Kali ini ia berjalan dengan tenang kembali ke ruangan dalam, di mana perjamuan sedang berlangsung .
"Tidak salah!" pikir Siau Po .
"Pasti dia menyembunyikan kitab itu di atas genting, Lain kali kalau ada kesempatan dia bisa mengambilnya kembali Hm! Tidak semudah yang kau bayangkan, sobat!" Siau Po menunggu lagi beberapa saat sampai dia yakin Goan Kay sudah pergi jauh, Setelah itu baru dia keluar dari tempat persembunyiannya dan bergegas naik ke atas genting untuk mencari kitab itu, Dia berusaha keras mengira-ngira di mana Goan Pay menyembunyikannya seperti tadi dia mendengar suaranya dari bawah .
Setelah menyingkap belasan potong genting, akhirnya Siau Po berhasil mendapatkan bungkusan yang berisi kitab Si Cap Ji Cin-keng tersebut .
Dia ambil bungkusan itu dan kemudian merapikan kembali genting-genting yang terbuka, Malam itu cuaca cukup gelap, keadaan di sekitar hanya remang-remang .
"Mengapa kitab ini demikian berharga sehingga banyak orang yang menginginkannya?" pikirnya dalam hati, "Mula-mula si kura-kura tua, lalu ibu suri, Ada lagi Go Pay, Kong Cin ong dan sekarang si orang she Ci! Kalau aku sekarang tidak mengambilnya, aku pantas disebut orang tolol! Percuma aku she Wi!" Dia segera membuka bungkusan itu dan lalu memasukkan kitab tersebut ke dalam sakunya, Karena dia mengenakan jubah yang longgar, dari luar tidak kentara kalau dia menyembunyikan sesuatu, Bungkusannya sendiri dilemparkan ke atas pohon, lalu cepat-cepat dia kembali ke ruangan besar untuk mengikuti perjamuan yang masih berlangsung .
Pesta masih dilanjutkan Demikian pula orang-orang yang berjudi, mereka masih asyik dengan permainan itu, pertunjukan sandiwara juga masih berlangsung dan sang wanita masih bernyanyi terus." "Apakah peran wanita yang menyamar sebagai biarawati itu?" tanya Siau Po kepada So Ngo-tu .
Orang yang ditanya tertawa .
"Dalam cerita dikisahkan bahwa biarawati itu merindukan seorang pria, Dia bermaksud melarikan diri ke bawah gunung untuk menikah dengan pria pujaannya, Kau lihat, bukankah wajahnya menyiratkan kalau dia sedang dirundung asmara?" Berkata sampai di situ, tiba-tiba So Ngo-tu menghentikan kata-katanya .
Dia teringat bahwa yang diajaknya berbicara adalah seorang thay-kam, Thay-kam itu seperti juga sebangsa pendeta yang tidak suka membicarakan soal perempuan .
"Cerita itu tidak menarik .
Nanti aku pilihkan sebuah kisah yang bagus untuk kongkong!" katanya kemudian .
Mereka berdua telah mengangkat saudara, tapi hal ini masih dirahasiakan itulah sebabnya di depan umum mereka tetap saling menyebut dengan formalitas .
Selesai berkata, So Ngo-tu memerintahkan pada tukang cerita untuk mengganti pertunjukannya dengan kisah "Nge Koan Lau", cerita tentang Lie Cun-houw yang memukul harimau .
Setelah selesai, pertunjukan diganti lagi dengan "Ciong Hiok menikah" .
Seru sekali jalan ceritanya di mana kelima pembantu si Raja setan bertempur dengan sengit .
Siau Po bertepuk tangan dan berseru menyatakan pujiannya, Setelah itu dia menambahkan: "Aku harus segera kembali ke istana, Maaf kalau aku tidak dapat menonton lebih lama lagi." Ketika dia menoleh, dilihatnya Ci Goan-kay sedang bermain teka-teki tangan dengan asyiknya bersama dua orang pengawal justru saat itu terdengar Ci Goan-kay bertanya .
"Sin Ciau siangjin, di mana orang she Long tadi?" "Sudah agak lama juga aku tidak melihat, kemungkinan dia sedang keluar.,." sahut beberapa pengawal lainnya .
Sin Ciau siangjin lantas tertawa .
"Orang itu tidak tahu kebaikan orang, Mungkin dia malu berada di sini lama-lama," katanya .
"Betul .
Kemungkinan dia sudah menyingkir dari sini, Sikap orang itu mencurigakan dan dia juga dikenal licik, bisa jadi dia mencuri sesuatu..." kata Ci Goan-kay .
"Mungkin saja," sahut seorang pengawal lainnya .
"Orang she Ci ini sungguh cerdik, cara kerjanya juga sempurna, Belum apa-apa dia sudah menimpakan kesalahan kepada orang lain, Kalau kitab itu ketahuan hilang, tentu orang she Long itulah yang akan dicurigai Apalagi kalau pelayan itu diketemukan sudah jadi mayat, Bisa jadi mereka menduga si Long yang membunuhnya .
Cara kerjanya orang she Ci ini bagus sekali .
Lain kali bila aku ingin melakukan sesuatu, aku harus mencari kambing hitamnya dulu," pikir Siau Po dalam hati .
Karena malam sudah mulai larut, Siau Po pun segera memohon diri pada tuan rumah .
Kong Cin ohg tahu thay-kam cilik ini bisa di kunci dari dalam apabila pulang terlalu malam .
Karena itu dia tidak menahannya lagi .
Dia hanya tertawa dan mengantarkan Siau Po sampai di depan pintu .
Go Eng-him dan So Ngo-tu serta yang lainnya juga ikut mengantarkan .
Ketika Siau Po naik ke atas joli .
Yo Ek-ci segera menghampirinya .
"Kongkong, tuan muda kami menghadiahkan barang yang tidak berharga ini .
Harap kongkong sudi menerimanya." Siau Po tertawa .
"Terima kasih!" katanya sembari menerima bungkusan itu, "Yo toako, kita baru pertama kali bertemu, tetapi hubungan kita sudah seperti sahabat lama, Senang rasanya aku bergaul denganmu, Kalau aku menghadiahkan uang untukmu, mungkin kau akan merasa terhina, Karena itu, sebaiknya lain kali aku mentraktirmu saja!" Yo Ek-ci tertawa, Dia senang sekali mendengar ucapan Siau Po .
"Kongkong sudah menghadiahkan aku seribu enam ratus tail, apakah itu masih belum cukup?" "ltu kan hadiah dari orang lain, tidak masuk hitungan!" tukas Siau Po dengan cepat .
Tidak lama kemudian joli itu sudah sampai di depan istana, Siau Po segera membuka bungkusan yang diserahkan Yo Ek-ci .
Dia sudah tidak sabar ingin mengetahui isinya, isinya tiga kotak yang diberi tali emas, Kotak pertama berisi sebuah ayam-ayaman dari batu kumala hijau, semuanya terdiri dari sepasang, buatannya halus sekali, Kotak kedua berisi dua renceng mutiara, Memang mutunya tidak sebagus yang dia tumbuk buat si kuncu cilik, tapi ukurannya sama, jumlahnya dua ratus butir .
"Aku berbohong pada si kuncu akan membeli mutiara guna meracik obatnya, Siapa sangka Go Eng-him benar-benar menghadiahkan mutiara untukku sehingga dustaku menjadi kenyataan Tentu si kuncu jadi percaya karenanya," pikirnya dalam hati .
Kemudian dia membuka kotak yang ketiga, Ternyata isinya dua puluh lembar cek yang nilainya masing-masing sepuluh tail uang emas, jumlahnya jadi dua ratus tail uang emas, sedangkan cek itu tertera toko emas Ju Liong Seng yang sangat terkenal di kotaraja .
Untung saja pintu istana belum dikunci .
Siau Po langsung kembali ke kamarnya, Setelah memalang pintu kamarnya, dia menyulut lilin lalu menyingkap kelambu .
"Tentu kau sudah tidak sabar menunggu kepulanganku," katanya sambil tertawa, Dia melihat si nona cilik itu masih berbaring tanpa berkutik sedikit pun .
Mulutnya masih tersumpal kue yang belum dimakannya, dia segera mengeluarkan dua renceng mutiaranya yang indah, Sembari tertawa dia berkata kembali: "Kau lihat, aku membelikan kau dua renceng mutiara yang sangat indah, Nanti aku akan menumbuknya untuk dijadikan bedak agar wajahmu sepuluh kali lipat lebih cantik dari sekarang, Kau akan menjadi nona yang tercantik di kolong langit ini! Kalau gagal, a.. .
ku bukan orang she Kui lagi, Wah, aku sampai lupa .
Kau lapar tidak" Kenapa kau tidak makan kue itu" Mari, aku bantu kau agar bisa bangun dan duduk...." Tiba-tiba kata-kata Siau Po terhenti .
Dia mengeluarkan seruan tertahan, sebab mendadak tulang rusuknya terasa seperti kebal dan disusul dengan rasa nyeri di dadanya .
"Aduh!" Dia menjerit saking kagetnya, Kemudian dia merasa seluruh tubuhnya menjadi lemas .
Lututnya terkulai dan dia pun roboh ke depan pembaringan Dia merasa tidak mempunyai tenaga sehingga tidak dapat berkutik sama sekali .
Tiba-tiba terdengar si kuncu tertawa sambil menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya .
Kemudian dia turun dari tempat tidur dan berkata .
"Jalan darahku sudah bebas! Sudah cukup lama aku menantikan kepulanganmu! Kenapa kau baru datang sekarang?" Siau Po heran .
"Siapa yang membebaskan jalan darahmu?" tanyanya tanpa menjawab pertanyaan si nona .
"Tentu saja bebas sendiri!" sahut si nona cilik .
"Setelah kau membebaskan jalan darah gaguku, maka jalan darah yang lainnya juga akan bebas setelah waktunya sampai .
Aku tidak membutuhkan pertolonganmu lagi sekarang, Aku akan membantumu naik ke atas tempat tidur agar bisa berbaring dengan enak, Aku sendiri akan meninggalkan tempat ini...." Siau Po terperanjat setengah mati .
"Tidak bisa!" katanya cepat, "Kau belum boleh pergi, Wajahmu belum pulih secara keseluruhan .
Kau masih membutuhkan obat agar dapat sembuh dari lukamu dan bersih kembali seperti sediakala!" Si nona tertawa geli .
"Kau memang manusia licin dan busuk!" katanya .
"Kau pintar membohongi orang! Kapan kau mengukir wajahku" Tadinya aku memang kaget dan ketakutan mendengar kata-katamu yang ternyata hanya bualan belaka!" "Oh, bagaimana kau bisa tahu?" tanya Siau Po semakin bingung .
"Tadi aku sudah turun dari tempat tidurku dan bercermin," sahut si nona cilik .
"Ternyata di wajahku tidak ada ukiran apa pun...." Siau Po memperhatikan wajah si nona yang memang sudah tampak putih bersih .
Dia merasa menyesal .
"Dasar aku yang teledor," katanya, "Kenapa aku tidak memeriksa wajahmu terlebih dahulu" Kalau tidak, mana mungkin aku kena ditipu olehmu, Bila demikian halnya, buat apa aku pergi membeli mutiara yang begitu mahal" Kau lihat, aku sudah menjelajahi seluruh kota untuk mencari barang-barang ini, Selain kalung mutiara, aku juga membeli sepasang barang mainan lainnya!" Si nona cilik masih kekanak-kanakan, mendengar barang mainan hatinya jadi tertarik .
"Barang mainan apa?" "Kau bebaskan dulu jalan darahku, Nanti aku perlihatkan kepadamu," sahut Siau Po .
Dia memang ditotok oleh si nona sehingga tidak dapat berkutik sama sekali .
"Baik!" sahut si nona cilik yang langsung mengulurkan tangannya, Tapi tiba-tiba dia menghentikan karena sinar matanya bertemu pandang dengan bola mata Siau Po yang jelalatan sehingga kecurigaannya jadi timbul .
Siau Po tidak mengerti mengapa si nona tak jadi membebaskan jalan darahnya, Dia memperhatikan gadis cilik itu lekat-Iekat .