"Sudahlah, nona-nona, jangan menangis. Lihat, semua penjahat telah kami bunuh. Sekarang mari kami antar pulang dan kami bawakan barang-barang keluarga nona yang dirampok.! Dengan sikap ramah Tek Ciang menghampiri mereka dan dua orang gadis itupun menghentikan tangis mereka dan ketika mereka melihat bahwa semua penjahat telah tewas, keduanya menjatuhkan diri berlutut di depan Tek Ciang.
"Kami menghaturkan terima kasih atas budi pertolongan taihiap....!
Tek Ciang tersenyum. Kebanggaan seperti hendak meledakkan dadanya. Kadang-kadang, kegembiraan yang timbul karena kebanggaan ini lebih nikmat daripada kalau dia memperkosa wanita.
"Ah, bukan hanya aku seorang yang turun tangan, nona. Kami dua orang she Pouw dan she Louw tidak akan membiarkan kejahatan merajalela di dunia ini,! katanya dengan sikap orang yang berhati lapang dan pandai merendahkan hati. Dua orang muda itu lalu mengangkut semua barang rampokan, kemudian mengawal dua orang gadis itu kembali ke rumah mereka yang tadi dirampok.
Dan di tempat itu mereka disambut ratap tangis, bukan hanya karena bersyukur melihat mereka pulang dengan selamat membawa semua barang yang dirampok, akan tetapi juga karena terlukanya para anggauta keluarga laki-laki yang tadi melakukan perlawanan. Kui Lok dan Tek Ciang tidak berlama-lama di tempat itu. Mereka segera meninggalkan keluarga itu tanpa memberi kesempatan mereka berterima kasih, sesuai dengan watak para pendekar yang tidak mengharapkan balas jasa atas pertolongan yang mereka berikan kepada orang-orang yang dilanda malapetaka.
Demikianlah perkenalan yang terjadi antara dua orang muda itu. Ketika Pouw Kui Lok mendengar bahwa pemuda yang lihai itu adalah murid pendekar sakti Suma Kian Lee keluarga Pulau Es, kekagumannya bertambah dan diapun mempersilahkan Tek Ciang untuk singgah di Kun-lun-pai cabang kota Tung-keng yang meliputi cabang perguruan silat ini di daerah tengah, di mana Kui Lok kini tinggal bersama para tosu yang menjadi pimpinan kuil Kun-lun-pai cabang Tung-keng itu. Kui Lok ingin lebih mempererat persahabatannya karena sejak lama dia sudah mendengar tentang keluarga Pulau Es dan merasa kagum sekali. Juga para tosu Kun-lun-pai merasa gembira sekali dan kagum ketika mendengar bahwa pemuda yang pesolek itu adalah murid keluarga Pulau Es!
Tek Ciang telah tinggal di kuil itu selama tiga hari ketika pada pagi hari ke empat, Hong Tan Tosu, ketua kuil itu, seorang tosu tinggi kurus berusia enam puluh lima tahun, yang sejak pagi tadi keluar kuil, kembali membawa dua orang tamu. Dan dua orang tamu itu adalah Cu Han Bu dan Cu Seng Bu.
Seperti kita ketahui, dua orang sakti dari Lembah Naga Siluman ini baru saja kembali dari Puncak Bukit Nelayan dimana mereka menanggung kecewa dan malu karena tidak berhasil membawa pulang cucu mereka, Sim Houw. Dengan hati kesal mereka menuju pulang dan di kota Tung-keng mereka berdua bertemu dengan Hong Tan Tosu. Tosu Kun-lun-pai ini dahulu, ketika masih berada di Kun-lun-san, pernah bertemu di lembah keluarga Cu sehingga dia mengenal baik keluarga Cu. Maka, ketika bertemu dengan dua orang sakti itu, dia merasa gembira sekali dan mempersilahkan dua orang kenalannya itu untuk singgah di kuilnya. Cu Han Bu yang sedang kesal hatinya menerima undangan ini, maka mereka lalu mengikuti Hong Tan Tosu mengunjungi kuil Kun-lun-pai.
Dan di sinilah dua orang tokoh Lembah Naga Siluman itu bertemu dengan Pouw kui Lok dan Louw Tek Ciang. Kebetulan sekali pada saat itu, ketika dua orang sakti memasuki kuil, mereka melihat dua orang pemuda itu sedang berlatih silat di dalam kebun di samping kuil. Sebagai ahli-ahli silat tinggi, dua orang kakak beradik Cu itu segera merasa tertarik sekali karena sekali pandang saja maklumlah mereka bahwa dua orang muda yang sedang berlatih silat itu memainkan ilmu-ilmu silat tinggi.
Dua orang muda itu adalah Kui Lok dan Tek Ciang. Mereka telah menjadi sahabat karib dan pada pagi hari itu, atas usul Kui Lok, mereka berlatih silat bersama. Melihat gerakan Kui Lok, dua orang tokoh Lembah Naga Siluman itu mengenal ilmu silat Kun-lun-pai dan mereka kagum karena pemuda itu memiliki gerakan yang amat ringan dan kuat. Akan tetapi mereka terbelalak memandang dan memperhatikan gerakan Tek Ciang. Pemuda ini memainkan ilmu silat yang aneh dan hebat, apalagi ketika terasa oleh mereka betapa dari kedua tangan pemuda ini menyambar hawa yang berobah-robah, kadang-kadang dingin kadang-kadang panas.
Hong Tan Tosu yang menemani mereka, melihat kekaguman dua orang sakti itu, lalu berkata lirih.
"Orang-orang muda sekarang bertambah hebat saja, akan kalah kita yang tua-tua ini.!
"Hong Tan To-yu, siapakah mereka ini?! tanya Cu Han Bu dengan hati tertarik.
"Yang berbaju hijau itu adalah Pouw Kui Lok, sute pinto sendiri dan dia memang sudah mencapai tingkat tertinggi di dalam perguruan kami. Yang ke dua itu bukan orang sembarangan. Namanya Louw Tek Ciang dan dia adalah murid Suma Kian Lee, pendekar Pulau Es.!
"Ahhh....!! Cu Han Bu dan Cu Seng Bu menahan seruan mereka dan memandang kagum. Pantas saja pemuda itu demikian lihainya, tidak tahunya murid pendekar Pulau Es! Pada waktu yang bersamaan, kakak beradik ini saling pandang dengan gejolak hati yang sama. Alangkah baiknya kalau mereka bisa menarik dua orang pemuda perkasa itu sebagai ahli waris baru mereka yang akan mewarisi ilmu-ilmu silat keluarga Cu dan kelak menjunjung tinggi nama keluarga Cu!
Setelah mereka duduk di dalam, Cu Han Bu langsung saja menyampaikan keinginan hatinya kepada sahabatnya.
"To-yu, melihat gerakan dua orang muda itu, hati kami amat tertarik. Kebetulan sekalikami memang sedang mencari orang-orang yang agaknya tepat untuk mewarisi semua ilmu kami, yang lama maupun yang baru saja kami ciptakan, dan kami melihat bahwa dua orang muda itu agaknya tepat dan berjodoh sekali. Bagaimana pendapatmu andaikata kami mengajak mereka ke lembah kami untuk menerima ilmu-ilmu silat keluarga kami?!
Mendengar ucapan ini, sejenak tosu itu terbelalak penuh keheranan. Dia sudah mengenal benar keluarga Cu ini yang selalu merahasiakan ilmu-ilmu mereka dan tidak akan menurunkan kepada orang luar, maka pernyataan tokoh nomor satu dari keluarga Cu itu tentu saja amat mengherankan hatinya. Diapun sudah mendengar bahwa keluarga Cu tidak memiliki keturunan laki-laki, akan tetapi sudah mempunyai seorang mantu yang lihai sekali dan kabarnya mantu itu yang telah mewarisi ilmu-ilmu keluarga Cu. Kenapa sekarang mendadak Kim-kong-sian ini menyatakan hendak mewariskan ilmu-ilmu keluarga Cu kepada orang luar? Akan tetapi, wajahnya segera berseri gembira ketika teringat bahwa yang dipilih adalah sutenya sendiri.
"Ahh, entah bintang apa yang menerangi nasib sute!! Dia berseru gembira.
"Tentu saja dua orang muda itu beruntung sekali kalau dapat terpilih menjadi murid-muridmu, Cu-taihiap! Biar pinto panggil mereka datang!! Tosu itu sendiri segera bangkit dan meninggalkan dua orang tamunya untuk memanggil dua orang muda yang sedang berlatih silat di kebun. Setelah tosu itu pergi, Cu Han Bu berkata kepada adiknya.
"Bagaimana pendapatmu, ji-te?!Cu Seng Bu mengangguk-angguk.
"Aku setuju sekali, toako. Agaknya merekalah yang amat tepat menjadi ahli waris kita yang kelak akan menghadapi orang-orang yang hendak meremehkan nama kita. Apalagi mereka itu yang seorang adalah murid utama Kun-lun-pai dan yang ke dua bahkan murid keluarga Pendekar Pulau Es. Tepat sekali!! jawab adiknya. Keduanya diam-diam merasa girang sekali. Memang pilihan mereka tepat. Dengan mengangkat murid dua orang muda itu, sedikit banyak Kun-lun-pai dan keluarga Pulau Es akan berdiri di belakang mereka dan kalau sudah begitu, siapa berani meremehkan mereka?
Tak lama kemudian, Hong Tan Tosu datang kembali ke dalam ruangan tamu diikuti dua orang muda yang tadi berlatih dan kini masih basah berpeluh leher dan muka mereka. Keduanya sudah mendengar secara singkat pemberitahuan Hong Tan Tosu bahwa dua orang sakti dari Lembah Naga Siluman datang dan tertarik kepada mereka, dan mengambil keputusan untuk mewariskan ilmu-ilmu sakti dari lembah itu kepada mereka. Tentu saja dua orang itu terkejut dan heran juga, terutama Pouw Kui Lok yang sama sekali tidak pernah membayangkan akan berguru kepada orang lain kecuali Kun-lun-pai. Akan tetapi diam-diam Louw Tek Ciang merasa girang bukan main. Dia tahu bahwa dirinya mempunyai banyak sekali musuh-musuh yang amat lihai, terutama sekali keluarga Pulau Es, maka kalau dia dapat mengumpulkan ilmu-ilmu tinggi sebanyaknya, berarti dia akan lebih mampu membela diri.
"Ah, Pouw-lauwte, sungguh kita beruntung sekali!! katanya sambil memegang lengan Kui Lok.
"Aku sudah mendengar nama besar keluarga Cu dari Himalaya itu, dan kalau kita dapat mewarisi ilmu-ilmu mereka, sungguh kita memperoleh keuntungan besar.!
"Akan tetapi....! Kui Lok memandang kepada suhengnya dengan sinar mata ragu-ragu.
Agaknya Hong Tan Tosu dapat menduga pikiran sutenya.
"Pouw-sute, jangan khawatir. Setiap orang murid Kun-lun-pai memang dilarang berguru kepada orang lain, akan tetapi kalau sudah mendapat perkenan orang yang berhak, dan mengingat bahwa keluarga Cu adalah keluarga pendekar besar yang kukenal baik, maka piuto memberi perkenan kepadamu dan pintolah yang akan bertanggung jawab kalau ada pertanyaan dari para suhu dan susiok.!
Tentu saja ucapan Hong Tan Tosu ini membesarkan hati Kui Lok dan dengan girang mereka berdua lalu mengikuti tosu itu ke ruangan tamu di mana telah menanti Cu Han Bu dan Cu Seng Bu. Melihat dua orang setengah tua yang bersikap angker itu, Kui Lok dan Tek Ciang cepat memberi hormat.
Setelah kini berhadapan dengan Kui Lok dan Tek Ciang, pandang mata kedua orang tokoh Lembah Naga Siluman itu memandang penuh selidik dan mereka merasa puas dengan apa yang mereka lihat. Kedua orang muda itu jelas memiliki tubuh yang baik sekali dan juga memiliki sinar mata yang tajam dan cerdik. Calon-calon murid yang baik sekali, apalagi karena mereka telah memiliki dasar ilmu-ilmu silat yang tinggi pula. Dalam keadaan sekarang inipun, mereka sendiri belum tentu akan dapat mengalahkan dua orang muda ini dengan mudah. Apalagi kalau dua orang muda ini sudah menguasai ilmu-ilmu silat keluarga Cu, tentu keduanya akan jauh lebih lihai daripada mereka sendiri dan akan dapat menjunjung nama kehormatan keluarga Cu dengan baiknya, jauh lebih baik daripada Sim Hong Bu yang murtad itu!
"Pouw Kui Lok dan Louw Tek Ciang,! kata Cu Han Bu secara langsung setelah dua orang muda itu diajak berkenalan.
"Kami berdua telah mendengar keadaan kalian dari Hong Tan To-yu, dan melihat kalian, kami tertarik sekali untuk mengajak kalian ke lembah kami dan mengajarkan ilmu-ilmu silat keluarga Cu kepada kalian. Tentu saja kalau kalian sudi menjadi murid kami.!
"Saya akan merasa gembira dan terhormat sekali, locianpwe,! kata Tek Ciang dengan cepat tanpa ragu-ragu lagi.
"Saya.... saya juga merasa setuju kalan memperoleh perkenan dari suheng sebagai wakil para suhu di Kun-lun-pai,! kata Kui Lok hati-hati.