Halo!

Kisah Sepasang Rajawali Chapter 142

Memuat...

Keadaan menjadi ribut karena suara mereka yang memberikan suaranya, tentu saja didukung oleh semua anak buah para pemberontak yang menyelundup di antara mereka. Hanya golongan yang tadi kalah saja yang diam dan hanya menonton dengan wajah muram, sedangkan golongan Tiat-ciang-pang tidak ada seorang pun yang bersuara.

"Lu-siocia (Nona Lu), lihatlah betapa anak buah pemberontak mendukung mereka, sedangkan dua orang itu adalah orang-orang bermuka dua yang mudah saja dibeli. Apakah Nona tidak akan turun tangan?"

Bisik Tong Hoat Ketua Tiat-ciang-pang kepada Ceng Ceng. Ceng Ceng menggelengkan kepalanya.

"Sudah kukatakan bahwa aku tidak akan mencampuri urusan pemilihan beng-cu, dan aku hanya turun tangan kalau anak buah pemberontak sendiri yang naik ke panggung, itu pun kalau engkau tidak mampu mengatasinya, Pangcu."

Ketua itu mengangguk.

"Baiklah, aku hanya mengharapkan bantuan Nona untuk membela negara karena aku pun bukan seorang yang haus akan kedudukan bengcu."

Setelah berkata demikian, Tong Hoat berteriak keras mengatasi suara gaduh mereka yang sedang menyokong suara kepada dua orang saudara Ma. Teriakannya ini membuat semua orang ini diam, apalagi ketika mereka melihat Ketua Tiat-ciang-pang sudah meloncat naik ke atas panggung. Dua orang saudara Ma memang sudah sejak tadi menanti munculnya jagoan dari Tiat-ciang-pang ini, maka kini mereka menghadapi Tong Hoat sambil tersenyum. Ma Ciang berkata,

"Aihh, kiranya Pangcu sendiri sebagai tuan rumah yang memberi penghormatan kepada kami! Apakah Pang-cu dan semua anggauta Tiat-ciang-pang tidak rela kalau kami yang terpilih menjadi beng-cu?"

Ma Kai juga berkata,

"Agaknya pangcu dari Tiat-ciang-pang juga menginginkan kedudukan beng-cu!"

Tong Hoat memandang tajam dan suaranya terdengar lantang oleh semua orang ketika dia menjawab,

"Saya adalah pangcu dari Tiat-ciang-pang dan saya sama sekali tidak haus akan kedudukan beng-cu. Kalau kami mempelopori pertemuan dan mengadakan pemilihan beng-cu ini adalah karena kami melihat adanya perpecahan di antara kami. Sekarang, Ji-wi telah menang dari dua orang saudara dari golongan penjudi tadi. Akan tetapi, seorang beng-cu dan wakilnya harus orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian cukup tinggi untuk dapat diandalkan oleh golongan kita semua. Oleh karena itu, terpaksa karena tidak ada lagi yang mau naik, saya sendiri yang akan menguji apakah Ji-wi sudah tepat dan pantas untuk menjadi beng-cu dan wakilnya. Kalau memang cukup kuat dan lihai, tentu saja kami juga akan setuju jika Ji-wi diangkat menjadi pimpinan."

"Bagus! Dengan lain kata-kata Pangcu menantang kami berdua! Kai-te (Adik Kai), hayo kita coba kelihaian pang-cu dari Tiat-ciang-pang ini!"

Setelah berkata demikian, Ma Ciang dan Ma Kai memutar-mutar golok mereka di atas kepala dan bergerak mengelilingi Ketua Tiat-ciang-pang itu.

"Tidak adil! Tidak adil!"

Tedengar teriakan dari para anggauta Tiat-ciang-pang.

"Dua orang me-ngeroyok satu orang sudah tidak adil!"

"Apalagi kalau menggunakan golok mengeroyok seorang bertangan kosong!"

Teriakan-teriakan ini terdengar susul-menyusul dan disokong pula oleh golongan yang tadinya diwakili oleh dia orang penjudi. Golongan ini memang tidak pro atau anti pemberonta-kan, akan tetapi melihat Ketua Tiat-ciang-pang akan dikeroyok dua, mereka merasa tidak senang. Ma Ciang dan Ma Kai menjadi malu juga, wajah mereka merah dan sambil tertawa Ma Ciang menyimpan goloknya diturut oleh adiknya, lalu berkata,

"Baiklah, kalau pang-cu dari Tiat-ciang-pang ngeri melihat darah, kami akan melayani dengan tangan kosong pula, kecuali kalau Pang-cu jerih menghadapi kami bersama."

Ucapan ini pun lantang terdengar oleh semua orang. Tong Hoat mengerutkan alisnya, dia maklum bahwa kedua orang ini hanya besar mulutnya belaka. Biarpun mereka menggunakan golok, dia pun tidak takut, apalagi bertangan kosong. Melihat gerakan mereka tadi ketika melawan dua orang jagoan pertama, dia sudah dapat menilai tingkat mereka dan merasa pasti akan dapat mengalahkan mereka berdua, bersenjata maupun tidak.

"Silakan Ji-wi maju, saya sudah siap menghadapi Ji-wi maju bersama!"

Teriaknya. Ma Ciang dan Ma Kai menjadi girang. Mereka mengira bahwa Ketua Tiat-ciang-pang ini telah berhasil mereka bakar hatinya sehingga malu untuk mundur. Sambil menggereng seperti dua ekor harimau kelaparan, mereka menerjang ke depan, mencengkeram dan memukul. Tong Hoat sudah siap. Tubuhnya bergerak mengelak dan menangkis, lalu mengirim pukulan balasan.

"Dukkk! Dukkk!"

Dua orang bersaudara Ma terhuyung ke belakang, meringis kesakitan. Lengan mereka terasa sakit sekali ketika beradu dengan lengan Tong Hoat yang tentu saja mengerahkan ilmunya Tangan Besi! Namun dua orang itu bukan menjadi jera bahkan menjadi penasaran dan marah, lalu menerjang lagi dengan lebih dahsyat, disambut dengan tenang oleh Tong Hoat. Lega hati Ceng Ceng menyaksikan jalannya pertandingan itu.

Dia yakin bahwa Ketua Tiat-ciang-pang yang benar-benar lihai ilmu silatnya bertangan kosong itu akan dapat mengalahkan kedua orang lawannya dengan mudah sehingga dia tidak perlu turun tangan membantu. Setelah melihat munculnya Tek Hoat, dia menjadi makin ragu untuk mencampuri urusan pemilihan beng-cu ini. Kecuali kalau Tek Hoat yang maju, jelas bahwa pihak pemberontak ingin menguasai golongan ini dan kalau demikian halnya, dia tentu akan turun tangan! Sekarang, melihat Tong Hoat mendesak kedua orang lawannya, perhatiannya kembali ditujukan untuk mencari musuh besarnya dan dia mulai bergerak perlahan mencari-cari di antara para hadirin yang banyak jumlahnya itu. Pertandingan di atas panggung masih berjalan dengan seru. Dua orang saudara Ma dengan bernapsu mencoba untuk mengalahkan Ketua Tiat-ciang-pang, akan tetapi karena memang kalah tingkat dan kalah kuat,

Mereka terdesak terus dan setiap kali Tong Hoat menangkis dengan pengerahan tenaga, mereka tentu terdorong dan terhuyung ke belakang dan menyeringai kesakitan, tanda bahwa dalam pertemuan lengan itu mereka jauh kalah kuat. Betapapun kedua orang itu mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua kepandaiannya, namun belum sampai lima puluh jurus akhirnya mereka harus mengakui keunggulan Tong Hoat. Ketua Tiat-ciang-pang ini menggunakan kekuatan tangan besinya menampar dalam kesempatan yang terbuka dan berturut-turut mereka terlempar dari atas panggung. Biarpun Ketua Tiat-ciang-pang yang masih mengingat akan hubungan antara golongan tidak memukul keras sehingga mereka tidak sampai terluka parah, namun keduanya tidak berani nekat naik lagi karena maklum bahwa mereka bukanlah lawan Ketua Tiat-ciang-pang itu.

"Bagus! Tiat-ciang-pang mengundang orang hanya untuk memamerkan kepandaian sendiri!"

Terdengar seruan orang dan dari bawah panggung tampak seorang laki-laki tinggi kurus meloncat naik ke panggung. Ketika semua orang memandang, mereka berbisik-bisik dengan hati tegang karena maklum bahwa tentu akan terjadi pertandingan yang amat hebat antara pendatang baru yang mereka kenal baik ini menghadapi Ketua Tiat-ciang-pang. Orang tinggi kurus ini bukan lain adalah tokoh besar golongan maling yang berjuluk Tangan Malaikat! Kini Tangan Malaikat hendak menantang Tangan Besi, tentu saja akan terjadi pertandingan ramai! Sebetulnya sudah lama terdapat kebencian antara dua golongan ini, yaitu golongan para maling dan golongan pencopet dan perampok yang bergabung di dalam perkumpulan Tiat-ciang-pang.

Hal ini adalah karena Tiat-ciang-pang memandang rendah golongan maling, bahkan tidak mau menerima seorang pencuri sebagai anggauta, maka tentu saja golongan ini merasa terhina dan menaruh dendam. Ketika tokoh maling yang berjuluk Tangan Malaikat itu yang bernama Lauw Sek, datang dari selatan dan bergabung dengan golongan maling, mereka merasa menemukan seorang jagoan dan secara tidak resmi mengangkat Lauw Sek sebagai pimpinan mereka. Lauw Sek Si Tangan Malaikat ini dengan mudah saja terpikat oleh kaum pemberontak, dan diam-diam Lauw Sek membawa teman-temannya untuk bersekutu dengan kaki tangan pemberontak yang ingin menguasai kaum sesat. Lauw Sek adalah seorang yang memiliki kepandaian cukup tinggi maka dia berani memakai julukan Tangan Malaikat yang menyatakan bahwa selain pandai ilmu silat, juga dia adalah seorang ahli mencopet dan mencuri.

Akan tetapi selama ini ia tidak begitu bodoh untuk mencari perkara dengan Tiat-ciang-pang yang merupakan perkumpulan besar yang banyak anggautanya. Sekarang, dalam pertemuan resmi ini, dimana diadakan pemilihan beng-cu, apalagi karena didukung oleh kaki tangan Pangeran Liong Bin Ong, dia menjadi berani untuk menentang dan menghadapi orang yang selama ini memang dibenci oleh dia dan kawan-kawannya. Kini kedua orang yang diam-diam saling membenci itu berhadapan di atas panggung. Tong Hoat juga membenci orang ini karena memang dia selalu memandang rendah kaum pencuri yang di-anggapnya merupakan pengecut besar, apalagi setelah dia mengetahui bahwa Tangan Malaikat dan kawan-kawannya telah merendahkan diri untuk diperalat oleh kaum pemberontak.

Post a Comment