"Hemmm, katakan saja bahwa engkau takut, Sumoi!"
Siang Cun terbelalak dan mukanya berubah merah, alisnya berkerut.
"Phoa Suheng! Bagaimana kau berani mengeluarkan kata-kata itu? Aku tidak berani? Aku takut? Jangan kau menghinaku, Suheng!"
Phoa Hok Ci yang selalu tersenyum sinis itu, kini memperlebar senyumnya sehingga mulutnya menyeringai.
"Hehheh-heh, kalau engkau tidak takut, tentu kau sudah berada di sana! Kalau engkau tidak takut, mari bersama aku menyusul ke sana dan membantu suhu!"
Siang Cun bangkit berdiri dan memandang suhengnya dengan mata berapi.
"Pha-suheng, kenapa engkau bersikap begini? Mulutmu lancang dan sikapmu mengejek. Apakah engkau sudah gila?"
Memang di samping kemarahannya ia merasa heran bukan main melihat sikap Phoa Hok Ci dan mendengar kata-katanya, karena biasanya suhengnya bersikap sopan dan ramah.
"Ha-ha-ha, mungkin aku sudah gila oleh kecantikanmu, Sumoi. Marilah, mari kau ikut dengan aku pergi menyusul suhu!"
"Tidak! Kalau aku akan menyusul, aku pergi sendiri, bukan karena kau suruh. Sudah, pergilah sebelum aku habis kesabaranku!"
"Sumoi, mau tidak mau mengkau harus ikut denganku sekarang juga!"
Dan tiba-tiba saja Phoa Hok Ci menubruk dan mengirim serangan dahsyat dengan cengkeraman ke arah muka Siang Cun! Gadis ini terkejut bukan main, sama sekali tidak pernah mengira bahwa suhengnya ini akan menyerangnya sehebat itu, serangan yang dahsyat dan berbahaya. Suhengnya itu tentu telah mendadak menjadi gila! Sebetulnya, dalam ilmu silat, selisih antara tingkat mereka tidak banyak, mungkin Siang Cun hanya kalah matang saja. Akan tetapi ia tidak tahu bahwa diam-diam Hok Ci telah mempelajari ilmu silat harimau dari Hoan Sai-kong yang membuat pemuda itu kini jauh lebih lihai darinya! Ia cepat mengelak sambil membuang diri ke samping untuk menghindarkan mukanya dari cengkeraman itu!
Akan tetapi, tetap saja lengannya yang hendak menangkis kena dicengkeram. Siang Cun mengeluarkan seruan kaget dan kesakitan ketika merasa betapa lengannya seperti dicengkeram benda tajam dan pada saat itu, pundaknya sudah ditotok oleh Hok Ci dan seketika ia menjadi lemas! Sambil tertawa, Hok Ci lalu memanggul tubuh gadis itu. Pada saat itu, belasan orang murid Ngo-heng Bu-koan menyerbu masuk dan mereka terkejut sekali melihat betapa puteri guru mereka dirobohkan Hok Ci dan kini ditotok dan dipanggul. Mereka tadi menyerbu masuk mendengar suara ribut-ribut dan kini mereka mengepung Hok Ci.
"Suheng, apa yang kau lakukan ini? Lepaskan Nona Bhe!"
Bentak beberapa orang di antara mereka sambil mengepung dan siap untuk mengeroyoknya. Sepasang mata itu dengan ganas menyapu mereka.
"Kalian mundurlah, atau terpaksa aku akan membunuh kalian!"
Berkata demikian, Hok Ci mencabut pedang dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya memanggul tubuh Siang Cun yang tak mampu bergerak itu. Akan tetapi, para murid Ngo-heng Bu-koan tetap tidak mau pergi dan ingin membela puteri guru mereka.
Hok Ci mengeluarkan suara gerengan seperti seekor harimau dan dia pun mengamuk. Pedangnya berkelebatan dan para murid itu cepat melawan dengan menyambar senjata yang ada. Akan tetapi mereka hanya murid-murid tingkat dua sebentar saja dua orang di antara mereka telah roboh mandi darah dan tewas oleh sambaran pedang Hok Ci. Lalu dengan kecepatan gerakannya, Hok Ci meloncat dan melarikan diri sambil memondong tubuh Siang Cun! Hok Ci yang mengenal baik kota Lu-jiang, mengambil jalan yang sunyi, bahkan berloncatan ke atas genteng-genteng rumah orang, dan dia berhasil membawa tubuh gadis yang membuatnya tergila-gila itu keluar dari kota Lu-jiang, terus menuju ke kuil tua yang menjadi tempat tinggal Hoan Sai-kong. Satu-satunya lawan yang ditakutinya hanyalah Tan Sin Hong,
Akan tetapi pemuda berpakaian putih itu telah terjerumus ke dalam lubang jebakan di ruangan belakang dan tentu sudah mampus. Orang-orang lain, baik dari Ngo-heng Bu-koan maupun Kim-liong-pang, dipandang rendah olehnya. Kini gurunya, Hoan Sai-kong, sudah mati pula bersama Sin Hong di dalam sumur lubang jebakan. Dia memang tidak ingin merampas Kim-liong-pang maupun Ngo-heng Bu-koan. Yang penting baginya hanyalah mendapatkan diri Bhe Siang Cun yang membuatnya tergila-gila dan kini gadis itu telah berada di dalam pondongannya! Tak seorang pun yang akan dapat mencegahnya memaksa gadis itu menjadi isterinya. Pula, selain Tan Sin Hong, tidak ada seorang pun dari kedua perkumpulan itu yang tahu akan tempat persembunyiannya dalam kuil tua di hutan ini.
"Lepaskan aku....! Ah, lepaskan aku....!"
Siang Cun berseru dengan mata terbelalak penuh kengerian, namun ia tidak mampu menggerakkan tubuhnya yang masih lumpuh tertotok. Pria yang biasanya dikenalnya sebagai seorang suheng yang pendiam dan bersikap baik itu kini tersenyum sinis, lalu membawa masuk gadis itu ke dalam kuil. Di dalam kuil tua itu terdapat dua buah kamar yang bersih dan terawat karena itu merupakan kamar mendiang Hoan Sai-kong dan kamarnya sendiri, yang dipergunakan di waktu dia berada di situ. Dia memasuki kamarnya sendiri, sebuah kamar yang hanya terisi sebuah pembaringan kayu dan sebuah meja serta dua buah kursi kayu yang sederhana. Dengan sikap lembut dia merebahkan tubuh sumoinya di atas pembaringan.
"Lepaskan aku Phoa-suheng, lepaskan aku. Aku adalah sumoimu, ingatkah? Jangan ganggu aku dan lepaskan aku, Suheng"
Siang Cun kembali berseru dengan suara membujuk dan mata terbelalak penuh kengerian. Ia masih menyangka bahwa suhengnya ini mendadak menjadi gila dan tidak sadar apa yang dilakukannya. Hok Ci duduk di tepi pembaringan, senyumnya menyeringai menakutkan hati gadis itu, apalagi ketika dia menunduk dan mencium pipi dan bibir Siang Cun yang sama sekali tidak dapat mengelak. Gadis itu hanya memejamkan mata dan bergidik ngeri dicium oleh orang yang disangkanya gila.
"Bhe Siang Cun, aku akan melepaskanmu kalau engkau menyatakan bahwa engkau cinta padaku dan bersedia menjadi isteriku."
Mata yang ketakutan itu makin terbelalak dan muka yang manis itu berubah merah.
"Suheng, kau.... kau telah gila...."
Hok Ci membelai dagu gadis itu, lalu membelai lehernya sehingga gadis itu merasa betapa bulu tengkuknya meremang.
"Siang Cun, kekasihku, memang aku telah gila, tergila-gila kepadamu. Apakah kau pura-pura tidak tahu betapa sejak dulu aku mencintamu? Ah, apa saja akan kulakukan untuk mendapatkan dirimu, Cun-moi. Selama ini.... ah, betapa segala jerih payah kulakukan, membunuhi mereka semua, seorang demi seorang, agar antara kedua pihak terjadi permusuhan dan ikatan perjodohanmu dengan Ciok Lim terputus. Kutanamkan bibit permusuhan sampai mendalam, kulakukan semua itu demi mendapatkan dirimu, kekasihku. Dan sekarang, engkau telah berada di tanganku, engkau menjadi isteriku. Ya, kita hari ini akan menjadi pengantin, kita bersenang-senang di sini, sebagai suami isteri, Siang Cun."
Gadis itu tiba-tiba menjadi pucat wajahnya, dan dengan mata terbelalak tanpa berkedip sejak tadi ia memandang wajah suhengnya itu, mendengarkan semua ucapannya.
"Kau.... kau yang melakukan semua pembunuhan itu? Jadi engkau yang mengatur semua itu, membunuh dan melempar fitnah, sengaja hendak mengadu domba?"
Kini Hok Ci tertawa geli.
"Benar, Cun-moi, benar. Semua itu aku yang mengatur dan melakukannya. Cerdik sekali, bukan? Mereka saling serang, saling bunuh, bahkan sekarang antara kedua ketua sudah saling serang, ha-ha-ha, semua itu karena kecerdikanku. Dan engkau akan menjadi isteriku sekarang....?"
Kedua tangan Hok Ci mulai menggerayangi tubuh Siang Cun yang menjadi semakin ketakutan. Karena belum dapat menggerakkan tubuh untuk mengelak atau melawan, ia hanya mengeluarkan kata-kata untuk mengalihkan perhatian orang itu.