"Aku pergi sekarang juga. Kau tunggulah aku, Ciang Bun!! Dan sekali berkelebat, pemuda itupun lenyap dari dalam ruangan itu. Mereka semua hanya melihat bayangan berkelebat lenyap seolah-olah pemuda itu dapat menghilang dan merobah dirinya menjadi asap. Saking heran dan kagumnya, dua orang kakek itu lari ke jendela, membuka daun jendela dan memandang keluar. Dan mereka melihat sebuah titik hitam bergerak cepat jauh di depan dan sehentar saja lenyap. Mereka kembali saling pandang dan hwesio itu berbisik.
"Sinshe, hebat sekali orang muda itu, dan makin percayalah aku bahwa pendekar yang terluka itu memang benar keturunan para pendekar Pulau Es.!
Sementara itu, Ganggananda berlari cepat. Tidak mengherankan kalau dia dapat berlari secepat itu karena Ganggananda ini, seperti para pembaca tentu sudahdapat menduganya, adalah Gangga Dewi atau Wan Hong Bwee, puteri dari Wan Tek Hoat dan Syanti Dewi! Dara yang kini sudah berusia tujuh belas tahun ini memang suka sekali berkelana. Sudah sering ia meninggalkan Bhutan, menjelajahi hutan-hutan dan pegunungan di sekitarnya sehingga kadang-kadang orang tuanya menjadi gelisah dan mencari-carinya.
Akan tetapi kesukaannya ini tidak pernah berkurang dan akhirnya, jalan satu-satunya untuk menenteramkan hati mereka, ayah dan ibu ini lalu menggembleng puteri mereka, menurunkan semua ilmu mereka agar puteri mereka menjadi seorang gadis yang tangguh dan cukup kuat untuk menjadi bekal pembela diri dalam perantauannya. Wan Tek Hoat pendekar sakti yang di waktu mudanya pernah mempunyai julukan Si jari Maut mengajarkan ilmu-ilmu silatnya yang tinggi.
Juga Syanti Dewi mengajarkan ilmu gin-kangnya yang hebat, yang dahulu dipelajarinya dari Bu-eng-kwi Ouw Yan Hwi. Setelah menguasai banyak ilmu, Gangga Dewi atau Wan Hong Bwee pergi berangkat merantau menuju dunia timur (Tiongkok), yaitu negara tempat asal ayahnya. Sejak usia belasan tahun, ketika mulai gemar merantau, Hong Bwee suka menyamar sebagai pria dan ia memakai nama Ganggananda.
Hal inipun dianjurkan oleh orang tuanya yang berpendapat bahwa sebagai pria, tentu puteri mereka tidak terlalu banyak menghadapi gangguan di waktu melakukan perjalanan seorang diri. Dari seorang kakek pemain sandiwara di istana Raja Bhutan, Hong Bwee juga mempelajari cara berhias dan menyamar sebagai pria sehingga ia dapat membuat kulit mukanya nampak kasar, bahkan ia dapat menambah alisnya menjadi tebal dengan alis tempelan namun sama sekali tidak kentara kepalsuannya.
Demikianlah, dengan bekal semua kepandaian ini, dara yang sejak kecil digembleng bu (ilmu silat) dan bun (ilmu sastera) oleh orang tuanya itu, berangkat merantau sampai ia bertemu dengan Ciang Bun. Selain dibekali kepandaian, juga ia fasih berbahasa Han walaupun agak asing terdengarnya, dan iapun sudah banyak mendengar cerita ayah ibunya tentang para tokoh dunia persilatan, baik para pendekar maupun para datuk sesat. Hal ini perlu diketahui agar ia dapat bersikap hati-hati kalau bertemu dengan para tokoh itu.
Raja Bhutan sendiri dan para pembesar tadinya merasa tidak setuju dan tidak rela melihat Hong Bwee yang mereka sayang itu, sebagai seorang gadis dewasa, pergi merantau sendiri sejauh itu. Akan tetapi, Syanti Dewi dan Tek Hoat menenangkan hati mereka. Syanti Dewi mengingatkan bahwa ia sendiri di waktu masih gadisnya juga meninggalkan Bhutan dan merantau ke timur. Adapun Tek Hoat sendiri adalah seorang pendekar yang suka merantau, tentu saja tidak berkeberatan akan kesukaan puterinya.
Di samping itu, bagaimana akan dapat mencegah kehendak Hong Bwee? Anak ini memiliki kekerasan hati melebihi ibunya, tidak mungkin kehendaknya dihalangi. Tidak mungkin merantainya di rumah. Kalau dihalangi tentu gadis itu malah akan minggat dan hal ini jauh lebih buruk daripada kalau gadis itu berangkat merantau dengan restu orang tuanya.
Biarpun demikian, diam-diam Raja Bhutan mengutus beberapa orang pengawal pilihan untuk membayangi dan melindungi gadis itu. Sialnya, tidak ada seorangpun di antara para pengawal itu yang mampu menandingi kecepatan lari Hong Bwee sehingga dalam waktu beberapa hari saja mereka sudah kehilangan jejaknya dan tertinggal jauh. Terpaksa mereka melanjutkan perjalanan ke timur dan mencari-cari karena mereka tidak tahu ke mana tujuan perjalanan gadis itu.
Demikianlah, dengan menyamar sebagai pria, Hong Bwee tiba di kota raja. Ia merasa gembira sekali melihat kota raja yang besar, megah dan indah itu, jauh lebih besar dan lebih indah daripada kota raja Bhutan. Ketika ia bertemu dengan Suma Ciang Bun, ada sesuatu pada diri pemnda itu yang menarik perhatiannya. Baru dara ini mengerti bahwa ada suatu persamaan atau kemiripan pada diri pemuda ini dengan Ceng Liong sehingga menarik perhatiannya ketika ia mendengar bahwa Ciang Bun adalah saudara sepupu Ceng Liong. Mendengar bahwa Suma Ciang Bun ini saudara sepupu Ceng Liong, hatinya merasa hangat dan tertarik. Bagaimanapun, ada hubungan akrab antara ibunya dan keluarga Pulau Es sehingga ia merasa seperti bertemu sahabat lama atau sanak keluarga ketika berjumpa dengan Ciang Bun.
Kini ia mengerahkan semua tenaga dan ilmunya berlari cepat untuk menyelamatkan nyawa pemuda itu. Ia harus dapat mencari dan menemukan katak-katak buduk hitam dalam waktu tiga hari. Kalau ia berlari cepat, menurut perhitungannya setelah mendengar penjelasan hwesio ahli racun, dalam waktu sehari tentu ia akan dapat tiba di rawa yang dimaksudkan itu. Ia harus dapat menemukan obat itu. Ngeri ia membayangkan betapa pemuda yang tampan pendiam dan halus lagi gagah perkasa dan pandai bersajak itu akan mati konyol keracunan.
Ilmu berlari cepat Jouw-sang Hui-teng (Terbang Di Atas Rumput) dari Wan Hong Bwee memang hebat sekali. Tubuhnya ringan dan ia dapat berlari bagaikan terbang saja, dan dalam waktu sehari lebih, hanya berhenti untuk makan roti bekal dan minum air, ia telah tiba di tepi rawa. Akan tetapi, hari telah malam dan cuaca gelap sekali. Tak mungkin dapat mencari katak buduk pada waktu malam gelap itu. Menurut keterangan hwesio ahli racun, katak-katak buduk hitam itu berkeliaran di waktu malam mencari mangsa.
Berbeda dari katak-katak biasa yang makan serangga biasa seperti semut, nyamuk dan sebagainya, katak buduk hitam mencari makanan serangga berbisa dan suka sekali makan binatang berbisa seperti kelabang, kalajengking, bahkan ular-ular kecil yang berbisa. Hebatnya, katak ini tidak takut terhadap ular besar! Menurut hwesio itu, sukar menangkap anak-anak katak di waktu malam karena selain katak-katak besar itu berkeliaran, juga berbahaya menangkap katak besar. Anak anaknya di waktu malam bersembunyi di dalam guha-guha kecil atau celah-celah batu, sukar ditemukan. Waktu yang tepat untuk menangkap adalah pada pagi hari di waktu induk-induk katak memberi makan anak-anaknya di tepi rawa dan memberinya makanan yang dimuntahkan dari perutnya.
Karena itulah, Hong Bwee lalu mencari tempat yang kering dan enak untuk melewatkan malam, tak jauh dari rawa itu. Ia mengumpulkan rumput kering, menumpuknya di bawah sebatang pohon. Kemudian ia mencari kayu kering dan membuat api unggun, bukan untuk melawan dingin karena tubuhnya yang terlatih itu mampu menahan hawa dingin maupun panas, melainkan untuk mengusir nyamuk. Memang ia dapat melindungi tubuhnya dari gigitan nyamuk, akan tetapi bunyi nyamuk di sekitar telinga sungguh amat mengganggu dan membuatnya tidak dapat mengaso enak. Api unggun akan membuat nyamuk-nyamuk itu menjauhkan diri karena panas dan asap.
Akan tetapi, baru saja api unggun itu jadi, tiba-tiba ada angin menyambar kuat dan nyala api itu padam! Padamnya api membuat bara api pada kayu-kayu itu mengeluarkan asap yang memedihkan mata. Akan tetapi Hong Bwee maklum bahwa angin yang menyambar tadi bukanlah angin biasa, melainkan angin pukulan yang datangnya dari arah kiri, maka ia terkejut sekali dan cepat meloncat ke arah tempat itu. Dan benar saja, di dalam cuaca remang-remang yang hanya diterangi oleh jutaan bintang di langit, ia melihat sesosok tubuh seorang wanita tua yang agak bongkok.
"Engkau kah yang tadi memadamkan api unggunku?! tanya Hong Bwee ragu-ragu karena ia tidak tahu pasti apakah benar nenek bongkok ini yang memadamkan api dari jauh menggunakan angin pukulannya.
Nenek itu agaknya melihat kelincahan Hong Bwee ketika meloncat, maka iapun berkata dengan suara membela diri.
"Api itu akan menakutkan ular dan katak!!
Disebutnya katak membuat hati dara ini tertariksekali. Ia mendekat, namun sikapnya waspada dan ternyata nenek itu menyembunyikan sebuah teng (lampu minyak) yang tertutup kertas tipis merah sehingga lampu itu mengeluarkan cahaya kemerahan yang cukup menerangi wajah nenek itu ketika ia mengeluarkan lampu dari balik tubuhnya. Kini Hong Bwee dapat melihat bahwa biarpun tubuhnya agak bongkok, ternyata wajah nenek ini menunjukkan tanda-tanda bahwa dahulu di waktu muda ia tentu memiliki wajah yang cantik. Juga pakaiannya bersih dan rapi, rambutnya disisir rapi.
"Nenek yang baik, apa maksudmu dengan ular dan katak?!
"Hi-hik,! nenek itu terkekeh.
"Engkau melakukan perjalanan seorang diri dan berani tidur di tepi rawa, tentu engkau seorang pemuda yang memiliki kepandaian lumayan. Akan tetapi pernahkah engkau melihat betapa ular besar dibunuh seekor katak? Aku sedang mengintai seekor ular besar dan tiba-tiba engkau di sini membuat api unggun. Tentu saja ular dan kataknya akan ketakutan dan mana mungkin aku dapat menangkap ular itu?!
"Ah, maafkan aku, nek. Aku ingin sekali melihat engkau menangkap ular.! Hati Hong Bwee tertarik sekali karena ia dapat menduga bahwa nenek ini tentulah seorang kang-ouw yang aneh dan berkepandaian tinggi. Hal ini terbukti dari keanehan sikap, bicara dan perbuatannya seperti ketika ia memadamkan api unggun tadi.
"Kau mau nonton? Heh-heh, boleh sekali. Mari ikut aku.! Nenek itu membalikkan tubuhnya dan berjalan berindap-indap. Hong Bwee yang merasa tertarik sekali segera mendekati dan berjalan di dekat nenek itu.
"Engkau melarang aku membuat api unggun, akan tetapi engkau sendiri membawa lentera, apakah sinar lenteramu itu tidak akan menakutkan ular dan katak?!
"Heh-heh-heh, lentera ini merah, tidak akan menakutkan mereka. Sssttt.... sekarang diamlah....!
Nenek itu mendekati batu-batu besar di mana terdapat celah-celah dan ia mengeluarkan sebuah kantung hitam dari punggunguya, di mana tergantung buntalan besar. Kantong ini bergerak-gerak, tanda bahwa di dalamnya terdapat sesuatu yang bernyawa. Ketika nenek itu meneteskan arak dari sebuah guci ke mulut kantong hitam, terdengarlah bunyi "kok-kok-kok! keras sekali sehingga mengejutkan hati Hong Bwee. Akan tetapi karena nenek ini sudah memberitahu agar diam, Hong Bwew tidak berani membuka mulut, hanyamemandang penuh perhatian. Ia menujukan pandang matanya ke arah mata nenek itu memandang, yaitu ke arah sebuah celah besar di antara batu-batu hitam.
Dan tiba-tiba saja terdengar bunyi berdesis, mula-mula perlahan, makin lama makin nyaring dan akhirnya dari celah-celah batu itu tersembul keluar sebuah kepala ular yang besarnya sekepalan tangan. Kembali nenek itu meneteskan arak dan kembali terdengar suara "kok-kok-kok! berkali-kali. Agaknya suara inilah yang menarik perhatian ular itu. Binatang itu kini keluar dari dalam celah batu dan ternyata tubuhnya sebesar betis orang dan panjangnya ada enam tujuh kaki! Seekor ular kembang yang besar dan agaknya lapar.
Dengan tangan kanannya, nenek itu memungut sebuah batu dansekali tangan terayun, batu itu meluncur dan memasuki celah tadi, menutupnya. Bidikannya demikian tepat sehingga kembali Hong Bwee menyadari bahwa nenek ini memang lihai. Dan kini nenek itu membuka mulut kantong hitam dan melemparkan isinya ke arah sang ular. Kiranya isi kantong itu adalah seekor katak buduk hitam yang besarnya tiga empat kali katak biasa.
Akan tetapi dibandingkan dengan ular itu, katak ini tentu saja amat kecil dan sekali caplok tentu ular itu akan dapat melahapnya. Lemparan nenek itu tepat pula. Katak terlempar dan terbanting ke atas kepala ular, membuat kedua binatang itu terkejut dan segera bersiap siaga ketika saling berhadapan. Agaknya sang ular menganggap bahwa ia memperoleh mangsa, sebaliknya katak itu merasa berhadapan dengan seekor binatang yang menjadi musuh besarnya.
Hong Bwee semakin tertarik. Ia tahu bahwa katak adalah satu di antara binatang yang menjadi makanan ular. Akan tetapi ia sudah mendengar dari hwesio itu bahwa katak buduk hitam demikian berbahaya dan lihainya sehingga berani melawan seekor ular besar. Agaknya kini secara kebetulan ia akan menyaksikan pertunjukan yang tak masuk akal itu.