"Juga semua pembunuhan yang dilakukan terhadap murid-murid kami?"
Tanya Ciok Pangcu.
"Dan semua pembunuhan terhadap murid Ngo-heng Bu-koan?"
Bhe Kauwsu juga bertanya, hampir tidak percaya. Sin Hong mengangguk.
"Benar, semua itu dilakukan oleh orang yang sama. Aku mendengar sendiri pengakuannya kepada muridmu yang mati bersama putera Ciok Pangcu itu, Bhe Kauwsu"
"Tapi.... siapakah orang terkutuk itu?"
Tanya Bhe Kauwsu.
"Ya, siapa dia? Kalau benar seperti yang kau katakan, Tan-taihiap, kami akan mengerahkan seluruh kekuatan kami untuk membekuk dan menghukumnya!"
Teriak Giok Pangcu pula. Kini Sin Hong menghadapi Bhe Kauwsu dan dengan senyum sedih pemuda berpakaian putih ini berkata, suaranya lantang terdengar semua orang yang berada di situ.
"Bhe Kauwsu, bersiap-siaplah dan jangan terkejut. Orang ke tiga itu, yang melakukan pembunuhan dan menyebar fitnah untuk mengadu domba Ngo-heng Bu-koan dan Kim-liong-pang, bukan lain adalah Phoa Hok Ci!"
"Ahhhhh....!"
Bhe Kauwsu berseru, juga para murid Ngo-heng Bu-koan berseru kaget dan tidak percaya.
"Dia.... dia.... ah, betapa mungkin...."
"Bhe Kauwsu, aku melihat dengan mata sendiri, mendengar dengan telinga sendiri. Bahkan semalam, setelah dia membunuh putera Ciok Pangcu dan muridmu, aku mengejarnya, akan tetapi di sebuah kuil tua, dia dibantu oleh seorang kakek yang disebut gurunya. Kakek itu lihai sekali, dan ketika aku berkelahi dengan gurunya itu, aku terjebak ke dalam lubang bersama gurunya itu. Gurunya tewas dan aku pun nyaris tewas kalau tidak muncul Yo Han yang menolongku. Bhe Kauwsu, Phoa Hok Ci yang menjadi muridmu itu telah berkhianat dan menjadi ular berkepala dua yang berbahaya sekali."
"Tapi.... tapi sungguh sukar dapat dipercaya, dia selalu baik sekali, dan mengapa.... mengapa dia melakukan hal terkutuk itu?"
Bhe Kauwsu berseru.
"Biarlah lain kali kuceritakan, Bhe Kauwsu, sekarang yang paling penting kita cepat kembali ke perguruan Ngo-heng Bu-koan untuk mencari dan menangkapnya!"
Kata Sin Hong.
"Engkau benar! Aku sendiri yang akan membekuk batang leher keparat itu, dan akan kudengar sendiri pengakuannya!"
Bentak Bhe Kauwsu dengan muka merah sekali.
"Aku pun akan ikut menangkap jahanam itu!"
Bentak Ciok Pangcu. Kedua orang ketua itu saling pandang akan tetapi kini permusuhan sudah lenyap dari pandang mata mereka.
"Sebaiknya kita pergi bersama-sama dan menangkap orang itu beramai-ramai, akan tetapi kuminta agar jangan ada yang membunuhnya. Kita membutuhkan pengakuannya sendiri agar permusuhan antara kedua pihak dapat dibersihkan,"
Kata Sin Hong. Mereka pun berlari-lari menuju ke kota Lu-jiang. Kembali Yo Han digendong oleh Sin Hong dan kini belasan orang Kim-liong-pang itu berlari-lari bersama belasan murid kepala Ngo-heng Bu-koan seolah-olah mereka adalah sekutu yang hendak menyerbu musuh mereka bersama. Tentu saja para penduduk kota Lu-jiang menjadi heran dan kaget melihat banyak orang berlarian itu, apalagi ketika mereka mengenal orang-orang Ngo-heng Bu-koan dan orang-orang Kim-liong-pang yang tadinya bermusuhan, akan tetapi kini lari bersama-sama menuju ke Ngo-heng Bu-koan. Di perguruan silat ini, Bhe Kauwsu disambut oleh para murid yang nampak bingung dan cemas.
"Celaka, Suhu! Phoa Hok Ci mengamuk, menawan Nona Bhe dan ketika kami mencegah, dia mengamuk. Dua orang murid tewas oleh pedangnya dan kini dia telah melarikan puteri Suhu....!"
Tentu saja semua terkejut bukan main dan kini yakinlah sudah hati Bhe Kauwsu bahwa muridnya yang bernama Phoa Hok Ci itu memang jahat dan keji, bukan saja melakukan pembunuhan-pembunuhan keji dan melempar fitnah mengadu domba, bahkan kini menangkap dan melarikan puterinya!
"Keparat jahanam! Dia lari ke mana?"
Bentaknya.
"Kami.... kami tidak tahu, Suhu. Dia memondong Nona Bhe yang agaknya tertotok atau pingsan, dan dia lari dengan cepat tanpa kami mampu mencegah atau mengejarnya."
"Celaka! Keparat jahanam itu.... Sungguh celaka puteriku....!"
Bhe Kauwsu nampak kebingungan.
"Ke mana aku harus mengejar jahanam itu?"
Yo Han menyentuh lengan suhunya.
"Suhu, kalau tidak salah dugaanku, dia pasti lari ke sana...."
Sin Hong mengangguk.
"Kau benar, Yo Han, aku pun menduga demikian.
"Bhe Kauwsu aku yakin bahwa keparat itu tentu melarikan puterimu ke kuil tua itu. Biar Yo Han tinggal di sini, aku akan mengejarnya!"
Berkata demikian, tanpa menanti jawaban lagi, Sin Hong meloncat keluar dan sebentar saja bayangannya lenyap dari situ.
"Aku pun ingin mengejarnya!"
Kata Ciok Pangcu.
"Nanti dulu, Pangcu. Engkau tidak akan dapat menyusul Tan-taihiap. Marilah kita bersama mencari kuil itu. Anak baik, engkau sudah pernah ke sana, tentu engkau tahu di mana kuil tua itu, bukan?"
Yo Han mengangguk.
"Di dalam sebuah hutan, di bukit nomor lima dari kiri di antara jajaran bukit di luar kota itu, kalau aku tidak keliru."
"Mari kita mengejar ke sana!"
Bhe Kauwsu lalu menyuruh para muridnya menyediakan kuda dan mereka pun berangkat melakukan pengejaran.
Ciok Pangcu bersama sebelas orang murid kepala, juga Bhe Kauwsu dengan belasan orang murid kepala, Yo Han membonceng. Bhe Kauwsu dan dia menjadi penunjuk jalan menuju ke kuil dalam hutan di atas bukit itu. Memang sikap Phoa Hok Ci amat mengejutkan dan mengherankan para murid Ngo-heng Bu-koan. Ketika Bhe Kauwsu menerima surat tantangan dari ketua Kim-liong-pang, dia tidak berada di perguruan sehingga dia tidak ikut dengan rombongan Bhe Gun Ek yang pergi menyambut tantangan musuh besar itu bersama belasan orang murid kepala. Dan Bhe Kauwsu melarang puterinya untuk ikut, karena guru silat ini maklum bahwa kalau puterinya ikut, tentu puterinya itu tidak akan mau tinggal diam saja kalau dia mulai mengadu kepandaian melawan Ciok Pangcu.
"Engkau tinggallah di rumah dan menjaga keamanan di sini,"
Demikian katanya kepada Siang Cun.
"Kalau kita pergi semua dan terjadi sesuatu di sini, siapa yang akan mewakili aku?"
Demikianlah, Siang Cun tinggal di perguruan ketika ayahnya dan para suhengnya berangkat. Tak lama kemudian, muncul Phoa Hok Ci. Ketika dia mendengar dari para murid bahwa suhunya menerima surat tantangan dari ketua Kim-liong-pang dan bahwa suhunya pergi menyambut tantangan itu bersama semua murid kepala, Phoa Hok Ci segera mendatangi Siang Cun.
"Sumoi, suhu dan para suheng dan sute pergi menghadapi musuh besar kita, kenapa engkau malah tenang saja tinggal di sini? Kenapa engkau tidak ikut membantu suhu? Berkata demikian, sepasang matanya yang ganas dan tajam itu memandang wajah yang cantik manis dari sumoinya. Siang Cun mengerutkan alisnya dan menjawab sambil cemberut,
"Tadi aku pun ingin sekali ikut dan menghadapi orang-orang Kim-liong-pang, Phoa-suheng, akan tetapi ayah melarangku dan menyuruh aku menjaga keamanan rumah."
Sepasang mata Phoa Hok Ci semakin terpikat melihat mulut gadis cantik itu cemberut dan kini pandang matanya seperti meraba-raba seluruh tubuh yang sudah selama bertahun-tahun menjadi idaman hatinya, membuatnya tergila-gila itu.