"Ceng.... Ceng Liong....?! Bibir itu berbisik lemah dan seluruh tubuhnya gemetar, kedua kakinya menggigil. Lalu kedua tangannya menangkap pundak Ceng Liong, ditariknya pemuda itu berdiri dan sepasang mata itu memandangi lagi penuh selidik, harus berdongak ia kalau memandang wajah pemuda itu karena jauh lebih tinggi daripadanya.
"Ceng Liong....? Ya.... ya.... engkau Ceng Liong, anakku....!! Dan wanita itu terkulai hampir pingsan, cepat dipeluk oleh Ceng Liong yang tak dapat menahan mengalirnya air matanya saking terharu.
"Ceng Liong.... ohhh.... anakku....!! Kini wanita itu dapat menangis, menangis tersedu-sedu di atas dada yang bidang itu, membasahi baju Ceng Liong yang merangkul ibunya.
"Kau.... kau diculik Hek-i Mo-ong....?! Akhirnya, di antara sedu sedannya, Teng Siang In dapat bertanya. Wanita yang biasanya berhati baja ini akhirnya dapat menekan keharuan dau kegirangan hatinya, memandang wajah puteranya melalui genangan air mata.
"Apa yang telah dilakukan iblis itu kepadamu?!
Ceng Liong mengusap air mata yang membasahi pipinya, lalu tersenyum.
"Dia.... dia mengajarku, ibu. Dia menjadi guruku.!
Siang In melapaskan rangkulannya, surut ke belakang dan terbelalak.
"Selama ini, selama bertahun-tahun ini, engkau menjadi murid Hek-i Mo-ong....?!!Benar, ibu. Dia menolongku, menyelamatkanku, dan mewariskan semua ilmunya kepadaku. Dia bukan iblis, ibu, dia amat baik kepadaku....!
"Haiiiittt....!! Tiba-tiba sesosok bayangan berkelehat dan tahu-tahu bayangan itu menyerang Ceng Liong dengan dahsyatnya. Suara pukulannya mengandung angin yang kuat sehingga Ceng Liong terkejut bukan main. Pemuda ini menggunakan kelincahan tubuhnya, mendorong ibunya ke samping dan diapun meloncat ke belakang. Serangan pukulan itu luput dan dia memperoleh kesempatan untuk memandang. Yang menyerangnya adalah seorang laki-laki yang mengenakan topeng hitam sehingga tidak dapat dikenal mukanya.
"Eh, kenapa kau menyerangku? Siapa engkau?! tanyanya heran dan penasaran. Akan tetapi orang itu sudah menerjang lagi, bahkan dengan serangan yang lebih dahsyat. Biarpun tangan itu sendiri belum menyentuhnya, namun dia sudah merasakan hawa pukulan yang amat hebat. Ceng Liong terkejut, maklum bahwa lawannya ini seorang sakti dan mempergunakan pukulan jarak jauh yang mengandung sin-kang amat kuat. Maka diapun cepat bergerak, menangkis sambil mengerahkan tenaga.
"Dukk....!! Kedua pihak merasa betapa mereka didorong oleh tenaga yang kuat sehingga keduanya terpental ke belakang. Ceng Liong merasa semakin penasaran.
"Siapa engkau dan kenapa menyerangku? Ibu, siapakah dia ini?! Akan tetapi ibunya sudah berdiri di sudut dan hanya memandang dengan mata terbelalak. Dan karena orang itu sudah menyerangnya lagi, Ceng Liong tidak mempunyai banyak kesempatan untuk bertanya. Dia hanya tahu bahwa ibunya tidak berdaya dan tidak pula berniat membantunya atau melerai, maka diapun cepat mengerahkan tenaga dan kepandaiannya untuk menghadapi lawan yang dia tahu amat tangguh dan berbahaya ini.
Dia melihat datangnya serangan yang ke tiga kalinya, dia meugerti pula bahwa lawannya tidak main-main melainkan menyerangnya dengan hebat, dengan serangan maut yang amat berbahaya. Diapun mengelak dan balas menyerang! Terjadilah perkelahian yang amat seru dan baru sekarang Ceng Liong menemui lawan yang demikian lihai.
Akan tetapi diapun merasa heran ketika lambat laun mengenal dasar ilmu silat yang dipergunakan lawan ini. Biarpun lawan agaknya hendak merobah dan menyembunyikan ilmu silatnya agar jangan dikenal, namun akhirnya dia mendapat kenyataan bahwa lawannya mempergunakan ilmu silat keluarga Pulau Es! Jantungnya berdebar tegang dan penuh keheranan.
"Hyaaaaatt....!! Untuk ke sekian kalinya, orang itu menyerangnya, kini dari kedua tangan orang itu keluar dua macam hawa pukulan yang berlainan, yang kiri mengeluarkan hawa dingin luar biasa, akau tetapi yang kanan mengeluarkan hawa panas sampai mengepulkan uap panas. Ceng Liong terbelalak. Itulah pukulan-pukulan Swat-im Sin-ciang dan Hwi-yang Sin-ciang yang dilakukan serentak. Yang dapat menggunakan dua pukulun ini sekaligus dengan kedua tangan hanyalah tokoh-tokoh tertinggi dari Pulau Es saja, termasuk ayahnya! Ayahnyakah orang ini? Ataukah pamannya, ataukah seorang di antara murid mendiang Pendekar Super Sakti?
Tak perduli siapa adanya orang bertopeng ini, yang jelas serangan gabungan itu adalah serangan maut yang sukar ditahan oleh lawan yang bagaimana kuatpun jnga. Melihat bahaya maut mengancam dirinya, Ceng Liong lalu mempergunakan ilmu yang dipelajarinya dari Hek-i Mo-ong, yaitu Coan-kut-ci. Jari-jarinya terbuka menyambut dua tangan lawan dan dia mengerahkan tenaga sin-kangnya yang kini sudah sangat kuat, tenaga yang berdasar tenaga yang diterimanya dari mendiang kakeknya. Tusukan-tusukan jari tangannya dengan ilmu Coan-kut-ci ini dimaksudkan untuk membuyarkan dan mengancam telapak tangan lawan.
"Blarrrr....!! Dua tenaga yang amat dahsyat bertemu dan akibatnya, tubuh Ceng Liong terlempar ke belakang, akan tetapi dia dapat berjungkir balik dan tidak sampai terbanting jatuh. Sebaliknya, lawan yang bertopeng itu terpelanting. Ceng Liong menjadi terkejut bukan main melihat ibunya lari menghampiri orang itu dan merangkulnya, membantunya bangkit berdiri.
"Ha-ha-ha, bagus, kiranya belum ada hawa sesat memasuki tubuhmu....!! Kata orang bertopeng itu sambil merenggut lepas topengnya.
"Ayah....!! Ceng Liong terkejut mengenal wajah ayahnya yang juga kurus seperti wajah ibunya.
"Ayah.... maafkan aku....!! Dia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki ayahnya. Yang dimaksudkau dengan maaf itu bukan karena perlawanannya tadi karena dia tahu bahwa ayahnya sengaja hendak mengujinya, akan tetapi dia minta maaf karena melihat betapa ayah bundanya menjadi kurus, tentu banyak berduka karena ditinggalkannya selama ini. Dia merasakan sekarang betapa dia telah menyusahkan dan menggelisahkan hati mereka, dengan kepergiannya mengikuti Hek-i Mo-ong tanpa memberi tahu orang tua.
Tentu saja hati Suma Kian Bu tidak kalah terharunya melihat puteranya yang tadinya sudah tak diharapkan akan dapat bertemu kembali dengannya itu tiba-tiba saja pulang! Di samping keharuan dan kegirangan, juga terdapat rasa penasaran dan kemarahan di hati ayah ini. Apalagi ketika tadi dia mendengar percakapan antara puteranya dan isterinya, bahwa puteranya itu selama ini menjadi murid Hek-i Mo-ong, hatinya merasa panas dan marah.
Hek-i Mo-ong adalah orang yang membawa tokoh-tokoh sesat menyerbu Pulau Es, mengakibatkan tewasnya ayah dan kedua ibunya, juga mengakibatkan Pulau Es menjadi musnah, dan kini puteranya mengaku malah selama ini menjadi murid musuh besar itu! Hati siapa yang tidak akan marah? Yang paling tidak menyenangkan hatinya adalah membayangkan betapa puteranya menjadi pewaris ilmu-ilmu hitam, ilmu kotor dan keji dan jahat.
Maka dia lalu cepat mengenakan topeng dan sengaja dia menyerang puteranya itu dengan pukulan-pukulan maut dengan maksud untuk memancing dan mencoba kepandaian puteranya, ingin melihat apakah puteranya benar-benar telah mewarisi ilmu jahat dari Hek-i Mo-ong. Lebih baik melihat puteranya mati daripada melihatnya hidup menjadi seorang calon datuk sesat! Akan tetapi, girang hatinya mendapat kenyataan bahwa ketika mereka beradu tenaga, dasar tenaga yang dipergunakan Ceng Liong adalah tenaga Pulau Es! Walaupun harus diakuinya bahwa ilmu terakhir yang dipergunakan puteranya dengan jari-jari tangan terbuka tadi amat mengerikan dan mengandung hawa iblis!
Kini dia melangkah maju dan meraba kepala puteranya dengan jari-jari tangannya, membelai rambut di kepala itu sebentar.
"Bangkitlah, Ceng Liong, ingin kulihat berapa tinggimu sekarang!!
Dengan hati terharu karena dalam rabaan tangan ayahnya pada kepalanya tadi dia merasakan sentuhan kasih sayang yang mesra, Ceng Liong bangkit berdiri di depan ayahnya. Dua orang laki-laki ayah dan anak itu saling berhadapan dan berpandangan, dengan sinar mata berseri dan mulut tersenyum dan ternyata bahwa Ceng Liong kini sedikit lebih tinggi daripada ayahnya!
"Ha-ha-ha, engkau sudah lebih tinggi daripada aku! Mari kita duduk di dalam. Mari kita bicara. In-moi, mana arak....? Aih, sudah lama sekali aku tidak minum arak. Mana arak dan mana masakan?!
Siang In menahampiri mereka dan memeluk keduanya. Kedua lengannya melingkar di pinggang suami dan puteranya. Suasana menjadi gembira bukan main.
"Arak? Ah, ada kusimpan di gudang. Tentu kini sudah menjadi tua dan harum. Dan masih ada beberapa ekor ayam kita. Tnnggu, akan kumasak untuk kalian....!!
"Nanti saja, ibu. Nanti kubantu. Aku sekarangpun sudah pandai masak setelah banyak merantau.! kata Ceng Liong gembira.
"Engkau benar. Nanti saja. Mari kita bicara dulu. Mari kita dengarkan dulu apa yang selama ini dialami Ceng Liong, baru kita merayakan pulangnya dengan makan minum.! kata Suma Kian Bu. Suami isteri itu kini berseri wajahnya, bersinar-sinar matanya, seperti hidup kembali setelah bertahun-tahun tenggelam dalam kecewa dan duka nestapa.Tak lama kemudian, mereka telah membersihkan meja di ruangan dalam, juga kursi-kursinya mereka bersihkan dengan sapu bulu ayam.
Maka duduklah tiga orang itu saling berhadapan dan Ceng Liongpun mulai menceritakan semua pengalamannya, sejak Pulau Es diserbu dan dia dilarikan Hek-i Mo-ong. Diceritakan betapa raja iblis itu telah berkali-kali menyelamatkan nyawanya sehingga akhirnya dia diambil murid.
"Mula-mula aku hanya ingin membalas budinya karena telah dua kali dia menyelamatkan nyawaku. Akan tetapi lambat-laun, ilmu-ilmunya menarik hatiku dan selain itu, juga dia amat baik kepadaku, amat menyayangku sehingga timbul rasa kasihan dan suka di dalam hatiku terhadap orang tua itu.!
Ceng Liong melanjutkan ceritanya, tentang petualangannya bersama gurunya itu ke barat, bahkan sampai di Bhutan. Betapa dia bertemu dengan bibi Syanti Dewi dan suaminya, pendekar sakti Ang Tek Hoat dan puteri mereka yang bernama Gangga Dewi atau Wan Hong Bwee. Suma Kian Bu dan isterinya mendengarkan penuturan putera mereka dengan penuh perhatian. Mereka merasa heran, kadang-kadang terkejut, penasaran, kagum dan bermacam perasaan mengaduk hati mereka.