Si nona tertawa .
"Aih! Hampir saja aku kena kau kelabui lagi! Begitu aku membebaskanmu, tentu kau akan melarang aku pergi," katanya .
"Tidak, tidak akan!" sahut Siau Po .
"Kalau seorang laki-Iaki sudah mengeluarkan kata-kata-nya, entah kuda apa pun tidak bisa mengejarnya!" "Empat ekor kuda sulit mengejarnya!" kata si nona membetulkan "Mana ada kuda apa yang tidak bisa mengejarnya?" "Tapi kuda yang kumaksudkan ini lebih cepat dari keempat kudamu!" kata Siau Po berkeras .
"Kalau kudaku saja tidak dapat mengejar, apalagi ke empat ekor kudamu itu." Si nona tersenyum, Dia tidak mengerti apa yang dimaksud dengan "kuda apa pun", karena itu dia lalu menatap Siau Po lekat-lekat kemudian berkata .
"Baru kali ini aku mendengar kalimat kuda apa pun tidak bisa mengejarnya." "ltulah sebabnya aku mengajari kau hari ini," kata Siau Po yang kecerdikannya luar biasa itu .
Dia juga nakal sekali dan suka bergurau "Hari ini aku ingin menyenangkan hatimu, Barang mainan ini indah sekali, terdiri dari sepasang jantan dan betina." "Apakah itu sepasang kelinci ?" tebak si nona cilik yang semakin penasaran dan tertarik .
Siau Po menggelengkan kepalanya .
"Bukan! Tentunya lebih menarik sepuluh kali lipat daripada kelinci!" "Mungkinkah ikan mas?" tanya si nona lagi, Dia semakin ingin tahu .
Sekali lagi Siau Po menggelengkan kepalanya .
"Apa sih?" tanya si nona .
Dia bingung sekali, Disebutnya beberapa jenis binatang dan benda lain nya, tapi Siau Po tetap menggelengkan kepalanya .
"Ayo, keluarkanlah!" kata si nona akhirnya, Di merasa kewalahan "Barang apa sih sebetulnya yang kau beli?" "Cepat kau bebaskan dulu diriku," kata Siau Po "Setelah bebas, aku akan perlihatkan kepadamu!" "Tidak bisa!" kata si nona cilik sambil menggelengkan kepalanya, "Sekarang juga aku akan meninggalkan tempat ini, Sudah lama kakakku tidak melihat aku, pasti dia khawatir dan bingung sekali!" Siau Po menatap gadis cilik itu lekat-lekat .
"Kau mengatakan bahwa kau telah bebas, bukan" Kau juga mengatakan akan meninggalkan tempat ini" Nah, mengapa kau tidak pergi dari tadi saja" Mengapa harus menunggu sampai aku pulang?" "Kau baik sekali terhadapku .
Kau ingin membelikan aku barang permata, Karena itu, aku harus mengucapkan terima kasih kepadamu, Dan aku harus pamitan kepadamu, Kalau aku pergi begitu saja, bukankah aku bisa dikatakan tidak tahu sopan santun dan tidak menghargaimu sama sekali?" Mendengar ucapan si nona cilik, Siau Po segera berpikir dalam hati .
"Ah, dasar nona toloI! Kalau aku mengatakan keluarga Bhok itu keluarga kayu, perkiraanku memang tidak salah, Nama keluarga mereka salah!" Meskipun dalam hati dia berpikir demikian, namun mulutnya berkata lain: "Kau tahu, aku mencemaskan keadaanmu, sepanjang jalan aku tidak dapat tenang, Aku terburu-buru memasuki toko-toko emas intan untuk mencari barang yang aku inginkan, Di beberapa toko, barang itu tidak ada .
Aku menjadi bingung karena sudah terlalu lama di luaran, Ketika sudah mendapatkannya, aku berlari-lari pulang, sampai aku tersandung jatuh beberapa kali." "Oh!" seru si nona cilik .
"Kau tentu merasa kesakitan, bukan?" Siau Po sengaja meringis .
"Sekali aku terjatuh sehingga dadaku kebentok kayu," sahutnya, "Ketika itu aku merasa bukan main sakitnya...." "Apakah sekarang kau masih merasa sakit?" tanya si nona .
Siau Po mengeluarkan suara mirip erangan .
"lya, sekarang aku masih merasa sakit," sahutnya .
"Kau menotok jalan darahku dan membuat aku ih, rasa, nyerinya semakin bertambah, Kau.,., aku,.,." suaranya semakin perlahan, nona cilik itu memperhatikannya, Dia melihat Siau Po seperti benar-benar kesakitan .
Tiba-tiba dia melihat sepasang mata bocah itu membelalak ke atas, sehingga yang tampak hanya bagian yang putihnya saja, Kemudian mata itu dipejamkan rapat-rapat dan orangnya pun diam saja, Tampaknya bocah cilik itu hampir jatuh pingsan .
Si putri bangsawan itu terkejut sekali melihat keadaan Siau Po .
"Eh.. .
kau.. .
kenapa?" tanyanya gugup, "Apakah.. .
kau merasa sakit sekali?" Dengan suara yang lemah sekali, Siau Po menjawab "Mungkin a.. .
ku akan ma.. .
ti .
Tapi.. .
aku tidak takut, Hanya ada satu hal yang mencemaskan hatiku, mem.. .
buat perasaanku tidak tenang..." "Apa itu?" tanya si nona, "Katakanlah!" "Tempat ini sangat berbahaya," kata Siau Po yang seakan memaksakan dirinya untuk berbicara: "Kalau aku mati, tidak ada orang yang membantumu .
Kau tahu, ada orang-orang yang ingin menawanmu, mereka hendak membunuhmu..." "Kau tidak akan mati," kata si nona, "Kau tidurlah, sebentar kau akan sehat kembali Aku akan pergi sekarang!" "Tapi.. .
aku sukar ber.. .
nafas.,." sahut Siau Po, suaranya demikian lemah, Tampaknya dia sedih sekali, Nafasnya tertahan .
Nona Bhok lantas mengulurkan tangannya ke depan hidung bocah itu .
Dia terkejut sekali karena tidak merasakan hembusan nafas .
"Oh!" serunya tertahan, Air matanya langsung menetes keluar .
Diam-diam Siau Po melirik .
Dia melihat keadaan si nona dan mendengar isak tangisnya, Dalam hati dia malah menertawakan, "Dasar nona kelas sembilan! Tampaknya dia belum pengalaman sama sekali..." "Apakah kau pingsan?" tanya si nona, "Kau tidak boleh mati!" Siau Po menatap si nona dengan sinar mata sayu .
"Kau tidak boleh mati!" seru si nona cilik sekali lagi .
"Tapi.. .
kau menotok.. .
jalan da.. .
rah yang salah," kata si bocah dengan suara lemah, "Ta.. .
hukah kau, yang.. .
kau to.. .
tok itu jalan.. .
darah ke.. .
matianku?" Kuncu cilik itu tampak terkejut setengah mati .
"Tidak mungkin!" katanya bingung, "Kau tidak mungkin mati! Aku tidak mungkin salah menotok! Ajaran guruku tidak mungkin keliru! Kau, tahu barusan aku menotok kedua jalan darah Leng Hi dan Pou Long, kemudian aku juga menotok jalan darah Thian ti di tubuhmu." "Tapi, kau sedang bingung, pikiranmu sedang ka.. .
lut," sahut Siau Po .
"Karena pikiranmu bingung dan kacau, kau.. .
salah menotok, Aduh! Rasanya,., da.. .
rahku.. .
bergolak.. .
aduh!" "Apakah jalan darahmu tersesat?" tanya si non cemas .
"Ya,., ter.. .
sesat!" sahut Siau Po tersendat sendat "Aih!.. .
ilmu menotok.. .
mu be.,.lum sem purna, Kenapa kau.. .
sembarangan me.. .
notokku Kau bukan menotok.. .
jalan darah Thian ti dan Po long, tapi ja.. .
lan darah kematianku yang kau totok!" Sebetulnya Siau Po tidak tahu nama-nama jala darah, dia hanya meniru kata-kata si nona cilik saja .
Untungnya si nona cilik juga belum begitu paham semua jalan darah, jumlahnya memang banyak sekali sehingga timbul kesangsian dalam hati si gadis cilik bahwa ada kemungkinan memang dia sudah salah menotok .
"Aih!" serunya kemudian, "Mungkinkah aku telah menotok jalan darah Tan tiong?" "lya, tidak salah lagi!" kata Siau Po cepat, Tapi.. .
kuncu,., sudahlah, Kau tidak perlu khawatir atau menyesal Aku tidak menyalahkan engkau .
Aku tahu kau tidak sengaja menotokku, Niatmu baik, Kalau aku sudah mati nanti, dan ditanyakan oleh penjaga Akherat, aku tidak akan mengatakan bahwa kau yang menotokku sampai mati, Aku akan katakan bahwa aku menotok diriku sendiri!" Kuncu cilik itu tercekat hatinya ketika mendengar Siau Po menyebut-nyebut penjaga akherat, tapi di samping itu dia juga agak lega mendengar bocah itu berjanji tidak akan menyeret-nyeret dirinya .
"Begini saja," kata si nona cepat, "Nanti aku akan menotokmu lagi untuk membebaskanmu, Aku harap akan berhasil.." Benar saja, nona bangsawan itu segera meraba-raba dada Siau Po kemudian menotok beberapa kali, Juga bagian iga dan bawah ketiaknya .
Siau Po merintih .
"Aih, jalan darahku sudah tertotok, Pasti jiwaku tidak bisa tertolong lagi," katanya .
"Belum tentu," sahut si nona, "Aku menyesal telah salah menotokmu." "Aku tidak menyalahkan engkau, Aku tahu kau baik hati, Kalau aku sudah mati nanti, dari alam baka aku akan melindungimu dari pagi sampai malam, arwahku akan selalu mengikutimu Aku bisa mencegah apabila ada orang yang akan mencelakaimu Si nona semakin tercekat hatinya, dia jadi bingung sekali .
"Apa katamu?" tanyanya menegaskan "Arwahmu akan mengikutiku terus?" "Jangan takut, kuncu," kata Siau Po .
"Arwahku tidak akan mengganggumu, Hanya ada satu hal yang harus kau ketahui, siapa yang membunuhmu, setan-ku akan terus mengikutinya." .
Si nona masih bingung .
"Sesungguhnya aku tidak berniat menceIakaimu...." Siau Po menarik nafas panjang .
"Kuncu, sebenarnya siapakah namamu?" tanyanya kemudian .
"Untuk apa kau menanyakan namaku?" tanya si nona cilik dengan menatap tajam pada Siau Po .
"Apakah kau ingin menuntutku di akherat nanti" Tidak! Aku tidak akan memberitahukan namaku kepadamu!" "Kalau aku tahu siapa namamu, di akherat nanti aku bisa memberikan keterangan," sahut Siau Po "Di sana aku akan memohon para iblis untuk melindungimu! Di sana ada setan-setan yang mati gantung diri! Ada setan yang tadinya pendeta, juga ada setan tanpa kepala! Akan kusuruh mereka mengiringi kau setiap waktu!" Si nona jadi ketakutan mendengar kata-katanya .
"Tidak! Tidak!" serunya .
"Aku tidak sudi diikuti mereka!" "Habis bagaimana?" tanya Siau Po .
"Bagaimana kalau yang mengikutimu hanya satu setan saja?" Nona cilik itu bimbang beberapa saat, "Kau.. .
kau..." katanya kemudian .
"Kalau kau yang mengikutiku, asal kau berjanji tidak akan membuat aku kaget..." "Sudah pasti aku tidak akan membuat kau kaget janji Siau Po .
"Siang hari di saat kau duduk.. .
duduk, aku akan menemanimu mengusir lalat .
Di malam hari kalau kau sedang tidur, aku akan membantumu membasmi nyamuk yang nakal, Kalau kau sedang kesal atau berduka, arwahku akan mengirimkan mimpi tentang dongeng yang menarik agar hatimu terhibur." "Mengapa kau memperlakukan aku begini baik?" tanya si nona sambil menarik nafas panjang, "Kalau demikian, lebih baik kau jangan mati..." "Dalam satu hal kau telah berjanji padaku..." kata Siau Po .
"Kalau kau tidak menepatinya, bukankah aku bakal mati dengan mata melek?" "Apa itu?" tanya si nona cilik, "Apa yang telah kujanjikan kepadamu." "Kau pernah berjanji akan memanggil aku kakak yang baik sebanyak tiga kali," sahut si bocah .