Halo!

Kisah Sepasang Rajawali Chapter 144

Memuat...

"Itu adalah hal yang mudah. Bagaimana kalau lawan saya sampai tewas?"

Tong Hoat mengerutkan alisnya dan timbullah kemarahannya. Sikap pemuda ini sama sekali tidak memandang mata kepadanya, seolah-olah sudah yakin akan kemenangannya biarpun sikap pemuda itu tenang saja, namun kata-katanya amat memandang rendah dan membayangkan kesombongan hebat!

"Terluka atau mati adalah resiko dalam pertandingan silat!"

"Bagus, kalau begitu biarlah aku merobohkan Pangcu dulu, baru merobohkan lain orang yang berani naik ke sini."

Tentu saja ucapan ini membuat Tong Hoat marah sekali, akan tetapi di antara para angauta Tiat-ciang-pang ada yang tertawa geli dan menganggap pemuda itu seorang yang sudah miring otaknya karena bicara sedemikian mudahnya hendak merobohkan pangcu mereka dan merampas kedudukan beng-cu. Akan tetapi Ceng Ceng memandang dengan penuh kekhawatiran.

Dia maklum bahwa nyawa Ketua Tiat-ciang-pang itu terancam bahaya hebat, akan tetapi tentu saja dia tidak hendak mencampurinya. Yang membuat dia khawatir adalah melihat betapa Tek Hoat kini sudah turun tangan sendiri dan kalau sampai pemuda ini yang menjadi beng-cu, tentu saja semua kaum sesat di daerah itu akan diseretnya menjadi kaki tangan pemberontak! Dan dia harus menghalangi usaha pemuda ini! Dia harus biarpun sedikit memperlihatkan kesetiaannya kepada kerajaan sebagai keturunan kakeknya, seorang bekas pengawal yang setia! Dia harus menentang para pemberontak! Sementara itu, Tiat-ciang-pangcu Tong Hoat sudah menerjang pemuda yang membakar hatinya itu. Serangannya dahsyat sekali, kedua tangannya bergantian melakukan pukulan dengan disertai pengerahan tenaga sin-kang sekuatnya, mengerahkan Ilmu Tiat-ciang yang paling kuat.

Karena marahnya, ketua ini ingin sekali pukul merobohkan pemuda sombong ini. Pemuda ini jelas bukan anggauta golongan daerah situ, maka membunuhnya pun bukan merupakan hal yang terlalu besar. Terhadap rekan sedaerah, dia masih sungkan membunuh, akan tetapi pemuda yang sombong itu boleh jadi adalah kaki tangan pemberontak, maka membunuhnya bahkan amat baik, tentu akan membikin jerih calon lain. Dengan pikiran demikian, maka begitu menerjang maju, Tong Hoat sudah mengeluarkan jurus yang paling hebat, bagaikan halilintar, kedua tangannya menyambar susul-menyusul, yang kanan memukul ke arah lambung lawan, yang kiri dengan jari terbuka mendorong ke arah dada disertai tenaga Tiat-ciang yang dahsyat.

"Bukk! Desss!"

Dua pukulan itu dengan tepat mengenai sasaran, akan tetapi tubuh pemuda itu sama sekali tidak bergoyang. Bahkan Tong Hoat seketika menjadi pucat mukanya ketika merasa betapa kedua tangannya bertemu dengan tubuh yang kerasnya melebihi baja, yang membuat kedua pukulannya membalik dan lengan tangannya seperti dibakar. Pada saat itu, Tek Hoat menggerakkan tangan kirinya dan ujung jari-jari tangannya menyentuh dada Ketua Tiat-ciang-pang itu. Tanpa mengeluarkan suara apa pun Tong Hoat terjengkang, kedua tangannya dikembangkan, matanya melotot dan dia roboh seperti sebatang balok, roboh di atas papan panggung dan tidak dapat bergerak lagi!

Sejenak semua orang menahan napas. Keadaan menjadi sunyi. Semua mata melotot terbelalak penuh kekagetan dan keheranan melihat kepada pemuda itu. Sukar bagi mereka untuk dapat percaya betapa seorang lihai seperti Ketua Tiat-ciang-pang itu roboh oleh seorang pemuda tak terkenal dalam hanya satu gebrakan saja. Lebih aneh lagi karena mereka melihat betapa pukulan kedua tangan Tiat-ciang-pangcu itu, yang terkenal memiliki Ilmu Tangan Besi, dengan tepat mengenai dada dan lambung pemuda itu, namun bukan pemuda itu yang roboh, melainkan Si Ketua yang lihai itu! Hanya Ceng Ceng yang sudah mengenal kelihaian Tek Hoat, tidak menjadi heran sungguhpun dia menjadi makin kagum dan yakin akan kehebatan ilmu kepandaian Tek Hoat.

"Ilmu setan!"

"Bunuh siluman itu!"

Teriakan-teriakan ini terdengar dari mulut para anggauta Tiat-ciang-pang dan enam orang tokoh Tiat-ciang-pang yang merupakan pembantu-pembantu utama dari pangcu, sudah naik ke atas panggung. Akan tetapi, orang-orang yang berdiri di sekitar panggung itu hanya melihat pemuda itu tersenyum dan menggerakkan kedua tangannya bergantian dan.... berturut-turut enam orang itu roboh pula terjengkang di atas papan panggung tanpa dapat bergerak lagi! Keadaan menjadi geger. Dua orang penjudi yang tadi dikalahkan dua orang saudara Ma, menjadi penasaran dan marah. Mereka bersama belasan orang anggauta Tiat-ciang-pang dan sahabat-sahabat baik Tong Hoat, sudah meloncat naik ke atas panggung dengan senjata-senjata tajam di tangan, langsung menerjang dan mengeroyok pemuda itu.

Ceng Ceng melihat sambil tersenyum simpul. Dia tahu bahwa semua orang itu mengantar nyawa secara percuma saja. Dan apa yang terjadi di atas panggung memang amat mengerikan dan mengherankan semua orang yang menonton di bawah. Pemuda itu dengan sikap tenang-tenang saja menghadapi semua serangan orang yang menyerbu dengan senjata tajam seperti hujan menyambar ke arah tubuhnya. Tiba-tiba saja tubuhnya berkelebat dan para pengeroyok itu terkejut dan bingung karena tubuh pemuda itu telah lenyap dari tengah mereka. Tiba-tiba, seperti halilintar cepatnya Tek Hoat membagi-bagi tamparan dengan jari-jari tangannya dan dalam waktu singkat saja lebih dari lima belas orang sudah roboh. Tubuh mereka bergelimpangan malang-melintang memenuhi papan panggung.

"Apakah masih ada lagi orang yang tidak mau menerima aku sebagai beng-cu?"

Pemuda itu berseru, suaranya lantang sekali, terdengar sampai jauh di bawah panggung.

"Kalau ada yang masih penasaran dan ingin menguji kepandaian, silakan naik."

Tentu saja semua orang kini telah yakin akan kesaktian pemuda itu dan tidak ada yang begitu bodoh untuk mengantarkan nyawa, bahkan suasana menjadi sunyi sekali sampai beberapa lamanya. Pemuda itu lalu menggunakan kaki tangannya, menendangi dan melempar-lemparkan tubuh para korbannya ke bawah panggung. Melihat orang-orang yang jumlahnya lebih dari dua puluh itu terlempar ke atas tanah dan tidak bergerak lagi, para anggauta Tiat-ciang-pang cepat mengadakan pemeriksaan dan terdengarlah teriakan-teriakan tertahan ketika mereka melihat bahwa semua tubuh itu telah tidak bernyawa lagi dan di dahi semua mayat itu tampak bekas jari ta-ngan yang menghitam!

"Si Jari Maut....!"

Terkejutlah semua orang yang berada di situ. Bahkan dua orang saudara Ma dan Si Tangan Malaikat sendiri juga terkejut, tidak mengira bahwa pemuda utusan Pangeran Liong Bin Ong itu adalah Si Jari Maut yang namanya sudah dikenal lama dan ditakuti semua orang sungguhpun jarang yang pernah melihat mukanya. Kiranya inilah orangnya! Rasa kagum dan girang bahwa mereka kini akan dipimpin oleh seorang penjahat yang terkenal amat lihai, membuat semua orang, bahkan termasuk anggauta-anggauta Tiat-ciang-pang, berseru keras,

"Hidup beng-cu kita yang baru!"

"Hidup Si Jari Maut....!"

Tek Hoat tersenyum dan mengangkat kedua lengannya ke atas. Suasana menjadi hening dan tidak ada seorang pun yang berani mengeluarkan suara. Setelah memandang ke empat penjuru, Tek Hoat lalu berkata dengan suara nyaring,

"Kalian telah melihat sendiri bahwa aku adalah satu-satunya orang yang menang dalam semua pertandingan di atas panggung ini. Oleh karena itu, apakah kalian setuju mengangkat aku sebagai beng-cu?"

"Setuju....!"

Semua orang berteriak. Akan tetapi di antara gemuruh suara yang menyatakan setuju ini, terdengar suara melengking yang mengatasi semua suara itu,

"Tidak setuju....!"

Tentu saja suara melengking ini mengejutkan sekali membuat semua orang terdiam dan menoleh ke kanan kiri untuk mencari suara wanita melengking itu. Tek Hoat juga berdiri di tengah panggung dan matanya bergerak liar ketika dia melihat sesosok bayangan orang melayang naik ke atas panggung.

Dia sudah marah sekali dan sudah siap menghadapi orang yang hendak menentangnya itu. Akan tetapi ketika secara tiba-tiba itu dia melihat bahwa yang meloncat naik dan kini berdiri di depannya adalah seorang gadis cantik dan yang bukan lain adalah Ceng Ceng, wajahnya berubah dan dia cepat-cepat memutar tubuhnya, membalik dan tidak mau berhadapan muka dengan Ceng Ceng! Hal ini adalah karena secara otomatis dia teringat akan janji dan sumpahnya, dan tanpa disadarinya sendiri tahu-tahu dia sudah memutar tubuh dengan jantung berdebar tegang. Gerakan Tek Hoat ini tentu saja melegakan dan menyenangkan hati Ceng Ceng dan dia cepat mengeluarkan sehelai saputangan yang memang sudah dipersiapkan, lalu berkata.

"Hemm, saputanganmu telah berada di tanganku, jangan sekali-kali kau berani memandangku!"

"Aku.... tidak akan memandangmu...."

Berkata Tek Hoat yang masih dipengaruhi oleh kekagetan dan masih gugup. Ceng Ceng adalah seorang yang amat cerdik. Dia maklum bahwa sekarang setelah menjadi beng-cu, tentu saja Tek Hoat akan menjagat namanya sebagai seorang gagah, bukan orang yang suka melanggar sumpah dan janji! Akan tetapi, dia tidak boleh percaya kepada seorang seperti pemuda ini yang tidak segan-segan merendahkan diri menjadi kaki tangan pemberontak. Maka dia lalu berkata dengan lantang, ditujukan kepada semua orang yang berada di bawah,

"Haiii, Cu-wi sekalian, dengarlah baik-baik! Laki-laki ini yang bernama Ang Tek Hoat, dia telah bersumpah bahwa setiap kali bertemu dengan aku, dia akan memejamkan mata atau tidak akan memandangku. Saputangannya ini yang menjadi saksi mati! Tidakkah benar kata-kataku, hai.... Ang Tek Hoat?"

Tek Hoat tak dapat menyangkal dan terpaksa dia menganggukkan kepalanya.

"Benar dan aku sudah memenuhi janji. Nah, pergilah!"

Ceng Ceng tertawa akan tetapi menutupi mulutnya. Dia gembira sekali karena dia memperoleh pikiran yang amat baik, yang dianggapnya akan membuat dia mampu mencari musuh besarnya. Dia ingin menjadi beng-cu!

"Nanti dulu, Tek Hoat! Engkau harus menyerahkan kedudukan beng-cu kepadaku, dan kau tidak boleh membangkang!"

"Apa....? Ah, untuk apa kedudukan beng-cu bagimu?"

"Tidak perlu kau tahu. Pendeknya, kedudukan beng-cu harus diserahkan kepadaku. Bagaimana? Apakah kau berani tidak taat kepadaku dan melanggar sumpahmu sebagai seorang pengecut yang menjilat ludah sendiri?"

Diam-diam hati Tek Hoat mendongkol sekali. Hemmm, kau tunggu saja, pikirnya. Bocah nakal. Akan tiba saatnya aku membalas semua ini! Kalau saja saputangan itu dapat dirampasnya. Kalau saja dia bisa melupakan janji dan sumpah itu. Dia sendiri merasa heran dan tidak mengerti mengapa dia begitu lemah kalau menghadapi gadis ini!

"Baiklah, sesukamulah,"

Jawabnya.

"Harus kau umumkan kepada mereka bahwa aku adalah beng-cu, dan engkau adalah pembantuku!"

Kata pula Ceng Ceng.

Dia sengaja hendak menggunakan pengaruhnya untuk dua tujuan. Pertama, dia mencegah kaum sesat dipengaruhi pemberontak, dan ke dua, dia hendak menggunakan kedudukan sebagai beng-cu itu untuk mengerahkan orang-orangnya mencari pemuda laknat, musuh besarnya! Tek Hoat menghela napas panjang. Sementara ini, dia terpaksa harus tunduk kepada gadis ini. Memang, kalau dia menghendaki tentu saja dia dapat menyerang dan merobohkan gadis ini, tidak mentaati perintahnya. Akan tetapi, kalau hal itu dia lakukan, dan dia sangsi apakah dia bisa melakukannya karena dia selalu merasa lemah terhadap gadis ini, dia tentu akan dianggap sebagai seorang laki-laki pengecut yang melanggar sumpahnya sendiri terhadap seorang gadis. Dan dalam kedudukannya sebagai seorang ketua, hal itu tentu akan mencemarkan namanya!

"Cu-wi sekalian, dengarlah baik-baik! Aku yang telah mengalahkan semua calon dan yang telah kalian angkat menjadi beng-cu, mulai saat ini menyerahkan kedudukan beng-cu kepada Nona...."

Tiba-tiba dia menoleh kepada Ceng Ceng dan bertanya,

"Ehh....!"

Akan tetapi teringat bahwa dia tidak boleh memandang, dia cepat membuang muka lagi sambil bersungut-sungut dan bertanya,

"Aku lupa lagi.... siapakah namamu?"

"Bodoh! Namaku Lu Ceng."

Post a Comment