Halo!

Kisah Pendekar Pulau Es Chapter 148

Memuat...

Pouw Kui Lok tadinya merasa terkejut dan heran mendengar cerita itu. Sukar untuk dapat dipercaya. Akan tetapi, ketika dia menyebut nama Suma Ceng Liong sebagai murid Hek-i Mo-ong yang merupakan musuh besarnya, dia mendengar dari suhengnya bahwa Suma Ceng Liong juga cucu Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, masih adik sepupu isterinya. Barulah timbul semacam perasaan tidak suka di hati Kui Lok dan dia percaya bahwa keluarga Suma dari Pulau Es memang congkak, tinggi hati dan condong ke arah penyelewengan, seperti dibuktikan dengan kenyataan bahwa Suma Ceng Liong menjadi murid Hek-i Mo-ong, dan keluarga Suma Kian Lee bersikap tidak adil terhadap Tek Ciang. Bukan hanya Kui Lok yang terpengaruh. Saking pandainya Tek Ciang bersikap dan bicara, kedua orang gurunya, Cu Han Bu dan Cu Seng Bu yang tadinya kagum kepada keluarga Pulau Es, kinipun merasa tidak senang.

"Engkau atau aku yang mati!! bentak Ciang Bun yang sudah mencabut sepasang pedangnya dan pemuda ini meloncat ke arah perahu di depan. Ganggananda menjadi bingung dan menahan agar perahu yang terguncang itu tidak sampai terguling, kemudian dia cepat mendayung perahu agak menjauh sambil memandang dengan alis berkerut dan hati khawatir. Dia tidak tahu harus berbuat apa karena sahabat barunya itu tidak bercerita tentang musuh besarnya. Dia tidak tahu bagaimana urusannya. Apalagi ketirka mendengar betapa orang yang diserang Ciang Bun tadi bicara seperti kakak ipar Ciang Bun sendiri, dia menjadi semakin bingung dan tidak berani sembarangan mencampuri.

"Trang.... trangg....!! Bunga api berpijar ketika sepasang pedang di tangan Ciang Bun yang menyerang itu ditangkis oleh suling di tangan Tek Ciang. Pemuda yang baru saja turun dari Lembah Naga Siluman ini terkejut ketika menangkis sepasang pedang Ciang Bun. Tadinya dia mengira bahwa tingkat kepandaian Ciang Bun tentu tidak banyak bedanya dengan dahulu.

Maka dia tadi mengerahkan tenaga untuk menangkis dengan keyakinan bahwa tangkisan itu akan membuat sepasang pedang lawan terpental. Akan tetapi ternyata ketika sulingnya bertemu dengan sepasang pedang, dia merasa lengannya tergetar dan tenaga bekas adik iparnya itu bukan main kuatnya. Di lain pihak, Ciang Bun juga kaget sekali karena selain tiba-tiba saja musuh besar itu memiliki senjata aneh, sebatang suling emas yang digerakkan menangkis dengan tenaga dahsyat, juga suling itu mengeluarkan suara melengking yang seolah-olah menusuk telinganya. Akan tetapi karena hati Ciang Bun sudah penuh kemarahan dan dendam, dia tidak perduli akan kenyataan itu dan diapun sudah menggerakkan sepasang pedangnya lagi, menyerang dengan dahsyat. Terjadilah perkelahian sengit di atas perahu kecil itu.

Pouw Kui Lok yang masih duduk di ujung perahu sambil memegang dayung, menjadi bingung melihat perkelahian seru di atas perahu kecil itu. Seperti juga Ganggananda, diapun tidak tahu harus berbuat apa. Bedanya, kalau Ganggananda tidak tahu urusannya, dia sendiri sudah tahu dan karenanya tidak berani lancang mencampuri. Bukankah urusan autara suhengnya dan keluarga Suma adalah urusan pribadi? Perahu terguncang hebat dan dengan susah payah Kui Lok berusaha menahan dengan dayungnya agar perahu tidak sampai terguling.

Tingkat kepandaian Ciang Bun pada waktu itu sungguh tak dapat dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu. Semenjak ayahnya sadar akan kekeliruannya, pendekar itu menggembleng Suma Hui dan Ciang Bun dengan tekun sehingga kedua orang anaknya itu memperoleh kemajuan pesat sekali. Akan tetapi, lawannya sekarang adalah Louw Tek Ciang yang bukan saja telah mengenal semua ilmu keluarga Pulau Es, akan tetapi di samping itu juga telah mewarisi ilmu-ilmu silat dari para datuk Ngo-ok melalui gurunya yang lain, yaitu Jai-hwa Siauw-ok.

Apalagi setelah selama tiga tahun dia digembleng oleh orang-orang sakti she Cu dari Lembah Naga Siluman, tentu saja tingkat kepandaiannya masih jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Ciang Bun. Maka, biarpun Ciang Bun menggerakkan siang-kiamnya dan menyerang dengan sengit, tetap saja Tek Ciang dapat menguasai keadaan. Dia mengenal jurus-jurus gerakan Siang-mo Kiam-hoat yang dimainkan Ciang Bun. Sebaliknya Ciang Bun sama sekali tidak mengenal ilmu serangan yang dimainkan dengan suling itu, yang penuh dengan totokan-totokan amat berbahaya. Dia terdesak hebat dan menjadi bingung.

Betapapun juga, karena mereka berkelahi di atas perahu kecil yang terombang-ambing, tentu saja gerakan meraka tidak sempurna benar. Sebagian dari perhatian mereka dikerahkan untuk menjaga agar tubuh mereka jangan sampai terjungkal jatuh keluar perahu. Inilah sebabnya mengapa sampai sekian lamanya Tek Ciang yang lebih unggul belum juga mampu merobohkan Ciang Bun yang melawan dengan gigih. Karena maklum akan kelihaian lawan yang ternyata memiliki tenaga amat kuat dan dapat memainkan suling itu sedemikian aneh dan berbahaya, Ciang Bun memutar sepasang pedangnya untuk melindungi dirinya, dua gulung sinar menyelimuti tubuhnya, merupakan perisai yang kokoh kuat dun sukar ditembus.

Tek Ciang menjadi penasaran sekali. Dia tahu bahwa kalau mereka berkelahi di darat, tentutidak akan begitu sukar baginya untuk merubuhkan pemuda ini. Perahu yang terombang-ambing dan miring ke sana-sini itu sungguh membuat gerakannya amat sukar dan tidak leluasa, bahkan besar bahayanya dia akan terkena senjata lawan yang selain lebih panjang juga berjumlah dua itu. Maka tiba-tiba dia lalu merendahkan tubuhnya, mengerahkan tenaga sakti Hoa-mo-kang, yaitu ilmu pukulan Katak Buduk yang dipelajarinya dari Jai-hwa Siauw-ok sebagai ilmu peninggalan mendiang Su-ok, orang ke empat dari Im-kan Ngo-ok.!Arrghhh....!!

Suara yang menyerupai katak berkokok keluar dari perutnya dan tangan kirinya sudah mendorong ke depan, ke arah Ciang Bun. Serangkum angin pukulan dahsyat yang mengandung bau amis sekali menyambar. Ciang Bun terkejut bukan main. Dia maklum akan datangnya pukulan jahat. Cepat dia miringkan tubuh untuk mengelak sambil meloncat, akan tetapi karena perahu miring, dia terpeleset. Sebelum dia mampu mengatur keseimbangan tubuhnya, suling di tangan Tek Ciang meluncur. Ciang Bun masih dapat melihat sinar kuning emas menyambar pusarnya dan dalam keadaan miring hampir jatuh itu dia merendahkan tubuhnya agar suling tidak mengenai tempat berbahaya. Dia mengerahkan sin-kang untuk menerima suling yang kini menyambar ke arah perutnya.

"Dukk!! Sin-kang dari Pulau Es memang hebat, membuat tubuhnya kebal, akan tetapi, totokan suling itupun dahsyat sekali sehingga biarpun kulit perutnya tidak terluka, namun hawa pukulan kuat menembus dan mengguncangkan isi perut, membuat Ciang Bun menahan keluhannya karena rasa nyeri dan kepalanyapun pening. Sementara itu, kaki Tek Ciang masih menyusulkan tendangan.

"Bukk.... byuurrr....!! Tak dapat dicegah lagi, tubuh Ciang Bun terlempar keluar dari perahu dan menimpa air telaga.

"Ha-ha-ha-ha, mampus engkau sekarang!! Tek Ciang tertawa bergelak dan baru dia sadar bahwa dia telah membiarkan perasaannya meliar ketika dia melihat pandang mata Kui Lok terbelalak ditujukan kepadanya. Memang pemuda Kun-lun-pai itu terkejut dan ngeri melihat sikap Tek Ciang. Diapun mengenal pukulan keji tadi dan kini melihat sikap Tek Ciang demikian kejam tertawa-tawa buas, dia terheran sampai terbelalak! Tek Ciang sudah menguasai dirinya, maklum bahwa dia telah tanpa disengaja memperlihatkan perasaannya yang sesungguhnya, maka diapun menghentikan tawanya, dan menarik napas panjang.

"Aih.... betapa tega hatiku melihat dia roboh. Pemuda itu lihai sekali dan tadi dia bersungguh-sungguh hendak membunuhku.! Ucapan ini agaknya untuk membela diri mengapa dia tadi kelihatan kejam.

Tiba-tiba dua orang itu terkejut bukan main. Perahu mereka tiba-tiba terguncang hebat dan miring, seperti ada yang membalikkannya dari bawah! Tentu saja Tek Ciang sama sekali tidak tahu bahwa biarpun sudah terkena pukulan dan tendangannya, namun Ciang Bun belum tewas dan begitu tubuhnya terlempar ke dalam air, pemuda ini bahkan menjadi semakin berbahaya!

Dia tidak tahu bahwa Ciang Bun telah memiliki ilmu dalam air yang jarang tandingannya, berkat latihan yang diperolehnya dari keluarga di Pulau Nelayan.Bagaikan seekor ikan, walaupun sudah terluka, Ciang Bun dapat menyelam, menyimpan sepasang pedangnya dan kini dia berusaha menggulingkan perahu yang ditumpangi Tek Ciang dan kawannya. Kalausampai Tek Ciang dapat terlempar ke air,dia yakin akan dapat membunuh musuh besar itu!

"Hei, apa ini....?! Tek Ciang berseru kaget dan mengatur keseimbangan tubuhnya.

"Ada yang hendak menggulingkan perahu!! Kui Lok juga berseru kaget. Mereka melongok ke bawah dan melihat kepala Ciang Bun nongol. Dengan marah Tek Ciang lalu memukul ke arah kepala itu, akan tetapi kepala itu menyelam dan lenyap. Kemudian perahu terguncang lagi dan tiba-tiba ada pedang menembus dasar perahu yang tentu saja menjadi bocor! Air memasuki perahu dari bawah!

"Celaka! Perahu bocor....!! seru Tek Ciang dan tiba-tiba dia tersentak kaget ketika ada pedang menyambar dari luar perahu. Kiranya, dengan kecepatan seperti ikan berenang Ciang Bun sudah muncul lagi dan menyerangnya dari luar perahu. Tek Ciang cepat mengelak dan siap untuk melawan, akan tetapi tubuh Ciang Bun sudah lenyap menyelam lagi. Kini kembali terasa guncangan-guncangan dan perahu itupun berlubang-lubang karena ditusuki dari bawah oleh Ciang Bun!

"Ah, iblis itu pandai bermain di air!! kata pula Tek Ciang terbelalak kaget dan khawatir.

"Berbahaya! Kita harus pergi dari sini!! Pouw Kui Lok juga berseru kaget melihat betapa dengan cepat air memasuki perahu yang hampir tenggelam.

"Byarrrr....!! Kembali perahu yang hampir tenggelam itu terguncang hebat, membuat kedua orang muda itu terhuyung dan pada saat itu, sinar pedang menyambar pula, membabat ke arah kaki Tek Ciang. Pemuda ini cepat meloncat, akan tetapi pedang ke dua menusuk dan biarpun dia mengelak pula, tetap saja ujung pedang menyerempet pahanya. Celananya robek berikut kulit paha dan darahpun mengucur deras.

Tiba-tiba Pouw Kui Lok yang melihat bahaya, menyambar tubuh suhengnya yang pahanya terluka itu, membawanya melompat ke arah sebuah perahu lain yang datang mendekat. Perahu itu ditumpangi dua orang yaug agaknya melihat keributan di situ menjadi tertarik. Terkejutlah mereka melihat betapa pemuda berpakaian hijau sambil memondong seorang pemuda lain yang terluka, tiba-tiba melompat ke perahu mereka. Bukan main hebatnya lompatan pemuda itu dan mereka mengeluarkan teriakan kaget ketika Kui Lok berhasil hinggap di atas perahu bersama suhengnya.

Akan tetapi dengan mata terbelalak Tek Ciang dan Kui Lok melihat betapa Ciang Bun berenang dengan amat cepatnya menuju ke perahu itu. Bukan main cepatnya pemuda itu bergerak dalam air. Seperti seekor ikan saja.

"Ikan besar....!! Dua orang penumpang perahu yang masih belum hilang kagetnya itupun kini melihat Ciang Bun dan mengira bahwa ada ikan besar hendak menyerang perahu mereka. Kini Pouw Kui Lok merasa khawatir dan dengan sendirinya diapun harus melindungi dirinya. Kalau perahu terbalik, tentu diapun menjadi korban. Dia merasa ngeri menyaksikan kehebatan gerakan pemuda tampan di dalam air itu sehingga dia tahu bahwa sekali mereka terjatuh ke air, tentu nyawa suhengnya tidak akan tertolong lagi. Maka dia lalu menyambar sebatang dayung dalam perahu itu dan secepat kilat dia menggerakkan dayungnya menyerang ketika pemuda yang berenang seperti ikan itu mendekati perahu.

Ciang Bun sudah terluka. Perutnya terasa nyeri dan juga pahanya biru terkena tendangan Tek Ciangtadi. A kan tetapi dengan gigih dia menyerang terus, karena dia melihat satu-satunya kesempatan baginya untuk membalaskan semua sakit hati keluarganya terhadap iblis itu. Kalau dia mampu membuat Tek Ciang terlempar ke air, dia pasti akan dapat membunuhnya. Maka, ketika melihat betapa pemuda teman Tek Ciang membawa Tek Ciang meloncat ke perahu lain, diapun mengejar.

Post a Comment