Aih, gurumu tiga orang. Pantas sekali engkau menjadi begini lihai."

"Dangan terlalu memujiku, Giok Cu Sekarang ceritakanlah pengalamanmu. Ingin sekali aku mendengar."

"Pengalamanku biasa saja, tidak sehebat engkau. Tentu engkau telah menjadi seorang pendekar yang hebat, maka orang-orang Hui itu sampai begitu sayang kepadamu, bukan hanya menyebutmu Huang-ho Sin-liong, akan tetapi juga mereka tidak mau menentangmu."

"Engkau terlalu merendahkan dirimu Giok Cu. Sudahlah, jangan goda aku yang sudah ingin sekali mendengar riwayatmu. Ceritakanlah." "Seperti engkau, ketika terjadi keributan di Sungai Huang- ho itu, aku pun diselamatkan oleh seorang wanita sakti yang kemudian menjadi guruku. Selama tujuh tahun aku digembleng oleh guruku itu. Kemudian, aku bertemu dengan guruku yang ke dua dan dari guruku ke dua ini, seorang hwesio tua yang lebih sakti lagi, aku dilatih selama lima tahun. Nah, aku turun gunung dan seperti engkau pula, Suhu menasehati aku untuk menentang kejahatan dan melindungi rakyat yang tertindas. Tentu saja aku menentang para pejabat yang memaksa rakyat untuk bekerja membuat terusan sebagai kerja paksa tanpa bayaran. Bukankah keluarga kita menderita malapetaka justeru karena adanya kerja paksa itu? Dan di dalam keributan itu, Ayah dan Ibu juga tewas oleh orang jahat."

Han Beng tidak puas mendengar cerita yang singkat itu. Dia tidak merasa bahwa dia sendiri pun tadi menceritakan pengalamannya dengan singkat pula, hanya garis besarnya saja. Dia memang pada dasarnya tidak pandai bicara.

"Lalu bagaimana engkau dapat menderita luka di sebelah dalam tubuhmu kalau tidak terkena pukulan lawan seperti kau katakan tadi?"

Giok Cu teringat akan subonya dan ia menarik napas panjang. Subonya ia adalah penolongnya, akan tetapi ternyata juga merupakan orang yang mencelakakannya. Memang, ia disayang dan diajari ilmu-ilmu milik subonya. Akan tetapi sejak ia kecil, subonya sudah memberi tanda merah pada lengannya itu. Tanda merah yang membuat ia selama hidupnya tidak akan berani menjadi isteri orang! Dan sekarang, ternyata ilmu- ilmu dari subonya itu juga berbahaya bagi nyawanya. Tepat seperti dikatakan oleh Hek Bin Hwesio, gurunya kedua bahwa menggunakan llrnu-ilmu sesat dari subonya itu amat berbahaya. Kalau ia bertanding dengan orang yang memiliki kekuatan yang lebih besar, maka hawa beracun yang dipergunakan dalam pukulannya seperti yang diajarkan subonya itu akan dapat membalik dan melukai diri sendiri. "Ah, itu memang salahku sendiri. Ketahuilah bahwa Suboku adalah seorang datuk sesat yang mengajarkan ilmu-ilmu yang mengandung hawa beracun kepadaku. Setelah aku berguru kepada hwesio tua itu, Suhu meberitahu bahwa amat berbahaya bagiku kalau mempergunakan ilmu-ilmu dari Subo itu dalam perkelahian melawan lawan yang tangguh. Aku tidak mentaati nasehatnya dan aku telah nenggunakan ilmu-ilmu sesat itu sehingga aku terluka, maka itu adalah kesalahanku sendiri."

"Siapakah Subomu itu, Giok Cu?"

"Subo berjuluk Ban-tok Mo-li bernama Phang Bi Cu

............"

"Ahhhhh !" Han Beng berseru, kaget karena dia sudah

amat mengenal nama datuk sesat itu. Bahkan puteri dari Ban- tok Mo-li itu, ialah Sim Lan Ci, adalah Nyonya Coa Siang Lee yang telah menjadi saudara angkatnya!

"Engkau sudah mengenal Subo?" tanya Giok Cu sambil memandang tajam penuh selidik.

"Tidak, akan tetapi aku sudah sering mendengar nama besarnya. Dan siapa nama Suhumu yang ke dua itu?"

"Nama Suhu adalah Hek bin Hwesio. Apakah engkau juga sudah mengenalnya?''

Dengan jujur Han Beng menggeleng kepala. "Aku hanya pernah mendengar ilmu kepandaian Hek-bin Hwesio amat tinggi. Tidak heran engkau begini lihai Giok Cu. Kiranya murid Lo-cianpwe (Orang Tua Sakti) Hek-bin Hwesio."

"Han Beng, engkau ingin tahu segalanya dariku, akan tetapi engkau sendir tidak menceritakan apa-apa tentang dirimu. Siapakah nama guru-gurumu itu Tentu mereka merupakan orang-orang yang sakti di dunia kang-ouw maka engkau dapat memiliki ilmu kepandaian sehebat itu."

"Ah, boleh jadi guru-guruku pandai akan tetapi aku sendiri hanya seorang murid bodoh yang masih harus banyak belajar. Guruku yang pertama berjuluk Liu Bhok Ki, yang ke dua Sin- ciang Kai-ong dan yang ke tiga adalah Pek I Tojin. eh,

kenapa kau?"

Giok Cu tidak mendengarkan lagi nama-nama berikutnya setelah mendenga nama guru pertama dan ia sudah bangkit berdiri, memandang kepada Han Ben dengan sinar mata bersinar aneh dan muka kemerahan karena marah.

"Liu Bhok Ki ............ ? Sin-tiauw Liu Bhok Ki ?"

"Benar dia, apakah engkau sudah kenal dengan Suhu, Giok Cu?"

"Tentu saja aku kenal! Di mana dia sekarang? Di mana aku dapat bertemu dengan Sin-tiauw Liu Bhok Ki. ?"

Han Beng yang berwatak jujur itu tidak melihat perubahan sikap gadis itu. Dia bahkan merasa girang bahwa Giok Cu mengenal suhunya. "Suhu Liu Bhok Ki masih berada di tempat pertapaan-nya yang dulu, yaitu di puncak Kim-hong-san di lembah Sungai Kuning "

"Bagus sekali! Sekarang juga aku akan mencarinya di sana!" Berkata demikian, gadis itu siap untuk pergi meninggalkan tempat itu. Akan tetapi tentu saja sikap ini membuat Han Beng terkejut dan heran. Dia sudah melangkah ke depan Giok Cu, memandang gadis itu dengan penuh selidik.

"Giok Cu, nanti dulu. Mengapa engkau tergesa-gesa mencari Suhu Liu Bhok Ki? Ada urusan apakah dengan dia?" "Bukan urusanmu, dan engkau tidak boleh mencampuri. Ini urusan pribadiku!"

"Akan tetapi, ada apakah, Giok Cu ? Aku adalah sahabatmu, dan aku muridnya "

"Hemm, jadi engkau hendak membelanya, ya?" "Membelanya? Apa maksudmu? Engkau engkau

mau apakah mencari Suhu?" "Aku hendak membunuhnya!"

Tentu saja Han Beng merasa terkejut bukan main sehingga sejenak dia tidak mampu mengeluarkan kata-kata, hanya memandang kepada Giok Cu dengan mata terbelalak. Lalu dia teringat bahwa gadi ini adalah murid Ban-tok Mo-li, ibu kandung Sim Lan Ci. "Giok Cu, apakah engkau diutus Ban-tok Mo-li untuk memusuhi Suhu Liu Bhok Ki?" Suaranya mengandung teguran. Sikap ini membuat Giok Cu menjadi marah.

"Kalau betul engkau mau apa? Engkau hendak membela gurumu? Boleh!" tantangnya dan gadis itu sudah mencabut pedangnya yang tumpul.

"Sabarlah, Giok Cu. Engkau sendiri tadi mengaku bahwa gurumu itu, Ban-Tok Mo-li adalah seorang datuk sesat. Kalau engkau mewakili Ban-tok Mo-li untuk menyerang Suhu karena urusan Sim Lan Ci, maka aku dapat memberi penjelasan. Suhu tidak bersalah, bahkan kini dia sudah berbaik dengan Sim Lan Ci dan suaminya, Coa Siang Lee."

"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan itu. Aku hendak membunuh Liu Bhok Ki bukan karena diutus Subo, melainkan urusan pribadiku. Dia telah berdosa besar dan bagaimanapun juga, Han Beng, aku harus membunuhnya. Kalau engkau hendak membelanya, terpaksa engkau pun akan kuhadapi sebagai musuh! Aku siap mempertaruhkan nyawa untuk tugas ini!"

Tentu saja Han Beng menjadi semakin kaget. Tentu ada urusan yang amat besar telah terjadi antara gurunya yang pertama itu dengan gadis ini. Kalau tidak begitu, tidak mungkin Giok Cu mendendam sehebat ini.

"Giok Cu, aku bukan hendak membela Suhu, hanya aku sungguh tidak mengerti mengapa engkau memusuhi Suhu seorang pendekar yang budiman. Katakanlah agar aku tidak penasaran, Giok Cu mengapa engkau hendak membunuh Suhu Liu Bhok Ki?"

"Karena dia telah membunuh Ayah dan Ibuku!"

Han Beng tersentak kaget, matanya melebar dan mukanya menjadi agak pucat, bahkan dia seperti menerima pukulan pada mukanya yang membuat dia terhuyung ke belakang sampai lima langkah.

"Tidak ........ tidak mungkin !" Dia berteriak. "Tidak

mungkin Suhu Liu Bhok Ki melakukan kekejian itu! Mengapa dia harus membunuh Ayah Ibumu? Ah, engkau salah sangka, Giok Cu, Suhu Liu Bhok Ki sama sekali tidak membunuh Ayah Ibumu. Akulah yang menjadi saksinya. Sebelum dia membawaku pergi kami berdua telah bertemu dengan Ayah Ibumu karena aku mencari orang tuaku dan bahkan mereka diobati oleh guruku itu!”

Post a Comment