Halo!

Kisah Sepasang Rajawali Chapter 150

Memuat...

"Orang muda, kenapa engkau ingin sekali ikut dengan aku ke perkemahan kami?"

Sebetulnya, kalau mereka berdua memperlihatkan surat kuasa dari Jenderal Kao dan Puteri Milana, tentu perwira itu segera akan tunduk dan taat. Akan tetapi mereka tidak ingin sembarang orang mengenal bahwa mereka adalah orang-orang kepercayaan Jenderal Kao atau Puteri Milana, dan kalau tidak perlu sekali, mereka tidak akan sembarangan memperkenalkan diri.

"Ciangkun, harap kau tidak mencurigai kami kakak dan adik,"

Tiba-tiba Kian Lee yang mengerti akan maksud adiknya agar mereka dapat dibawa ke perkemahan untuk melihat apakah dara yang diceritakan tadi benar-benar Ceng Ceng atau bukan, segera berkata meyakinkan,

"Sesungguhnya biarpun kami adalah ahli-ahli pijat, kami tidak mempergunakan kepandaian kami untuk mencari uang. Akan tetapi.... terus terang saja, kami telah kehabisan. Kami meninggalkan kota benteng Khi-ciang yang geger, pergi dengan tergesa-gesa meninggalkan semua milik kami, hanya membekal uang dan pakaian seadanya. Akan tetapi di tengah jalan, kami kehabisan uang. Tadi mendengar bahwa komandan Ciangkun suka dipijit, adikku menawarkan diri karena tentu komandanmu suka membayar mahal, dan belum para perwira yang membiarkan kami memijatnya, tentu akan dapat kami mengumpulkan sedikit uang untuk bekal perjalanan."

Perwira itu mengangguk-angguk.

"Baiklah, memang sudah kubuktikan sendiri kemampuanmu memijat. Akan tetapi, tukang pijit buta itu pun harus kubawa agar jangan aku mendapat marah dari komandan."

Maka berangkatiah perwira itu bersama Kian Lee, Kian Bu, tukang pijit buta yang digandeng oleh pelayan. Karena rumah penginapan itu sepi, Si Pelayan boleh mengantarkan si tukang pijat buta untuk nanti sekedar mendapat persen, karena memang Si Buta itu harus ada pengantarnya. Demikianlah, dengan amat mudahnya mereka memasuki benteng perkemahan pasukan yang dipimpin oleh komandan Panglima Thio Luk Cong itu.

Akan tetapi ternyata penjagaan dilakukan amat ketat dan tidak mudahlah bagi kedua orang kakak beradik itu dapat bertemu dengan dara yang diceritakan tadi. Bahkan tidak mudah pula bagi mereka untuk dapat bertemu dan memijat panglima yang masih bercakap-cakap di kamar tamu dengan dua orang tamu agungnya. Sambil menanti keluarnya Sang Panglima, mereka itu diuji dulu oleh para perwira tinggi yang menaruh curiga. Diam-diam Kian Bu merasa mendongkol. Dia ingin agar mereka segera dapat bertemu dengan komandan dan terutama sekali dengan dua orang tamu, orang setengah tua dan dara yang diceritakan tadi. Dia tahu bahwa betapa kakaknya sudah panas dingin membayangkan bahwa gadis itu tentulah gadis yang dicarinya, karena selain Lu Ceng siapa yang memiliki kecantikan demikian hebat dan diterima sebagai tamu agung oleh seorang panglima?

Akan tetapi para perwira tinggi yang menyambut mereka demikian bercuriga, maka dia lalu mendemonstrasikan kepandaiannya memijit! Seorang perwira dipijitnya, dan tiga kali raba saja dia telah memijit dengan tepat dan perwira itu pun tidur pulas! Hal ini mengherankan banyak perwira. Beberapa orang maju lagi dan kini Kian Lee terpaksa mengikuti jejak adiknya. Beberapa kali dua orang kakak beradik ini memijit para perwira dan sebentar saja mereka sudah tidur nyenyak di atas kursi! Seorang perwira tinggi bertubuh kurus memasuki ruangan yang ramai oleh gelak tawa para perwira ini. Dia adalah wakil panglima, bernama Louw Kit Siang, seorang ahli lwee-keh yang tentu saja menjadi curiga menyaksikan sepak-terjang dua orang "tukang pijat"

Muda itu. Cepat dia melangkah maju dan berkata kepada Kian Bu,

"Hemm, semuda ini sudah memiliki kepandaian memijat yang luar biasa! Coba engkau memijati tubuhku yang capai-capai!"

Melihat wakil panglima sendiri maju, semua perwira menjadi gembira dan ingin menyaksikan wakil panglima itu pun kepulasan di kursi. Louw Kit Siang duduk di atas kursi itu dan mengulurkan lengan kanannya.

"Nah, kau pijitlah lengan kananku ini."

Lengan itu kurus tinggal tulang dan kulitnya saja. Kian Bu cepat duduk berhadapan dengan wakil panglima itu dan memegang lengannya. Dia makin mendongkol. Mengapa Sang Panglima dan dua orang tamunya belum juga muncul? Melihat Si Kurus yang menantang ini, tahulah dia bahwa Si Kurus ini memiliki sedikit kepandaian maka dia cepat mengerahkan tenaganya. Tepat seperti diduganya, dari dengan wakil panglima itu keluar getaran tenaga lwee-kang yang cukup kuat, yang seolah-olah hendak melawan dan menahan saluran Hwi-yang Sin-kang yang hangat dari telapak tangannya.

Louw Kit Siang terkejut bukan main ketika dia merasa betapa dari jari tangan pemuda itu keluar hawa yang amat hangat dan kuat, yang menerobos memasuki tubuhnya melalui lengannya. Dia mengerahkan tenaganya menangkis dan melawan, namun sukar untuk membendung tenaga yang hangat itu. Mereka bersitegang dan berkutetan tanpa diketahui orang lain kecuali Kian Lee yang memandang penuh perhatian. Akan tetapi, akhirnya Louw Kit Siang kalah juga. Biarpun memakan waktu tiga empat kali lebihlama daripada para perwira yang telah tertidur, akhirnya dia menguap dan tertidur pulas di atas kursinya, diiringi suara ketawa para bawahannya! Akan tetapi, hanya sebentar saja wakil panglima itu tertidur. Tiba-tiba dia sudah terbangun lagi dan cepat dia meloncat sambil mencabut pedangnya dan berteriak,

"Tangkap mereka! Dua orang ini mencurigakan, siapa tahu mereka adalah mata-mata musuh!"

Semua perwira cepat mencabut senjata dan mengurung, sambil membangunkan mereka yang tadi tertidur pulas sehingga merasa gelagapan dan panik, akan tetapi cepat mereka itu mencabut senjata pula dan ikut mengepung. Kian Lee dan Kian Bu tenang-tenang saja, karena memang inilah yang dikehendaki Kian Bu yang sudah tidak sabar lagi, menimbulkan kegemparan untuk memancing keluarnya Sang Panglima dan terutama dara itu!

"Menyerahlah kalian untuk kami tangkap!"

Panglima Louw Kit Siang memben-tak.

"Kami hanya mau menyerah kepada Panglima sendiri!"

Kian Bu menjawab.

"Aku sudah berada di sini!"

Tiba-tiba terdengar suara dan muncullah seorang panglima bertubuh kurus tinggi dan berjenggot pendek, wajahnya gagah dan keras, diikuti oleh seorang laki-laki setengah tua dan seorang dara yang cantik jelita. Semua perwira segera mundur ketika melihat komandan mereka keluar. Tentu saja di depan komandan mereka, para perwira ini tidak berani berbuat sembrono dan hanya menanti perintah.

"Orang muda, siapakah kalian? Dan perlu apa kalian hendak bertemu dengan aku?"

Panglima Thio Luk Cong bertanya dan suaranya menggeledek penuh wibawa. Akan tetapi Kian Lee dan Kian Bu tidak menjawab, hanya memandang kepada dara itu dengan mata terbelalak, terpesona. Kian Lee memandang dengan penuh kekecewaan karena biarpun ada persamaan antara dara ini dengan Ceng Ceng, namun wajahnya berbeda sekali. Jelas bahwa dara itu bukanlah Ceng Ceng yang dicari dan diharapkannya akan dapat dia jumpai di dalam benteng perkemahan ini.

Sedangkan Kian Bu juga memandang dengan terbelalak karena pemuda ini benar-benar terpesona oleh kecantikan dara itu. Pandang matanya seperti melekat pada wajah itu, sukar untuk dialihkan dan jantungnya berdebar keras, hatinya jungkir balik karena selama hidupnya di antara sekian banyaknya dara cantik jelita yang dijumpainya, belum pernah dia melihat seorang dara secantik ini! Seperti bidadari dari kahyangan yang baru saja turun dari langit! Biarpun berbeda dasarnya, namun kakak beradik ini tidak mendengar pertanyaan menggeledek dari panglima itu dan tanpa menoleh mereka terus memandang dara itu yang agaknya merasa betapa dua orang pemuda tampan itu memandang kepadanya maka dia lalu menundukkan mukanya dengan alis berkerut dan kedua pipi kemerahan.

"Hei, Thio-ciangkun telah bertanya kepada kalian!"

Louw Kit Siang membentak marah.

"Oh, maaf...."

Kian Lee berkata sambil menyentuh lengan adiknya yang masih terlongong memandang dara itu.

"Maaf, Tai-ciangkun. Kami berdua kakak beradik adalah tukang-tukang pijit yang diundang ke sini, akan tetapi entah mengapa, setelah memijiti banyak perwira, kami hendak ditangkap."

"Tai-ciangkun, mereka bukan tukang-tukang pijit sembarangan. Mereka memiliki kepandaian tinggi dan tentu mereka adalah mata-mata!"

"Ihh, orang yang ketakutan selalu mencurigai siapa saja!"

Kian Bu berkata sambil melirak-lirik ke arah dara yang masih menundukkan mukanya itu.

"Begitukah?"

Panglima Thio membentak.

"Hemm, hendak kucoba sendiri. Orang muda, cobalah engkau memijiti lenganku!"

"Boleh kalau Tai-ciangkun menghendakinya,"

Kian Bu berkata tenang.

"Silakan duduk di sini."

Dia menunjuk ke arah bangku di dekat meja dan sengaja dia duduk menghadapi ke arah dara itu agar selalu dapat memandangnya! Akan tetapi sebelum panglima itu melangkah maju, orang setengah tua yang menjadi tamunya dan yang tadi berdiri dengan tenang di belakang dara jelita itu, melangkah maju dan berkata halus,

"Biarkanlah saya yang dipijitnya, Ciangkun, karena saya pun merasa agak lelah."

Dia lalu duduk di atas bangku dekat meja, menyingsingkan lengan bajunya, menaruh tangan kiri di atas meja dan mengulurkan lengan kanannya kepada Kian Bu sambil berkata,

"Nah, kau pijitlah lenganku, orang muda yang baik."

Melihat sikap orang setengah tua ini, diam-diam Kian Bu tidak berani berbuat sembarangan. Orang tua ini biarpun kelihatan amat sederhana dalam pakaian, sikap dan kata-katanya yang halus, namun ada sesuatu yang mengejutkan hatinya terpancar dari sinar matanya. Dan dia pun sudah dapat menduga bahwa seorang yang diterima sebagai seorang tamu agung oleh komandan itu, tentulah bukan orang sembarangan pula. Maka dia tidak berani main-main dan ingin memijit biasa saja, memijati otot-otot lengan itu agar orang ini merasa nyaman dan hilang kelelahannya. Akan tetapi betapa kaget hati Kian Bu ketika dia mulai meraba dan mengerahkan tenaga memijat lengan itu, tiba-tiba ada getaran keluar dari lengan itu, getaran yang disertai hawa sin-kang yang amat kuat! Panaslah hati Kian Bu. Hemm, kiranya orang ini memiliki juga kepandaian.

Baiklah, kalau orang ini ingin mengadu sin-kang, dia tidak akan mundur! Apalagi, agaknya orang ini mengawal dara itu, dan dia harus dapat memamerkan kepandaiannya agar mendatangkan kesan kepada orang ini dan terutama bagi dara itu yang berdiri dengan muka agak khawatir menonton adu tenaga yang tidak nampak oleh orang lain itu. Akan tetapi begitu Kian Bu mengerahkan tenaga sin-kangnya yang melalui jari-jari tangannya menekan lengan orang itu, pada saat yang sama orang itu pun mengerahkan sin-kang dan bertemulah dua tenaga dahsyat yang tidak tampak oleh mata. Dua tenaga panas dari Hwi-yang Sin-kang, yaitu tenaga inti api yang amat panas. Tenaga yang sama kuatnya dan sama pula panasnya! Kian Bu terkejut dan orang itu pun kaget sekali!

Akan tetapi dasar Kian Bu seorang pemuda yang tidak mau kalah oleh orang lain, dia lupa bahwa dia berhadapan dengan seorang yang amat pandai, maka dia yang ingin mendemonstrasikan kepandaiannya, biarpun tidak langsung dan melalui orang ini, kepada dara cantik jelita itu, cepat mengerahkan seluruh sin-kangnya dan merubah hawa sin-kangnya. Kini dia mengeluarkan ilmu sin-kang yang khas dari Pulau Es, yaitu Swat-im Sin-kang (Tenaga Inti Salju)! Kian Lee terkejut sekali. Melihat muka dan sikap adiknya, dia sudah dapat mengerti bahwa adiknya itu mengeluarkan ilmu simpanan mereka ini, maka dia makin terheran dan memandang orang laki-laki setengah tua yang nampaknya juga terkejut ketika merasakan perubahan pada jari-jari tangan pemuda yang memijiti lengannya. Hawa sin-kang yang amat dingin menggetar dengan dahsyatnya melalui jari-jari tangan itu.

"Uhhh....!"

Terdengar suara ini dari laki-laki setengah tua itu dan tiba-tiba wajah Kian Bu berubah saking kagetnya. Kiranya lawannya itu kini juga mengerahkan tenaga yang sama dinginnya! Tenaga mujijat dan dahsyat yang mampu menandingi Swat-im Sin-kang! Dan kedua tenaga itu kini saling dorong dan saling menindih, dan perlahan-lahan Kian Bu terdesak, mukanya makin pucat dan ma-tanya mulai mengantuk!

"Bu-te, agaknya Locianpwe ini terlalu kuat untukmu. Biar aku membantumu memijatnya!"

Kian Lee yang mengikuti "pertandingan"

Itu, dapat melihat keadaan adiknya, maka timbul kekhawatirannya dan dia sudah mengulurkan tangannya untuk membantu.

Post a Comment