"Terima kasih apa" Kau sebenarnya anak kura kura!" maki Siau Po dalam hati .
Kong Cin ong sendiri sebetulnya merasa tidak enak hati melihat Sin Ciau siangjin dan yang lainnya menjatuhkan topi para pengawal dari Inlam .
Dia khawatir Go Eng-him bakal tersinggung, Tetapi untuk meminta maaf, dia merasa gengsi Biar bagaimana dia lebih tua ketimbang anak muda itu dan kedudukannya setingkat dengan ayahnya .
Karena itu pula, dia senang melihat tindakan Siau Po yang sesuai dengan keinginan hatinya, Dia menggunakan kesempatan yang baik itu untuk berkata .
"Mana orang" Cepat hadiahkan lima puluh tail perak kepada masing masing pengawal Go sicu! juga masing-masing lima puluh tail untuk orang-orang kita!" Hadiah untuk Sin Ciau siangjin dan rekan-rekannya memang disengaja agar mereka tidak merasa dibedakan atau diperlakukan tidak adil, Tindakannya itu justru mengundang sorak riuh dan tepuk tangan dari para hadirin .
To Lung juga ikut berdiri, dia menuangkan arak ke dalam cawan para hadirin, kemudian dia berkata kepada para tamu tersebut .
"Sicu tianhe, Ayah sicu adalah seorang panglima yang sudah terkenal sekali, sekarang barulah kita membuktikannya dengan mata kepala sendiri .
Lihatlah para pengawalmu itu, mereka begitu taat pada perintah sehingga tidak takut menghadapi kematian Tidak heran setiap kali maju di medan perang, mereka selalu memperoleh kemenangan .
Nah, mari kita minum bersama untuk menghormati Peng Si ong yang berjasa itu .
Go Eng-him bangkit sambil mengangkat cawannya .
"Aku mewakili ayahku minum arak ini .
Terima kasih untuk kebaikan tuan-tuan sekalian!" Para hadirin pun mengangkat cawannya dan mengeringkan isi nya .
Setelah itu Go Eng-him berkata kembali .
"Ayah berkedudukan di wilayah selatan dan keselamatannya terjamin, Semua ini berkat rejeki besar junjungan kita Yang Mulia serta bantuan para menteri dalam istana, Ayah hanya ingat untuk bersedia terhadap Sri Baginda, tidak berani dia bermalasmalasan .
jadi dalam hal ini, sebetulnya ayah tidak berjasa apa-apa." Tidak lama kemudian, pelayan yang diperintahkan oleh Siau Po telah muncul kembali .
Dia membawa enam belas topi yang paling mahal harganya dan menyerahkannya kepada thay-kam cilik kita .
Siau Po menghadap Kong Cin ong .
"Ongya, barusan para suhu telah menjatuhkan topi para pengawal dari Inlam, Karena itu sudah selayaknya Ongya menggantikan kerugian mereka dengan topi yang baru," katanya .
Kong Cin ong lantas tertawa .
"ltu sudah selayaknya! Kau benar-benar pandai berpikir, saudara Kui! Kau bisa mengingat sampai ke sana!" Kemudian dia menyuruh pelayannya untuk menyerahkan topi-topi itu kepada para pengawal dari Inlam .
Orang-orang Go Eng-him menerima hadiah itu .
Mereka menjura dalam-dalam serta menyatakan terima kasih sekali lagi, Setelah itu mereka melipat topi itu dan menyimpannya dalam saku, sedangkan kepala mereka masih tetap mengenakan topi yang lama .
Kong Cin ong dan Siau Po saling pandang sekilas, Mereka mengerti apa sebabnya para pengawal dari Inlam itu bersikap demikian .
Tentu karena mereka tidak mau berlaku lancang .
Perjamuan diteruskan sampai tiba saatnya pertunjukan dimulai Kong Cing ong meminta tamunya memilih cerita yang disukai Go Eng-him menyebut kisah "Ban Cong Hud" atau Kisah Jenderal Kwe Cu-gi mengadakan pesta ulang tahun di mana hadir ketujuh putera dan delapan menantunya yang datang mengucapkan selamat kepadanya, Jenderal itu hidup berbahagia, jasanya banyak sekali Pangkat-nya tinggi, panjang umur serta mempunyai keluarga besar .
Selesai pertunjukan itu, Kong Cin ong menoleh kepada Siau Po .
"Saudara Kui, ayo! Kau juga memilih cerita kesukaanku!" Siau Po tertawa dan berkata .
"Aku tidak bisa memilih, biar Ongya saja yang pilihkan! Yang penting ceritanya seru dan ada perkelahiannya!" "Kalau begitu kau pasti suka cerita mengenai kegagahan," kata Kong Cin ong seraya tertawa .
.
"Baiklah! Aku pilihkan kisah seorang pemuda yang mengalahkan seorang tua, seperti waktu kau membekuk Go Pay! Kisah Pek Sui-tha!" Setelah kedua kisah yang diminta selesai dipertunjukkan tukang cerita menyambung lagi sebuah kisah yang berjudul "Yu Wan Keng-Bong" yang mengisahkan seorang pemuda yang berjalan-jalan di taman bunga di mana dia tertidur dan tersentak bangun oleh mimpinya .
Siau Po tidak sabaran, Karena perannya kebanyakan menyanyi dan berpantun, hal ini tidak disukainya, Kemudian dia berdiri dan menuju paseban belakang di mana dia melihat ada beberapa meja yang dipenuhi oleh orang-orang yang sedang berjudi .
Ada yang main dadu, juga ada yang main kartu ceki .
Dia merasa tertarik sayangnya dia tidak membawa dadunya yang istimewa .
Tapi tidak apa-apa, karena dia membawa uang dalam jumlah yang cukup banyak, Dia melihat di meja yang satunya sang bandar sudah menang banyak, Uang di depannya sudah bertumpuk tinggi .
"Eh, Kui kongkong!" sapa sang bandar sambil tertawa .
"Apakah kongkong berminat ikut mengambil bagian dalam permainan ini?" "Baik!" sahut Siau Po tanpa bimbang lagi .
Saat itu juga, dia melihat ada seorang yang bertubuh kurus tinggi, yakni pengawal Go Eng-him yang sabar luar biasa itu .
Dia menaruh kesan baik terhadap orang yang satu ini .
Dia hanya menonton permainan dari samping .
Siau Po segera melambai kepadanya dan menyapanya .
Pengawal itu segera menghampiri si bocah dan memberi hormat dengan menjura daIam-dalam .
"Entah ada perintah apa, Kui kongkong?" tanyanya ramah .
Siau Po tertawa .
"Di meja judi tidak ada perbedaan derajat, baik ayah dan anak sama saja, karena itu janganlah kau bersikap sungkan, Toako, siapakah she dan namamu yang mulia?" Tadi ketika ditanya oleh Sin Ciau siangjin, pengawal ini tidak memberikan jawaban, Tapi keramahan Siau Po membuat perasaannya jadi tidak enak .
"Hamba she Yo bernama Ek-ci!" "Oh, nama yang bagus sekali! Nama yang bagus sekali!" kata Siau Po yang sebetulnya buta huruf dan tidak tahu apa arti nama itu .
"Banyak orang gagah yang berasal dari keluarga Yo .
Umpamanya Yo Leng-kong, Yo Lak-say, Yo Cong-po, Yo kong! Nah, Yo toako, mari kita main bersama-sama!" Senang sekali hati Ek-ci mendengar para leluhur yang bermarga sama dengannya mendapat pujian tinggi dari thay-kam cilik ini .
Lekas-lekas dia menyahut .
"Maaf, kongkong .
Hamba tidak bisa berjudi." "Tidak bisa berjudi?" tanya Siau Po .
"Tidak apa-apa! jangan takut .
Aku akan mengajarimu! Keluarkanlah uang goanpo milikmu yang besar itu." Ek-ci menurut .
Dia mengeluarkan uang goanpo hadiah Kong Cin ong .
Siau Po sendiri mengeluarkan selembar cek kemudian meletakkannya di atas meja, Sembari tertawa dia berkata: "Aku akan berkongsi dengan Yo toako, jumlah modalnya seratus tail." Bandar itu pun ikut tertawa .
"Bagus! Makin besar jumlahnya, makin baik" sahutnya sambil melempar dadu .
Setelah itu giliran Siau Po, dia mendapat angka titik tujuh, Dan demikian seratus tail itu melayang ke tangan bandar karena dia kalah .
"Aku pasang lagi seratus tail!" katanya kemudian .
Kali ini dialah yang mcnang, selanjutnya permainan seri, Tidak ada yang kalah atau pun menang .
"Ah, tidak benar kalau begini, Kasihan, apalagu Yo toako sampai kalah, Buat aku sih tidak apa-apa..." pikir Siau Po dalam hati, Karena itu memasang lagi lalu melemparkan dadunya sambil berseru: "Bayar!" Kali ini keluar angka dobel enam, Si bandar kalah dan dia harus membayar dua kati lipat, ratus tail jadi dua ratus .
Dua ratus jadi empat dan empat ratus tail jadi delapan ratus .
"Kui kongkong mujur sekali!" kata si bandar seraya tertawa lebar, Dia kalah, tapi ia masih tersenyum .
Siau Po juga ikut tertawa .
"Kau mengatakan aku mujur" Bagaimana kita main dua kali lagi?" Dia pun mengambil kembali uangnya yang delapan ratus tail itu .
Apa daya si bandar memang sedang apes kalah lagi .
Dengan demikian uang Siau Po meneribu enam ratus lail! "Bagaimana, Yo toako?" tanya bocah itu pada kongsiannya, "Apakah kita lanjutkan lagi permainan ini?" "Terserah Kui kongkong," sahut Yo Ek-ci, tapi di dalam hatinya dia berpikir: "Kau toh sudah menang banyak, buat apa main terus?" Pada saat itu sudah banyak orang yang mengerumuni tempat Siau Po berjudi, Sebab jarang ada orang yang menang sampai seribu tail lebih .
Siau Po masih memegang dadu, sambil melemparkan dadunya dia berseru, Dadu itu berputaran yang satu berhenti angkanya enam .
Tinggal yang satu masih terus berputaran Dadu itu bukan miliknya, karena itu dia belum bisa menguasainya dengan baik .
Akhirnya dadu itu berhenti Angkanya dua .
sekarang giliran bandar yang melemparkan dadunya, Seperti Siau Po tadi, dadu itu terus ber-utaran, Yang satu berhenti lebih dahulu, angkanya lima .
Si bandar tertawa .
"Kongkong, mungkin kali ini kau bisa kalah!" katanya, Dadu yang satu masih berputar .
"Dua! Dua!" teriak Siau Po .
Apabila keluar angka tiga, empat atau lima, dia pasti kalah, Kalau keluar angka dua, bandarlah yang harus mengganti pasangannya, sedangkan kalau dapat angka tiga, berarti jumlahnya delapan, Sama dengan angka yang didapatkan oleh Siau Po, Tapi dalam permainan ini, tetap si bandar yang menang, itulah sebabnya Siau Po meminta angka dua .
Tampaknya kemujuran memang sedang berada di pihak si thay-kam cilik, Dadu itu bolak-balik beberapa kali kemudian berhenti, Ternyata memang yang muncul dua titik, Siau Po pun bersorak gembira, selekasnya .
"Ciangkun, kau benar-benar apes" "Betul, kongkong, Hari ini kau memang mujur sekali!" kata bandar itu sambil menghitung uang untuk membayar pasangan Siau Po .
Siau Po menerima uang yang disodorkan itu .
"Terima kasih...!" katanya sambil tertawa, Dia lalu menoleh kepada rekannya, "Yo toako, ambillah uang ini semuanya!" Ek-ci terperanjat juga gembira, Di samping itu dia juga merasa heran, seakan tibatiba dia menemukan harta karun .
"Kongkong, apa artinya Ciangkun?" tanyanya dengan nada berbisik, "Apa pangkatnya?" Sekarang giliran Siau Po yang menjadi heran mendengar pertanyaan itu, Dia menoleh kepada si bandar yang dipanggil Ciangkun itu .