Halo!

Kisah Pendekar Pulau Es Chapter 122

Memuat...

"Dess! Desss....!! Dua orang itu tidak sempat mengeluarkan teriakan lagi karena tubuh mereka terlempar ke atas dan sudah putus nyawanya sebelum tubuh mereka itu terbanting ke atas lantai! Melihat ini, si kumis tebal terbelalak dan diapun meloncat.... menjauhkan diri dan hendak lari dari ruangan itu.

"Pengecut....!! Cin Liong memaki dan diapun mengejar. Akan tetapi si kumis tebal sudah berteriak memanggil anak buahnya, maka begitu tiba di luar ruangan itu, Cin Liong sudah dikepung oleh sisa anak buah Eng-jiauw-pang yang jumlahnya masih ada hampir tiga puluh orang! Mereka semua mempergunakan cakar garuda pada tangan mereka dan dengan dipimpin oleh si kumis tebal, mereka menyerbu dan mengeroyok Cin Liong dengan mati-matian.

Karena mereka semua tahu bahwa pemuda itu adalah musuh besar, pembunuh mendiang Eng-jiauw Siauw-ong, bahkan kini si kumis tebal berteriak-teriak memberitahukan bahwa empat orang sutenya dan sumoinya juga sudah tewas di tangan musuh ini, maka semua anggauta mengeroyok mati-matian untuk membalas dendam. Si kumis tebal sendiripun selain memberi komando, ikut pula mengeroyok, mengerahkan seluruh tenaganya karena sekarang merupakan pengeroyokan dan harapan terakhir baginya, karena itu harus berhasil.

Akan tetapi, panglima muda putera pendekar Naga Sakti Gurun Pasir itu memang hebat sekali kepandaiannya. Cin Liong juga sudah marah dan juga dia melihat kenyataan betapa kejam dan jahatnya gerombolan ini, maka dia sudah mengambil keputusan untuk membasmi mereka sampai ke akar-akarnya. Kini dia tidak ragu-ragu lagi dan dia mengerahkan sin-kangnya, memainkan Sin-liong-ciang-hoat dan tentu saja anak buah gerombolan itu merupakan makanan yang amat lunak bagi ilmu silatnya yang amat ampuh dan tenaganya yang mujijat itu. Setiap kali dia menyerang, tiga empat orang roboh dan tewas seketika sehingga tanpa memakan waktu lagi, para pengeroyok itu roboh berturut-turut dan akhirnya habislah mereka.

Tempat itu penuh denyan mayat yang malang melintang dan tumpang tindih! Hanya tinggal si kumis tebal seorang saja yang belum roboh karena tadi melihat kehebatan lawan, dia menyingkir ke belakang anak buahnya dan memberi komando saja. Melihat betapa semua anak buahnya roboh, si kumis ini menjadi ketakutan dan dia membalikkan tubuhnya untuk melarikan diri dari tempat itu. Namun, nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu musuh besar itu telah berada di depannya, menghadang dengan berdiri tegak dan sepasang mata pemuda itu mencorong seperti mata seekor naga sakti! Karena tidak melihat jalan lain untuk melarikan diri, si kumis tebal menjadi nekat.

"Haittt....!! Dia menyerbu dengan ganas, kedua tangannya membentuk cakar garuda dau tubuhnya meloncat ke atas lalu melayang turun, persis scperti seekor burung garuda yang terbang turun menyambar seekor kelinci. Namun, yang diserangnya sama sekali tidak mengelak atau menangkis, bahkan Cin Liong juga mengulur kedua lengannya dan kedua tangannya menyambut cengkeraman lawan!

"Plakk! Plakk!! Kedua tangan itu bertemu dan secepat kilat Cin Liong mengerahkan sin-kang pada jari-jari tangannya lalu dia membuat gerakan mematahkan.

"Krekk! Krekk!! Si kumis tebal menjerit mengerikan dan tubuhnya terkulai, akan tetapi kedua cakar garuda itu tertinggal dalam genggaman tangan Cin Liong karena kedua pergelangan tangannya patah tulangnya, kemudian putus sama sekali berikut daging, otot dan kulitnya karena Cin Liong membuat gerakan mematahkan dengan kekuatan yang amat dahsyat! Kedua lengan itu buntung sebatas pergelangan tangan dan darah muncrat-muncrat. Si kumis tebal itu masih belum pingsan, melolong-lolong karena nyerinya sambil berlutut dan memandang kepada kedua lengannya yang buntung sambil menangis. Cin Liong membalikkan kedua cakar itu, lalu menghantamkan kedua senjata itu ke arah pemiliknya.

"Crott! Crott!! Si kumis roboh terjengkang dan kedua cakar garuda itu telah menancap dalam-dalam di kerongkongannya dan dadanya. Agaknya ketika menyerang tadi, Cin Liong teringat akan apa yang dilakukan orang ini kepada Liok Bwee. Sejenak Cin Liong memandang tubuh lawan yang sudah tak dapat bergerak, kemudian dia meloncat masuk kembali ke dalam ruangan belakang.

Liok Bwee yang sudah membuka kedua matanya itu, nampak tersenyum ketika melihat siapa yang berlutut di dekatnya. Apalagi ketika Cin Liong mengangkat tubuh atasnya dan memangkunya, sinar matanya berseri gembira.

"Mereka.... mereka tewas semua....?! tanyanya lirih.

Cin Liong mengangguk.

"....aku.... aku akan mati.... ah, bagaimana aku nanti dapat menemui ayah di alam baka....?!

Melihat kesedihan gadis itu, Cin Liong terharu. Bagaimanapun juga, gadis ini telah menyelamatkan nyawanya dan kini gadis ini kehilangan segala-galanya, mula-mula kehilangan ayahnya, lalu kehilangan para suhengnya dan anak buahnya, dan kini akan kehilangan nyawanya pula. Semua gara-gara dia! Dan gadis itu merasa takut untuk bertemu dengan ayahnya yang sudah meninggal lebih dahulu karena merasa telah mengkhianati Eng-jiauw-pang.

"Nona, kau.... maafkanlah aku....! katanya lirih.

Alis yang berkerut itu cerah kembali.

"Ah, tidak apa. Akan kuhadapi dia, biar di alam baka sekalipun, karena dia yang bersalah, anak buahnya yang jahat. Taihiap.... engkau.... engkau tidak benci kepadaku....?!

Cin Liong terbelalak memandang wajah yang cantik itu. Benci? Ah, bagaimana dia dapat membenci gadis seperti ini?

"Tidak, nona. Aku.... sama sekali tidak benci kepadamu, aku bahkan.... suka sekali kepadamu....! Dia mempererat dekapannya seolah-olah hendak membuktikan kata-katanya karena memang sesungguhnya tumbuh suatu perasaan sayang dan suka sekali dalam hatinya terhadap gadis yang malang nasibnya ini.

Wajah itu berseri dan senasang mata itu berkilat.

"Aih, terima kasih, taihiap.... kata-katamu itu akan menjadi sinar terang yang mengantarku ke alam sana.... terima kasih, aku sungguh cinta padamu, Kao-taihiap.... sungguh....!

Cin Liong semakin terharu dan seperti ada dorongan yang amatkuat dia mendekatkan mukanya.

"Liok Bwee.... kau.... kau gadis yang malang....!! Dan diapun lalu menempelkan bibirnya pada mulut itu. Seperti tersentak kaget tubuh gadis itu mengejang, mulutnya terbuka dan Cin Liong lalu menciumnya dengan sepenuh hatinya, dengan sepenuh rasa sayangnya.

Ketika dia melepaskan ciumannya dan memandang, wajah itu pucat sekali, akan tetapi berseri dan air mata mengalir di kedua pipinya yang pucat.

"....terima kasih, aku cinta padamu.... terima kasih....! Dan kepala itu terkulai, matanya terpejam dan napasnya putus. Gadis itu menghembuskan napas terakhir dengan senyum di mulut!

Cin Liong tahu bahwa gadis yang dipangkunya itu telah meninggal dunia. Hal ini terasa begitu menusuk perasaan hatinya, membuatnya merasa kesepian dan kehilangan. Dia mendekap kepala itu dengan eratnya, memandangi wajahnya, menciuminya dengan air mata berlinang. Terasa sekali olehnya betapa dia membutuhkan Liok Bwee, betapa dia membutuhkan wanita, membutuhkan kasih sayang wanita, membutuhkan cinta wanita. Dia merasa seperti setangkai bunga kekeringan, sebatang pohon kehausan.

"Bwee-moi.... ah, Bwee-moi....! keluhnya, akan tetapi ketika dia memejamkan matanya, terbayanglah wajah Suma Hui dan hatinya menjadi semakin berduka.

Cin Liong mengubur jenazah Liok Bwee dengan kedukaan yang mendalam, kemudian dia melapor kepada kota yang berdekatan, kepada komandan kota itu sebagai seorang panglima muda agar komandan itu suka mcngerahkan anak buahnya untuk mengurus mayat-mayat para anggauta gerombolan Eng-jiauw-pang. Dia sendiri lalu melanjutkan perjalanan menuju ke Thian-cin untuk mencari Suma Hui!

Biarpun dia seorang pendekar sakti yang sudah biasa menghadapi hal-hal yang menegangkan bahkan ancaman-ancaman nyawa sehingga batinnya tergembleng dan dia memiliki ketabahan yang jarang dimiliki pendekar lain, namun ketika dia memasuki pekarangan rumah keluarga Suma, jantungnya tetap saja berdebar tegang dan hatinya tidak urung merasa gelisah sekali. Dia telah mendengar dari orang tuanya betapa orang tuanya telah mengalami penghinaan dari keluarga ini, bahkan hampir saja orang tuanya bentrok dengan keluarga ini. Dan dia mendengar pula betapa dia telah difitnah, dituduh telah memperkosa Suma Hui.

Hal inilah yang harus dibereskannya dan dibikin terang. Kalau toh keluarga Suma hendak menolak pinangannya terhadap Suma Hui, hal itu adalah hak mereka. Akan tetapi kalau mereka hendakmenjatuhkan fitnah bahwa dia telah memperkosa Suma Hui, hal ini tidak boleh dibiarkan saja dan dia harus menerangkan persoalan yang amat gawat ini. Di sepanjang perjalanannya menuju ke Thian-cin, tiada hentinya dia merenungkan fitnah yang amat aneh itu. Kiranya, keluarga seperti itu, keturunan langsung dari Pendekar Super Sakti, keluarga Pulau Es yang terkenal itu, tidak mungkin menjatuhkan fitnah sembarangan saja, apalagi fitnah berupa kejahatan perkosaan! Akan tetapi, mungkinkah seorang dara seperti Suma Hui itu berani atau sudi membohong? Kalau ia tidak benar-benar menjadi korban perkosaan, apa artinya menuduh dia memperkosa?

Benarkah gadis itn menjadi korban perkosaan? Ataukah Suma Hui sengaja berpura-pura dengan pamrih lain di balik itu? Pamrih yang bagaimana? Kalau benar terjadi peristiwa laknat itu, siapa orangnya yang akan dapat memperkosa seorang dara seperti Suma Hui? Akan tetapi dia lalu teringat kepada Jai-hwa Siauw-ok. Datuk sesat itupun pernah hampir dapat memperkosa Suma Hui kalau saja dia tidak muncul di saat yang tepat!

Pendeknya, apapun yang terjadi, dia harus menemui Suma Hui, menemui keluarga Suma untuk menerangkan semua persoalan dan untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang selalu mengganggu pikirannya itu. Ketila pelayan mempersilahkannya duduk di ruangan tamu sementara pelayan itu melaporkan kepada tuan rumah, Cin Liong duduk dengan hati berdebar tegang. Apa yang harus dikatakannya kepada Suma Kian Lee dan isterinya kalau mereka keluar menemuinya?

Rasanya tidak patut kalau begitu datang dia langsung bicara tentang hal yang merupakan aib bagi keluarga itu. Lalu, apa yang harus dikatakannya? Bagaimana kalau begitu muncul, suami isteri sakti itu langsung menyerangnya? Haruskah dia melawan? Akan tetapi dia teringat bahwa kini Suma Hui sadah menikah. Ah, itulah yang dapat dijadikannya alasan. Dia datang untuk menghaturkan selamat atas pernikahan itu!

Langkah kaki tegap yang menuju ke ruangan tamu itu terdengar demikian kerasnya oleh Cin Liong, menyaingi degup jantungnya. Dia sudah berdiri ketika daun pintu kamar tamu yang menembus ke ruangan dalam terbuka dan muncullah seorang laki-laki setengah tua gagah perkasa yang bukan lain adalah Suma Kian Lee. Sudah kurang lebih empat tahun dia tidak bertemu dengan pendekar ini dan nampak oleh Cin Liong betapa waktu empat tahun itu menambah usia sang pendekar seperti sepuluh tahun saja!

Pendekar itu nampak jauh lebih tua, rambutnya sudah hampir putih semua dan banyak garis-garis prihatin menghias mukanya, menjadi keriput-keriput mendalam. Matanya yang lebar itu masih tenang seperti dulu, juga masih tajam, akan tetapi ada bayangan duka di balik ketenangannya. Pada saat itu, sepasang mata itu terbelalak membayangkan kekagetan sehingga mengherankan hati Cin Liong yang sudah cepat menjura dengan sikap hormat.

"Kao Cin Liong....!! kata pendekar itu dengan suara jelas membayangkanrasa kaget melihat pemuda itu yang agaknya sama sekali tidak disangkanya akan muncul di kamar tamunya.

"Engkau.... datang.... dengan maksud apakah....!

Memang sejak dari pertemuan dengan ayah bundanya, Cin Liong sudah membawa ganjalan hati. Ayah bundanya telah mengalami penghinaan dari keluarga ini, mungkin juga pcnghinaan itu berlangsung di dalam ruangan tamu ini. Akan tetapi dia datang bukan untukmelampiaskan perasaan marah dan penasaran itu, melainkan untuk menjernihkan segala kekeruhan dan menerangkan semua kegelapan dalam perkara itu. Maka dia masih bersabar walaupun alisnya berkerut dan pandang matanya berkilat.

"Locianpwe, maafkan kalau kedatangan saya mengganggu. Saya datang untuk menghaturkan selamat atas pernikahan bibi Suma Hui. Sayang saya sedang bertugas sehingga tidak dapat menghadiri pesta pernikahan itu. Juga saya menyampaikan ucapan selamat dari ayah dan ibu.! Cin Liong sengaja menyebut locianpwe agar tidak menonjolkan hubungan keluarga di antara mereka, akan tetapi dia tetap menyebut bibi kepada Suma Hui mengingat bahwa gadis itu telah menikah dan tidak enaklah kalau dia tetap menyebut adik seperti biasa.

Akan tetapi, ucapan selamat dari Cin Liong ini terasa seperti pisau beracun menusuk hati pendekar itu. Wajahnya sebentar merah sebentar pucat dan sepasang matanya menatap wajah Cin Liong penuh selidik. Diapun lupa untuk mempersilahkan tamunya duduk dan mereka masih berdiri saling berhadapan.

"Terima kasih,! jawab Suma Kian Lee dengan suara lirih menahan perasaan yang bergolak.

"Lalu apa lagi keperluanmu mengunjungi kami?!

Kerut-merut di antara alis pemuda itu makin mendalam. Sungguh angkuh dan sombong sekali orang ini, pikirnya. Beginikah sikap putera dari mendiang Pendekar Super Sakti? Tentu saja dia tidak tahu bahwa sikap yang diperlihatkan oleh Suma Kian Lee itu sungguh sama sekali bukan sikap aselinya. Pendekar ini telah mengalami musibah, seteguh-teguhnya batu karang seperti dia telah dilanda badai yang amat hebat sehingga membuat kekokohan batinnya menjadi goyah.

"Memang ada lagi keperluan lain, locianpwe. Saya datang untuk membikin jernih kekeruhan yang terjadi antara keluarga locianpwe dan keluarga kami.!

"Bagus!! Suma Kian Lee berkata tegas dan mulutnya membayangkan senyum pahit.

"Seorang gagah harus menghadapi segala keadaan dengan sikap gagah pula. Engkau datang karena merasa bahwa keluarga Kao telah menerima penghinaan dari keluarga kami?!

Kao Cin Liong mengangguk.

"Setidaknya menerima perlakuan yang tidak semestinya kami terima.!

"Bagus!! kembali pendekar itu berseru.

"Mari kau ikut denganku, Kao Cin Liong!!

Melihat sikap yang tegas dan kaku itu, diam-diam di dalam hati Cin Liong sndah timbul penasaran dan hatinya semakin terbakar. Maka tanpa banyak cakap dia mengangguk dan mengikuti tuan rumah itu yang berjalan melalui lorong di samping rumah, menuju ke lian-bu-thia (ruangan berlatih silat). Dia pernah mengunjungi rumah ini dan sedikit banyak sudah mengenal keadaannya, maka diapun hanya mengikuti saja dengan hati penasaran ketika tuan rumah membawanya ke ruangan itu.

Ruangan yang luas itu kosong dan keadaan amat sunyi, membuat hati Cin Liong menduga-duga ke mana perginya anggauta keluarga lainnya.Kini mereka berdiri saling berhadapan di lian-bu-thia dan Suma Kian Lee, aneh sekali, kini berseri-seri memandang wajah pemuda itu.

"Seorang gagah akan menyelesaikan urusan dengan cara yang gagah pula. Keluarga Kao telah merasa terhina oleh keluargaku dan engkau datang untuk membuat perhitungan, itu sudah adil sekali. Dan aku sebagai orang yang bertanggung jawab atas keluarga Suma, sudah berdiri di hadapanmu, siap untuk menebus kesalahan dengan cara yang gagah pula. Kao Cin Liong, aku sudah siap, majulah!! Suma Kian Lee memasang kuda-kuda dengan sikap yang gagah.

Cin Liong terkejut dan juga marah. Sungguh sombong, pikirnya. Akan tetapi dia masih ingat bahwa sungguh amat tidak baik menanam permusuhan dengan keluarga Suma, apalagi kalau diingat bahwa ibunya masih terhitang anggauta keluarga Pulau Es pula. Dia datang untuk menjelaskan perkara, untuk mencari kebenaran, bukan untuk menuntut keadilan dengan membalas dendam.

"Akan tetapi, locianpwe, kedatangan saya bukan untuk berkelahi!! bantahnya.

"Kao Cin Liong, siapa yang mau berkelahi? Kita bertanding untuk membuat perhitungan yang ada. Aku tahu bahwa engkau adalah putera Si Naga Sakti Gurun Pasir dan engkau telah memiliki tingkat kepandaian yang setanding dengan aku, maka akupun tidak malu untuk menandingimu. Mari, aku sudah siap. Kecuali kalau engkau seorang penakut, nah, tak perlu banyak cakap, pergilah.!

"Locianpwe terlalu tinggi hati dan terlalu memaksa!! bentak Cin Liong marah.

"Memang! Majulah, orang muda!! Anehnya, suara pendekar ini semakin gembira.

Melihat betapa lawannya sudah memasang kuda-kuda, Cin Liong yang tidak sudi disebut pengecut itu sudah menerjang sambil mengeluarkan teriakan peringatan. Hantamannya amat kuat dan cepat, namun dengan indahnya serangan pertama itu dapat dihindarkan oleh Suma Kian Lee yang juga memiliki gerakan yang mantap dan kuat.

Suma Kian Lee mengelak sambil membalas serangan dengan tidak kalah kuatnya, akan tetapi Cin Liong juga dapat mengelak dengan cepat. Terjadilah serang-menyerang dengan serunya dan diam-diam kedua orang pendekar tua dan muda ini saling agum akan kehebatan dan kegesitan lawan. Ilmu silat mereka berbeda sekali, dari sumber yang berlainan, akan tetapi keduanya sama kuatnya, sama indahnya dan sama mantapnya. Mungkin saja Kian Lee menang latihan dan menang matang, akan tetapi Cin Liong yang menang muda itu tentu saja menang napas dan menang cepat gerakannya.

"Lihat pukulan!! Tiba-tiba Suma Kian Lee berseru setelah mereka bertanding lebih dari tiga jurus dan hanya mengandalkan kecekatan mereka untuk saling mengelak dan saling membalas. Kini pendekar Pulau Es itu mengerahkan tenaga Swat-im Sin-kang dan menghantam dengan kecepatan yang tak mungkin dapat dielakkan lagi oleh lawan. Cin Liong terkejut, mengenal pukulan ampuh yang hawanya mengandung dingin luar biasa ini. Dia sudah mendengar bahwa para pendekar Pulau Es memiliki dua macam ilmu andalan, yaitu Swat-im Sin-ciang (Tangan Sakti Inti Salju) dan Hwi-yang Sin-ciang (Tangan Sakti Inti Api), maka merasa betapa dinginnya pukulan ini, dia dapat menduga bahwa ini tentulah pukulan Tenaga Sakti Inti Salju itu.

Diapun cepat mengerahkan tenaganya dan karena maklum bahwa kekuatan lawan amat hebat, diapun tidak mau membahayakan dirinya dan langsung saja dia mempergunakan Ilmu Sin-liong Ciang-hoat dengan mempergunakan tenaga inti bumi dalam pengerahan tenaga Sin-liong-hok-te. Tubuhnya tiba-tiba menelungkup dan ketika pukulan datang, diapun meloncat dan menerima pukulan kedua tngan itu dengan kedua telapak tangannya sendiri.

"Desss....!! Dua tenaga raksasa bertemu di tengah udara dan akibatnya, tubuh Cin Liong terpental ke belakang sampai tiga tombak, akan tetapi sebaliknya Suma Kian-Lee terhuyung, mukanya menjadi pucat dan mulutnya mengeluarkan sedikit darah segar!

Cin Liong terkejut bukan main. Dia tidak merasa terluka walaupun tubuhnya terlempar, dan kini dia menghampiri lawannya, bermaksud untuk memeriksa kalau-kalau lawannya terluka parah. Akan tetapi, betapa kagetnya ketika kini Suma Kian Lee membentak lagi.

"Lihat pukulan....!

Post a Comment