"Memang hanya kaum pengecut saja yang mau menjadi pengkhianat,"
Katanya dengan pandang mata mengejek.
"Kalau golongan kita dipimpin oleh seorang pengecut dan pengkhianat, hancurlah kita semua!"
Muka Lauw Sek menjadi merah sekali karena ucapan itu biarpun tidak langsung ditujukan kepadanya, namun jelas bahwa Ketua Tiat-ciang-pang ini menghinanya di depan banyak orang.
"Hem, pangcu dari Tiat-ciang-pang, agaknya menurut pandanganmu, tidak ada orang lain yang lebih pantas menjadi beng-cu selain engkau, ya? Hendak kulihat sampai di mana tingginya kepandai-anmu dan apakah tangan besimu itu benar-benar keras seperti besi!"
Setelah berkata demikian Lauw Sek sudah maju menerjang dengan dahsyat, menggunakan kedua tangannya yang hergerak cepat sekali sehingga tampaknya seolah-olah dia memiliki enam buah lengan! Tong Hoat maklum bahwa kepandaian orang ini tidak boleh disamakan dengan dua orang saudara Ma tadi, maka dia pun cepat menggerakkan tubuh dan kedua tangannya menangkis sambil membalas dengan pukulan yang tidak kalah dahsyatnya.
Cepat sekali gerakan dua orang itu, yang kelihatan hanyalah bayangan banyak tangan, kadang-kadang dikepal, kadang-kadang terbuka, saling pukul dan saling tangkis dan terdengar suara bersiutnya hawa pukulan kedua pihak yang agaknya memiliki kecepatan yang berimbang. Lauw Sek yang berhati besar karena merasa mempunyai dukungan amat kuat, bernafsu sekali untuk mengalahkan lawan, maka gerakannya cepat dan serangannya bertubi-tubi seperti air membanjir. Sebaliknya, Tong Hoat bersikap hati-hati dan tenang, gerakannya kokoh kuat membendung banjir serangan itu dan setiap kali menangkis, dia mengerahkan ilmu yang diandalkannya, yaitu Tangan Besi.
Berkali-kali dua pasang lengan itu bertemu dengan dahsyat, kadang-kadang mengeluarkan bunyi berdetak seolah-olah dua tulang yang kuat saling beradu, namun keduanya tidak kelihatan terdorong dan agaknya sama kuatnya. Biarpun Lauw Sek kelihatan juga kuat dan pantas berjuluk Tangan Malaikat, karena kelihatannya dia tidak terpengaruh oleh benturan tangan yang amat kuat dari Tong Hoat, akan tetapi sebetulnya dia merasa betapa kedua lengannya nyeri dan makin lama makin hampir tak tertahankan olehnya. Setiap kali bertemu dengan lengan lawan, dia merasa seolah-olah tulang lengannya retak dan maklumlah dia bahwa biarpun dalam hal ilmu silat, dia tidak kalah jauh oleh lawan, namun harus dia akui bahwa Tong Hoat benar-benar memiliki lengan yang kuat dan keras seperti besi!
Diam-diam dia mengeluh dan teringatlah dia akan pesan pemuda sakti utusan Pangeran Liong Bin Ong yang berpesan agar dia berhati-hati menghadapi tangan besi lawan, dan pemuda yang dia tahu amat sakti itu telah meminjamkan sebuah sarung tangan kepadanya. Sarung tangan itu dia simpan di dalam saku bajunya, karena dia tidak mau memakainya, akan tetapi setelah sekarang memperoleh kenyataan betapa lihainya Ketua Tiat-ciang-pang, teringatlah dia akan pesan pemuda itu dan segera dia melompat mundur sambil tertawa. Dikeluarkannya sarung tangan berwarna hitam itu dan dipakainya di tangan kanan. Tercium bau yang wangi-wangi aneh memabokkan. Tong Hoat tidak mengenal sarung tangan itu. Dia dapat menduga bahwa tentu sarung tangan itu merupakan senjata yang ampuh, akan tetapi karena bukan merupakan senjata tajam, dia me-mandang rendah.
"Hemm, apakah lenganmu telah terasa nyeri maka engkau menggunakan sarung tangan itu?"
Dia mengejek.
Lauw Sek tersenyum.
"Tanganmu memang keras seperti besi, akan tetapi jangan mengira aku takut. Tangan besimu akan mencair kalau bertemu dengan sarung tangan ini!"
Tek Hoat tentu saja tidak percaya dan dia sudah menerjang lagi. Dia tadi sudah hampir memperoleh kemenangan karena pihak lawan sudah terus didesaknya. Dengan pengerahan tenaga pada kedua lengannya, dia menyerang tanpa mempedulikan sarung tangan hitam yang melindungi tangan kanan dan sebagian dari lengan kanan Lauw Sek.
"Plak-plak! Dukkk....!"
Tong Hoat meloncat ke belakang dengan kaget sekali, lalu menggosok-gosok lengan kirinya yang bertemu dengan lengan kanan bersarung tangan dari lawannya. Lengan kirinya terasa gatal-gatal dan panas sekali! Wajahnya berubah. Tahulah dia bahwa sarung tangan itu ternyata ampuh sekali dan tentu mengandung racun yang amat jahat!
"Kau curang....!"
Serunya.
"Ha-ha-ha, Pangcu. Kau takut....?"
Lauw Sek tertawa mengejek dan siap menyerangnya kembali.
"Pangcu harap mempergunakan obat dari Lihiap ini, dilumurkan pada kedua tangan!"
Tiba-tiba terdengar seruan ini dan seorang anggauta Tiat-ciang-pang melemparkan sebuah bungkusan ke arah ketuanya. Mendengar ini Tong Hoat menerima dengan girang dan tahulah dia bahwa nona Lu Ceng diam-diam telah membantunya. Mengingat betapa nona itu dapat menghabiskan beberapa cawan arak bercampur racun tanpa akibat apa-apa, dia maklum bahwa pendekar wanita itu adalah seorang ahli racun, maka dia cepat membuka bungkusan itu. Di dalamnya terdapat cairan kental seperti lumpur, berwarna kuning. Cepat dia membalurkan semua obat itu pada tangan dan lengannya. Rasa gatal dan panas pada tangan kanannya lenyap seketika, dan kedua lengannya terasa dingin.
"Majulah, siapa takut sarung tangan beracunmu?"
Dia membentak dan menyerang lagi. Terjadilah pertandingan yang mati-matian. Lauw Sek selalu menggunakan tangan kanannya yang memakai sarung tangan, akan tetapi kini lawannya menangkis dan menerima tanpa ragu-ragu lagi dan setiap kali mereka bertemu lengan dan tangan, karena memang dia kalah kuat tenaganya, dia yang merasa kedua lengannya sakit-sakit. Seratus jurus telah lewat dan pertandingan itu makin seru. Akan tetapi kini Lauw Sek main mundur dan selalu menghindarkan pertemuan kedua lengan karena kedua lengannya sudah bengkak-bengkak dan nyeri bukan main.
Kesempatan baik dipergunakan oleh Tong Hoat ketika Lauw Sek yang sudah tidak berani menangkis itu berusaha mengelak dari pukulan lawan. Tong Hoat menggerakkan kedua kakinya, mainkan ilmu tendangan berantai dan akhirnya Lauw Sek terkena sebuah tendangan kaki kiri yang membuat tubuhnya terlempar ke bawah panggung! Sorak-sorai dan tepuk tangan menyambut kemenangan Tong Hoat, tidak saja dari para anggauta Tiat-ciang-pang, akan tetapi juga dari mereka yang tadi dikalahkan oleh dua orang saudara Ma. Akan tetapi di bawah sorak-sorai yang diselingi oleh teriakan-teriakan yang menyatakan mengangkat Tong Hoat sebagai beng-cu itu, tampak berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu di depan Ketua Tiat-ciang-pang itu telah berdiri seorang pemuda tampan yang bertubuh sedang saja dan kelihatannya tidak seperti seorang yang lihai.
Pakaian pemuda ini sederhana saja, dengan jubah atau baju luar yang berwarna biru tua, celana kuning dan baju dalam putih. Biarpun pakaiannya terbuat dari kain yang mahal dan baru, akan tetapi potongannya biasa dan sederhana saja sehingga dia kelihatan hanya seperti seorang pemuda pekerja yang sederhana dari kota. Akan tetapi rambutnya yang hitam panjang itu merupakan kuncir yang besar mengkilap, ber-gantung di punggungnya, kulit mukanya putih dan ketampanan wajahnya makin mencolok dan sinar matanya yang tajam berapi dan bibirnya yang tersenyum simpul mengejek. Melihat pemuda ini, Ceng Ceng cepat mendekati panggung dan memandang dengan penuh perhatian dan ketegangan karena dia mengenal bahwa pemuda itu bukan lain adalah Ang Tek Hoat!
"Tiat-ciang-pangcu, apakah syaratnya bagi seorang beng-cu yang dipilih dalam pertemuan ini?"
Ang Tek Hoat bertanya, suaranya lantang namun halus dan tenang.
"Bukankah syaratnya adalah orang yang memiliki kepandaian paling tinggi di antara kita semua?"
Tong Hoat memandang pemuda itu penuh selidik, akan tetapi dia merasa belum pernah melihat pemuda ini. Kalau pemuda ini merupakan seorang tokoh kaum sesat di sekitar kota raja, tentu dia mengenalnya. Maka tentu pemuda inl seorang anggauta biasa saja, atau kalau dia seorang pandai, tentu datang dari daerah lain.
"Benar demikian, orang muda. Engkau siapakah dan datang dari mana?"
Tek Hoat tersenyum.
"Aku she Ang dan aku ingin memasuki pemilihan beng-cu ini. Jika aku dapat mengalahkan engkau, apakah aku dipilih menjadi beng-cu dan semua golongan hitam di daerah ini lalu tunduk kepada semua perintahku?"
Tong Hoat mengerutkan alisnya. Dia tidak mengenal pemuda ini dan siapa tahu pemuda ini adalah kaki tangan pemberontak. Akan tetapi tentu saja dia tidak berhak melarang, dan teringat kepada Nona Lu yang sanggup untuk menentang kaki tangan pemberontak kalau mereka hendak menguasai golongan hitam untuk bersekutu.
"Orang muda she Ang, tentu saja siapa pun boleh mencoba kepandaian untuk menjadi beng-cu. Akan tetapi, sekarang keadaan negara sedang kacau, dikacau oleh usaha orang-orang yang hendak memberontak terhadap pemerintah yang sah. Oleh karena itu, seorang beng-cu harus pula dapat melindungi semua anggautanya agar jangan sampai terseret ke dalam pemberontakan, karena pekerjaan itu adalah amat hina. Biarpun kita disebut golongan hitam atau kaum sesat, namun kita masih mempunyai kehormatan untuk tidak menjadi pengkhlanat bangsa dan negara!"
Tek Hoat tersenyum lebar.
"Pangcu, saya kira urusan itu terserah kepada beng-cu yang telah dipilih, bukan? Dialah yang akan memutuskan tentang segala persoalan dan peraturan, dan hal itu merupakan urusan belakang. Sekali lagi, kalau saya mampu mengalahkan pangcu, berarti saya menjadi beng-cu?"
Tong Hoat menggeleng kepalanya.
"Belum tentu, selama maslh ada calon lain engkau harus dapat mengalahkan semua calon."