"Bagus! Akupun ingin terbawa namaku dalam jasa itu. Bagaimana kalau kita didik anak itu bersama-sama?"
"Omitohud, usia tuamu tidak menghilangkan kecerdikanmu, seperti tidak pula melenyapkan kecantikanmu, Kim Hwa Nio-nio!"
Sai-cu Lama memuji dan keduanya lalu membuat persiapan untuk memberi laporan kepada Hou Taijin bahwa tamu dari Tibet yang diundang telah tiba. Dan seperti kita ketahui, Hou Taijin demikian girang mendengar ini sehingga dia datang sendiri untuk menemui tamu itu dan mengenalnya sendiri karena oleh Kim Hwa Nio-nio sudah diceritakan bahwa tamu yang berjuluk Sai-cu Lama dari Tibet ini memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, bahkan tidak kalah oleh Kim Hwa Nio-nio sendiri, demikian kata nenek itu.
"Omitohud...., anak baik, engkau menghadap Hou Taijin, harus berlutut memberi hormat!"
Kata Sai-cu Lama. Akan tetapi Suma Lian tetap berdiri dengan mata melotot, sedikitpun tidak takut dan ketika ia memandang kepada orang berpakaian mewah yang dujuk di depan pendeta Lama itu, matanya memandang penuh selidik. Mata anak ini demikian tajam sehingga hati pembesar itu merasa kecut juga. Akan tetapi pada saat itu, seorang di antara dua orang selir yang menjadi pengawalnya itu berbisik dekat telinganya.
"Taijin harus bersikap baik kepadanya, dan suruh membebaskan ikatan kaki tangannya, agar mudah ia dijinakkan."
Hou Taijin mengangguk-angguk, lalu sambil memandang kepada gadis cilik itu, dia berkata,
"Losuhu, kasihan sekali puteri kecil ini dibelenggu. Harap lepaskan belenggu kaki tangannya!"
"Taijin, biarpun masih kecil, ia sudah lihai dan berbahaya, juga liar seperti seekor kuda binal!"
"Sai-cu Lama, perintah Taijin harus kita laksanakan tanpa membantah."
Tiba-tiba Kim Hwa Nio-nio memperingatkan temannya yang belum tahu akan watak Hou Taijin yang tidak mau dibantah. Mendengar ini, Sai-cu Lama mengangguk dan cepat dia menghampiri Suma Lian yang berdiri tegak. Untuk mendemonstrasikan kelihaiannya, dengan jari-jari tangan ringan sekali gerakannya, dia membikin putus semua tali, seolah-olah tali-tali itu hanya sehelai benang saja!
"Adik yang baik, ke sinilah dan jangan takut. Kami tidak akan menyusahkanmu lagi,"
Berkata Hou Seng. Memang orang ini pandai sekali bersandiwara dan mendengar suaranya yang lemah lembut,
Melihat wajahnya yang kini memperlihatkan kesungguhan dan keramahan, Suma Lian mulai percaya bahwa orang itu tentu memiliki niat yang baik terhadap dirinya. Ia memang tidak mendengarkan apa yang dipercakapkan okh Sai-cu Lama dan Kim Hwa Nio-nio bahwa dirinya akan diberikan kepada pembesar Hou Seng untuk dijadikan selir! Maka, mengingat bahwa ia berhadapan dengan seorang pembesar di kota raja, seperti yang didengarnya tadi dari para pengawal bahwa ia akan dihadapkan kepada seorang pembesar istana kota raja, ia lalu menjatuhkan diri berlutut. Memang selain ilmu silat tinggi, Suma Lian diajar tentang ilmu baca tulis, juga tentang kesopanan sehingga ia mampu bersikap semestinya ketika berhadapan dengan seorang pembesar, apa lagi kalau mengingat baahwa pembesar ini bersikap baik, bahkan telah menolongnya dari belenggu.
"Taijin, harap paduka suka mengirim saya kembali ke rumah orang tua saya, atau membiarkan saya pergi dari sini. Untuk budi ini saya Suma Lian tidak akan melupakanmu."
Kembali terdengar bisik-bisik dari seorang selir di bdakangnya itu. Hou Seng mengangguk-angguk lagi.
"Nona Suma Lian, membiarkan engkau pergi seorang diri sungguh amat berbahaya. bagaimana kalau sampat terjadi apa-apa atas dirimu? Berarti aku ikut bertanggung jawab. Sai-cu Lama telah menyerahkan engkau kepadaku, berarti akulah yang kini melindungimu. Jangan khawatir, sekali waktu pasti aku akan mengantar engkau kembali ke tempat tinggalmu, akan tetapi sementara ini, selagi aku masih sibuk, biarlah engkau tinggal di sini bersama Kim Hwa Nio-nio. Akan tetapi engkau harus berjanji tidak akan memberontak atau mencoba untuk melarikan diri."
Suma Lian adalah seorang anak yang cerdik. Kalau tadi ia memperlihatkan sikap marah, itu adalah karena Sai-cu Lama selalu bersikap keras kepadanya dan ia membenci pendeta yang menculiknya itu. Kini ia melihat bahwa tidak ada pilihan lain baginya kecuali mentaati perintah pembesar ini, kalau ia tidak ingin diperlakukan kasar lagi. Ia mengerti bahwa ia menjadi semacam tahanan, akan tetapi jauh lebih baik tertahan dalam keadaan bebas dari pada dibelenggu terus atau disekap terus dalam kamar tahanan. Dalam keadaan bebas, tentu banyak kesempatan terbuka baginya untuk melarikan diri!
"Baiklah Taijin, saya berjanji takkan memberontak dan terima kasih atas kebaikan Taijin"
"Locianpwe,"
Kata Hou Taijin dengan suara halus kepada Kim Hwa Nio-nio,
"harap locianpwe atur dan serahkan adik ini kepada para pengasuh lebih dulu, sediakan kamar yang baik, pakaian yang cukup dan makan yang enak, setelah itu kami masih menanti locianpwe di sini untuk mengadakan perundingan lebih lanjut."
"Baik, Taijin."
Kim Hwa Nio-nio lalu menggandeng tangan Suma Lian.
"Nah, kalau sejak kemarin engkau tidak memberontak, tentu kami sudah memperlakukan engkau dengan baik. Marilah, anak manis."
Kalau saja Sai-cu Lama yang menggandengnya, biarpun kini ia tidak memberontak lagi, Suma Lian tentu tidak akan mau. Akan tetapi ia tidak membenci nenek ini walaupun ia juga tidak menyukainya, dan iapun menurut saja ketika digandeng dan hendak diajak keluar dari ruangan itu. Setelah menyerahkan Suma Lian kepada para pembantunya agar anak itu memperoleh rawatan yang baik dan sekali-kali tidak boleh diperlakukan kasar, akan tetapi diam-diam Kim Hwa Nio-nio memerintahkan anak buahnya untuk mengamati anak itu baik-baik dan menjaganya agar ia tidak sampai melarikan diri dari situ, nenek itu lalu kembali ke ruangan tamu.
"Locianpwe berdua, kami menerima dengan gembira anak keluarga Suma itu, akan tetapi untuk sementara saya titipkan dulu ia di sini. Terutama locianpwe Kim Hwa Nio-nio harap menjaganya baik-baik karena sekali waktu tentu ia akan kubawa ke istana. Jangan sampai ia kekurangan sesuatu dan jangan sampai melarikan diri. Akan tetapi, harap rahasiakan tempat persembunyiannya dari orang luar. Mengertikah, locianpwe?"
Kim Hwa Nio-nio mengangguk-angguk.
"Baik Taijin. Saya sendiri yang akan menjaga-nya."
Wajah pembesar itu nampak lega dan diapun berkata gembira.
"Sekarang, harap keluarkan hidangan dan hiburan untuk menjamu Lo-suhu dari Tibet sebagai sambutan selamat datang dari kami."
Kim Hwa Nio-nio bertepuk tangan beberapa kali sebagai perintah dan pintupun terbuka.
Beberapa orang pelayan, laki-laki dan wanita, kesemuanya muda-muda dan berpakaian bersih, yang pria tampan dan wanita cantik masuk dengan sikap gesit dan terlatih baik. Mereka lalu mengatur masakan-masakan di atas meja dan bagaikan sekumpulan burung dara delapan orang pelayan ini pulang pergi mengambil masakan-masakan dari dapur dan ruangan itupun menjadi sedap baunya oleh uap masakan-masakan yang masih panas itu. Rombongan ini disusul oleh rombongan tari dan nyanyi yang terdiri dari dua orang wanita dan empat orang laki-laki. Mereka mengenakan pakaian seniman yang beraneka warna sambil membawa alat-alat musik mereka. Muka mereka, baik yang laki-laki maupun yang perempuan, dirias dengan bedak tebal dan gincu sehingga hampir menyerupai kedok-kedok.
"Taijin, rombongan ini sengaja saya undang dari kota raja,"
Kata Kim Hwa Nio-nio memperkenalkan enam orang itu. Hou Sen mengangguk-angguk.
"Bagus, bagus, kalau permainan kalian malam ini memuaskan, tentu kami akan memberi hadiah yang besar."
Enam orang itu berlutut menghadap pembesar itu, akan tetapi sebelunm mereka menjawab, dari pintu yang terbuka itu menerobos masuk sepuluh orang pengawal anak buah Kim Hwa Nio-nio dan muka mereka memperlihatkan bahwa ada sesuatu yang hebat telah terjadi. Melihat mereka masuk begitu saja tanpa dipanggil, berkerut sepasang alis Kim Hwa Nio-nio.
"Kalian ada laporan apa!"
Bentaknya marah. Seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi kurus dan menjadi komandan regu itu, melangkah maju dan dengan sikap gugup dia menuding ke arah enam orang seniman yang masih berlutut di situ.
"Mereka.... mereka ini.... palsu! Mereka membunuh enam orang rombongan seniman dari kota raja dan mereka menyamar...."
"Apa....?"
Hou Taijin membentak dengan wajah berubah pucat memandang kepada enam orang seniman palsu itu.