"Kawanan pemberontak yang menyerbu itu benar-benar lihay sekali!" "Sekarang, silahkan kalian mengundurkan diri," kata Siau Po, "Pergilah kalian melindungi Sri Baginda, Aku di sini sudah tidak ada urusan apa-apa!" "Sekarang tempat Sri Baginda sudah dijaga oleh dua ratus lebih pengawal," kata seorang siwi Iainnya, "Kawanan penyerbu itu sudah kabur dengan meninggalkan teman-temannya yang mati maupun terluka, Seluruh istana sudah aman kembali." "Bagus!" puji Siau Po .
"Mengenai para siwi yang sudah mengorbankan diri itu sebaiknya kalian memohon pada Sri Baginda untuk mengubur dan memberi hadiah kepada keluarga yang ditinggalkan .
Kalian juga sudah mengeluarkan jasa, tidak mungkin Sri Baginda melupakan kalian." Rombongan siwi itu senang sekali Tidak lupa mereka mengucapkan terima kasih .
Melihat sikap para siwi itu, Siau Po berkata dalam hatinya .
"Peduli amat! Toh, bukan aku yang mengeluarkan uang untuk hadiah kalian, Tidak ada ruginya bagiku berbuat kebaikan ini!" Karena itu dia berkata lagi: "Tuan-tuan sekalian, aku sudah lupa nama besar kalian, Tolong disebutkan sekali lagi semuanya agar aku bisa melaporkan apabila Sri Baginda menanyakan siapa saja yang berjasa malam ini." Para siwi itu senang sekali, Cepat-cepat mereka menyebutkan nama masing-masing dan Siau Po mengulanginya beberapa kali sampai hapal betul .
"Sekarang kalian meronda lagi, Siapa tahu masih ada orang jahat yang bersembunyi di tempat-tempat gelap atau di antara pohon-pohon yang rimbun, Andaikata berhasil meringkus penjahat, yang laki-laki harus dirangket dengan rotan dan yang perempuan harus ditelanjangi dan diperlakukan seperti istri kalian sendiri!" Mendengar kata-katanya, para siwi tertawa geli .
"lya! Iya!" jawab mereka serentak, Mereka merasa thay-kam cilik itu benar-benar lucu dan suka bergurau .
"Sekarang, tolong kalian singkirkan mayat ini," pinta Siau Po kemudian .
"Baik," sahut para siwi itu yang terus berebutan mengangkat mayat itu .
Lalu mereka pun memohon diri untuk mengundurkan diri .
Siau Po mengawasi kepergian mereka dan menutup pintu kamarnya kembali Setelah itu dia menghampiri tempat tidur serta menyingkapkan kelambunya .
"Kau benar-benar biang iseng!" kata Siau kun-cu .
"Kau benar-benar membuat kami terkejut!" .
Tapi ketika dia menoleh kepada kakak seperguruannya, gadis cilik itu terkejut setengah mati, Tanpa dapat menahan diri lagi dia mengeluarkan seruan tertahan, wajah nona itu pucat pasi, napasnya juga lemah sekali .
"Bagian manakah yang terluka?" tanya Siau Po .
"Dia harus cepat ditolong supaya darahnya berhenti mengucur." "Kau.. .
menyingkirlah jauh-jauh..." kata si nona yang sedang terluka itu, "Kuncu, a.. .
ku terluka di.. .
Sebenarnya Siau Po masih ingin menggoda, tetapi ketika melihat darah nona itu mengucur semakin banyak, dia membatalkan niatnya, Dia khawatir nona itu akan mati karena lukanya yang terlalu parah, tapi di mulutnya dia malah berkata .
"Baru darah yang mengalir, apa bagusnya sih dilihat" Eh, kuncu, apakah kau mempunyai obat luka?" "Aku tidak punya," sahut si kuncu cilik .
"ltu si perempuan bau, dia membawa obat luka atau tidak?" tanya Siau Po kembali .
"Tidak!" sahut si nona yang sedang terluka, "Dan kaulah yang bau!" Si kuncu cilik tidak berdiam diri .
Dia segera merobek baju dalamnya nona yang sedang terluka itu .
Tiba-tiba dia terkejut dan berseru .
"Aduh! Bagaimana ini?" Mendengar seruan si kuncu, Siau Po segera menolehkan kepalanya, ia melihat dua liang kecil tanda luka di dada gadis itu, Luka itu masih mengucurkan darah .
Kuncu kebingungan sampai menangis .
"Kau... .
Lekas tolongi kakakku ini.. .
Cepat!" katanya panik .
Tapi si nona yang terluka itu justru merasa jengah dan berusaha bangkit untuk duduk di atas tempat tidur .
"Jangan! jangan biarkan dia melihat aku!" katanya bingung dan malu .
"Fuh!" Siau Po membuang ludah, "Aku juga tidak sudi melihatnya!" Meskipun demikian, bocah cilik itu tetap menoleh ke kiri dan ke kanan untuk mencari kapas atau barang lainnya yang dapat digunakan untuk menyumbat luka yang berdarah itu, Dia melihat Bit-hu, bahan pelekat dari madu, "Nah, itu obat menghentikan darah yang manjur." katanya, Dia segera mengambil bahan perekat itu dan kemudian bekerja dengan gesit, Dioleskannya perekat itu di lubang luka, Ketika melihat buah dada gadis itu, timbul lagi rasa isengnya .
Dia sengaja menggeser tangannya dan meraba-raba susu si nona .
Bukan main malu dan gusarnya hati si nona itu .
"Kuncu, bunuh dia!" katanya kepada Siau kuncu dengan suara keras .
"Tapi, suci.. .
dia sedang mengobatimu...." Saking kesalnya, si nona tidak banyak bicara lagi, Dia hampir pingsan diperlakukan sedemikian rupa oleh Siau Po .
Sayang dia tidak dapat bergerak, kalau tidak, kemungkinan Siau Po benar-benar akan dibunuhnya .
"Lekas totok jalan darahnya!" kata Siau Po kemudian "Dia tidak boleh bergerak terus, nanti darahnya tidak akan berhenti mengalir dan jiwanya akan terancam bahaya!" "lya!" sahut Siau kuncu yang langsung menotok kakak seperguruannya di bagian perut, iga dan pahanya beberapa kali .
"Suci, jangan sembarangan bergerak!" Tidak lupa dia memesankan kepada kakak seperguruannya .
Sementara itu, Siau kuncu sendiri sampai meneteskan air mata karena baru sekarang dia merasakan bahwa lukanya sendiri menimbulkan rasa sakit, Dia terluka di bagian pahanya .
"Kau juga sebaiknya berbaring saja," kata Siau Po yang terus menggantikannya memberikan pertolongan .
Ketika di Yang-ciu, Siau Po sering melihat orang memberikan pertolongan kepada orang lain yang terluka di bagian kakinya .
sekarang sebisanya dia mengikuti cara tersebut, Dia mencari dua helai papan kemudian dijepit dan diikatkan pada kaki si nona, setelah itu dia menjadi bingung sendiri .
"Kemana aku harus mencari obat?" tanyanya tidak kepada siapa pun .
Sesaat kemudian, dia menemukan akal yang bagus .
"Kau berbaring saja di sini," katanya kepada Siau kuncu, jangan sekali-sekali bersuara!" Dia menurunkan kelambu dan kemudian berjalan menuju pintu .
"Kau mau kemana?" tanya Siau kuncu ketika si bocah membuka pintu .
"Aku akan mencari obat untuk mengobati kakimu!" "Jangan lama-lama!" pesan si kuncu khawatir .
"Aku tahu!" sahut Siau Po .
Dia merasa puas, karena dari nada suara si nona, Siau Po yakin dia mempercayainya, Dia segera memalangkan pintunya kembali, Dia merasa tenang, sebab dia tahu, kecuali Sri Baginda atau ibu suri, tidak ada orang lain lagi yang berani sembarangan masuk ke kamarnya .
Baru berjalan beberapa langkah, Siau Po merasakan pinggangnya agak nyeri .
"lbu suri, si perempuan jalang itu sungguh kejam!" pikirnya dalam hati, "Dia telah menghajar aku! Kalau begini, aku tidak bisa berdiam terlalu lama lagi di istana ini .
Siang atau pun malam, nyawaku selalu terancam maut .
Ya, aku harus pergi secepatnya !" Thay-kam gadungan ini segera menuju tempat di mana terlihat cahaya api .
Di sana beberapa siwi tengah meronda .
Ketika melihat Siau Po, semuanya segera menghampiri untuk menyambutnya .
"Berapa jumlah siwi yang terluka?" tanyanya prihatin "Harap kongkong ketahui," sahut salah seorang pengawal itu .
"Ada delapan orang yang luka parah dan lima belas orang yang luka ringan." "Di mana mereka dirawat?" tanya Siau Po kembali .
"Tolong kalian antarkan aku menjenguknya." "Terima kasih, kongkong .
Kami sangat menghargai kebaikan kongkong," kata siwi itu yang kemudian meminta dua orang kawannya mengantarkan Siau Po ke tempat di mana para pengawal istana itu sedang dirawat, Di sana tampak dua puluh orang lebih siwi yang sedang terluka dan ada empat orang thay-kam yang repot memberikan pertolongan .
Siau Po segera menghampiri dan menghibur semuanya dengan memuji keberanian mereka menghalau para penyerbu, Dia juga tidak lupa menanyakan nama para siwi itu untuk dilaporkan kepada Sri Baginda .
Puas hati para siwi tersebut mendapat perhatian begitu besar dari thay-kam kesayangan Sri Baginda, Hal ini bahkan membuat rasa nyeri yang mereka rasakan hilang sebagian besar .
"Apakah kalian tahu dari pihak mana kawanan pemberontak yang menyerbu itu?" tanya Siau Po .
"Mungkinkah mereka antek-anteknya Go Pay?" "Entah mereka dari pihak mana" Tapi kami yakin mereka orang-orang bangsa Han..." sahut siwi yang ditanya dan dibenarkan oleh rekan-rekannya yang lain, "Kami juga tidak tahu apakah ada di antara mereka yang tertangkap hidup-hidup atau tidak?" Ketika pembicaraan berlangsung, Siau Po memperhatikan cara pengobatan yang dilakukan para thay-kam .
Mereka menggunakan obat buatan tabib istana, semuanya merupakan obat luka, ada obat luar dan ada juga obat dalam .
"Obat semacam itu harus kusediakan," kata Siau Po .
"Kalau ada saudara siwi yang terluka dan tabib belum sempat datang, mereka dapat menggunakan obat persediaanku, Oh, kawanan penyerbu itu benar-benar ganas dan nyalinya besar sekali Malam ini mereka tidak dibasmi semuanya, mungkin lain kali mereka akan datang lagi!" Beberapa siwi menganggukkan kepalanya .
"Kongkong baik sekali, kami bersyukur," kata mereka .
"Kita harus saling prihatin," kata Siau Po yang langsung memohon diri .
sebelumnya dia telah meminta tabib istana membungkuskan sejumlah obat, Dia juga menanyakan sampai jelas cara pemakaiannya .
Biarpun bocah ini tidak berpendidikan tapi pengalamannya banyak sekali akibat pergaulannya di rumah pelesiran dulu, Karena itu bahasanya juga kasar .
Untung saja para siwi itu juga bukan semuanya berasal dari orang-orang golongan atas, itulah sebabnya mereka tidak memperhatikannya .
Siau Po langsung pulang ke kamarnya, Sebelum masuk, dia memasang telinga dulu di depan jendela, Setelah mendapat kepastian kamarnya sunyi saja seperti semula, dia baru mengeluarkan suara dengan lirih sekali .
"Kuncu, aku pulang!" Dia berkata demikian karena khawatir Siau kuncu mengira orang lain yang datang serta langsung mengirimkan serangan kepadanya .
"Oh!" Terdengar suara si gadis cilik, "Sudah cukup lama aku menunggumu!" Siau Po menolakkan daun jendela dan lalu melompat ke dalam Setelah itu dia menyulut lilin dan menyingkapkan kelambu tempat tidurnya .
Kedua nona itu tampak berbaring berdampingan .
Gadis yang terluka itu sedang membuka matanya lebar-lebar, namun ketika dia melihat Siau Po, cepat-cepat dia memejamkan matanya, Mungkin dia masih jengah atau malu .
Lain dengan Siau kuncu, dia malah menatap si bocah cilik dengan matanya yang jeli dan indah, Sinar matanya menunjukkan hatinya terhibur dan senang dapat melihat Siau Po lagi .
"Kuncu, sini aku obati lukamu!" kata Siau Po .
"Tidak!" sahut Siau kuncu, "Kau obati dulu kakak seperguruanku .
Kesinikan obatnya, biar aku yang memakaikannya!" "Kau selalu berbahasakan aku dan kau, apakah tidak ada sebutan lainnya yang lebih enak didengar ?" goda Siau Po .
Siau kuncu tertawa, Rupanya dia merasa bocah ini lucu sekali .
"Siapa namamu yang sebenarnya" Aku selalu mendengar orang-orang memanggilmu Kui kong-kong!" "Kui kongkong adalah panggilan orang lain," sahut Siau Po .
"Kau sendiri, bagaimana kau memanggilku?" Siau kuncu berdiam diri beberapa saat, Matanya dikedap-kedipkan .
"Di dalam hatiku.,." katanya kemudian "Aku.. .
memanggilmu kakak yang.. .
baik .