Hong Li membentak keras sampai Hong Beng menjadi kaget.
"Enak saja engkau mengaku murid pamanku. Kalau benar muridnya, tentu engkau dapat menyambut seranganku ini!"
Tanpa banyak cakap lagi gadis cilik yang galak dan lincah itu sudah menerjang maju, memukul ke arah dada Hong Beng. Tentu saja Hong Beng mengenal sebuah jurus dari Ilmu Cui-beng Pat-ciang itu, maka diapun mengelak dengan mudahnya. Bahkan karena mendongkol dan menganggap anak perempuan ini terlalu galak, ketika Hong Li menyerang lagi dengan tendangan kilat, dia mengelak sambil memutar langkahnya dan tiba-tiba saja tangannya sudah menampar ke arah pinggul anak perempuan itu, dengan maksud untuk menghajarnya agar tidak terlalu nakal dan bersikap sopan kepada tamu.
"Plakk!"
Pinggul itu kena ditampar, cukup keras sehingga mendatangkan rasa panas dan nyeri. Marahlah Hong Li. Sepasang matanya terbelalak dan mukanya menjadi merah saking marahnya.
"Haiiiittt....!"
Ia berteriak dan kini ia menghujankan pukulan-pukulan ke arah tubuh Hong Beng, mempergunakan ilmu-ilmu silat yang pernah dipelajarinya dari ayah ibunya. Kalau tadi ia sengaja menyerang dengan jurus dari Cui-beng Pat-ciang yang dilatihnya dari ibunya, kini ia menggunakan ilmu yang didapat dari ayahnya yang tentu tidak akan dikenal oleh seorang murid pamannya karena kalau ibunya merupakan keturunan keluarga Pulau Es, ayahnya adalah keturunan majikan Istana Gurun Pasir!
Akan tetapi, Hong Li yang baru berusia tigabelas tahun ini, tentu saja belum menguasai ilmu-ilmu silat tinggi itu dengan matang dan bukan merupakan lawan berat bagi Hong Beng. Kalau pemuda ini menghendaki, tentu dia akan mampu merobohkannya. Akan tetapi Hong Beng dapat menduga siapa adanya gadis cilik ini. Puteri dari Pendekar Kao Cin Liong. Maka diapun hanya mengalah dan terus main mundur, mengelak dan menangkis, tidak pernah membalas. Pada saat Hong Li menyerang sambil mengeluarkan bentakan nyaring itu, tentu saja Kao Cin Liong dan Suma Hui yang berada di dalam rumah terkejut sekali dan mereka berdua bergegas keluar untuk melihat apa yang terjadi. Ketika mereka melihat anak mereka berkelahi dengan seorang pemuda baju biru, Cin Liong sudah hendak melerai, akan tetapi lengannya dipegang isterinya yang berbisik,
"Lihat, bukankah dia menggunakan gerakan ilmu silat keluargaku?"
Cin Liong memperhatikan dan harus mengakui kebenaran isterinya.
Pemuda yang selalu mengelak atau menangkis, yang terus mengalah itu, bersilat dengan gerakan ilmu silat keluarga Pulau Es! Setelah mereka melihat jelas, dan juga tahu bahwa pemuda itu lihai sekali dan sengaja mengalah, Suma Hui lalu meloncat ke depan.
"Hong Li, hentikan serangan-seranganmu itu!"
Bentaknya. Mendengar bentakan ibunya, Hong Li meloncat ke belakang. Peluh membasahi dahi dan lehernya, ia merasa penasaran sekali tadi karena semua serangannya luput atau tertangkis, akan tetapi setelah ayah ibunya muncul, iapun kini sadar bahwa ialah yang lebih dulu menyerang pemuda itu. Maka sebelum pemuda itu ditanyai, ia lebih dulu berkata kepada ibunya.
"Siapa yang tidak mendongkol? Orang ini mengaku-aku sebagai murid paman Suma Ciang Bun!"
"Anak bodoh! Apa engkau sudah tidak mengenal lagi gerakan-gerakannya yang jelas membuktikan kebenaran pengakuannya?"
Kata Suma Hui dan dengan girang ia memandang kepada pemuda itu yang sudah menjatuhkan diri berlutut di depan ia dan suaminya.
"Harap bibi guru dan paman tidak menyalahkan adik ini. Saya yang bersalah dan maafkan kelanca-ngan saya,"
Kata Hong Beng yang diam-diam teringat betapa dia tadi sudah "menghajar"
Gadis cilik itu dengan menampar pinggulnya! Ia menjadi khawatir kalau-kalau si kecil itu mengadu kepada orang tuanya.
"Engkau murid adikku Suma Ciang Bun? Suma Hui bertanya. Dan siapa namamu tadi? Hong Li sudah memberitahukan kepada kami akan tetapi kami lupa......."
"Namanya Gu Hong Beng dan kalau dia tak berhati-hati menjaga kelancangan tangan dan mulutnya, tentu akan kuhajar lagi!"
Kata Hong Li dan ucapan ini saja sudah membuat Hong Beng semakin gelisah. Kiranya anak ini telah menyindirkan bahwa kalau ia tidak bersikap baik, tentu gadis cilik itu akan menghajarnya dengan mengadu kepada ayah dan ibunya.
"Adik yang baik, harap maafkan aku."
Kao Cin Liong tidak senang melihat kemanjaan puterinya. Jelas tadi bahwa yang terus-menerus melakukan penyerangan adalah Hong Li, akan tetapi kini sikap puterinya itu seolah-olah pemuda itu yang bersalah.
"Sudahlah, mari kita masuk dan bicara di dalam."
Mereka masuk ke dalam rumah dan kemudian duduk di ruangan dalam. Suma Hui bertanya tentang adik laki-lakinya yang sudah lama tak pernah dijumpainya itu. Hong Beng menceritakan keadaan dirinya, betapa dia diselamatkan oleh Suma Ciang Bun pada tujuh tahun yang lalu, kemudian menjadi muridnya.
"Teecu diutus oleh suhu untuk melakukan penyelidikan tentang seorang pembesar bernama Hou Seng karena suhu mendengar betapa pembesar itu menguasai kaisar dan merajalela di kota raja."
Suami isteri itu saling pandang.
"Ah, jadi berita tentang orang she Hou itu sudah sampai sejauh itu?"
Kao Cin Liong berseru heran.
"Tidak aneh. Berita tentang kebaikan seseorang tidak akan melewati ambang pintu gerbang, sebaliknya berita tentang kebusukan seseorang akan terbawa angin dan meluas dengan cepatnya."
"Lalu apa yang telah kau lakukan, Hong Beng?"
Tanya Kao Cin Liong sambil memandang wajah tampan sederhana itu. Hong Beng lalu menceritakan betapa dia sudah pergi ke kota raja.
"Teecu pergi ke kota raja bukan hanya untuk memenuhi perintah suhu, akan tetapi juga untuk mencari jejak seorang pendeta Lama dari Tibet yang telah melarikan adik Suma Lian puteri dari susiok (paman guru) Suma Ceng Liong."
Suami isteri itu terkejut sekali.
"Aih! Apa yang telah terjadi dengan anak itu?"
Teriak Suma Hui. Tentu saja ia mengenal Suma Lian karena beberapa kali sudah ia bertemu dengan puteri tunggal Suma Ceng Liong itu. Hong Ben, menceritakan tentang kunjungannya ke dusun Hong-cun dan kebetulan sekali dia sempat membantu nenek Teng Siang In yang berkelahi melawan Sai-cu Lama memperebutkan Suma Lian yang diculik oleh kakek itu, sampai akhirnya nenek Teng Siang In tewas dan Suma Lian dilarikan oleh Sai-cu Lama. Mendengar cerita ini, kedua suami isteri itu menjadi semakin terkejut.
"Bibi Teng Siang In sampai tewas? Aihhh.... kami sama sekali tidak mendengar!"
"Mungkin susiok Suma Ceng Liong tidak sempat memberi kabar karena tentu dia dan isterinya cepat-cepat melakukan penyelidikan dan hendak mencari puteri mereka,"
Kata Hong Beng.
"Adik Lian diculik orang? Wah, siapa penculiknya itu! Ayah dan ibu, mari kita pergi mencari dan menyelamat-kannya!"
Teriak Hong Li marah mendengar betapa adik misannya itu diculik orang jahat. Kao Cin Liong memberi isyarat agar puterinya itu tidak membuat gaduh, lalu dia bertanya kepada Hong Beng,
"Kalau sampai bibi Teng Siang In tewas di tangan orang itu, tentu orang itu lihai sekali. Orang macam apakah yang bernama Sai-cu Lama itu?"
"Sai-cu Lama memang lihai sekali, sudah tua bertubuh tinggi besar, perutnya gendut dan kepalanya gundul, mengenakan pakaian jubah pendeta Lama dari Tibet. Nenek Teng Siang In terluka oleh Ban-tok-kiam sehingga akhirnya tewas...."
"Ban-tok-kiam....?"
Kao Cin Liong dan Suma Hui berteriak hampir berbareng. Hong Beng teringat bahwa pedang pusaka itu adalah milik subo (ibu guru) dari Bi Lan, yaitu nenek Wan Ceng atau ibu kandung Kao Cin Liong ini.
"Benar, pedang pusaka itu adalah milik locianpwe Wan Ceng dan oleh Sai-cu Lama pedang itu dirampas dari tangan nona Can Bi Lan."
"Eh, bagaimana pula ini? Siapa itu Can Bi Lan dan bagaimana pedang Ban-tok-kiam milik ibuku berada di tangannya?"
Kao Cin Liong bertanya tak sabar lagi. Tak disangkanya bahwa pemuda yang datang ini membawa banyak sekali berita yang amat penting dan mengejutkan.
"Nona Can Bi Lan pernah menerima latihan ilmu dari locianpwe Naga Sakti Gurun Pasir dan isterinya, dan nona itu menerima pedang pusaka Ban-tok-kiam yang dipinjamkan oleh subonya untuk melindungi diri. Akan tetapi ternyata, di depan teecu sendiri, kakek Sai-cu Lama merampasnya. Kami berdua sudah berusaha untuk merampasnya kembali, namun kakek itu amat lihai dan dapat meloloskan diri. Dan kemudian, teecu bertemu pula dengan kakek itu ketika kakek itu bertempur melawan locianpwe Teng Siang In, melukainya dengan Ban-tok-kiam dan menculik adik Suma Lian puteri dari susiok Suma Ceng Liong."
Suami isteri itu terkejut dan terheran-heran.
"Ah! Ban-tok-kiam terampas orang dan dipakai membunuh bibi Teng Siang In, dan puteri adik Suma Ceng Liong juga diculik oleh perampas Ban-tok-kiam itu! Ah, kita tidak boleh tinggal diam saja!"
Kata Suma Hui sambil mengepal tinju. Kao Cin Liong yang lebih tenang sikapnya itu hanya mengangguk, lalu memandang wajah Hong Beng.
"Orang muda, berita yang kau bawa ini sungguh amat penting sekali bagi kami dan kami berterima kasih sekali kepadamu. Karena kamipun mendengar kabar-kabar angin yang buruk sekali mengenai kota raja, maka dapatkah kau menceritakan bagaimana sebenarnya keadaan di sana?"
"Teecu sudah melakukan penyelidikan di kota raja, akan tetapi tidak menemukan jejak Sai-cu Lama yang melarikan Ban-tok-kiam dan adik Suma Lian Teecu mendengar bahwa pembesar yang bernama Hou Seng itu amat berkuasa di istana dan kini dia dibantu oleh banyak orang sakti. Juga teecu mendengar akan pertentangan-pertentangan dan pembunuhan-pembunuhan rahasia yang terjadi di kota raja, di antara orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi, Karena teecu tidak tahu apa yang harus teecu lakukan, maka teecu teringat akan pesan suhu agar menemui bibi guru di sini dan minta nasihat dari locianpwe yang lebih tahu akan seluk-beluk para pembesar di kota raja."
Kao Cin Liong menarik napas panjang.