Halo!

Kisah si Bangau Putih Chapter 155

Memuat...

Siang Cun menangis dan merebahkan kepalanya di atas meja dalam kamar hotel itu, menyembunyikan muka di dalam lingkaran lengannya. Sin Hong memandang kepala isterinya itu dengan bingung. Dia seorang laki-laki yang belum berpengalaman sehingga dia tidak dapat menyelami hati wanita, tidak mengenal watak wanita pada umumnya, wanita selalu haus akan kasih sayang orang lain, terutama kasih sayang pria. Tidak ada kepedihan hati yang lebih hebat bagi seorang wanita daripada merasa tidak dicinta pria! Apalagi bagi seorang isteri! Yang didambakannya hanyalah kasih sayang suaminya, kasih sayang yang kadang-kadang harus diperlihatkan melalui pemanjaan!

"Kalau memang tidak pernah cinta kepadaku, kenapa engkau dahulu suka menjadi suamiku? Ah, engkau hanya ingin menyiksa hatiku, ingin membuat aku sengsara!"

Kembali Siang Cun berkata sambil menangis. Sin Hong menjadi semakin penasaran ketika diungkit-ungkit masa lalu itu.

"Siang Cun, engkau sungguh bersikap tidak adil sama sekali!"

Katanya dan walaupun suaranya masih lembut dan tenang, namun hatinya mulai panas.

"Lupakah engkau akan keadaanmu dahulu? Engkau hendak membunuh diri kalau tidak kuperisteri, karena merasa malu dan untuk menghapus aib aku harus menjadi suamimu. Aku kasihan kepadamu, kepada orang tuamu, dan aku melihat engkau seorang calon isteri yang baik, aku melihat Ngo-heng Bu-koan sebuah tempat dan lingkungan yang baik untuk muridku. Karena itu aku menerima usul ayahmu dan aku menjadi suamimu. Aku sudah berusaha untuk memupuk cinta kasih antara kita. Akan tetapi bagaimana mungkin berhasil kalau dari pihakmu tidak ada bantuan? Engkau sendiri tidak cinta padaku, Siang Cun."

Tiba-tiba wanita itu mengangkat mukanya dan muka itu basah air mata, kedua matanya merah.

"Tidak cinta kau bilang? Aku sudah menyerahkan kehormatanku, seluruh diriku, melayanimu tanpa mengeluh, dan kau bilang aku tidak cinta padamu?"

Siang Cun menangis lagi dan Sin Hong termenung. Jadi begitukah pendapat isterinya? Karena sudah menyerahkan diri kepadanya, melayaninya, itu bukti bahwa isterinya mencintanya? Dia sama sekali tidak pernah merasakan kasih sayang isterinya melalui penyerahan diri itu. Isterinya melakukan hal itu hanya untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang isteri terhadap suami, lain tidak. Tidak ada kasih sayang terkandung dalam pandang matanya, dalam suaranya, atau dalam sentuhan tangannya.

Agar tidak mendatangkan percekcokan dan pertengkaran, dia pun diam saja dan selanjutnya perjalanan pulang itu dilakukan tanpa kata-kata antara mereka, hanya bicara kalau perlu saja dan selebihnya hanya geleng atau angguk! Setelah mereka berdua tiba di Lu-jiang, mulai saat itu terdapat suatu keretakan atau kerenggangan di antara mereka. Mulailah keduanya merasa tersiksa. Terjadi semacam perang dingin diantara mereka, tidak saling menegur dan hanya bicara seperlunya saja. Tidur pun saling membelakangi, bahkan akhirnya karena tidak tahan menghadapi keadaan seperti itu, Sin Hong tidur di atas lantai, membiarkan isterinya tidur sendiri di atas pembaringan mereka. Akan tetapi di luar kamar, terutama di depan Bhe Gun Ek dan isterinya, suami isteri ini memaksa diri bersandiwara dan bersikap biasa saja.

Biarpun demikian, Bhe Kauwsu dan isterinya dapat melihat perubahan sikap mereka dan menduga bahwa tentu ada sesuatu yang mengganggu keakraban puteri dan mantu mereka itu. Kunjungan Ciang Kun, bekas murid Bhe Kauwsu, mendatangkan kegembiraan pada Siang Cun. Wanita muda ini menyambut suhengnya dengan sikap gembira dan akrab sekali, dan sebaliknya Ciang Kun juga jelas memancarkan sinar kasih sayang dan berahi dalam pandang matanya terhadap sumoinya itu. Hal ini nampak jelas oleh Sin Hong, akan tetapi dia diam saja dan pura-pura tidak tahu akan hal ini, bersikap wajar terhadap Ciang Kun. Akan tetapi, kunjungan Ciang Kun ini makin memperlebar jurang pemisah antara suami isteri muda yang belum ada setahun menjadi suami isteri itu, dan membuat Sin Hong makin sering melamun seorang diri.

"Suhu, kenapa Suhu kelihatan berduka selalu selama beberapa hari ini? Apalagi semenjak Suhu pulang dari menghadiri pernikahan enci Hong Li, Suhu nampak semakin berduka saja dan banyak melamun. Ada urusan apakah, Suhu?"

Sin Hong memaksa diri, tersenyum. Dia tidak heran melihat ketajaman mata muridnya dan keberanian muridnya bertanya kepadanya. Muridnya ini memang lebih pantas menjadi adiknya atau keluarga yang amat dekat, yang amat sayang kepadanya, juga amat setia dan berbakti.

"Tidak ada apa-apa, Yo Han. Ini urusan orang dewasa, keberitahu pun engkau tidak akan mengerti."

Anak itu mengamati wajah gurunya beberapa lamanya. Dia amat hafal akan wajah gurunya yang selalu diterangi kelembutan itu, maka dia melihat perubahan yang amat besar pada wajah itu. Kini gurunya nampak seperti orang yang berduka, ada garis-garis di sekeliling kedua matanya dan kerut merut di antara kedua alisnya. Diam-diam dia merasa kasihan sekali kepada gurunya.

"Suhu, apakah ada sesuatu yang buruk antara Suhu dan Subo?"

Sin Hong terkejut dan dengan alis berkerut dia memandang muridnya.

"Yo Han! Omongan apa yang kau keluarkan itu? Jangan sembarangan bicara kau! Berani kau mengatakan begitu tentang subomu (ibu gurumu)?"

Biarpun berlawanan dengan suara hatinya, Sin Hong terpaksa membentak dan menegur muridnya karena sikapnya ini memang sudah sepatutnya dan Yo Han terlalu berani bicara.

"Suhu, teecu tidak bicara ngawur atau sembarangan saja, melainkan dengan alasan kuat, dan teecu bukan sekedar ingin tahu, melainkan teecu ingin sedapat mungkin membantu Suhu mengatasi kedukaan Suhu. Tadi Suhu mengatakan bahwa urusan itu adalah urusan orang dewasa, berarti Suhu mempunyai masalah dengan mertua atau dengan isteri. Akan tetapi mengingat bahwa Suhu baru saja pergi ke undangan pernikahan puteri supek di Pao-teng bersama Subo, dan mengingat pula akan hubungan cinta antara Suhu dan enci Hong Li dahulu maka teecu menduga bahwa tentu ada sesuatu yang buruk terjadi antara Suhu dan Subo. Suhu adalah seorang yang bijaksana dan gagah, mengapa Suhu harus tenggelam dalam kedukaan dan tidak bertindak mengatasi semua masalah sehingga beres?"

Sin Hong diam-diam terkejut dan juga kagum. Muridnya ini memang memiliki kecerdikan yang luar biasa dan jalan pikirannya sudah demikian dewasa. Apakah hal ini karena gemblengan keadaan hidupnya yang penuh derita, ataukah memang pembawaan yang dibawa sejak lahir, dia tidak tahu. Dia menarik napas panjang, tidak jadi marah mengingat bahwa kelancangan muridnya ini terdorong oleh rasa cintanya kepadanya, keinginannya untuk membantu.

"Sudahlah, Yo Han. Urusanku ini tidak dapat kuceritakan kepada siapapun juga, apalagi kepada engkau yang masih kecil. Engkau takkan dapat membantu, tak seorang pun di dunia ini akan dapat membantu. Hanya Thian saja yang akan dapat menjernihkan persoalan ini. Sudah, jangan ganggu aku lebih lama lagi. Pergilah berlatih, bukankah engkau mengalami kesukaran dengan jurus kedua belas dari Pat-mo Sin-kun (Silat Sakti Delapan Iblis) itu? Latihlah lagi dengan tekun, akan tetapi di dalam kamarmu, jangan perlihatkan kepada murid Ngo-heng Bu-koan yang lain."

"Baik, Suhu dan maafkan teecu. Akan tetapi ada satu pertanyaan lain mengenai latihan ini. Suhu mengajarkan Pat-mo Sin-kun dan Pat-sian Sin-kun kepada teecu, akan tetapi kenapa tidak kepada para murid lain?"

Sin Hong tersenyum.

"Yo Han, engkaulah satu-satunya muridku, karena itu engkau berhak mempelajari ilmu-ilmu yang kudapatkan dari para penghuni Istana Gurun Pasir. Murid-murid Ngo-heng Bu-koan tentu saja hanya mempelajari ilmu silat yang diajarkan di perguruan ini oleh ayah mertuaku, dan aku hanya membantu dalam memperbaiki gerakan mereka saja."

"Terima kasih, Suhu, kini teecu mengerti. Dan maafkan kelancangan teecu tadi, sesungguhnya teecu hanya ikut merasa prihatin dan ingin sekali membantu."

"Aku mengerti, sudahlah, kau berlatih sana Yo Han!"

Kata Sin Hong sambil mengangguk dan tersenyum. Perih hati Yo Han melihat senyum suhunya itu, tidak begitu senyum suhunya dahulu. Dahulu suhunya kalau tersenyum, bebas lepas dan memancarkan kebahagiaan hatinya. Kini, senyum itu pahit dan seperti di luar saja, menutupi sesuatu yang menyedihkan, senyum hiburan saja. Yo Han merasa penasaran sekali. Dia dapat menduga bahwa tentu ada "apa-apa"

Antara suhunya dan subonya. Dia seorang anak yang cerdik sekali, dan dia pun melihat kedatangan Ciang Kun yang disambut demikian gembira oleh subonya. Sebagai seorang anak yang cerdik dan disuka oleh para murid lain di Ngo-heng Bu-koan,

Akhirnya Yo Han dapat mengorek keterangan bahwa Ciang Kun adalah murid Ngo-heng Bu-koan yang sudah beberapa tahun meninggalkan perguruan dan pindah ke kota raja, dan terutama sekali keterangan bahwa antara Ciang Kun dan subonya itu pernah terjalin hubungan cinta ketika keduanya masih remaja! Inikah masalah yang menyedihkan hati gurunya? Akan tetapi, gurunya berduka dan berubah lama sebelum Ciang Kun muncul! Bagaimanapun juga, dia merasa penasaran dan karena dia merasa yakin bahwa kedukaan gurunya itu karena ada sesuatu dengan isteri gurunya, maka dia ingin menyelidiki keadaan subonya! Hanya itulah yang akan dapat dia lakukan dalam usahanya membantu gurunya. Dia akan menyelidiki subonya, mendekati subonya dan kalau mungkin memancing keterangan dari subonya!

Pada suatu malam yang sunyi. Sejak siang tadi, gurunya pergi dan kepada semua keluarga berpamit hendak pergi berburu ke dalam hutan di sebelah barat karena banyak penduduk di lembah Yang-ce sekitar hutan itu yang mengeluh akan adanya gangguan harimau yang mengganas sampai ke dusun-dusun. Mendengar ini, Sin Hong lalu pergi untuk berburu harimau yang mengganggu penduduk itu, bahkan kabarnya sudah membunuh tiga orang penduduk dusun. Dia tidak mengajak Yo Han karena maklum bahwa dalam perburuan ini terdapat bahaya besar bagi orang yang belum memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Yo Han berlatih silat di kamarnya, kemudian setelah sunyi dia meninggalkan kamarnya dan berindap pergi ke dalam taman. Dia bermaksud untuk berlatih di dalam taman itu yang hawanya sejuk dan malam itu malam terang bulan.

Akan tetapi dia harus berhati-hati, keluar dari kamarnya dengan sembunyi-sembunyi agar jangan terlihat oleh murid lain. Tentu gurunya akan ditegur oleh para murid lain kalau mereka melihat dia berlatih dalam ilmu silat yang asing, dan mungkin para murid itu lalu menuntut kepada gurunya untuk mengajarkan ilmu silat itu. Yo Han menyelinap di antara pohon-pohon sehingga akhirnya dia tiba di tengah taman di mana terdapat sepetak rumput yang amat enak untuk dipakai sebagai tempat berlatih silat. Akan tetapi, baru saja dia hendak mulai berlatih, tiba-tiba dia meloncat dan sekali bergerak dia sudah menyusup dan mendekam di balik semak-semak. Dia mendengar suara orang! Karena terkejut, takut kalau latihannya kepergok, maka dia menyusup dan bersembunyi ke balik semak-semak itu.

Muncullah dua orang yang membuat jantung dalam dada Yo Han berdebar tidak karuan saking tegangnya. Subonya jalan berdampingan dengan Ciang Kun, suheng yang pernah dilihatnya beberapa hari yang lalu itu. Menurut keterangan yang diperolehnya, Ciang Kun yang sudah sepekan berada di Lu-jiang, tinggal di rumah seorang pamannya. Sungguh janggal sekali melihat subonya berjalan-jalan di dalam taman bersama Ciang Kun, berdua saja pada saat suhunya tidak berada di rumah! Keduanya tiba di tengah taman yang sunyi itu dan Yo Han melihat mereka duduk berdampingan di atas bangku panjang yang terdapat di situ, tidak jauh dari tempat dia bersembunyi sehingga bukan saja dia dapat melihat mereka di bawah sinar bulan, juga dapat mendengar percakapan mereka dengan jelas!

"Suheng, jangan terlalu menyalahkan aku kalau aku menikah dengan orang lain. Bukan sekali-kali aku melupakanmu, Suheng, ahhh, bagaimana mungkin aku dapat melupakanmu. Aku menikah dengan dia hanya karena aku harus mencuci aib dan malu akibat perbuatan si jahanam Phoa Hok Ci."

"Tapi, Sumoi, apakah engkau sekarang berbahagia dengan dia?"

Siang Cun menundukkan mukanya dan menggeleng,

"Sama sekali tidak. Dia tidak cinta padaku, Suheng, dia mencinta wanita lain yang kini menikah dengan orang lain."

"Ah, mengapa begitu? Cun-sumoi, engkau tahu bahwa selama ini aku tidak pernah melupakanmu. Aku tetap cinta padamu, Sumoi...."

"Aku.... aku juga, Suheng...."

Dengan mata terbelalak Yo Han yang mengintai melihat betapa subonya kini dirangkul oleh Ciang Kun dan mereka berpelukan, dan berciuman! Agaknya keduanya demikian bergelora dibakar oleh nafsu berahi sehingga gairah yang memuncak itu membuat keduanya seperti terguling dari atas bangku dan mereka masih terus berpelukan di atas rumput! Yo Han tidak dapat menahan kemarahannya lagi. Dia meloncat keluar dari tempat sembunyinya dan menghampiri mereka yang masih bergelut di atas rumput.

"Subo....!"

Akan tetapi, dua orang yang sedang terbakar oleh nafsu berahi itu, tidak mendengar suara ini dan mereka masih saling berciuman dan bergulingan di atas rumput seperti dua ekor ular bergelut.

"Subo....!"

Yo Han berteriak lebih nyaring lagi dan sekali ini, mereka berdua terkejut dan cepat keduanya meloncat bangkit dan berdiri dengan mata terbelalak memandang kepada Yo Han. Rambut Siang Cun kusut, pakaiannya juga lusuh dan mukanya agak pucat, napasnya masih terengah-engah.

"Yo Han....! Kau.... kau kenapa kau di sini....?"

Bentaknya untuk memulihkan ketenangannya karena ia merasa terkejut bukan main melihat anak itu tiba-tiba berada di situ dan jelas bahwa anak itu telah melihat perbuatan-nya bersama Ciang Kun tadi. Akan tetapi, Yo Han tidak gentar ketika dibentak oleh subonya. Dia terlalu marah melihat perbuatan subonya tadi. Biarpun dia masih kecil, namun dia tahu apa artinya perbuatan subonya tadi. Subonya telah menyeleweng! Subonya telah bermain cinta dengan pria lain, telah mengkhianati suami sendiri! Tahulah dia kini mengapa suhunya selalu berduka. Kiranya subonya ini tidak cinta kepada suhunya, dan agaknya subonya tahu bahwa suhunya dahulu mencinta wanita lain, yaitu Kao Hong Li. Dan kini subonya dengan berani sekali telah mencemarkan kesucian rumah tangganya sendiri. Ini berarti suatu penghinaan besar bagi gurunya!

Post a Comment