Seperti telah kita ketahui, enci adik inipun menerima gemblengan yang amat keras dan tekun dari ayah mereka sendiri, yaitu pendekar sakti Suma Kian Lee dan ibu mereka, pendekar wanita Kim Hwee Li. Karena ayah bunda mereka khawatir kalau-kalau kedua orang anak mereka itu takkan dapat mengalahkan Louw Tek Ciang musuh besar mereka, maka keduanya menurunkan semua ilmu mereka. Kedua orang muda itu mewarisi semua ilmu keluarga Pulau Es dari ayah mereka, bahkan ibu mereka menurunkan pula ilmu-ilmunya termasuk ilmu menaklukkan ular.
Dengan bekal banyak ilmu, Suma Hui dan Suma Ciang Bun meninggalkan Thian-cin, pergi mencari musuh besar mereka, yaitu Louw Tek Ciang. Bukan hanya mencari murid ayah mereka yang jahat dan murtad itu, akan tetapi juga hendak mencari musuh-musuh yang telah menimbulkan malapetaka di Pulau Es, yaitu Hek-i Mo-ong, Jai-hwa Siauw-ok dan kawan-kawan mereka.
Tentu saja mereka tidak tahu bahwa para tokoh yang pernah melakukan penyerbuan ke Pulau Es itu telah meninggal dunia. Dan mereka tidak tahu pula bahwa musuh besar mereka, Louw Tek Ciang, telah berada di tempat yang amat sukar untuk didatangi karena pemuda itu beruntung sekali terpilih oleh keluarga Cu untuk menjadi murid keluarga sakti itu dan berada di Lembah Naga Siluman, digembleng oleh Cu Han Bu dan Cu Seng Bu, bersama Pouw Kui Lok pemuda murid Kun-lun-pai itu.
Tentu saja semua usaha enci dan adik itu untuk mencari musuh-musuh mereka tak kunjung berhasil. Akan tetapi mereka tidak mau pulang ke Thian-cin sebelum berhasil, terutama sebelum berhasil mencari Louw Tek Ciang. Dan untuk lebih mudah mencari, akhirnya mereka berpencar dan berpisah, dengan perjanjian bahwa enam bulan kemudian, sebulan sebelum tiba hari raya Sin-cia (Hari Raya Musim Semi), mereka akan saling jumpa di kota raja untuk kemudian bersama-sama pulang dahulu ke Thian-cin, berhasil maupun tidak.
Selama melakukan perjalanan bersama encinya, Suma Ciang Bun juga melakukan segala usaha untuk mengatasi masalah dirinya sendiri. Dibantu oleh encinya, dia berusaha untuk menyelidiki keadaan dirinya yang mempunyai kelainan di bidang sex, tidak seperti pria pada umumnya. Dia melakukan penyelidikan mengapa dirinya memiliki kelainan seperti itu agar dia dapat mengobatinya kalau hal itu merupakan penyakit, dan merobahnya kalau memang seharusnya demikian. Dengan latihan pernapasan dia mencoba untuk mengatasi masalah tubuhnya.
Dari penyelidikannya bersama Suma Hui, dia dapat menemukan kesimpulan. Ada berbagai kemungkinan yang mungkin dapat menimbulkan kelainan itu. Pertama, pengaruh sekeliling. Kalau seorang anak laki-laki sejak kecil lebih dekat dengan ibunya, lebih banyak bergaul dengan anak perempuan, maka kebiasaan-kebiasaan dan selera-selera wanita dapat mempengaruhinya dan menular kepada anak laki-laki itu yang lambat laun bisa saja memberinya selera wanita sehingga dia lebih menyenangi apa yang disukai wanita daripada laki-laki biasa.
Dan hal inipun dapat saja membuat dia lebih condong merasa peka dalam soal sex terhadap seorang pria daripada terhadap seorang wanita. Ke dua, terjadinya suatu peristiwa yang hebat dan mengguncangkan batin, misalnya kekecewaan berulang kali dengan wanita, mungkin saja dapat membuat hati seorang pria menjadi hambar terhadap wanita dan dia mengalihkan perhatian untuk melepaskan gairah sexnya kepada pria lain, atau karena di samping kekecewaan terhadap wanita itu kebetulan dia bertemu dengan seorang sahabat pria yang amat menyenangkan dan disayangnya.
Ketiga, seorang pria yang bertemu dengan seorang pria lain yang memiliki kelainan seperti itu, dapat saja terpengaruh dan ketularan. Dan ke empat, kelainan pada tubuh, pada kelenjar-kelenjar dan mungkin syaraf, dapat pula mendatangkan kelainan selera di bidang sex seperti yang dialaminya itu. Dari penyelidikan dia dan encinya, dia menarik kesimpulan bahwa sebab-sebab lain itu tidak pernah terjadi pada dirinya sehingga satu-satunya kemungkinan adalah bahwa memang terdapat kelainan di dalam tubuhnya.
Dan hal ini tentu saja hanya dapat diatasi dengan pengobatan jasmani. Akan tetapi, siapakah yang akan mampu memberi obat? Pula, berkali-kali Ciang Bun bertanya kepada batin sendiri. Adakah dia menghendaki dirinya berobah? Dan jawabannya adalah : Tidak! Dia suka berdekatan dengan pria, dan hal ini sama sekali bukan hal yang aneh baginya, bahkan terasa wajar. Kalaupun dia menjadi prihatin adalah karena dia melihat betapa pria pada umumnya tidak demikian, sehingga dia seolah-olah merasa ganjil dan terasing.
"Bun-te,! kata Suma Hui setelah mereka berdua berbincang-bincang tentang hal dirinya.
"Engkau adalah seorang gagah, keturunan keluarga Pulau Es. Bagaimanapun juga beratnya, engkau tentu kuat untuk melawan dorongan yang tidak wajar itu. Kalau perlu, kita tidak usah berurusan dengan cinta berahipun kita akan kuat!
Pergunakanlah tenaga dalam untuk melawan dorongan-dorongan tidak wajar itu, dan kalau engkau belum dapat menemukan obatnya, lawan saja dengan tenaga sakti. Pendeknya, engkau jangan menurutkan dorongan hasrat hati sehingga melakukan perbuatan yang ganjil. Apa sih sukarnya melawan dorongan berahi? Kita kan sudah terlatih.!
Suma Ciang Bun mengangguk dan menarik napas panjang.
"Benar, enci. Memang hal ini tidak perlu dipersoalkan, tidak perlu dijadikan masalah. Ternyata yang paling berat adalah karena adanya pertentangan dalam batinku. Kalau kudiamkan saja dan kuanggap sebagai sesuatu yang wajar, dan aku tidak menurutkan dorongan hasrat nafsu, sebetulnya juga tidak ada apa-apa.!
Demikianlah, setelah berpisah dari encinya, Ciang Bun dapat menguasai diri sepenuhnya. Dia tidak lagi mau memaksa diri untuk menjauhi pria ataupun berusaha mendekati wanita, melainkan memandang dan mengikuti saja hasrat yang tenggelam timbul di batinnya sebagai dorongan naluri jasmaninya. Dan dia mengerti bahwa satu-satunya jalan terbaik untuk penyaluran hasratnya tanpa menyinggung orang lain adalah kalau dia dapat bertemu dengan seorang pria yang mempunyai masalah yang sama dengan dirinya!
Akan tetapi, hal inipun merupakan suatu kesukaran tersendiri. Pria yang tidak diganggu kelainan akan dapat memilih di antara laksaan wanita dan tentu akan bertemu dengan seorang yang disukainya. Akan tetapi, berapa banyak adanya pria seperti dia? Audaikata adapun tentu tidak akan terang-terangan mengaku dan sukar dikenal dari keadaan lahirnya saja. Tentu hanya ada beberapa orang saja dan andaikata bertemu dengan satu dua orang yang sama keadaannya dengan dia, belum tentu dia menyukai orang itu.
Maka, Ciang Bun mengambil keputusan untuk berdiam diri saja dan melihat perkembangam hidupnya tanpa banyak mengeluh dan tanpa bunyak menentang. Keadaan jasmaninyalah yang membuatnya seperti itu, bukan keadaan batinnya. Namun, untuk sementara, kekuatan batinnya dapat menundukkan jasmaninya, sehingga dia tidaklah menderita lagi.
Suma Ciang Bun kini sudah dewasa. Usianya sudah dua puluh tiga tahun. Kumis tipis mulai tumbuh bersama jenggot tipis. Mukanya yang bulat dengan kulit yang agak gelap membuat dia nampak gagah, dan keadaan dirinya membuat wataknya yang memang pendiam itu menjadi semakin serius.
Pakaiannya selalu rapi dan indah karena dia memang suka akan pakaian yang halus dan indah. Kesukaan akan pakaian yang merupakan satu di antara kecondongannya seperti wanita ini tidak ditekannya dan Ciang Bun selalu mengenakan pakaian yang rapi dan rambutnya selalu disisir dan dikuncir dengan rapi pula. Pemuda ini selalu nampak bersih dan tampan sekali.
Kalaupun ada nampak sifat kewanitaannya mungkin hanya pada kerling matanya. Biji matanya bergerak tanpa mukanya ikut bergerak, seperti kebiasaan wanita mengerling ke kanan kiri. Akan tetapi kebiasaan inipun tidak akan mudah diketahui orang kalau tidak amat memperhatikannya. Sepasang siang-kiam yang tergantung di punggungnya juga bergagang indah, dengan ronce-ronce merah. Bahkan untuk memilih senjata rahasiapun dia memilih jarum-jarum halus yang berbau harum! Senjata rahasia ini dia peroleh dan dia pelajari dari ibunya.
Dandanan dan sikapnya yang halus pendiam itu tentu akan membuat dia disangka seorang pelajar daripada seorang pendekar, kalau saja tidak nampak sepasang pedang di punggungnya. Pada waktu itu, untuk mengurangi terjadinya kekerasan, pemerintah melarang orang berlalu-lalang membawa senjata tajam. Akan tetapi, para pendekar tidak mengabaikan larangan ini dan memang bagi para pendekar,bukan penjahat, larangan itu tidak begitu menekan. Apalagi seorang pendekar seperti Suma Ciang Bun, keturunan keluarga Pulau Es yang amat dikenal oleh para pejabat tinggi. Bagaimanapun juga, keluarga Pulau Es masih mempunyai hubungan keluarga dengan keluarga kaisar.
Hari masih pagi ketika dia memasuki taman umum di kota raja itu. Sejak kemarin dia berada di kota raja, sesuai dengan janji yang telah diadakan dengan encinya, enam bulan yang lalu. Selama ini dia merantau dan mencari jejak musuh-musuhnya tanpa hasil. Dia telah berpencar dengan encinya, encinya mengambil jalan barat dan dia mengambil jalan timur.
Dia telah merantau memasuki Propinsi An-hwi, Ce-kiang, Kian-su dan Shan-tung. Banyak pengalaman dirasakan dan perjalanan berbulan-bulan sendirian itu membuat pemuda ini menjadi semakin matang. Banyak pertemuan dengan penjahat-penjahat dan di manapun dia berada, dia selalu menentang para penjahat. Akan tetapi belum pernah dia bertemu dengan Louw Tek Ciang atau musuh-musuh lain, bahkan menemukan jejak merekapun tidak pernah.
Janji pertemuannya dengan Suma Hui di kota raja, di dalam taman umum itu, masih beberapa hari lagi. Dia datang terlampau pagi dan memang dia ingin melihat-lihat dan berjalan-jalan di kota raja yang indah. Dan pagi hari itu dia memasuki taman, bukan untuk bertemu dengan encinya karena memang belum waktunya, melainkan untuk pelesir. Dia mengenakan pakaian serba biru sehingga wajahnya nampak semakin gagah. Taman itu sudah mulai dibanjiri tamu.
Terdapat kolam-kolam ikan dengan bunga teratainya. Juga banyak terdapat kedai-kedai arak yang diatur indah menarik. Ada pula beberapa buah pondok yang menjulang ke kolam teratai di mana orang dapat bersembunyi diri menikmati ikan-ikan di kolam, atau termenung sendirian melihat bunga-bunga teratai yang beraneka warna. Sebuah telaga buatan yang cukup lebar berada di ujung taman dan di situ para pelancong dapat berperahu sambil minum arak.
Ciang Bun merasa perutnya lapar karena ketika meninggalkan kamar hotel di pagi hari itu dia belum sarapan. Dimasukinya sebuah di antara kedai-kedai arak itu. Ketika dia masuk, di ruangan itu sudah terdapat beberapa orang pelancong dan ada pula beberapa orang gadis dari keluarga hartawan yang duduk di situ. Mereka ini segera mengangkat muka memandang kagum kepada Ciang Bun. Pemuda ini tidak merasa aneh dengan pandangan ini. Di manapun banyak dia menerima pandang mata seperti itu dari para wanita dan diapun bersikap wajar, tersenyum sedikit lalu memilih tempah duduk di sudut. Seorang pelayan menghaanpirinya dan diapun memesan beberapa butir bak-pauw dan air teh panas. Dia tidak biasa minum arak di pagi hari.
Bukan hanya para wanita yang memandang kagum melihat kegagahan pemuda yang baru masuk ini, akan tetapi juga para tamu pria memandang, tertarik melihat sepasang pedang yang tergantung di punggung itu. Ciang Bun tidak memperdulikan semua perhatian yang ditujukan kepadanya dan dia segera makan bak-pauw dan minum teh panas sambil memandang lurus ke depan.