"Itulah! Menurut Gu-sinshe, engkau terkena pukulan beracun yang amat berbahaya.!
"Mana dia sekarang?!
"Dia sedang mengundang seorang hwesio tua ahli racun untuk datang memeriksamu.!
Ciang Bun merasa heran. Dia juga pernah mendengar nama Gu-sinshe sebagai seorang tabib yang pandai, bahkan kabarnya kadang-kadang dipanggil ke istana kaisar untuk memberi pengobatan dan pemeriksaan. Bagaimana kini tabib itu demikian memperhatikan dia, bahkan mengundang seorang ahli untuk memeriksanya?
"Nanda, apakah engkau mengenal baik tabib itu sehingga dia mau memperhatikan aku seperti ini?!
Ganggananda tersenyum dan jantung Ciang Bun berdebar keras. Dia terpaksa membuang muka karena senyum pemuda remaja itu seperti mencengkeram jantungnya dan membuatnya merasa aneh. Dia teringat bahwa beginilah perasaannya ketika dahulu dia dicium oleh Liu Lee Siang ketika pemuda itu mengajarnya menolong orang yang tenggelam atau kecelakaan di air.
"Ciang Bun, aku bingung ketika membawamu ke darat. Engkau pingsan terus dan segala usahaku untuk menyadarkanmu gagal. Terpaksa kau kubawa ke sini dan karena aku tahu bahwa seorang tabib terkenal tidak sembarangan mau mencurahkan perhatian kepada orang biasa, akupun lalu berkata bahwa engkau adalah seorang anggauta keluarga Suma dari Pulau Es. Benar saja dugaanku, mendengar ini dia tergopoh-gopoh memeriksamu dengan teliti, kemudian bahkan keluar untuk mengundang seorang hwesio kenalannya yang ahli tentang pukulan beracun.!
"Ahh....! Berapa lama aku pingsan?!
"Dua hari dua malam! Baru sekarang siuman, itupun setelah diberi obat tusuk jarum dan macam-macam oleh Gu-sinshe. Nah, menurut pesan Gu-sinshe, kalau engkau sudah sadar, aku harus menyuapimu dengan bubur encer ini. Makanlah.! Dan Ganggananda lalu menyuapkan sesendok bubur.
"Biar kumakan sendiri....!! Ciang Bun hendak bangun, akan tetapi kepalanya seperti terputar-putar rasanya sehingga dia harus memejamkan mata kembali dan terpaksa merebahkan diri lagi.
"Nah, jangan rewel, biar kusuapkan. Makanlah.!
Baru habis beberapa suap, Ciang Bun tidak mau lagi.
"Rasanya semakin mual dan hendak muntah....!
Tiba-tiba seorang kakek masuk ke dalam kamar itu. Ciang Bun memandang dengan mata yang agak kabur. Seorang kakek berpakaian sasterawan yang tubuhnya jangkung kurus dan melihat pakaiannya dia dapat menduga bahwa kakek ini tentu Gu-sinshe. Orang ke dua adalah searang hwesio gendut yang mukanya riang dan selalu tcrsenyum, matanya lebar dan tajam.
"Inikah Suma-taihiap yang terkena pukulan beracun?! kata hwesio itu.
"Ah, untung taihiap memiliki tubuh yang kuat. Mudah-mudahan pinceng dapat menemukan racun apa yang telah dipergunakan orang untuk memukul taihiap sehingga sahabatku ini dapat memberikan obatnya yang tepat.!
"Terima kasih, locianpwe....! kata Ciang Bun.
Hwesio itu lalu membuka baju Ciang Bun, dibantu oleh Ganggananda dan dia lalu memeriksa seluruh tubuh Ciang Bun bagian atas, memijat sana-sini, menepuk sana-sini dan berkali-kali dia menggeleng kepala dan menarik napas panjang.
"Taihiap, bagaimana rasanya kalau sebelah sini kutekan seperti ini?! Dan hwesio itu menekan dada kanan.
Ciang Bun menggigit bibirnya.
"Rasanya perih dan panas.!
"Dan taihiap mencium sesuatu?!
"Amis.... mau muntah....!
"Omitohud....! Tak salah lagi, taihiap terkena pukulan yang mengandung hawa racun katak buduk!!
"Eh, apakah itu? Aku belum pernah mendengarnya, dan apa obatnya?!
Hwesio itu menggeleng kepala.
"Masih untung bahwa, seperti menurut ceritamu tadi, Sinshe, Suma-taihiap diselamatkan oleh sahabatnya yang membawanya ke sini. Terlambat akan celaka. Dan kalau dalam waktu tiga hari dia tidak memperoleh obatnya yang tepat, kurasa tidak akan ada obat yang dapat menolongnya lagi.!
"Apakah obat itu? Dan di mana bisa kudapatkan?! Ganggananda bertanya dengan lantang dan tak sabar.
"Obatnya hanya terdapat di tepi Sungai Huang-ho, akan tetapi pernah pinceng melihat katak buduk hitam di dalam rawa di sebelah utara kota raja yang serupa dengan katak-katak di Sungai Huang-ho itu. Katak buduk berkulit hitam yang matanya merah. Nah, kalau bisa didapatkan belasan ekor saja anak katak buduk itu, tentu Suma-taihiap ini akan dapat disembuhkan dari pengaruh racun pukulan Hoa-mo-kang.!
"Biar aku pergi mencarinya! Tunjukkan dan gambarkan di mana rawa itu, locianpwe.! kata Ganggananda.
Hwesio itu memandang wajah pemuda remaja itu dan menarik napas panjang.
"Omitohud, anda seorang pemuda yang baik sekali dan amat setia kawan. Akan tetapi, rawa itu terlalu jauh. Dengan menunggang kuda yang paling cepatpun, belum tentu akan dapat dilakukan pulang pergi selama tiga hari. Belum lagi waktu mencari anak katak itu....!
"Tapi aku dapat melakukannya, locianpwe!! kata Ganggananda penuh semangat.
Gu-sinshe menarik napas panjang dan mengelus jenggotnya yang putih jarang.
"Bagaimana caranya, orang muda? Apa yang dapat berlari lebih cepat daripada seekor kuda yang baik?!
"Aku dapat, Sinshe. Lariku lebih cepat dari kuda. Lekas gambarkan di mana rawa itu dan bagaimana aku harus mencari anak-anak katak itu dan aku akan segera lari ke sana.!
Dua orang kakek itu saling pandang dan menggerakkan pundak seolah-olah tidak percaya kepada Ganggananda akan tetapi karena tidak ada jalan lain, si hwesio lalu menggambarkan di mana letak rawa-rawa di sebelah utara di luar tembok kota raja itu. Ternyata tempat itu memang amat jauh, naik turun gunung dan sudah dekat dengan Tembok Besar. Setelah memperoleh keterangan lengkap, Ganggananda merenggut buntalan pakaiannya.