Dia melompat ke jendela untuk mengintai keluar Dia bermaksud kabur lewat jendela itu .
Namun pada saat itulah Siau Po sempat melihat ibu suri merobohkan seorang penghadang yang dikenalinya sebagai salah seorang pengawal istana, karena baju seragamnya terlihat jelas, Dia menjadi heran .
"Ah! Kenapa thayhou membunuh pengawalnya sendiri?" pikirnya diam-diam .
Dia juga melihat thayhou bersembunyi di dalam taman .
Setelah itu, Siau Po juga melihat serombongan orang sedang bertempur dengan sengit tidak jauh dari tempat persembunyian Hong thayhou, Disusul dengan suara teriakan di sana-sini, bocah yang cerdik ini langsung dapat menduga bahwa istana telah kedatangan penyerbu .
"Tangkap pembunuh gelap! Tangkap pembunuh gelap!" demikian suara teriakan yang terdengar olehnya .
Mendengar suara-suara itu, hati Siau Po menjadi lega seketika .
Jadi, bukan dia yang hendak ditangkap, hanya para siwi yang sedang bertempur melawan pemberontak yang datang menyerbu .
Ketika itu Siau Po sempat juga melihat Hong thayhou merobohkan seorang siwi lainnya, Dia melihat pertempuran itu berjalan seru, Setelah si pengawal roboh, thayhou lari kembali, kemudian menghilang di balik kegelapan .
"Para siwi bukan hendak menangkap aku, Mungkinkah mereka mendapat titah Sri Baginda untuk meringkus thayhou?" pikirnya kemudian, "Kalau begitu, aku tidak perlu pergi dulu!" Dia segera menolehkan kepalanya melihat si kuncu, Nona itu duduk di lantai sembari merintih perlahan Dia berjalan mendekati Sekarang hatinya sudah Iega, tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkannya .
"Bagaimana" Apakah kau merasa sakit sekali" jangan membuka suara! Di luar ada orang yang menawanmu!" Kuncu itu takut sekali sehingga dia terus menghentikan rintihannya, Tiba-tiba dari luar kamar terdengar suara seruan seseorang .
"Giginya si anjing kaki hitam ini lihay sekali, sebaiknya kita bergegas mendaki gunung Cong san!" Mendengar suara itu, Si kuncu terperanjat .
"Ah! itulah orang-orang kami!" serunya perlahan "Apa" orang-orang kalian?" tanya Siau Po he-ran .
"Pagaimana kau bisa tahu?" "Kata-kata rahasia yang mereka ucapkan adalah kata sandi keluarga Bhok kami," sahut si nona, Cepat! Cepat! Aku ingin melihat mereka!" "Apakah kedatangan mereka kemari memang untuk menoIongmu?" tanya Siau Po kembali .
"Aku tidak tahu, Apakah ini istana raja?" si nona malah balik bertanya .
Siau Po tidak menjawab, Diam-diam dia berpikir .
"Kalau rombongan penyerbu itu mengetahui kuncu mereka berada di sini, mungkin mereka akan menyerbu ke kamarku ini .
Mana mungkin dengan seorang diri aku melawan mereka yang jumlahnya begitu banyak?" Karena itu dia mengulurkan tangannya membekap mulut si nona sembari berkata: "Kau jangan bicara duIu, Kalau sampai ada orang yang mendengarnya, pasti ada orang lain lagi yang datang ke sini untuk menghajar kakimu yang sebelah lagi, Aku tidak sampai hati melihatnya!" Tiba-tiba terdengar suara teriakan di luar, disusul dengan suara jeritan dan seseorang pun berseru .
"Dua orang pembunuh gelap telah terbunuh!" Ada lagi seruan yang lainnya .
"Sisa kawanan penyerbu melarikan diri ke arah timur! Lekas kejar!" Segera terdengar suara langkah kaki yang ramai berlari serabutan, Suara itu semakin lama semakin jauh .
"Orang-orangmu sudah kabur..." kata Siau Po yang kemudian melepaskan bekapan tangannya pada mulut si nona .
"Mereka bukan kabur," sahut si kuncu, "Tadi mereka mengatakan akan mendaki gunung Cong San, itu artinya mereka hendak mundur untuk sementara waktu." "Lalu apa yang dimaksud dengan anjing kaki hitam?" tanya Siau Po .
"Anjing kaki hitam itu adalah para pengawal Raja." Dari kejauhan masih terdengar sayup-sayup suara perintah-perintah .
Siau Po menduga pastilah para penyerbu itu masih terus diserang atau mungkin sedang dikepung .
Tepat pada saat itulah, terdengar suara rintihan lemah dari luar pintu, Suara seorang perempuan .
"Masih ada pembunuh gelap yang belum sempat kabur," kata Siau Po .
"Biar aku keluar untuk membacoknya dua kali lagi," Siau Po dapat menduga bahwa orang yang ada di luar pintu kamarnya pasti rombongan penyerbu, karena para siwi di istana itu terdiri dari kaum pria .
"Jangan! jangan kau membunuhnya! Mungkin dia salah satu dari anggota keluargaku!" cegah si kuncu .
Dengan berpegangan pada lengan Siau Po, si kuncu berusaha berdiri Dia bertumpu pada bahu bocah cilik itu .
Tanpa menghiraukan pahanya yang sakit, dia melompatlompat dengan kaki kirinya menuju jendela kemudian melongok keluar .
"Apakah langit selatan dan bumi utara?" tanyanya .
Siau Po segera membekap mulut gadis cilik itu sehingga suaranya jadi tertahan .
Dari luar jendela terdengar sahutan seorang perempuan .
"Sebawahannya Kong Ciak-Beng ong, Apakah Siau kuncu di sana?" "Perempuan ini berhasil menemukan tuan putrinya, ini berbahaya sekali," pikir Siau Po .
Dia segera mengangkat pisaunya untuk menimpuk kepala perempuan itu .
Tapi tibatiba tangannya yang membekap mulut si kuncu terlepas karena lengan nya terasa nyeri .
Rupanya si kuncu sudah berhasil mencek lengan kanannya itu sehingga seluruh tubuhny kesemutan dan tenaganya lenyap .
"Apakah suci di sana?" tanya kuncu tersebu pada perempuan yang ada di Iuar .
"Benar," sahut perempuan itu dengan nada keheranan, "Kenapa kau ada di sini?" Belum lagi si kuncu menjawab, Siau Po sudah mendamprat perempuan itu terlebih dahulu .
"Setan alas! Kau sendiri kenapa kau ada di situ?" "Jangan.. .
kau maki dia!" kata si kuncu kepada Siau Po cepat, "Dia adalah suci-ku (kakak seperguruan) Suci.. .
kau terluka, bukan" Eh.. .
eh, lekas cari akal untuk menolongnya! Kakak seperguruanku yang satu ini paling baik terhadapku!" kata si kuncu panik .
Kali ini giliran Siau Po yang tidak sempat memberikan sahutan, sebab perempuan itu sudah menukas .
"Aku tidak sudi ditolong olehnya, Lagipula, belum tentu dia mempunyai kesanggupan untuk memberikan pertolongan!" Siau Po meronta dari cekalan si kuncu, "Perempuan bau!" dampratnya, "Aku tidak sanggup memberikan pertolongan" Hm! Kau budak perempuan yang ilmu silatnya dari golongan kelas sembilan" Asal aku mengeluarkan sebuah telunjukku saja, aku bisa menolong orang sebangsamu sebanyak dua atau tiga puluh orang, mungkin malah lebih!" Pada saat itu dari kejauhan masih terdengar suara teriakan-teriakan .
Tangkap pembunuh gelap! Tangkap pembunuh gelap!" Kuncu cilik mendengar suara-suara itu, dia menjadi bingung sekali .
"Cepat kau tolongi suci-ku itu .
Aku akan memanggilmu tiga kali "Kakak yang baik, kakak yang baik,., kakak yang baik.,.!" Sebetulnya Siau kuncu atau si kuncu cilik tidak suka memanggil Siau Po dengan sebutan itu .
Tapi sekarang keadaan sedang gawat-gawatnya dan dia berusaha membaiki hati Siau Po agar mau menolong kakak seperguruannya .
Siau Po tertawa terbahak-bahak, Dia merasa puas dan gembira sekali .
"Oh, adikku yang baik," katanya, "Adikku, apakah yang kau ingin kakakmu ini lakukan?" Wajahnya si kuncu jadi merah padam, Dia merasa jengah sekali .
"Aku minta agar kau mau menolong kakak seperguruanku itu..." sahutnya dengan terpaksa .
Dari luar jendela, terdengar si perempuan menukas, "Siau kuncu, jangan minta pertolongannya! Bocah itu belum tentu dapat menolong dirinya sendiri dalam marabahaya!" "Hm!" Siau Po mendengus dingin, "Justru karena memandang muka adikmu, aku baru berniat menolongmu Adikku, apa yang telah kita ucapkan, tidak boleh kita ingkar .
Kau meminta aku menolong dia, baik! Aku akan menolongnya .
Tapi kau sendiri, jangan kau ingkari janjimu .
Untuk selama lamanya kau harus memanggil aku kakak yang baik!" "Apa pun aku bisa memanggilmu Aku bisa memanggilmu paman yang baik, kongkong yang baik!" sahut si nona .
Siau Po tertawa lagi .
"Cukup kau memanggilku kakak yang baik!" katanya, "Orang yang memanggilku kongkong, sudah kelewat banyak!" "Ya, ya!" sahut si nona, "Baik! Untuk selama-lamanya aku memanggil kau..." "Kau apa?" goda Siau Po .
"Ka.. .
kak yang baik.,." kata si kuncu sambil mendorong tubuh Siau Po sehingga bocah itu terpaksa melompat keluar jendela .
Seorang perempuan dengan pakaian serba hitam sedang meringkuk di bawah jendela, Kepada nona itu, Siau Po berkata: "Para siwi di istana ini sebentar lagi akan berdatangan Mereka akan meringkusmu kemudian mencincang tubuhmu sampai hancur untuk dijadikan bakso dan dimasukkan ke dalam air mendidih! Eh, mungkin juga kau akan dijadikan bakpao!" "Masa bodoh!" bentak perempuan itu .
"Pasti akan datang orang yang membalaskan sakit hati ku!" "Dasar budak bau! Mulutmu pintar sekali bicara, ya" Bagaimana kalau para siwi itu tidak langsung membunuhmu" Bagaimana kalau mereka membuka dulu seluruh pakaianmu sehingga kau telanjang bulat kemudian mereka semua akan,., akan.,, mengambil kau sebagai istri mereka?" Sembari berkata, Siau Po membungkukkan tubuhnya untuk membopong nona itu, Si nona terkejut setengah mati, Tanpa sadar tangannya melayang untuk menampar pipi bocah tanggung itu .
Untungnya nona itu sudah kehabisan tenaga sehingga Siau Po seperti merasa pipinya sedang dieIus .
Karena itu dia tertawa lebar dan berkata: "Aih! Kau sungguh keterlaluan! Belum lagi menjadi istriku sudah hendak menampar!" Tanpa menunggu jawaban, dia langsung membawa si nona dan melompat ke dalam kamar, Si kuncu cilik gembira bukan main .
Dia menyambut kakak seperguruannya itu kemudian meletakkannya di atas tempat tidur .
Tepat pada saat itu dari luar pintu terdengar suara yang perlahan sekali "Kui.. .
kong.. .
kong, pe.. .
perempuan i.. .
tu tidak dapat ditolong .
Dia a.. .
dalah rombongan.. .
pe.. .
njahat yang ta.. .
di menyer.. .
bu is.. .
tana!" Siau Po terkejut setengah mati .
"ltu suara siwi yang dihajar oleh thayhou tadi .
Rupanya dia tidak mati!" pikirnya dalam hati .
"Siapa kau?" tanyanya untuk meyakinkan dirinya sendiri .
"Aku.. .
adalah salah seorang pengawal dalam istana," sahut orang itu .
Siau Po sudah mendapat kepastian dari keterangan orang itu, Dia juga menduga bahwa siwi itu pastinya sedang terluka parah .