Halo!

Kaki Tiga Menjangan Chapter 88

Memuat...

pikirannya bekerja dengan cepat .

"Kalau aku menyerahkan perempuan berpakaian hitam ini kepadanya tentunya perbuatanku ini merupakan sebuah jasa besar Tapi bagaimana dengan Siau kuncu" Apabita rahasia si nona cilik ini bocor, celakalah aku!" "Apakah kau terluka?" tanyanya sembari melompat keluar lewat jendela .

"Da.. .

daku..." sahut pengawal itu .

"Coba aku lihat!" tukas Siau Po sambil maju mendekati orang itu, Dia bukan memeriksa luka siwi itu, malah ia menikam dada pengawal itu .

Hanya satu kali orang itu sempat mengeluarkan seruan tertahan, kemudian nyawanya pun putus .

"Maaf, aku terpaksa melakukannya demi menjaga keselamatan diriku sendiri," kata si bocah dalam hatinya .

Setelah itu, dia masih melihat-lihat keadaan di sekitar kamarnya kalau-kalau masih ada siwi lainnya yang melihat apa yang dilakukannya..Ia menemukan lima sosok mayat Tiga di antaranya adalah para siwi istana tersebut, sedangkan dua lainnya tidak dikenalinya, pasti orang-orang dari pihak pemberontak yang menyerbu .

Siau Po segera memondong seorang pengawal kemudian meletakkannya di bawah kusen jendela, Kepalanya dibiarkan terkulai di bagian dalam, Punggung siwi itu ditikamnya beberapa kali agar terdapat bekas luka .

Kuncu terkejut sekali .

"Dia.. .

adalah orang onghu kami!" katanya marah .

"Mengapa orang yang sudah mati kau tikam lagi dengan pisau?" "Kau tahu apa! Dengan cara ini aku justru menolong kakak seperguruanmu yang bau itu!" sahut Siau Po .

"Kaulah yang bau!" si nona yang terbaring dalam keadaan terluka balas memaki .

Dia tidak senang dikatakan bau oleh Siau Po .

Si bocah nakal tertawa lebar .

"Kau kan tidak pernah mencium aku?" tanyanya .

"Bagaimana kau bisa tahu kalau aku bau?" "Karena di kamar ini ada bau busuk!" kata si nona kembali .

Kembali bocah yang nakal dan banyak akal ini tertawa .

"Sebenarnya kamarku ini baunya harum," katanya .

"Setelah kau masuk kemari, barulah timbul bau tidak sedap ini!" "Hai," Si kuncu menghadang di tengah, "Kalian berdua toh belum saling mengenal" Kenapa datang-datang kalian bertengkar" Ayo, berhenti! jangan mengadu mulut lagi! Suci, kenapa kau bisa datang kemari?" tanya kuncu kepada kakak seperguruannya .

"Apakah kalian ingin menolong aku?" "Kami sama sekali tidak tahu kau berada di sini," sahut nona itu, "Kami tidak berhasil menemukanmu .

Kami sudah mencari kemana-mana .

Karena itulah kami mempunyai dugaan kemungkinan bahwa kau sudah ditawan oleh bangsa Tatcu!" Nona itu hanya sanggup mengucapkan beberapa patah kata itu saja lalu berdiam diri karena kehabisan tenaga .

Siau Po segera berkata .

"Kalau kau sudah kehabisan tenaga dan tidak sanggup bicara lagi, jangan paksakan dirimu untuk berbicara!" "Aku justru mau bicara," teriak si nona memaksakan diri, "Kau mau apa?" "Kalau kau memang sanggup, bicaralah terus," kata Siau Po sambil tersenyum datar, "Lihat orang lain, nona bangsawan, luwes, lemah lembut, beda bagai bumi dan langit dengan kau perempuan galak, cerewet!" "Tidak!" tukas si kuncu cepat "Kau belum kenal suci-ku ini .

sebenarnya dia baik sekali jangan kau sindir dia terus, pasti dia tidak akan marah, Suci, bagian mana yang terluka" Parahkah?" "Dasar ilmu silatnya yang masih cetek," kata Siau Po ikut bicara, "Tidak tahu diri! Berani-beraninya datang menyatroni istana ini .

Sudah pasti dikalahkan dan terluka parah, Tampaknya dia malah tidak akan hidup lebih lama lagi, Tidak sampai besok pagi, mungkin dia sudah berpulang ke alam baka!" "Tidak! Tidak mungkin!" tukas kuncu kembali, "Ka.. .

kak ya,., ng baik, carilah akal untuk menolong suciku!" Si nona yang menjadi kakak seperguruannya Siau kuncu itu justru kesal sekali .

Kegusarannya seakan hampir meledak dalam dadanya .

"Biarkan saja aku mati! Tidak sudi aku ditolong olehnya!" katanya ngotot "Siau kuncu, binatang kecil ini mulutnya jahat sekali, Mengapa kau malah memanggiI.. .

nya dengan sebutan itu tadi?" "Memangnya Siau kuncu memanggil apa padaku?" tanya Siau Po yang semakin senang menggoda nona itu .

Nona itu tidak mau mengulangi panggilan Siau kuncu, dia sengaja berkata dengan sengit .

"Dia memanggilmu si kunyuk kecil!" "Bagus! Bagus! Aku memang si kunyuk kecil, Tapi aku ini kunyuk laki-Iaki, sedangkan kaulah kunyuk betinanya!" Dalam hal bersilat lidah, Siau Po memang ahlinya .

Sejak kecil dia sudah terlatih dalam pergaulannya sehari-hari, baik di rumah pelesiran maupun dengan segala bujang dan kuli setempat .

Mendengar orang bicara sekasar itu, si nona tidak sudi melayaninya lagi, Dia mengatur nafasnya yang masih memburu karena tadi tidak sanggup mengendalikan emosi dalam hatinya, Lagipula dia menahan rasa sakitnya yang terasa berdenyutan .

Setelah si nona berdiam diri, Siau Po mengangkat lilin lalu menghampirinya .

"Mari kita periksa lukanya," katanya kepada Siau kuncu, "Di bagian mana dia terluka?" "Jangan periksa lukaku! jangan periksa Iuka-ku!" teriak si nona yang merasa kesal juga malu .

"Hus! jangan berteriak-teriak!" bentak Siau Po."Apa kau memang ingin suaramu terdengar kemudian diringkus untuk dijadikan istri sekalian para siwi?" Dia tetap membawa lilinnya dan mendekati nona yang terluka itu, Lalu dia menyalakannya .

Wajah nona itu penuh dengan noda darah .

kemungkinan usianya sekitar tujuh atau delapan belas tahun .

wajahnya berbentuk kuaci, Meskipun wajahnya kotor oleh darah, tapi kecantikannya masih kentara jelas .

Diam-diam Siau Po mengagumi keelokan paras si nona .

"Oh, rupanya nona bau ini seorang gadis yang cantik sekali!" katanya .

"Jangan menyindir ciciku, dia memang sangat cantik!" tukas Siau kuncu .

"Kalau begitu," kata Siau Po dengan suara sungguh-sungguh .

"Biar bagaimana aku harus mengambilnya sebagai istri!" Nona itu terkejut setengah mati, Dia berusaha untuk bangun, Tangannya bergerak dengan maksud menghajar mulut si bocah yang ceriwis, Tapi terdengar mulutnya mengeluarkan seruan "Aduh!" karena tubuhnya langsung terguling jatuh dari atas tempat tidur Lukanya yang cukup parah membuat dia tidak sanggup mengendalikan gerakan tubuhnya .

Melihat gadis itu jatuh terguling, Siau Po tidak membantunya bangun tapi malah menertawakannya .

"Jangan terburu nafsu!" katanya, Semakin senang hatinya menggoda gadis itu .

"Kau harus dapat bersabar! Kita belum lagi menjalankan upacara pernikahan, mana mungkin langsung menjadi suami istri" Oh! Lukamu mengeluarkan darah lagi, Lihat, kau mengotori tempat tidurku!" Darah memang masih mengalir dari luka si nona, Hal ini menandakan bahwa lukanya memang tidak ringan .

Tepat pada saat itu terdengar suara langkah kaki dari orang banyak yang mendatangi dengan tergesa-gesa, Kemudian terdengar suara seruan yang mengandung kepanikan .

"Kui kongkong, Kui kongkong! Apakah kau baik-baik saja?" Ketika itu para siwi sudah berhasil mengusir penyerbu .

Mereka segera melindungi Sri Baginda dan Ibusuri serta para selir Raja, juga thay-kam dari tingkat atas, Karena Siau Po adalah thay-kam kesayangan Raja, maka dia juga butuh perlindungan itulah sebabnya belasan siwi langsung mendatanginya untuk menjaga keselamatannya .

Sebelum menjawab pertanyaan para siwi itu, Siau Po berkata terlebih dahulu kepada Siau kuncu .

"Kuncu, naiklah ke atas tempat tidur." Dia langsung mengangkat nona yang terluka itu kemudian menutupi mereka dengan selimut Setelah tu dia juga menurunkan kelambu lalu berkata dengan suara lantang .

"Kalian cepat masuk .

Di sini ada orang jahat!" Nona yang terluka kaget sekali, Dia ingin ber-gerak, tapi tenaganya sudah lemah sekali, Si kuncu ikut khawatir Dia segera berkata kepada Siau Po .

"Jangan bersuara! Nanti ciciku akan kepergok dan tertawan!" Siau Po tertawa .

"Dia toh tidak sudi menjadi istriku, Mengapa aku harus berbuat kebaikan kepadanya?" Pada saat itu, belasan siwi sudah sampai di luar jendela .

"Di sini ada orang jahat!" Salah satu di antaranya berseru, Rupanya tadi dia yang mendengar suara si thay-kam cilik .

Siau Po mengeluarkan suara tertawa .

"Kalian tidak perlu khawatir, atau pun bingung, Barusan memang ada penjahat yang datang kemari, namun aku sudah berhasil merobohkannya!" ia menunjuk kepada mayat penyerbu yang sengaja dicantolkannya pada kusen jendela, Darah mayat itu sampai berceceran mengotori jendela dan lantai kamarnya .

"Aih! Kongkong pasti terkejut sekali!" kata beberapa siwi .

"Tidak! Kui kongkong tidak akan terkejut," sahut seorang siwi lainnya, "llmu silat Kui kongkong tinggi sekali, Dengan sekali gerakan saja, dia berhasil merobohkan seorang penyerbu, Kalau saja tadi ada beberapa orang jahat yang menyatroninya, mereka pasti akan mati juga!" "lya, kongkong memang lihay!" kata beberapa lainnya lagi memuji, Mereka ingin mengambil muka si thay-kam gadungan itu .

"Jasa kongkong besar sekali !" "Aih, tidak dapat dikatakan jasa," kata Siau Po sambil tertawa, "Sebenarnya penjahat itu sampai di kamarku memang dalam keadaan sudah terluka, sehingga dengan mudah aku dapat menghabisinya!" "Sie loliok dan Him loji gugur dalam melaksanakan tugas.,." kata seorang siwi yang menarik nafas panjang pertanda menyesalkan kejadian itu .

Post a Comment