"Namaku Kam Hong dan sekali lagi kuharap Ngo-wi suka membebaskan gadis ini."
"Hemmm, engkau sudah mengenal kami, akan tetapi masih berani mencampuri urusan kami? Apakah kau bosan hidup? Eh, bocah she Kam, kalau kami tidak mau membebaskan gadis ini, habis engkau mau apa?"
Tiba-tiba Su-ok yang merasa penasaran bertanya sambil mendekati Kam Hong.
"Kalau Ngo-wi memaksa, apa boleh buat, aku akan memberanikan diri untuk menyelamatkan gadis ini dengan menggunakan kekerasan."
Kata Kam Hong.
"Apa? Engkau menantang kami? Nah, mampuslah kalau begitu!"
Su-ok sudah menerjang dan gerakannya cepat bukan main karena memang demikian watak para datuk sesat ini, selalu tidak segan-segan menggunakan kecurangan demi untuk mencapai kemenangan. Agaknya dari pertemuan tenaga pertama kali tadi, Su-ok maklum bahwa pemuda sastrawan itu bukan merupakan lawan yang lemah, maka kini begitu dia menyerang, dia telah mempergunakan ilmunya yang paling diandalkan, yaitu pukulan Katak Buduk. Angin pukulan dahsyat menyambar disertai bau yang amis sekali, menyambar ke arah perut Kam Hong! Namun pemuda ini sudah siap sejak tadi, maka pukulan itu pun sudah dihadapinya dengan tenang. Cepat dia mengelak ke kiri dan mengambil keputusan untuk tidak memperpanjang waktu per-kelahian. Yang terpenting bukanlah perkelahian itu, melainkan bagaimana dia harus menyelamatkan Pek In yang masih berada dalam pondongan Ngo-ok.
Kalau dia dapat merampas Pek In, dia dapat melarikan dara itu dan dia percaya bahwa dia akan dapat melarikan diri dengan selamat mengandalkan gin-kangnya yang kini sudah meningkat dengan hebat sekali sejak dia mempelajari ilmu dengan menghimpun khi-kang melalui Ilmu bertiup suling. Maka, sekali mengelak ke kiri, dia sudah menu-bruk ke arah Ngo-ok yang berdiri tak jauh dari situ, tangan kiri mencengkeram ke arah muka Si Tinggi Kurus itu sedangkan tangan kanannya berusaha untuk merampas tubuh Cu Pek In. Serangannya ini dilakukan dengan kecepatan kilat sehingga mengejutkan Ngo-ok. Akan tetapi, sayang sekali bahwa justeru Ngo-ok ini merupakan orang yang paling tinggi gin-kangnya di antara para saudaranya, maka biarpun serangan itu amat hebat dan mengejutkan, Si Jangkung itu masih mampu melesat ke samping sehingga cengkeraman kedua tangan Kam Hong itu meleset dan saat itu Su-ok sudah datang lagi menubruk dan menghantamnya.
Terpaksa Kam Hong menangkis dan melayani Suok yang merupakan seorang lawan yang tidak boleh dipandang ringan. Selagi dia mendesak Su-ok, tiba-tiba ada sambaran angin dari belakangnya. Cepat dia membalik dan menangkis sambil balas memukul. Kiranya Ngo-ok sudah datang mengeroyoknya! Ketika Kam Hong melirik, ternyata bahwa Si Jangkung itu telah melepaskan Pek In ke atas tanah, akan tetapi dara itu berada dalam keadaan tertotok sehingga tidak mampu bergerak dan di sana masih ada tiga orang dari Im-kan Ngo-ok yang menjaganya! Diam-diam Kam Hong merasa kecewa sekali. Kalau begini caranya, akan lebih sukar untuk merampas Pek In dan agaknya jalan satu-satunya baginya adalah bahwa dia harus mengalahkan mereka lebih dulu!
"Baiklah kalau kalian menghendaki kekerasan!"
Bentaknya dan segera tubuhnya bergerak dengan aneh dan cepat. Sedemikian, cepat gerakannya sehingga para pengeroyoknya itu tidak merasa mengeroyok satu orang lagi, bahkan mereka berhadapan dengan lebih dari dua orang!
Apalagi karena Kam Hong mengerahkan tenaga khi-kang sehingga setiap kali mereka beradu lengan, Su-ok dan Ngo-ok selalu terpental dan terhuyung, tanda bahwa mereka berdua itu kalah kuat! Melihat betapa lihainya lawan, Ngo-ok mengeluarkan gerengan seperti seekor serigala dan tubuhnya sudah berjungkir balik dan dia sudah menyerang Kam Hong dengan kedua kakinya yang panjang dan berada di atas, dibantu oleh kedua tangan dari bawah. Gerakannya bahkan lebih gesit dan lebih cepat dibandingkan kalau dia berdiri dengan kedua kaki di bawah! Sedangkan Su-ok juga sudah mengirim pukulan-pukulan Katak Buduk yang amat dahsyat itu. Akan tetapi, Kam Hong tidak gentar menghadapi mereka. Dengan Khong-sim Sin-ciang, dibantu oleh tenaga khi-kang dahsyat yang disalurkan kepada seluruh tubuh, terutama kepada kedua lengannya,
Dia masih dapat mendesak kedua orang lawan itu, bahkan dia telah berhasil menampar masing-masing satu kali kepada dua orang pengeroyoknya dan biarpun tamparan itu tidak mengenai dengan telak, namun cukup membuat mereka menjadi agak jerih dan selanjutnya terus didesaknya dua orang lawan itu dengan hebat. Melihat ini, Toa-ok, Ji-ok dan Sam-ok terbelalak memandang penuh kagum. Kalau saja yang dikeroyok oleh Su-ok dan Ngo-ok itu merupakan tokoh kang-ouw sakti yang sudah mereka kenal maka tentu saja mereka tidak akan merasa penasaran dan heran melihat betapa mereka terdesak. Akan tetapi pemuda ini sama sekali belum mereka kenal. Bagaimana mungkin kini pemuda yang agaknya baru muncul di dunia kang-ouw ini telah dapat memiliki ilmu kepandaian sedemikian lihainya?
"Tahan....!"
Tiba-tiba Sam-ok meloncat ke depan dan menahan pukulan Kam Hong yang mendesak Su-ok yang sudah bergulingan itu.
"Dukk!"
Sam-ok tergeser mundur oleh tangkisan itu dan diam-diam dia makin terkejut. Ketika dia menangkis untuk menyelamatkan Su-ok dan juga untuk menghentikan perkelahian itu tadi, dia menggunakan tenaga sepenuhnya, akan tetapi pertemuan tenaga lewat lengan itu ternyata membuat dia terdorong dan kuda-kudanya tergeser! Bukan main hebatnya kekuatan pemuda sastrawan ini, pikirnya. Karena pihak lawan minta dihentikan perkelahian dan ingin bicara, Kam Hong tidak melanjutkan serangan dan dia pun berdiri tegak dan memandang dengan sikap tenang, namun dengan penuh kewaspadaan karena dia sudah mendengar akan nama Im-kan Ngo-ok yang tersohor sebagai datuk-datuk kaum sesat yang paling curang dan paling jahat.
"Orang she Kam, sesungguhnya kami tidak ingin bermusuhan dengan engkau yang tidak kami kenal. Biarpun engkau memiliki sedikit kepandaian, akan tetapi jangan harap engkau akan dapat menentang kami. Jangan kau mencampuri urusan kami yang tidak kau ketahui sama sekali.
"Hemm, apa artinya aku bersusah payah mempelajari ilmu kalau aku harus mendiamkan saja melihat seorang dara diculik orang?"
Jawab Kam Hong dengan suara dingin.
"Ahhh, kau salah paham, sobat muda."
Kata Sam-ok. dengan nada suara mengejek.
"Kami tidak bermaksud mengganggu anak perempuan ini. Kami hanya me-nahannya untuk memaksa ayahnya datang menemui kami...."
"Hemm.... sungguh cara yang curang untuk bertemu dengan penghuni Lembah Gunung Suling Emas. Kalau ada kepentingan, mengapa tidak langsung saja menemui keluarga Cu di sana?"
Kam Hong mencela.
"Mengapa harus menawan puterinya?"
Lima orang itu saling lirik.
"Aha, jadi engkau mengenal mereka, ya? Engkau sahabat mereka dan hendak membela mereka?"
"Aku bukan sahabat mereka dan aku hanya membela orang yang terancam bahaya, dalam hal ini adalah Nona inilah. Bebaskan dia dan aku tidak akan mencampuri urusanmu dengan keluarga Cu di sana."
"Engkau tidak tahu persoalannya, orang muda. Kami ingin keluarga itu menukar puteri mereka dengan pedang pusaka yang kami kehendaki...."
"Hemm, Koai-liong-pokiam yang diperebutkan itu, ya?"
Kam Hong sudah mendengar tentang ribut-ribut pedang pusaka itu yang dulu kabarnya dilarikan pencuri dari istana kaisar.
"Aku pun tidak peduli tentang pedang itu, akan tetapi rebutlah dengan cara yang jantan, bukan dengan menawan seorang gadis remaja."
"Bocah sombong, engkau sungguh bosan hidup!"
Sam-ok sudah tak dapat menahan kesabarannya lagi dan dia sudah menerjang dengan dahsyatnya.
Kam Hong cepat mengelak dan balas menyerang, akan tetapi pada saat itu Su-ok dan Ngo-ok sudah mengeroyoknya pula. Dikeroyok oleh tiga orang tokoh yang lihai ini, terutama sekali Sam-ok yang lebih lihai daripada Su-ok dan Ngo-ok, Kam Hong merasa repot juga. Ilmu kepandaian tiga orang pengeroyoknya itu telah berada di tingkat yang amat tinggi dan jurus-jurus ilmu silat mereka aneh-aneh dan berbahaya sekali, maka Kam Hong menggerakkan tangan kirinya dan nampak sinar putih ketika dia mencabut kipasnya dan dia pun mulai melayani mereka dengan kipasnya. Dengan ilmu silat Lo-hai San-hoat (Ilmu Kipas Pengacau Lautan) yang diwarisi dari peninggalan nenek moyangnya, dia melawan mereka, dibantu oleh tangan kanannya yang melancarkan tamparan-tamparan dan totokan-totokan dahsyat, dia berhasil menahan mereka bertiga.
Tentu saja Sam-ok merasa penasaran sekali melihat betapa mereka bertiga sama sekali tidak mampu mendesak lawan, bahkan dia sendiri pun harus berhati-hati karena gerakan kipas itu benar-benar amat dahsyatnya. Semua serangan kandas oleh tangkisan-tangkisan gagang kipas yang sambil menangkis juga langsung menotok jalan darah di pergelangan tangan atau sikut, dan angin yang menyambar dari kipas yang dikembangkan kadang-kadang membuat dia bingung sehingga dua kali dia hampir tertotok oleh gagang kipas. Harus diakuinya bahwa tanpa bantuan dua orang saudaranya, seorang diri saja dia akan sukar sekali dapat bertahan melawan pendekar muda yang belum dikenalnya itu! Dia merasa semakin penasaran, akan tetapi juga geram mendengar betapa Ji-ok memuji-muji pemuda itu.
"Bagus, bagus! Ilmu kipas yang bagus! Wah, Sam-te, engkau dengan bantuan Su-te dan Ngo-te masih tidak mampu mengalahkan dia? Sungguh memalukan sekali!"
"Ji-ci, daripada banyak cerewet, lebih baik lekas bantu kami agar urusan kita dapat segera diselesaikan!"
Kata Sam-ok dengan marah karena ejekan itu.
"Hi-hik! Kalau aku sekali turun tangan, tentu bocah ganteng ini akan kehilangan kepala. Sungguh sayang!"
"Hemm, Si Mulut Besar! Hendak kulihat kenyataan bualanmu!"
Kata pula Sam-ok karena dia merasa yakin bahwa biarpun Ji-ok sendiri agaknya akan mengalami kesulitan untuk mengalahkan bocah ini. Kepandaiannya sendiri tidaklah lebih rendah dibandingkan dengan Ji-ok, sungguhpun sampai sekaran dia belum mampu menandingi Kiam-ci (Jari Pedang) dari nenek itu yang benar-benar luar biasa hebatnya, namun pada umumnya kepandaiannya setingkat dibandingkan dengan Ji-ok.
"Hi-hik, kau lihat sajalah!"
Kata Ji ok dan dia pun menerjang ke depan.
"Singggg.... cuiiiiitttt...."
"Ehhh....!"
Kam Hong terkejut sekali dan cepat meloncat ke belakang untuk menghindarkan diri dari sinar kilat ketika telunjuk tangan nenek itu menyambar dan mengeluarkan hawa dingin berkilat yang amat dahsyatnya.
"Hi-hi-hik, kau kaget, bocah ganteng? Nah, lekaslah berlutut minta ampun, Nenekmu akan mempertimbangkan."
Kata Ji-ok. Akan tetapi Kam Hong sudah menjadi marah sekali. Tak disangkanya bahwa nama besar Im-kan Ngo-ok yang tersohor sebagai datuk-datuk kaum sesat yang berkedudukan tinggi itu ternyata sekelompok orang yang berjiwa pengecut dan tidak segan-segan dan tidak malu-malu untuk melakukan pengeroyokan untuk mencapai kemenangan.
"Siapa takut padamu?"