"Bu-te, engkau ini ada-ada saja! Aku melihat sikap pelayan itu amat mencurigakan seolah-olah dia terlalu memperhatikan kita."
"Aihh, Lee-ko, aku memang lelah sekali, kalau memang betul tukang pijat itu pandai, apa sih salahnya kalau dia menghilangkan kelelahanku? Dan pelayan itu adalah seorang yang ramah, agaknya girang dia karena akhirnya rumah penginapan yang sunyi dan kosong ini memperoleh tamu juga."
Tak lama kemudian pelayan itu sambil tersenyum-senyum datang lagi memasuki kamar menuntun seorang kakek buta yang usianya tentu sudah enam puluh tahun lebih.
"Kongcu mana yangg merasa lelah kakinya?"
Kakek itu bertanya dengan suaranya yang lemah dan agak gemetar. Pelayan itu menuntunnya mendekati pembaringan Kian Bu.
"Inilah Kongcu yang ingin kaupijat kakinya, Lo-sam!"
Kata Si Pelayan. Kakek buta itu menjulurkan tangan meraba-raba. Takut kalau kakek itu meraba yang bukan-bukan, Kian Bu lalu menangkap tangan itu dan mendekatkannya ke arah kakinya sambil berkata,
"Di sini kakiku, Lopek."
Kakek itu meraba-raba kaki Kian Bu, melepaskan tongkatnya ke atas lantai sambil berkata,
"Hemm...., hemmm.... kasihan kedua kakimu, Kongcu. Tentu sedikitnya telah lima hari dipergunakan untuk berjalan kaki terus-menerus siang malam. Otot-ototnya sampai menegang dan keras begini."
Mulailah dia memijit-mijit kaki Kian Bu dan pemuda ini harus mengaku bahwa tukang pijit itu amat pandai memijit. Jari-jari yang berkulit halus itu dengan lembutnya memijit-mijit dan meraba-raba tepat pada otot-otot besar sehingga mengendurkan otot-otot yang tegang dan melancarkan kembali jalan darah. Juga terasa enak menyenangkan. Tidak terlalu dilebih-lebihkan ucapan pelayan tadi. Tukang pijat ini benar pandai, biarpun matanya buta namun jari-jari tangannya seperti mempunyai mata yang dapat mencari otot-otot kakinya.
"Lee-ko, sebaiknya engkau juga menyuruh dia memijit kakimu. Enak dan dapat melenyapkan lelah,"
Kian Bu berkata.
"Ah, aku tidak begitu lelah, Bu-te. Dipakai beristirahat sebentar saja pun akan pulih,"
Jawab kakaknya. Tiba-tiba pintu kamar diketuk orang dan ternyata Si Pelayan tadi yang masuk, diiringkan oleh seorang tentara berpangkat perwira yang usianya sudah tiga puluh tahun lebih, berkumis pendek dan berwajah ramah.
"Maafkan kalau saya mengganggu, Ji-wi Kongcu. Ciangkun ini datang diutus oleh panglima untuk memanggil tukang pijit!"
"Ah, bagaimana ini? Aku belum selesai dipijit!"
Suma Kian Bu berseru.
"Tidak mengapa, saya bisa menanti sebentar sampai engkau selesai dipijit, orang muda. Komandan kami bukan seorang yang keras, dan tentu beliau suka menunggu, apalagi karena sekarang beliau sedang menjamu dua orang tamu yang agaknya merupakan tamu agung yang amat penting."
Kian Lee menjadi tertarik. Dalam suasana seperti sekarang ini, setiap peristiwa mengenai komandan pasukan yang menerima tamu merupakan hal yang penting.
"Siapakah tamu-tamu agung, itu, Ciangkun?"
Perwira itu agaknya senang bercerita. Dia duduk di atas bangku dan menerima suguhan teh panas dari pelayan, minum tehnya lalu berkata,
"Kami semua tidak mengenal siapa adanya dua orang itu. Yang seorang laki-laki setengah tua, pakaiannya biasa saja seperti seorang petani sederhana, akan tetapi orang ke dua adalah seorang gadis yang luar biasa cantiknya. Biarpun pakaian gadis itu pun sederhana, akan tetapi kecantikannya sungguh sukar dicari bandingannya...."
"Berapa kira-kira usia gadis itu dan bagaimana perawakannya?"
Tiba-tiba Kian Lee bertanya, otomatis dia tertarik sekali dan membayangkan Ceng Ceng.
"Ah, tentu tidak akan lebih dari tujuh belas tahun, akan tetapi sikap dan sinar matanya seperti seorang wanita yang sudah matang dan dewasa, bentuk tubuhnya ramping, air mukanya angkuh dan agung, pendiam...."
Jantung di dalam dada Kian Lee berdebar. Tentu Lu Ceng gadis itu! Kian Bu juga menduga demikian dan diam-diam dia melirik kepada kakaknya.
"Apakah komandanmu suka pijit, Ciangkun?"
Tanya Kian Lee.
"Sebetulnya tidak, akan tetapi beliau mendengar berita dari anak buah bahwa di dusun ini kedatang-an seorang tukang pijit yang pandai. Beliau tertarik dan menyuruh saya datang menjemputnya."
Kian Bu sejak tadi diam saja, lalu berkata kepada tukang pijit itu,
"Sudah cukup, Lopek. Kau kuharap menanti di luar, aku hendak bicara penting dengan Ciangkun ini."
Kian Bu berteriak memanggil pelayan tanpa memberi kesempatan kepada Kian Lee yang memandangnya dengan heran itu untuk mengeluarkan suara, kemudian minta kepada pelayan untuk mengantar tukang pijit itu keluar dan menanti mereka di sana. Setelah pelayan dan tukang pijit itu keluar, baru dia berkata kepada perwira itu,
"Ciangkun, terpaksa aku menyuruhnya keluar karena apa yang akan kukatakan ini tidak enak untuk dia. Berita bahwa dia pandai memijat itu bohong sama sekali. Pijitannya tidak enak, dia tidak tahu tentang otot-otot dan orang yang kelelahan kalau dipijit olehnya akan menjadi makin lelah. Komandanmu akan marah kalau dipijat oleh dia."
"Kalau begitu, kenapa engkau membiarkan dirimu dipijit olehnya, orang muda?"
Kian Bu tertawa.
"Engkau tidak mengerti, Ciangkun. Ketahuilah bahwa kami berdua kakak dan adik adalah keturunan tukang pijit yang amat pandai, bahkan kakek kami dahulu biasa memijiti Kaisar dan keluarganya! Sebagai ahli-ahli pijat, ketika kami tadi mendengar bahwa di sini terdapat seorang tukang pijat pandai, tentu saja kami tertarik dan ingin mengujinya. Kiranya dia hanya tukang pijit yang ngawur saja. Orang seperti itu hendak kau suruh memijati komandanmu? Ah, engkau akan mendapat marah, Ciangkun."
Perwira itu memandang dengan curiga dan tidak percaya.
"Dia sudah tua, dan lagi buta, sudah pantas kalau menjadi tukang pijat yang pandai. Akan tetapi kalian? Orang-orang muda begini.... mana bisa memijat....?"
"Ha-ha, ucapan seperti itu, keheranan itu sudah sering sekali kami dengar, dan orang tidak akan percaya sebelum membuktikannya sendiri. Nah, sebaiknya kau coba sendiri, Ciangkun. Kami tidak membohongimu, ke sinilah, biar kau rasakan pijatan ajaib dari tanganku."
Dengan pandang mata masih tidak percaya perwira itu tersenyum menghampiri lalu duduk di atas pembaringan Kian Bu. Pemuda itu lalu mulai memijati kedua pundak dan tengkuknya. Tentu saja diam-diam dia mengerahkan sedikit tenaga Hwi-yang Sin-kang sehingga perwira itu merasa betapa hawa yang hangat mendatangkan nikmat menyelusuri tubuh-nya, dan betapa jari-jari tangan pemuda itu dengan amat tepat menyentuh otot-ototnya sehingga sebentar saja dia terasa keenakan, tubuhnya terasa nyaman dan kantuk mulai menyerangnya, membuat matanya meram melek!
"Nah, bagaimana rasanya, Ciangkun?"
Kian Bu bertanya dan menghentikan pijatannya. Perwira itu terbangun dari keadaan setengah pulas dan terkejut.
"Aih, benar hebat sekali engkau, orang muda. Pijatanmu amat hebat dan luar biasa sekali, terasa oleh seluruh tubuh, menghilangkan capai dan membuat aku mengantuk. Dan saudaramu ini pun mahir?"
"Kakakku ini malah lebih pandai daripada aku, Ciangkun. Kalau engkau suka mengajak kami berdua ke sana, tentu komandanmu akan puas sekali dan memujimu."
Tiba-tiba sikap perwira itu berubah. Pandang matanya tajam menyelidik ketika dia bertanya,