"Benar-benar setan?" tanya Siau Po seakan pada dirinya sendiri Kuncu tadi semakin ketakutan .
Dia yang tadinya berdiri di sisi tempat tidur segera naik ke atasnya, Kepalanya menyusup ke dalam selimut dan bersandar di dada si bocah cilik, Tubuhnya gemetar "Siau Kui cu.. .
Siau Kui cu...." Terdengar panggilan dari luar jendela, Suara seorang wanita .
"Ah! Setan perempuan!" kata Siau Po .
Kuncu tersebut semakin takut Dia merangkul si thay-kam gadungan erat-erat Tibatiba terasa angin berhembus, lilin dalam kamar jadi padam, Tahu-tahu di dalam kamar telah bertambah seseorang yang suaranya terdengar kembali .
"Siau Kui cu... .
Siau Kui cu.. .
Giam Lo ong (raja akherat) telah memanggilmu! Kata Giam Lo ong, kau telah menganiaya Hay kongkong sampai mati." "Aku tidak menganiaya Hay kongkong.,." kata Siau Po tapi hanya dalam hati "Siau Kui cu... .
Giam Lo ong akan meringkusmu!" kata si setan, "Kau akan dilemparkan ke gunung golok dan dimasukkan ke dalam kuali panas! Kau tidak mungkin lolos lagi!" Sampai di situ, hilang sudah perasaan terkejut di hati Siau Po .
sebaiknya dia merasa terkesiap, karena dia mengenali suara wanita itu sebagai suara Hong thayhou .
Baginya, ibu suri ini justru lebih menakutkan dari setan mana pun, sebab Hong thayhou bisa merenggut nyawanya dengan mudah! Tadinya perasaan Siau Po sudah agak tenang, Dia mengira Hong thayhou sudah percaya sepenuhnya kepada dirinya karena sudah sekian lama tidak pernah mengambil tindakan apa-apa .
Dia juga mempunyai dugaan bahwa ibu suri tidak berani mencelakainya karena dia sangat disayang oleh Sri Baginda .
Padahal, alasan mengapa ibu suri selama ini tidak melakukan tindakan apa-apa, adalah karena harus merawat lukanya yang cukup parah akibat bentrokan dengan Hay kongkong tempo hari .
Dia juga penasaran mengapa si bocah tidak mati oleh pukulan Hay kongkong yang lihay itu .
Karena itu pula dia menduga tenaga dalam si thay-kam cilik sudah mencapai taraf yang tinggi sekali, sedangkan untuk membunuh si bocah, selama lukanya belum sembuh, ibu suri enggan menggunakan tangan orang lain .
Kalau saja dia mau menggunakan tenaga orang lain, dia tinggal mengeluarkan perintahnya dan bereslah sudah .
Malam ini tiba saatnya bagi Hong thayhou untuk menghabisi duri dalam mata yang satu ini .
sebetulnya dia belum sehat betul, tapi dia tidak bisa bersabar lebih lama, itulah sebabnya dia mendatangi kamar si thay-kam cilik dan membongkar jendelanya .
Sama sekali tidak terbayangkan oleh ibu suri bahwa di dalam kamar itu ada orang lainnya.. .
Tenaga dalam sudah dikerahkan pada lengan kanannya, setindak demi setindak thayhou berjalan mendekati tempat tidur .
Kepandaiannya tidak terpaut jauh dengan Hay kongkong, Dapat dibayangkan apabila serangannya mencapai sasaran! Siau Po sendiri diam-diam sudah mempertajam pandangan matanya, Meskipun keadaan di dalam kamar remang-remang, namun dia bisa melihat gerak-gerik ibu suri .
Dia tidak berani mengadakan perlawanan juga tidak terpikir olehnya untuk melarikan diri, Mungkin karena dia merasa sia-sia .
Dia hanya menggeser tubuhnya agar tertutup oleh kasur .
Tapi karena tubuhnya bergerak, otomatis tubuh si kuncu cilik ikut tergeser juga .
Thayhou segera melancarkan serangan .
Dia tidak ingin kepalang tanggung dalam turun tangan Namun Siau Po tidak terhajar telak, Hanya ada sedikit nyeri yang dirasakannya, Tubuhnya pun sudah bergeser dari tengah-tengah tempat tidur .
Thaybpu masih belum puas, Dia tidak mendengar suara apa pun dan juga tidak bisa melihat keadaan musuhnya, Dia segera melancarkan serangan untuk kedua kalinya .
Tepat ketika dia meluncurkan tangannya, di saat itu juga Hong thayhou mengeluarkan seruan terkejut namun perlahan Dalam waktu yang bersamaan dia merasa sakit juga heran .
Tinjunya seakan mengenai benda yang tajam .
Sambil menjerit dia mencelat ke belakang! Tepat pada saat itu juga, di luar kamar terdengar suara teriakan-teriakan gaduh .
"Ada pembunuh gelap! Ada pembunuh gelap!" Hati thayhou benar-benar tercekat "Mengapa ada orang yang tahu perbuatanku?" tanyanya dalam hati .
Dengan gesit dia melompat keluar lewat jendela .
Dia adalah seorang ibu suri, meski para bawahannya sendiri sekalipun, tidak boleh ada seorang pun yang memergokinya .
Dia kabur tanpa sempat mencari tahu apakah Siau Po masih hidup atau sudah mati .
Dia juga dibingungkan oleh rasa nyeri di tangannya .
Tepat di saat ibu suri melompat keluar dan kakinya belum sempat menginjak lantai, tiba-tiba ada seseorang yang menyerangnya, Dia terkejut namun cukup waspada .
Matanya juga sempat melihat sehingga kedua belah tangannya segera menangkis datangnya serangan bokongan itu, Akibatnya penyerang itupun terhajar mundur .
Di saat thayhou masih kebingungan dari kejauhan terdengar orang berteriak .
"Pasukan pertama dan kedua melindungi Sri Baginda! Pasukan ketiga kanan lekas melindungi thayhou! Ingat, jangan sampai ada yang meninggalkan pos masing-masing!" Menyusul itu, dari sebelah kanan di mana terdapat gunung-gunung buatan terdengar lagi teriakan .
"Awas! Di sini ada orang jahat! Dia ingin mencelakai Kui kong kong!" Thayhou segera mengetahui bahwa teriakan teriakan itu merupakan suara dari para siwi atau pengawal istana, Dia tidak ingin dipergoki oleh mereka .
Lekas-lekas dia melompat ke taman untuk bersembunyi di antara pepohonan bunga .
Dia bingung sekali karena tangannya terasa sakit sekali Dari sana dia dapat menonton serombongan orang yang tengah bertempur sengit juga terdengar bentrokan senjata tajam yang nyaring dan bising .
"0h.. .
Rupanya ada pemberontak yang menyerbu istana!" pikir Hong thayhou, "Entah mereka ini antek-anteknya Hay kongkong atau Go Pay?" Thayhou hanya menduga tentang kemungkinan salah satu di antara kedua orang tersebut .
Dari kejauhan masih terdengar suara-suara teriakan .
Kali ini diiringi munculnya sinar obor serta lentera di sana-sini yang semuanya mendekati arena pertempuran .
"Ah! Kalau aku tidak cepat-cepat kembali ke istanaku, pasti aku akan celaka," pikir ibu suri kemudian Dia pun langsung berjalan dengan mengendap-endap lalu lari menuju kamarnya .
Baru beberapa tombak dia berlari, tiba-tiba ada sesosok bayangan yang menghadangnya .
Sambil membentak orang itu lantas melancarkan serangan .
"Pemberontak! Berani kau menyerbu istana?" Thayhou menggeser tubuhnya, tangan kanannya bersikap menangkis sedangkan tangan kirinya menghantam ke pundak penyerangnya itu .
Si penyerang menghindarkan diri, Dia menggunakan sebatang senjata yang mirip dengan garpu raksasa, Dia balas menyerang kembali sehingga kali ini giliran Hong thayhou yang harus mengelakkan diri .
Dengan demikian terjadilah pertempuran yang sengit di antara mereka berdua .
Thayhou bingung juga jengkel Siwi yang satu ini lihay sekali, ia sanggup melayani ibu suri sebanyak dua puluh jurus lebih, Malah dia sempat membentak: "Oh! Kiranya pemberontak perempuan! Bagaimana kau begitu berani mati menyerbu ke dalam istana?" Thayhou sadar, untuk merobohkan siwi itu setidaknya dia memerlukan tiga puluhan jurus lagi, sedangkan dia tidak menginginkan hal itu terjadi, karena penundaan waktu merupakan bencana baginya .
Bagaimana kalau para siwi yang lainnya sempat berdatangan" Celakalah kalau dia sampai terkurung .
Rahasianya pasti akan terbongkar .
Pada saat itu dia melihat kurungan ke arah dirinya semakin merapat .
"Hei, budak celaka" akhirnya dia memutuskan untuk membuka suara .
Dia sadar bahwa dia tidak dapat melayani siwi itu bertempur lebih lama lagi, Dia juga sengaja tidak merubah suaranya .
Bukan main terkejutnya hati si pengawal Dia membatalkan penyerangannya sambil mencelat ke belakang sejauh dua tindak .
"Apa katamu?" tanyanya bimbang, Dia merasa kenal dengan suara itu, tapi dalam keadaan gelap dia tidak dapat melihat dengan jelas .
"Aku ibu suri!" bentaknya sambil melancarkan serangan dengan menggunakan kesempatan ketika si pengawal sedang tertegun, Orang itu pun segera terjengkang roboh dengan nyawa melayang .
Demi keselamatan dirinya sendiri, thayhou terpaksa menurunkan tangan kejam, Setelah itu, di langsung melarikan diri ke kamarnya .
Sementara itu, Siau Po masih merasa terkejut karena hajaran thayhou tadi membawa rasa sakit tapi kesadarannya masih utuh dan untung saja dia ingat untuk membela dirinya sendiri .
Menjelang saat-saat genting, dia mengeluarkan pisau belati dan kemudian mengangsurkan pisau tersebut ke atas menembus kasur .
Sungguh kebetulan, tepat pada saat itu tinjunya ibu suri datang menyambut pisau tersebut .
Karena itulah Hong thayhou sampai terkejut kesakitan dan langsung lari pergi .
Apalagi dalam waktu yang bersamaan terdengar suara-suara teriakan yang gaduh, sedangkan pisau Siau Po sempat menembus telapak tangannya dari sisi yang satu ke sisi yang lainnya .
Kepergian Hong thayhou menguntungkan Siau Po, kalau tidak, dia tentu akan terus terancam bahaya, Cepat-cepat dia menyingkap kasur dan seIimutnya .
sekarang dia juga dapat mendengar dengan jelas suara berisik di luar .
Namun dia masih belum mengerti apa yang telah terjadi .
"Celaka, thayhou pasti mengirim orang untuk menangkapku!" Hal inilah yang pertama-tama teringat olehnya .
"Cepat kita lari!" katanya kepada si kuncu cilik .
Tapi nona itu malah menangis .
"Aduh! Aduh!" keluhnya .
Rupanya pukulan Hong thayhou yang mengenai pinggang Siau Po sempat menyerempet si kuncu cilik, Dia merasa sakit sekali, namun saking takutnya sejak tadi dia diam saja .
Setelah mendengar kata-kata Siau Po, dia baru berani mengeluarkan suara .
"Kenapa kau?" tanya Siau Po terkejut sekaligus heran, Dia menarik leher baju nona cilik itu untuk membangunkannya, "Mari kita lari secepatnya! Cepat!" Tubuh kuncu itu tertarik bangun, tapi sebelum sempat menginjak lantai, dia terjatuh kembali sehingga kembali dia merintih kesakitan Pahanya terasa nyeri sekali Dia tidak sanggup berdiri .
"Pahaku sakit!" katanya kemudian "Tulang pahaku mungkin patah." Siau Po menjadi kebingungan "Setan alas! Celaka!" serunya sambil mendamprat "Kenapa tulangmu justru patah pada saat seperti ini" Aih! PerduIi amat! Yang penting aku harus menyingkir dari sini!" katanya dalam hati .