Tak disangkanya pemuda teman iblis itupun memiliki gin-kang sedemikian baiknya sehingga dapat menolong Tek Ciang yang sudah terobek sedikit pahanya oleh pedangnya. Dan kini, tiba-tiba saja ada dayung menyambutnya dari atas perahu. Ciang Bun terpaksa mengangkat pedangnya menangkis.!Tranggg....!! Tubuh Ciang Bun tenggelam dan dia terkejut sekali. Tenaga hantaman dayung itu bukan main kuatnya!
Kiranya teman Tek Ciang itupun memiliki kepandaian tinggi. Ciang Bun diam-diam mengeluh. Makin tipis harapannya kalau teman iblis itu kini membantu Tek Ciang. Dia muncul kembali dan kini bukan hanya sebuah dayung, melainkan ada dua buah dayung panjang menyambutnya sehingga terpaksa dia menyelam kembali. Kiranya kini Tek Ciang juga memegang sebatang dayung panjang dan bersama dengan Kui Lok berjaga di kedua ujung perahu.
"Lekas dayung perahu ke tepi!! Tek Ciang berkata kepada dua orang penumpang perahu yang masih ketakutan itu. Mereka tidak membantah dan mendayung dengan dayung pendek.
Sementara itu, Ciang Bun masih penasaran. Dia menyelam dan mencoba untuk menggulingkan perahu dari bawah. Akan tetapi selagi dia mengerahkan tenaga untuk menggulingkan perahu, dayung Tek Ciang menghantam punggungnya dengan cara diluncurkan. Ternyata Tek Ciang dapat melihat bayangan tubuhnya dalam air dan dari atas, iblis itu menusuknya dengan dayung yang mengenai punggungnya.
"Bukkk....!! Hantaman itu tidak terlalu kuat karena tenaga hantaman sudah dilawan air, akan tetapi karena tenaga Tek Ciaug memang besar, tetap saja Ciang Bun merasa nyeri sekali pada punggungnya. Kembali ada rasa muak dan bau amis membuat kepalanya terasa pening. Dia tidak tahu bahwa yang paling hebat dideritanya adalah pukulan Hoa-mo-kang yang dilakukan Tek Ciang di atas perahu tadi. Pukulan itu tidak mengenai dengan tepat, akan tetapi karena perut Ciang Bun terkena sodokan suling, membuat isi perutnya terguncang sehingga hawa beracun pukulan Hoa-mo-kang yang hanya menyerempet itupun dapat menerjang dan meracuninya.
Menerima pukulan dengan dayung yang mengenai punggungnya itu membuat Ciang Bun merasa pening dan sejenak pandang matanya menjadi gelap, antara sadar dan tidak sadar dia menggerakkan kaki tangannya menjauhi perahu karena kalau sampai dalam keadaan seperti itu dia diserang lagi, tentu dia akan celaka.
Dia masih dalam keadaan setengah pingsan terapung ketika tiba-tiba ada dua tangan yang kuat mencengkeram leher bajunya dan menariknya ke atas perahu. Dengan terengah-engah karena terlalu lama bertahan dalam air, Ciang Bun terguling ke dalam sebuah perahu kecil dan dengan pandang mata masih berkunang-kunang dia melihat wajah Ganggananda, sahabat barunya. Lega hatinya melihat sahabatnya ini dan kini diapun dapat melepaskan pertahanannya untuk jatuh tak sadarkan diri lagi. Dalam keadaan seperti itu saja semua rasa nyeri dan kecewa lenyap dari dirinya.
Ganggananda sejak tadi nonton perkelahian itu dan hatinya merasa amat khawatir ketika melihat Ciang Bun terlempar ke dalam air. Akan tetapi, diapun terbelalak kagum melihat betapa Ciang Bun masih mampu membuat dua orang lawan dalam perahu itu kebingungan dengan cara menyerang perahu dari bawah. Sungguh hebat sekali pemuda keturunan penghuni Pulau Es itu!
Kiranya memiliki ilmu di dalam air yang hebat pula. Akan tetapi diapun melihat betapa dua orang dalam perahu yang menjadi musuh besar Ciang Bun itu bukan orang-orang sembarangan. Mereka dapat menyelamatkan diri ke lain perahu, bahkan dapat memukul Ciang Bun dengan dayung. Tadinya dia merasa terkejut karena perahu itu didayung pergi dan tidak lagi nampak gerakan Ciang Bun dalam air.
Celaka, pikirnya, agaknya Ciang Bun terkena pukulan dayung dan tenggelam ke dasar telaga! Ganggananda mendayung perahunya mendekat dan akhirnya dia melihat tubuh Ciang Bun bergerak-gerak lemah di bawah permukaan air. Cepat dia lalu mendekatinya dan meraihnya, berhasil menangkapnya dan menariknya ke dalam perahu. Kini Ciang Bun rebah di dalam perahu, tidak nampak dari jauh dan diapun dengan pengerahan tenaga sin-kang, cepat mendayung perahu ke tepi yang berlawanan dengan tempat di mana dua orang musuh besar Ciang Bun tadi mendarat.
Begitu mendarat, Ganggananda cepat memondong tubuh Ciang Bun dan meloncat ke darat. Dia sengaja mendarat di bagian yang sunyi, di mana tidak terdapat pelancong karena bagian itu penuh dengan batu-batu koral dan semak-semak belukar. Pemuda remaja inipun bukan seorang bodoh. Sebaliknya, dia cerdik sekali dan dia dapat menduga bahwa tentu dua orang musuh besar Ciang Bun itu tidak akan tinggal diam dan tentu mencurigai perahunya karena tadi mereka melihat Ciang Bun berperahu bersamanya. Maka diapun mendarat di bagian yang berlawanan dan sunyi, dan begitu dia mendarat, dia memondong tubuh Ciang Bun yang masih pingsan itu dan melarikan diri.
Ketika dia menoleh, benar saja dugaannya. Dua bayangan orang mengejarnya dan biarpun mereka masih jauh dan tidak dapat melihat wajah mereka, namun dia yakin bahwa mereka itu tentulah dua orang musuh besar tadi. Hal ini dapat diketahni betapa seorang di antara mereka terpincang-pincang.
Memang dugaan Ganggananda itu benar. Begitu mendarat, Tek Ciang lalu mengobati lukanya sambil memperhatikan ke tengah telaga. Dia melihat perahu kecil di mana terdapat seorang pemuda remaja yang menjadi teman berperahu Ciang Bun tadi. Kini perahu itu meluncur cepat ke daratan yang berlawanan.
"Hemm, mencurigakan. Agaknya perahu itu membawa Ciang Bun. Mari kita mengejarnya.! Dan tanpa memperdulikan pahanya yang terluka, Tek Ciang lalu lari memutari telaga untuk mengejar, dibayangi oleh Pouw Kui Lok yang mengerutkan alisnya karena hatinya sungguh merasa kurang enak melihat bahwa dia terlibat dalam permusuhan itu.
"Lihat, benar saja! Itu pemuda cilik memondong dan melarikannya. Mari cepat!! teriak Tek Ciang ketika melihat perahu itu mendarat dan Ganggananda meloncat keluar sambil memondong tubuh Ciang Bun. Akan tetapi sekali ini, dua orang murid Lembah Naga Siluman itu kecelik. Pemuda remaja itu ternyata dapat berlari luar biasa cepatnya sehingga biarpun mereka sudah mengerahkan tenaga, pemuda remaja yang memondong Ciang Bun itu sebentar saja sudah berlari jauh seperti terbang cepatnya.
Tek Ciang membanting-banting kakinya yang tidak sakit ketika melihat pemuda itu lenyap.
"Ah, kalau saja kakiku tidak terluka, tentu aku akan dapat menyusulnya!!
Akan tetapi Pouw Kui Lok menggelengkan kepalanya.
"Suheng, apakah engkau tidak melihat kehebatan itu? Pemuda remaja itu memiliki gin-kang yang amat luar biasa, dan aku hampir percaya bahwa kepandaiannya dalam hal gin-kang dan berlari cepat, lebih lihai daripada suhu Cu Seng Bu sendiri!!
Tek Ciang cemberut, walaupun diam-diam dia juga terkejut menyaksikan kehebatan pemuda remaja itu yang ternyata dapat berlari sedemikian cepatnya walanpun memondong tubuh orang yang jelas lebih berat daripada tubuh pemuda itu sendiri. Dengan uring-uringan Tek Ciang terpaksa kembali ke rumah penginapan bersama sahabat atau sutenya itu, untuk mengobati luka di pahanya yang pecah kembali karena dipakai berlari cepat tadi.
"Hemm, kalau kakiku sudah sembuh, aku harus dapat mencari keparat itu untuk membuat perhitungan!! Dia mengomel di dalam kamar ketika mengobati lukanya.
Sejak tadi Pouw Kui Lok mengerutkan alisnya.
"Suheng, aku tidak ingin mencampuri urusan pribadimu, dan akupun tidak ingin memberi pendapat karena sesungguhnya hal itu sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan diriku. Mungkin saja keluarga Pulau Es memang congkak dan tinggi hati, akan tetapi hal itupun tidak ada sangkut-pautnya dengan aku. Kepada mereka aku tidak mempunyai dendam, tidak ada urusan apa-apa antara aku dan mereka. Maka, aku tidak ingin terbawa-bawa dalam urusan pribadimu, suheng.!
"Sute, lupakah engkau bahwa Suma Ceng Liong adalah murid Hek-i Mo-ong, seperti yang kau ceritakan itu? Tidakkah sepatutnya engkau memusuhi keluarga Suma mengingat bahwa Ceng Liong juga musuhmu?!
Kui Lok menggeleng kepalanya.
"Seperti sudah kuceritakan kepadamu, suheng. Mendiang guruku, Yang I Cin-jin, tewas di tangan Hek-i Mo-ong dan kepada raja iblis itu sajalah aku mendendam dan aku bersumpah di depan mayat suhu untuk membalas kematiannya. Dan aku telah berhasil membunuh Hek-i Mo-ong. Suma Ceng Liong, biarpun murid iblis itu, tidak ada sangkut-pautnya deugan aku. Kecuali kalau dia hendak membalaskan kematian Hek-i Mo-ong kepadaku, tentu saja akan kulawan. Sementara ini, aku menganggap urusanku dengan Hek-i Mo-ong sudah habis dan aku tidak ingin bermusuhan dengan Suma Ceng Liong.!
"Akan tetapi, selama keluarga itu masih ada, mereka akan selalu memusuhiku.!
"Hem, mengapa begitu, suheng?!
"Seperti sudah kuceritakan, Suma Kian Lee merasa menyesal telah mengambil aku sebagai mantu. Dia tentu hendak menjodohkan puterinya dengan orang lain, kabarnya dia telah memilih calon mantu yang dianggapnya sederajat, yaitu Jenderal Muda Kao Cin Liong di kota raja....!
"Ah, jenderal gagah perkasa yang terkenal itu, putera Pendekar Naga Gurun Pasir?! seru Kui Lok terbelalak karena pemuda ini pernah mendengar akan kebebatan jenderal muda ini.
Tek Ciang mengangguk dan tersenyum kecut.
"Benar, keluarga itu menganggap bahwa Suma Hui, isteriku itu, lebih cocok menjadi isteri jenderal muda itu yang juga jatuh cinta kepada isteriku. Akan tetapi, karena perkawinan antara kami sudah disaksikan oleh banyak tokoh kang-ouw, mana mungkin Suma Hui menikah dengan orang lain kalau aku masih hidup? Karena itulah, keluarga Suma menginginkan aku mati. Engkau sudah melihat sendiri betapa ganasnya adik isteriku tadi menyerangku.!
!Begitu jahatkah mereka?! Kui Lok mengerutkan alisnya dan hatinya merasa amat ragu. Keluarga Suma dari Pulau Es terkenal sebagai keluarga sakti yang berjiwa besar, bahkan siapakah tidak mengenal nama-nama hebat seperti Puteri Nirahai, Puteri Milana, Pendekar Siluman Kecil Suma Kian Bu dan lain-lainnya itu?
"Sute, kalau tidak mengalaminya sendiri tentu tidak percaya. Akan tetapi, kalau orang sudah tergila-gila akan kedudukan dan derajat, tentu mampu berbuat kejam. Aku dianggap penghalang kebahagiaan mereka, tentu saja mereka berdaya upaya agar aku lenyap dari muka bumi. Tidak, aku tidak mau mati konyol. Aku harus mendahului mereka, dan pertama-tama Suma Ciang Bun yang sudah menyerangku tadi akan kucari dan kubunuh.!
"Aku tidak akan mencampuri urusan pribadimu, suheng, akan tetapi harap kau ingat pesan suhu. Kita bertugas untuk pergi ke Puncak Bukit Nelayan, mencari dan menantang Kam Hong sebagai wakil suhu, wakil Lembah Naga Siluman untuk mengadu ilmu dengan keluarga Suling Emas.!
"Hem, itupun bukan urusan pribadi kita, sute.!
Kui Lok memandang suhengnya dengan mata terbelalak.
"Eh, bagaimana engkau dapat berkata demikian, suheng? Kita tahu bahwa para suhu di Lembah Naga Siluman mengambil kita sebagai murid, bukan hanya untuk mewarisi ilmu keluarga Cu, akan tetapi juga untuk mewakili Lembah Naga Siluman dalam menghadapi satu-satunya musuh atau saingan keluarga Cu, yaitu Pendekar Suling Emas Kam Hong di Puncak Bukit Nelayan!!
Melihat ketegasan sikap Kui Lok, Tek Ciang merasa tidak enak kalau mengingkari hal itu. Memang para suhu di Lembah Naga Siluman sudah menekankan hal itu dan kinipun mereka diserahi tugas mewakili para suhu itu untuk menghadapi Kam Hong. Mengingkarinya berarti akan merupakan kemurtadan dan dia tentu akan dihadapi oleh Kui Lok dan keluarga Cu sebagai musuh pula. Sungguh tidak enak. Musuh-musuhnya sudah terlalu banyak dan mereka semua sakti, kalau ditambah lagi dengan keluarga Cu, sungguh berbahaya.
"Baiklah, sute. Aku terpaksa membiarkan Ciang Bun pergi. Mari kuturuti kehendakmu, kita pergi ke Puncak Bukit Nelayan. Akan tetapi setelah itu, maukah engkau berjanji untuk membantuku?!
"Suheng, urusan pribadimu seharnsnya kau hadapi sendiri. Jangan kau melibatkan aku dalam urusan pribadimu. Akan tetapi kalau aku melihat engkau terancam bahaya, tentu aku akan turun tangan melindungi dan membantumu. Hal itu wajar, bukan?!
Tek Ciang tidak berani terlalu banyak cakap lagi. Dia khawatir kalau sutenya ini mencurigainya dan dapat melihat rahasia di balik semua sikapnya. Dia tidak tahu bahwa memang Kui Lok sudah menjadi heran dan mulai menaruh curiga. Hari itu juga mereka meninggalkan kota raja, melanjutkan perjalanan menuju ke pegunungan Tai-hang-sun untuk mencari Pendekar Kam Hong sebagai wakil keluarga Cu di Lemhah Naga Siluman.
"Di mana aku....?! Ciang Bun membuka mata dan mengeluh.
"Tenanglah, Ciang Bun, tenanglah. Engkau berada di rumah Gu-sinshe, seorang tabib kenamaan di kota raja.!
"Ohhh....!! Ciang Bun teringat dan meraba dadanya. Dadanya terasa sesak dan perutnya mual. Muak rasanya bau amis itu dan dia menahan diri agar tidak muntah. Ganggananda duduk di dekatnya dan dia rebah di atas pembaringan.
"Bagaimana rasanya, Ciang Bun?! tanya pemuda remaja itu dengan nada suara khawatir.
Ciang Bun teringat, memandang wajah tampan itu dan memaksa senyum.
"Nanda, engkau seorang sahabat baru akan tetapi ternyata engkau telah menyelamatkan nyawaku. Aku berhutang nyawa padamu, adik Nanda.!
"Sudahlah, tidak perlu bicara tentang hutang-pihutang. Yang penting sekarang ini menyembuhkanmu dari luka dalam penuh hawa beracun itu.!
"Hawa beracun? Di tubuhku? Ah, aku merasa dada sebelah kanan kadang-kadang panas kadang-kadang dingin dan ada rasa muak, bau amis....!