Halo!

Jodoh Rajawali Chapter 140

Memuat...

"Desss....!"

Dia terlempar dan terbanting, bergulingan.

"Mampus kau!"

Hek-tiauw Lo-mo berteriak dan pedangnya menyambar. Hwee Li terkejut bukan main. Tak disangkanya bahwa ayahnya benar-benar hendak membunuhnya. Pedang itu menyambar ganas dan merupakan serangan maut. Terpaksa dia menggunakan dua ekor ularnya untuk balas menyerang. Dua ekor ular itu meluncur dan kalau pedang Hek-tiauw Lo-mo dilanjutkan untuk membacok tubuh dara itu, tentu dua ekor ular itu akan berhasil pula menggigitnya. Melihat ini, Hek-tiauw Lo-mo mengubah gerakan pedangnya, dibabatkan ke samping dua kali.

"Crok! Crokkk!"

"Ihhhhh.... kau membunuh ular-ularku....?"

Hwee Li menjerit dengan isak tertahan dan dia berlaku nekat, menubruk ayahnya dengan kedua tangan kosong dan melancarkan pukulan-pukulan beracun.

"Anak setan!"

Hek-tiauw Lo-mo menyambutnya dengan tusukan Cui-beng-kiam dan sekali ini, tak mungkin Hwee Li dapat menghindarkan diri dari tusukan maut itu. Tiba-tiba nampak sinar menyambar.

"Trangg....!"

Pedang Cui-beng-kiam tergetar di tangan Hek-tiauw Lo-mo. Kakek itu terkejut dan melompat ke belakng. Kiranya Ban Hwa Sengjin sudah turun tangan menggunakan sebutir kerikil memukul ke arah pedangnya itu dengan sambitannya.

"Dia adalah calon isteri Pangeran, bagaimana kau berani mencoba untuk membunuhnya!"

Teriak Koksu Nepal itu.

"Gitananda, tangkap Nona itu!"

Gitananda membungkuk dan sekali dia menggerakkan kedua kakinya, dia sudah meloncat ke depan Hwee Li.

Tiba-tiba tangan kiri kakek Nepal ini mengeluarkan sesuatu dan ada cahaya menyorot ke muka kakek itu. Hwee Li tentu saja tidak mengerti apa yang terjadi dan melihat ada cahaya menyorot ke muka kakek itu, dia memandang. Kiranya kakek itu memegang sebuah cermin dan pantulan sinar matahari menyorot ke mukanya sendiri. Melihat wajah yang berkilauan terkena cahaya itu, Hwee Li memandang terbelalak. Dia seperti melihat wajah yang aneh, wajah dalam dongeng tentang dewa-dewa! Dan betapapun dia hendak mengalihkan pandangannya, dia tidak dapat! Dia tidak dapat menguasai pandang matanya sendiri yang terus menatap wajah kehitaman dengan mata yang tajam berpengaruh itu. Tongkat Gitananda menyambar dan dengan perlahan mengetuk tengkuk Hwee Li.

Gadis itu sama sekali tidak mampu bergerak untuk mengelak, seolah-olah pandang matanya yang melekat pada wajah menyeramkan itu membuat seluruh tubuhnya lumpuh. Ketika tongkat mengenai tengkuknya, dia mengeluh memejamkan matanya dan roboh terguling, pingsan! Kesadaran perlahan-lahan menyusupi dirinya. Mula-mula hanya pendengarannya yang bekerja. Dia mendengar suara berapa orang bercakap-cakap, makin lama makin jelas dan perhatiannya tertuju kepada suara-suara itu karena di antara suara-suara itu dia mendengar suara ayahnya. Matanya masih dipejamkan dan dia masih belum mempunyai keinginan untuk melihat di mana adanya dia dan dalam keadaan bagaimana. Dia masih terlampau lemah untuk itu dan kini dia hanya tinggal diam dengan tenang, hanya membuka telinga mendengarkan.

"Kalau Paduka suka menggunakan obat hamba tentu mudahlah menundukkan dia. Dia akan jatuh cinta, kepada Paduka, dan akan mentaati semua perintah Paduka,"

Terdengar suara parau dan asing, suara yang tidak dikenalnya, namun dapat diduganya bahwa agaknya itu adalah suara orang Nepal yang memegang tongkat itu.

"Ah, Gitananda, aku sudah tahu akan kepandaianmu dan aku percaya bahwa menggunakan obat dan sihirmu, dia akan tunduk kepadaku. Akan tetapi aku tahu pula bahwa kekuatan sihir dan obat itu hanya sementara saja. Dan aku menghendaki agar dia selama hidupnya tunduk dan membalas cintaku!"

Terdengar suara yang amat dikenalnya, suara halus dan sopan, suara Liong Bian Cu. Ah, jadi pangeran itu belum mampus, pikirnya dengan perasaan menyesal. Biarpun sudah terkena gigitan ular darah, tapi masih hidup Hemmm, tentu Hek-hwa Lo-kwi yang mengobatinya. Dia tahu bahwa kakek itu juga seorang ahli racun yang jempol!

"Dia memang keras kepala!"

Tiba-tiba terdengar suara ayahnya.

"Anak itu keras kepala dan keras hati, seperti ibunya! Sebaiknya kalau Pangeran menggunakan kekerasan menundukkan dia, seperti menjinakkan seekor kuda betina yang liar. Hanya kalau dia sudah satu kali menjadi milik Pangeran, dia akan terpatahkan kekerasannya, dia akan tunduk, seperti yang terjadi pula dengan ibunya dahulu. Percayalah kepada saya, Pangeran. Itu satu-satunya cara untuk menjinakkan dia. Paksa saja dia menjadi milik Pangeran malam ini juga, dan besok atau lusa, dia sudah akan menjadi jinak, untuk selama-lamanya!"

Hwee Li hampir menjerit. Dia mengepal tinju dan berniat untuk meloncat turun.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika dia mendapatkan kenyataan bahwa dia tidak mampu menggerakkan kaki dan tangannya. Dia tidak tertotok, kaki tangannya dapat bergerak, akan tetapi tidak dapat dipindahkan dari tempatnya. Cepat dia membuka matanya dan dia makin terkejut. Dia rebah terlentang di atas pembaringannya, kedua kakinya terpentang dan setiap kaki terbelenggu pada ujung pembaringan, demikianpun dengan kedua lengannya, terpentang dan pergelangan lengan terbelenggu dengan rantai baja pada ujung pembaringan. Dia seperti seekor lembu atau domba yang terikat dan siap untuk disembelih! Dia berada di dalam kamar mewah itu dan orang-orang yang suaranya didengarnya itu bercakap-cakap di luar kamar. Dia mendengarkan lagi. Dan kini dia mendengar suara Hek-hwa Lo-kwi.

"Agaknya memang tepat apa yang diusulkan oleh Lo-mo, Pangeran. Anak itu amat keras hati, membujuknya saja akan sia-sia. Dan kekerasan yang tidak dapat diluluhkan oleh kelembutan, dapat dikalahkan oleh kekerasan pula."

"Akan tetapi.... ah, aku sungguh cinta kepadanya, dan aku ingin sekali agar dia dapat membalas cinta kasihku dengan sewajarnya. Pangeran itu membantah dan mengeluh.

"Menggunakan kekerasan? Memperkosanya? Ah, betapa hal itu akan menyiksa hatiku, aku tidak ingin melihat dia berduka...."

"Hemmm, pada mulanya memang dia akan menangis dan berduka, akan membencimu, akan tetapi lambat-laun kebencian itu akan berubah menjadi cinta. Dia persis ibunya...."

Terdengar Hek-tiauw Lo-mo berkata pula.

"Akan tetapi, melihat dia dibelenggu terus...."

"Hal itu tidak perlu lagi setelah Paduka dapat memaksa dan memilikinya, Pangeran,"

Kata Hek-hwa Lo-kwi.

"Dan jangan khawatir dia akan dapat melarikan diri. Dia akan saya beri obat beracun dan racun itu akan mengeram di dalam dirinya, akan membunuhnya dalam waktu satu tahun. Sedangkan obat penawarnya berada di tangan Paduka."

Hening sejenak. Kemudian terdengar lagi suara ayahnya, suara yang mulai mendatangkan kebencian di hati Hwee Li.

"Dia amat cerdik dan banyak akalnya, Pangeran. Selama dia belum menjadi milikmu, dia tentu akan menggunakan segala akalnya dan hal itu dapat nenimbulkan kesukaran. Akan tetapi kalau malam ini Paduka berhasil memilikinya, semua daya lawannya akan patah dan luluh. Percayalah."

"Sudahlah, tinggalkan kami berdua. Akan kupikirkan usul-usul kalian."

Terdengar langkah kaki tiga orang kakek itu pergi dan tak lama kemudian, daun pintu kamar itu terbuka dan muncullah Liong Bian Cu. Melihat pangeran itu, Hwee Li membuang muka. Pangeran itu menghampiri dan duduk di dekat pembaringan, di atas sebuah kursi. Sejenak dia diam saja hanya menatap wajah yang miring itu. Kemudian dia menarik napas panjang.

Post a Comment