Tetapi di mulut, terasa.. .
aneh untuk menyebutkan.. .
nya." "Baik, baik! Kita atur begini saja," kata Siau Po .
"Di depan orang lain, aku memanggilmu Siau kun cu, dan kau memanggilku Kui toako, Tetapi kalau hanya kita berdua yang ada, aku akan memanggilmu adik dan kau harus memanggilku kakak yang baik." Belum lagi Siau kuncu sempat memberikan jawabannya, si nona yang sedang terluka sudah mencibirkan bibirnya sambil mengejek .
"Manis benar kedengarannya! Siau kuncu, jangan kau ladeni dia .
Aku tahu dia sedang mengambil hatimu!" "Hm!" Siau Po mendengus dingin .
"Aku toh tidak suruh kau yang memanggil aku" Untuk apa kau usil" seandainya kau yang memanggil aku, tentu aku tidak sudi mendengarnya!" Siau kuncu tertawa mendengar pertengkaran di antara kedua orang itu .
"Lalu, kau mau dia memanggil apa kepadamu?" tanyanya .
Siau Po juga tertawa .
"Aku ingin dia memanggilku suami yang baik! Ya, suami yang terbaik!" sahutnya .
Wajah si nona jadi merah padam mendengarnya .
"Kalau kau ingin menjadi suami orang, kau harus menjelma sekali lagi pada penghidupan mendatang" katanya sengit dan wajahnya memperlihatkan mimik mencemooh .
"Sudah, sudah!" Siau kuncu segera menengahi .
"Kalian berdua kan bukan musuh bebuyutan" Kenapa baru bertemu sudah bertengkar terus" Kui toako, aku harap kau bersedia memberikan obatnya kepadaku!" "Baik!" sahut Siau Po .
"Tapi biarkan aku mengobati lukamu terlebih dahulu!" Dia segera menyingkap selimut yang menutupi tubuh kedua nona itu, Kemudian dia menggulung celana Siau kuncu dan memakaikan obat di kakinya yang terluka .
"Terima kasih!" kata Siau kuncu tanpa malu-malu, Nada suaranya juga mengandung ketulusan .
"Siapa nama istriku?" tanya Siau Po .
Siau kuncu tertegun .
"lstrimu?" tanyanya bingung .
"lya, istriku!" kata Siau Po .
Kepalanya menoleh kepada nona yang sedang terluka itu dengan bibir dimonyongkan .
Siau kuncu tertawa, Dia mengerti kakak seperguruannya itulah yang dimaksudkan thay-kam cilik itu .
"Aih! Kau memang suka bercanda!" katanya .
"Kakak seperguruanku ini she Pui dan namanya...." "Jangan beritahukan kepadanya!" tukas si nona yang terluka gugup .
Begitu mendengar nona itu she Pui, Siau Po segera teringat ketika mengadakan perjalanan di Kangsou utara, dia bertemu dengan dua orang anak muda, Seorang pria dan seorang wanita .
Mereka adalah orang-orang dari Bhok onghu .
Mereka juga yang membuat Mau Sip-pat segan serta menghajarnya setengah mati, Namun nona yang mereka lihat hari itu, sedikit lebih tua dari nona Pui .
"Oh, dia she Pui .
Aku tahu! Di sana aku masih mempunyai seorang toa-ku dan toaie," katanya kemudian .
Toa-ku dan toa-ie adalah ipar laki-laki dan ipar perempuan .
"Aneh! Apa yang kau maksud dengan toa-ku dan toa-ie?" tanya Siau kuncu bingung .
"Dia mempunyai, seorang kakak laki-laki dan seorang kakak perempuan, bukan" Mereka itulah ipar-iparku!" sahut Siau Po seenaknya .
Siau kuncu semakin heran .
"Oh, jadi di antara kalian masih ada hubungan keluarga?" Tampaknya dia percaya saja dengan ocehan si thay-kam cilik .
"Siau kuncu, jangan layani dia bicara!" kata nona Pui .
"Bocah itu benar-benar busuk hatinya, Dia tidak ada hubungan keluarga denganku .
Benar-benar sial kalau aku memilikinya!" Siau Po tidak marah, Dia malah tertawa lebar Cepat dia menyerahkan obat pada Siau kuncu sambil berbisik di telinganya .
"Adikku yang baik, coba kau katakan siapakah nama belakangnya istriku itu?" Jarak antara kedua gadis itu dekat sekali, Meskipun Siau Po berbicara dengan suara berbisik, tetapi nona Pui dapat mendengarnya dengan jelas, Karena itu dia segera berkata .
"Jangan beritahukan!" Siau Po tertawa lagi .
"Tidak apa-apa kalau kau tidak mau memberitahukannya, Tapi aku ingin menciummu dulu satu kali, Pertama-tama, aku akan mencium pipi kirimu, lalu aku akan mencium pipi kananmu dan terakhir bibirmu .
Nah, sekarang kau katakan terus terang, kau lebih suka dicium atau memberitahukan namamu saja?" Nona itu tidak bergerak, pikirannya bingung, Thay-kam cilik ini benar-benar iseng dan agak ceriwis .
Selain bingung, nona Pui juga kesal sekali, Untung saja Siau Po masih seorang bocah cilik dan tadi dia juga mendengar para siwi memanggilnya kongkong .
Siau Po seakan ingin membuktikan ancamannya .
Dia menggerakkan tubuhnya dan kepalanya dicondongkan ke depan seperti ingin mendekatkan bibirnya ke wajah nona itu .
Tentu saja nona Pui itu berdebaran jantungnya melihat perbuatan Siau Po .
"Baik, baik!" kata si nona Pui cepat dan gugup .
"Baik, setan cilik! Aku akan memberitahukan namaku!" Siau kuncu tertawa "Seperti apa yang kukatakan barusan, Kakakku she Pui, sedangkan nama suci hanya satu huruf Ie, jadi namanya Pui ie." Siau Po buta huruf, dia tidak tahu bagaimana tulisan nama itu, namun dia menganggukkan kepalanya juga .
"Ah... .
Nama yang dipilih secara sembarangan, sama sekali tidak bagus!" katanya, "Sekarang giliran kau, Siau kuncu, siapakah namamu?" "Aku she Bhok, namaku Kiam Peng .
Kiam artinya pedang, Peng artinya tirai," sahut Siau kuncu .
"Namamu lebih bagus!" kata Siau Po kembali Tapi sayangnya bukan dari kelas satu!" "Tentu namamu baru nama dari kelas satu, bukan?" sindir Pui Ie .
"Siapa she dan namamu" Sampai mana bagusnya?" Ditanya sedemikian rupa, untuk sesaat Siau Po tertegun Dia sadar dirinya dijebak oleh ucapannya sendiri .
"Aku tidak boleh menyebutkan nama asli," pikirnya dalam hati, Tapi Siau Kui cu bukan nama yang dapat dibanggakan! Biar bagaimana, dia harus menyebutkan sebuah nama, Akhirnya dia berkata: "Aku she Go, karena aku seorang thay-kam, orang-orang memanggil aku Go laokong...." "Go laokong... .
Go laokong..." Pui Ie mengulangi nama itu beberapa kali, "Ah! Namamu itu...." Mendadak kata-katanya terhenti, wajahnya menjadi merah padam, Sebab dia sadar bahwa yang disebut Siau Po bukan nama orang, Go laokong artinya mertuaku .
"Cis!" seru si nona kemudian .
"Kau hanya mengoceh sembarangan." "Aih! Lagi-lagi kau menggoda orang!" kata Bhok Kiam Peng, "Aku dengar orangorang memanggilmu Kui kongkong, kau bukan she Go!" Siau Po tidak mau kalah .
"Kalau laki-laki, mereka memanggilku Kui kongkong, tapi kalau perempuan, dia memanggilku Go laokong." "Aku tahu siapa namamu!" kata nona Pui Ie yang mulai banyak bicara, Hal ini karena dia merasa tidak mau kalah dan ingin membalas ejekan Siau Po .
Siau Po agak terkejut mendengar kata-katanya .
"Kau tahu" Bagaimana kau bisa tahu?" tanyanya heran, "Aku tahu namamu yang sebenarnya adalah Ho Pat-to!" kata nona itu .
Siau Po tertawa terbahak-bahak, Nama yang disebut nona itu hanya sebuah sindiran yang artinya "Ngaco belo." Setelah Siau Po tertawa terbahak-bahak, tiba-tiba saja tampak nafas Pui Ie memburu .
Rupanya hati gadis itu mendongkol sekali dan sejak tadi dipendam, lagipula dia juga terlalu banyak bicara .
"Oh, adikku yang baik!" kata Siau Po kepada Kaim Peng, "Cepat kau pakaikan obat yang kuberikan .
jangan membiarkan dia mati karena aku! Aku Go laokong hanya mempunyai dia seorang istri .
Kalau dia sampai mati, kemana lagi aku bisa mencari istri yang kedua?" Kiam Peng tersenyum .
"Kakakku mengatakan kau senang mengoceh yang bukan-bukan, ucapannya memang tepat," katanya, Dia segera menurunkan kelambu kemudian mengobati luka Pui Ie .
"Apakah darahnya sudah berhenti mengalir?" tanya Siau Po .
"Sudah berhenti," sahut Kiam Peng .
"Bagus! Memang obatku mujarab sekali, Bahkan melebihi obatnya Pou sat .
sekarang baru kau percaya, Nanti, sesudah lukanya sembuh, dadanya tidak akan meninggalkan bekas cacat sedikit pun sehingga bunga dan rembulan pun merasa malu terhadapnya." "Aih! Kau memang paling bisa!" Kiam Peng tertawa mendengar ucapan si bocah yang lucu .
"Setelah lukanya tidak mengeluarkan darah lagi, kau pakaikan lagi obat luar," kata Siau Po .
"lya," sahut Kiam Peng .
Tepat pada saat itu, dari luar terdengar suara panggilan "Kui kongkong! Kui kongkong! Apakah Kui kongkong sudah tidur?" "Sudah?" sahut Siau Po namun ia bertanya juga .
"Siapa" Kalau ada urusan apa-apa, tunggu besok pagi saja!" Orang di luar rnenjawab, "Aku yang rendah Sui Tong!" Nama itu membuat Siau Po terkejut "Oh, Sui congkoan! Entah ada keperluan apakah ?" tanyanya cepat .
Rupanya Sui Tong itu adalah Hu congkoan, pemimpin muda dari Gi Cian siwi, pasukan pengawal pribadi Raja, Siau Po sering mendengar nama orang itu yang menurut para siwi ilmu silatnya tinggi sekali .
Hanya selama beberapa tahun belakangan ini, dia sering bertugas di luar istana, Karena itu Siau Po belum pernah bertemu dengannya .
" Aku yang rendah mempunyai urusan yang penting!" terdengar Sui Tong berkata kembali .
"Kui kongkong, harap maafkan, Aku yang rendah telah mengganggu ketenangan kongkong, Tapi aku yang rendah ada urusan yang penting hendak dibicarakan .
Nyali Siau Po menjadi ciut .
Diam-diam dia berpikir Tengah malam begini dia datang kemari, entah apa yang diinginkannya" Mungkinkah dia tahu kalau aku menyembunyikan kawanan pemberontak dan sekarang dia datang untuk memeriksa dan menggeledah kamarku" Bagaimana baiknya sekarang" Kalau aku tidak membukakan pintu, dia tentu akan memaksa masuk .
sedangkan kedua perempuan bau yang sedang terluka ini tidak bisa melarikan diri, sebaiknya aku pandai-pandai melihat situasi .
Kalau ditilik dari suara langkah kaki di luar pintu, tampaknya Sui Tong hanya seorang diri .
"Ah.. .
mengapa aku tidak mencari kesempatan membokongnya saja" Memang tidak ada jalan lain kecuali membunuhnya!" pikirnya kemudian .
Dari luar kamar kembali terdengar suara Sui Tong .
"Urusan ini penting sekali, Kalau tidak, nanti aku yang rendah berani mengganggu kongkong yang sedang bermimpi indah!" "Baiklah," sahut Siau Po .
"Nanti aku akan membukakan pintu!" Tapi, bukannya membukakan pintu, dia malah menyusupkan kepalanya ke dalam kelambu dan berbisik kepada Kiam Peng serta Pui Ie .
"Kalian jangan bersuara!" Nadanya serius, tampangnya juga bersungguh-sungguh .