"Suheng, jadi engkau yang melakukan semua pembunuhan di kedua pihak itu? Dan bagaimana dengan sumoi Bong Siok Cin yang diperkosa itu? Ia diperkosa dan dibunuh oleh Ciok Lim, bukan?"
"Ha-ha-ha, semua orang tolol itu memang mengira demikian. Akulah yang mengaturnya sehingga Ciok Lim yang disangka, agar permusuhan itu mulai berkobar."
"Ah, jadi engkau pula yang memperkosa Siok Cin kemudian membunuhnya, menjatuhkan fitnah atas diri Ciok Lim?"
"Ha-ha-ha, benar sekali, manisku. Cerdik sekali, bukan?"
Sekarang tahulah Siang Cun bahwa suhengnya ini tidak gila. Sama sekali tidak gila, melainkan jahat dan keji bukan main! Dan ia kini telah terjatuh ke dalam tangan manusia iblis ini!
"Siang Cun, sekarang kita menjadi pengantin, engkau menjadi isteriku...."
Tangan pria itu mulai merenggut ke arah pakaian Siang Cun. Bukan main takutnya hati Siang Cun. Ia hendak meronta, hendak melawan, namun belum mampu menggerakkan kaki tangannya.
"Jangan.... ah, jangan.... lebih baik kau bunuh saja aku...."
"Bunuh engkau? Ha-ha-ha, kau kira aku sudah gila? Bertahun-tahun aku merindukannya, mencintamu, dan sekarang engkau menjadi milikku. Ah, kau kekasihku.... aku cinta padamu...."
Dan seperti orang gila atau seperti seekor harimau kelaparan melihat seekor domba muda yang lunak dagingnya, Hok Ci menubruk dan menciumi muka gadis itu, menggigiti bibir dan leher itu seperti orang gila. Siang Cun memejamkan mata dan ia hampir pingsan saking takut, ngeri dan jijiknya. Apalagi ketika tangan Hok Ci merenggut lepas pakaiannya satu demi satu. Ia hanya dapat merintih dan mengeluh minta dibunuh saja. Dalam keadaan yang amat berbahaya itu, di mana kehormatan Siang Cun sudah terancam noda yang akan menghancurkan hidupnya, nyaris bagaikan sepotong daging sudah berada di depan mulut seekor srigala buas yang siap mengunyah dan menelannya, dan Siang Cun sudah memejamkan mata dengan hati hancur, tiba-tiba pintu kamar itu tertendang roboh dari luar!
"Brakkkkk!"
Daun pintu roboh dan muncullah Sin Hong!
"Phoa Hok Ci, manusia iblis jahat!"
Bentak Sin Hong dengan marah sekali melihat keadaan dalam kamar itu. Siang Cun rebah terlentang di atas pembaringan dengan pakaian sudah lepas semua dari tubuhnya,
Dan Hok Ci merangkul dan menciuminya, siap untuk memperkosa gadis itu yang nampak tak berdaya, tidak mampu bergerak karena tertotok jalan darahnya. Hok Ci terkejut dan marah bukan main. Dia tadi baru saja membuka bajunya, mulai melepaskan kancing baju yang kini menjadi setengah terbuka ketika terjadi gangguan itu. Ketika dia meloncat bangkit berdiri sambil membalikkan tubuh dan mengenal Sin Hong, matanya terbelalak. Dia merasa heran dan terkejut bukan main. Bukankah Si Bangau Putih ini telah mampus di dasar lubang sumur jebakan? Bagaimana tiba-tiba dapat muncul di sini, pikirnya. Dia cerdik dan maklum akan bahaya yang mengancam dirinya. Dia sudah mengenal baik betapa lihainya Pendekar Bangau Putih ini, bahkan gurunya sendiri, Hoan Saikong dan dia pernah mengeroyoknya, namun mereka berdua pun terdesak hebat.
Apalagi kini dia harus menghadapinya seorang diri saja. Akan tetapi dia tidak melihat jalan lain kecuali melawan dan tanpa membuang waktu lagi, dia pun menyambar pedangnya dan menerjangnya dengan serangan ganas dan dahsyat. Namun, Sin Hong sudah siap siaga dan dengan mudah saja dia mengelak dengan loncatan ke kiri dan dari sudut samping dia menotok ke arah pundak lawan. Totokan itu cepat sekali datangnya. dan nyaris pundak Hok Ci terkena totokan. Akan tetapi Hok Ci dengan cepat memutar tubuh dan pedangnya ikut pula berputar lalu membuat lingkaran dan menyerang pula ke arah leher Sin Hong! Gerakan ini cepat, namun sesungguhnya, Hok Ci terkejut dan jerih karena sekali gebrakan saja pundaknya hampir tertotok yang kalau mengenai sasaran tentu akan membuat dia roboh tak berdaya!
Menghadapi sambaran pedang ke lehernya, Sin Hong merendahkan tubuhnya dan tiba-tiba kakinya mencuat dan ujung sepatunya menendang ke arah lutut Hok Ci! Inipun merupakan serangan yang amat berbahaya karena sedikit saja sambungan lutut tersentuh ujung sepatu, cukup untuk membuat Hok Ci terguling. Namun, Hok Ci menarik kakinya dan bukan lutut yang tertendang, melainkan pahanya yang tercium ujung sepatu. Dia tidak roboh akan tetapi tetap saja terhuyung dan cepat dia memutar pedangnya yang berubah menjadi gulungan sinar yang melindunginya. Namun, tendangan yang mengenai tepi pahanya sudah cukup membuat Hok Ci jerih. Sambil memutar pedangnya, tiba-tiba saja tangan kirinya bergerak dan sinar hitam kecil menyambar, bukan ke arah Sin Hong melainkan ke arah tubuh gadis yang rebah telanjang di atas pembaringan!
Otak Hok Ci yang cerdik dan licik sudah menemukan akal bagaimana dia akan dapat melepaskan diri dari tangan Sin Hong yang terlalu lihai baginya itu. Dia menyerang Siang Cun dengan jarum hitam, jarum yang mengandung racun! Dan mudah saja dia mengenai sasaran yang tidak mampu bergerak itu. Terdengar Siang Cun mengeluarkan rintihan ketika pahanya terkena jarum hitam yang menyambar cepat tanpa ia mampu mengelak. Sin Hong terkejut sekali dan terpaksa dia tidak mengejar ketika Hok Ci melompat keluar dari kamar itu untuk melarikan diri. Sin Hong tahu bahwa jarum yang melukai Siang Cun adalah jarum beracun dan kalau tidak ditolong gadis itu dapat terancam maut. Tentu saja menolong Siang Cun jauh lebih penting daripada mengejar Hok Ci, apalagi karena Siang Cun terancam bahaya maut.
Dan memang di sini membuktikan kelicikan dan kecerdikan Hok Ci yang dapat melepaskan diri dari tangan Sin Hong yang dia tahu bukan lawannya karena pendekar baju putih itu memiliki tingkat kepandaian yang jauh lebih tinggi dari kepandaiannya. Sin Hong melompat ke dekat pembaringan. Siang Cun yang membuka mata melihat betapa Sin Hong mendekatinya, teringat akan keadaannya yang telanjang bulat itu. Segala bagian tubuhnya nampak jelas oleh pemuda itu dan hal ini membuatnya malu bukan main. Mula-mula wajahnya berubah merah sekali, lalu pucat dan merah kembali dan perlahan-lahan kedua matanya menjadi basah air mata. Akan tetapi Sin Hong tidak peduli akan keadaan gadis itu, tidak melihat ketelanjangannya karena seluruh perhatiannya tertarik kepada bintik hitam di paha kiri gadis itu. Dia memeriksa dengan teliti sekali, tanpa banyak cakap dia meraba paha itu dan memijat bagian yang ada bintik hitamnya.
"Aduhhhhh....!"
Siang Cun menjerit karena bagian yang dipijat itulah yang terasa nyeri terkena jarum tadi. Yakinlah Sin Hong bahwa bintik hitam itulah akibat luka oleh jarum. Apalagi dia melihat betapa di sekeliling bintik itu sudah ada tanda merah kebiruan tanda bahwa racun jarum itu mulai berjalan. Karena maklum akan bahaya yang mengancam diri Siang Cun, Sin Hong lupa akan sopan santun lagi.
Yang penting baginya adalah menyelamatkan nyawa gadis itu, maka tanpa membuang waktu dia lalu menunduk, menempelkan mulutnya pada bintik hitam di paha, dan mengerahkan tenaga lalu menyedot! Dua kali dia menyedot dan keluarlah jarum itu, digigitnya lalu dicabutnya dari daging paha, dibuangnya ke sudut kamar, lalu dia menempelkan lagi bibirnya pada luka kecil itu dan menghisap sampai ada darah hitam yang keluar. Diulanginya lagi sampai akhirnya darah merah yang keluar dan paha itu bebas dari racun jarum. Legalah hatinya dan baru Sin Hong sadar akan keadaan pada gadis itu yang telanjang bulat, maka tiba-tiba saja mukanya berubah merah dan dia mundur beberapa langkah sambil menyentuh pundak gadis itu untuk membebaskan totokannya dan cepat membalikkan tubuhnya sambil berkata,
"Harap maafkan aku, Nona."
Begitu totokannya terbebas, Siang Cun cepat menyambar pakaiannya, mengenakan semua pakaiannya sambil tak dapat menahan air matanya yang bercucuran.
Ia menangis tersedu-sedu, karena bermacam perasaan mengaduk hatinya. Rasa haru dan terima kasih bahwa ia yang sudah berada di ambang pintu kehancuran dan kehinaan itu terbebas dari bahaya itu, rasa malu setengah mati karena Sin Hong telah melihatnya dalam keadaan telanjang bulat dengan tubuh telentang, dan lebih malu lagi ketika ia mengingat kembali betapa Sin Hong telah mengecup dan menyedot luka di pahanya, paha kiri bagian atas dekat perut! Malu yang amat hebat, malu dan hina walaupun ia tahu bahwa Sin Hong melakukan hal itu untuk menyelamatkan nyawanya! Rasa terima kasih, malu, dan penasaran mengaduk hatinya. Rasanya ia tidak ada muka lagi untuk melihat wajah Sin Hong, untuk bertemu dengan manusia lain! Bagaimana kalau mereka itu tahu akan keadaannya tadi?
"Phoa Hok Ci.... jahanam keparat busuk.... kubunuh engkau.... manusia iblis...."
Mulutnya mendesiskan ancaman ini ketika ia mengenakan pakaiannya. Mendengar disebutnya nama Phoa Hok Ci, baru Sin Hong teringat akan orang itu. Tadinya dia masih merasa "nanar"
Karena teringat akan ketelanjangan Siang Cun, teringat betapa dia tadi mengecup paha itu, betapa janggalnya keadaan itu tadi sehingga dia lupa keadaan yang lain. Kini, teringat kepada Hok Ci yang melarikan diri, dia cepat meloncat keluar.
"Akan kutangkap dia!"
Katanya dan beberapa kali loncatan saja dia sudah lenyap dari kuil. Siang Cun membereskan pakaiannya dan rambutnya, lalu dengan hati tidak karuan rasanya ia pun lari keluar untuk mencari musuh besarnya itu. Sementara itu, sambil berlari cepat meninggalkan kuil, Hok Ci tersenyum lega. Untung dia mempunyai akal yang amat cerdik, melukai Siang Cun dengan jarum beracun sehingga Sin Hong tidak sempat mengejar dan menangkapnya. Dia harus berlari cepat, harus meninggalkan daerah itu jauh-jauh kalau dia ingin selamat. Dia akan meninggalkan kehidupannya sebagai murid Ngo-heng Bu-koan, sebagai murid Hoan Sai-kong yang sudah mati, dia akan memulai hidup baru,
Di tempat baru dan melupakan Siang Cun yang terpaksa harus dia tinggalkan. Masih menyesal sekali kalau dia membayangkan betapa daging lunak yang sudah berada di ujung lidah itu terlepas pada saat terakhir! Sambil memaki-maki Si Bangau Putih yang menggagalkan dia memiliki gadis yang sudah lama membuat dia tergila-gila itu. Tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan nyaring dan ketika dia memandang, wajahnya seketika menjadi pucat! Dia telah dikepung oleh puluhan orang anggauta Ngo-heng Bu-koan dan Kim-liong-pang yang dipimpin sendiri oleh Bhe Kauwsu dan Ciok Pangcu! Dia sama sekali tidak takut menghadapi dua orang ketua itu, akan tetapi kalau harus melawan puluhan orang, tentu saja dia merasa gentar sekali! Belum lagi dihitung datangnya bahaya pengejaran dari Si Bangau Putih!
"Phoa Hok Ci, murid murtad, jahanam keparat! Di mana anakku Siang Cun?"
Bentak Bhe Kauwsu dengan marah dan juga khawatir karena dia tidak melihat puterinya bersama penjahat itu. Dalam keadaan panik terkepung itu, Hok Ci masih hendak mempergunakan akal liciknya.
"Ia.... ia di kuil tua, diperkosa oleh Si Bangau Putih....! Cepat Suhu ke sana, kalau tidak, akan terlambat...."
Mendengar ucapan ini, Bhe Gun Ek, guru silat Ngo-heng Bu-koan itu tertegun. Akan tetapi Yo Han segera berteriak lantang.
"Harap Bhe Kauwsu jangan percaya omongan manusia iblis ini!. Suhu tidak mungkin melakukan hal yang terkutuk itu! Sebaiknya manusia iblis ini segera ditangkap dulu, baru nanti dicari di mana adanya enci Siang Cun!"
Mendengar ini, sadarlah Bhe Kauwsu dan tanpa dikomando lagi, semua orang yang mengepung pemuda itu, termasuk Ciok Pangcu, menggerakkan senjata dan berloncatan turun dari atas kuda mengeroyok Phoa Hok Ci! Puluhan orang mengepung dan mengeroyoknya dan Phoa Hok Ci mencoba untuk memutar pedangnya membela diri.
"Jangan bunuh dia! Tangkap hidup-hidup!"
Berkali-kali Bhe Gun Ek dan Ciok Pangcu berteriak karena kedua orang pemimpin perkumpulan ini ingin mendengar pengakuan Hok Ci tentang semua perbuatannya yang amat keji, membunuh banyak orang di kedua pihak untuk mengadu domba antara Ngo-heng Bu-koan dan Kim-liong-pang. Betapapun lihainya Hok Ci, menghadapi pengeroyokan puluhan orang yang semua menaruh dendam kepadanya, akhirnya dia roboh dengan luka-luka di tubuhnya. Pedangnya dirampas dan dengan kedua lengan lumpuh karena patah tulangnya, dia diringkus dan dibelenggu kaki tangannya. Ciok Kam Heng yang merasa amat sakit hati kehilangan puteranya itu, segera menjambak rambutnya dan membentak,
"Manusia iblis! Sekarang ceritakan apa yang telah kau lakukan selama ini untuk menjatuhkan fitnah kepada Kim-liong-pang!"
Hok Ci maklum bahwa tidak ada harapan lagi baginya untuk hidup. Rasa takut, penasaran dan sesal membuatnya kehilangan keseimbangan batinnya dan tiba-tiba dia tertawa bergelak. Suara ketawanya membuat semua orang bergidik karena itu jelas bukan suara ketawa orang yang waras otaknya!
Segala macam bentuk kejahatan yang dilakukan orang adalah suatu tanda bahwa pada saat dia melakukannya, keadaan batinnya memang tidak sehat, tidak waras! Batin yang dikuasai oleh nafsu apa pun, batin yang diperhamba nafsu, merupakan batin yang tidak sehat, yang sudah gelap seperti buta sehingga segala yang dilakukan oleh jasmaninya hanya untuk menuruti dorongan nafsu itu semata. Belajar untuk menjadi "orang baik"
Tidak ada gunanya selama batin masih lemah, masih mudah dicengkeram nafsu, mudah diperhamba nafsu. Yang penting bukan ingin menjadi orang baik, melainkan membuka mata batin, menyadarkan batin agar tidak sesat, tidak lemah, waspada selalu akan keadaan diri sendiri selalu dalam keadaan waspada sehingga tidak lengah dan tidak mudah dinina-bobokkan oleh nafsu.
"Ha-ha-ha-he-he-heh! Kalian manusia-manusia tolol! Memang aku yang melakukan itu semua, aku yang memperkosa dan membunuh Pong Siok Cin, membunuhi para murid Ngo-heng Bu-koan dan Kim-liong-pang, aku yang mengadu domba antara kalian! Untuk apa? Agar ikatan perjodohan antara Bhe Siang Cun dan Ciok Lim terputus karena Siang Cun harus menjadi isteriku! Ha-ha-ha, hanya akulah yang pantas memiliki diri Siang Cun yang molek, ha-ha-ha!"
"Keparat! Di mana anakku Siang Cun sekarang?"
Bentak Bhe Kauwsu dengan marah, tangannya sudah gemetar karena menurutkan kemarahannya ingin dia membunuh murid murtad itu.