Kam Hong maklum akan lihainya Ilmu Silat Harimau yang aneh dan lain daripada yang lain itu, sementara itu suara melengking-lengking masih kadang-kadang terdengar dari kerongkongan lawan yang mengiringi setiap tubrukan atau cakaran tangan. Melihat gerakan Cu Kang Bu, lawan yang kurang kuat sin-kangnya tentu akan melihat seolah-olah pemuda tinggi besar itu telah benar-benar berobah menjadi seekor harimau yang amat kuat dan ganas! Kam Hong lalu mengerahkan tenaga dalam pusarnya dan ketika dia menggunakan khi-kang melalui tenggorokan, terdengarlah gerengan singa yang menggetarkan tanah di sekeliling tempat itu! Itulah Sai-cu Ho-kang, ilmu yang dipelajarinya dari Sai-cu Kai-ong, akan tetapi karena tenaga khi-kang di dalam diri Kam Hong sudah jauh maju setelah dia mempelajari ilmu meniup suling dari ilmu rahasia jenazah kuno,
Maka kekuatannya sudah sedemikian hebatnya sehingga kalau kalau Sai-cu Kai-ong sendiri mendengarnya dia tentu akan merasa terkejut dan heran. Hebatnya ilmu ini adalah hawa suara itu dapat dipusatkan dan diarahkan kepada yang hendak diserang saja, sehingga kalau lain orang di situ hanya merasakan getaran hebat saja, tidaklah demikian dengan Cu Kang Bu. Dia terhuyung dan mukanya agak pucat karena suara gerengan itu seolah-olah memasuki tubuhnya dan menyerang jantungnya, dan selagi dia terhuyung itu Kam Hong sudah maju dan melakukan tamparan-tamparan dengan Ilmu Khong-sim Sin-ciang yang lembut namun amat berbahaya itu. Cu Kang Bu mengeluarkan seruan kaget dan dia cepat melindungi dirinya dengan putaran kedua tangan, akan tetapi tetap saja dia didesak dan dihimpit oleh lawan.
Bukan main heran dan kagetnya rasa hati pendekar tinggi besar ini. Dia memang tidak memandang rendah lawan dan dapat, menduga bahwa lawannya lihai, akan tetapi sama sekali tidak pernah diduganya akan sedahsyat ini! Maka sambil mengeluarkan bentakan nyaring karena dirinya sudah terdesak dan terancam bahaya, tiba-tiba tangannya meraba ke pinggang dan nampaklah sinar hitam berkelebat disusul suara ledakan yang mengeluarkan asap putih dan tahu-tahu tangan kanan pendekar ini telah memegang sebatang cambuk baja yang tadinya menjadi ikat pinggangnya. Cambuk baja lemas ini berwarna hitam dan kini meledak-ledak di udara. Akan tetapi, Cu Kang Bu sama sekali tidak menyerang lawan, hanya membunyikan cambuknya di udara tanpa berkata-kata,
Sikapnya menantang dan penuh rasa penasaran bahwa dia telah dikalahkan oleh bekas tunangan kekasihnya itu dalam adu silat tangan kosong. Di tempatnya dari pinggiran, Yu Hwi memandang dengan mata terbelalak keheran-heranan melihat betapa "Siauw Hong"
Yang dulu merupakan kacung dari Pendekar Siluman Kecil itu ternyata kini mampu menandingi seorang pendekar sakti seperti Cu Kang Bu yang menjadi kekasihnya. Sementara itu, biarpun dia agak pening oleh lengkingan-lengkingan dan gerengan-gerengan yang menggetarkan tadi ditambah mengikuti gerakan mereka yang amat cepat, namun Ci Sian dapat menduga bahwa fihak Kam Hong tentu menang karena kalau tidak, tidak nanti fihak lawan mengeluarkan senjata. Melihat cambuk hitam itu meledak-ledak mengeluarkan asap, hatinya gentar bukan main, akan tetapi sambil tertawa dia berkata,
"Paman Kam Hong, lawanmu telah kalah dan kini mengandalkan cambuk kerbau! Hati-hati, jangan kena dicurangi olehnya!"
Tentu saja ucapan Ci Sian ini membikin panas perut Cu Kang Bu dan saudara-saudaranya, akan tetapi tetap saja Cu Kang Bu tidak mau menyerang lawan yang masih bertangan kosong. Katanya dengan suara parau karena menahan kemarahan.
"Sobat Kam Hong, ilmu silatmu dengan tangan korong hebat sungguh, akan tetapi marilah kita main-main dengan senjata sebentar kau hadapi cambukku ini!"
Diam-diam Kam Hong juga kagum. Sukar atau jaranglah mencari orang gagah seperti Cu Kang Bu ini. Ilmu silatnya jelas amat lihai dan tinggi, dan selain tidak sombong, juga sama sekali tidak curang dan tidak mau mempergunakan senjata menyerang dia yang masih bertangan kosong. Betapapun juga, pria ini agaknya tidak akan mengecewakan kalau menjadi suami Yu Hwi dan pilihan Yu Hwi kiranya tidaklah keliru! Akan tetapi, batinnya terasa panas juga kalau mengingat betapa Yu Hwi adalah tunangannya, calon isterinya yang hendak direbut oleh pemuda tinggi besar ini!
"Hemm, kau masih penasaran? Hendak mengadu senjata? Baiklah, akan tetapi aku bukan tukang bunuh atau tukang siksa maka tidak membawa senjata mengerikan. Aku hanya membawa sebuah alat pengusir panasnya badan dan batin ini!"
Tangan kirinya bergerak dan seperti main sulap saja,
Tahu-tahu tangan itu telah memegang sehelai kipas yang dikembangkan dan dipakai mengipasi lehernya seolah-olah dia merasa gerah sekali. Akan tetapi, biarpun kipasnya digerak-gerakkan, tiga pasang mata dari kakak beradik penghuni Lembah Suling Emas itu yang memiliki penglihatan terlatih dan tajam sekali dapat membaca huruf yang tertulis di permukaan kipas yang digoyang-goyangkan itu. Tentu saja untuk dapat melakukan hal ini orang harus memiliki kepandaian yang sudah amat tinggi sehingga mata mereka sedemikian tajamnya dapat mengikuti gerakan kipas yang bagi mata biasa tentu membuat huruf-huruf itu kabur dan tak terbaca. Diam-diam mereka bertiga memandang dan membaca huruf-huruf itu. Kipas itu permukaannya putih bersih dan huruf-huruf indah itu berwarna hitam, maka jelas sekali bagi mereka. :
Hanya yang kosong dapat menerima tanpa meluap Hanya yang lembut dapat menerobos yang kasar Yang merasa cukup adalah yang sesungguhnya kaya raya!
"Hemm, khong-sim (hati kosong) Sobat Kam Hong masih mempunyai hubungan apakah dengan yang terhormat Sai-cu Kai Ketua Khong-sim Kai-pang?"
Tiba-tiba terdengar Cu Han Bu bertanya dengan suara halus. Kam Hong terkejut dan diam-diam kagum akan keluasan pengetahuan orang itu.
"Beliau pernah menjadi Guruku."
Jawabnya jujur dan sederhana.
"Dia pernah menjadi seorang yang disebut Pangeran Pengemis!"
Tiba-tiba Yu Hwi berkata dan di dalam suaranya mengandung cemooh. Kini mulai mengertilah Kam Hong mengapa dara itu tidak setuju menjadi jodohnya. Kiranya latar belakang kehidupannya yang dahulu, pertemuan mereka yang pertama di mana dia menjadi pengemis dan menjadi semacam pelayan dari Siluman Kecil, yang membuat gadis ini memandang rendah kepadanya! Dia tersenyum.
"Benar sekali.... aku hanya seorang pengemis dan sekarang pun bukan majikan yang kaya raya!"
Akan tetapi melihat betapa pemuda itu menyindir kekasihnya, Cu Kang Bu sudah menjadi marah lagi.
"Kam Hong, kalau kipas itu merupakan senjatamu, beranikah engkau menghadapi cambuk bajaku dengan kipas itu?"
"Mengapa tidak berani? Aku hanya melayanimu, sobat!"
Kata Kam Hong sambil tersenyum.
"Hajarlah dia, Paman Kam Hong! Dia belum mengenal kipas mautmu!"
Ci Sian berkata lagi, sungguhpun di dalam hatinya dia merasa kecut sekali melihat senjata pihak lawan yang berupa cambuk hitam panjang terbuat dari baja itu sedangkan "senjata"
Kam Hong hanya sebuah kipas yang lebih tepat untuk mengusir kegerahan saja. Namun, kini telah semakin tebal kepercayaannya kepada Kam Hong, maka dia mengusir kekhawatirannya dan diam-diam dia mendekati See-thian Coa-ong, gurunya.
"Suhu.... bagaimana pendapat Suhu....? Apakah Paman Kam Hong akan dapat menang?"
Bisiknya. Sungguh lucu dara ini. Dia berbisik seolah-olah tidak akan dapat terdengar oleh orang-orang yang berilmu tinggi dia bicara hanya sambil berbisik-bisik, semua orang termasuk juga Yu Hwi, dapat menangkap bisikannya itu, akan tetapi mereka terlalu tegang memandang ke arah dua orang pendekar yang sudah siap untuk bertanding lagi itu dan tidak mempedulikan ulah Ci Sian.
"Apa....?"
Kakek hitam botak itu berkata lalu menarik napas panjang.
"Aahhhh, aku seperti baru sadar dari mimpi! Sungguh mati, selama hidupku baru ini menyaksikan pertandingan seperti ini! Sungguh beruntung mata ini, dapat menyaksikan pertandingan tingkat atas yang demikian hebatnya. Ternyata Pegunungan Himalaya yang tinggi masih ada yang melebihi tingginya...."
Kakek itu menarik napas panjang lagi.
"Suhu, bagaimana? Apakah Paman Kam Hong dapat menang?"
Kembali Ci Sian bertanya sambil mengguncang lengan gurunya yang seperti orang terpesona memandang ke arah dua orang pendekar itu.
"Siapakah aku ini yang dapat menentukan kalah menangnya pertandingan antara dua ekor naga? Kita lihat saja, Ci Sian, kita lihat saja...."
Katanya tanpa mengalihkan pandangannya. Ci Sian menjadi semakin gelisah dan diam-diam dia lalu duduk bersila dan mengerahkan kekuatan batinnya untuk memanggil ular-ular sebanyak mungkin ke tempat itu untuk dapat membantu Kam Hong! Akan tetapi tiba-tiba dia merasa betapa pencurahan kekuatannya itu membuyar dan terdengar suara See-thian Coa-ong,
"Anak bodoh kau, pembelamu itu takkan kalah!"
Ci Sian lalu teringat betapa dia pernah memanggil ular-ular ketika menghadapi isteri-isteri ayah kandungnya, dan akibatnya malah ular-ularnya yang tewas dan dia dimarahi oleh Kam Hong! Maka dia tidak jadi melanjutkan usahanya itu dan kini dia memandang ke arah perkelahian yang sudah mulai berlangsung.
"Tar-tar-tarrrr....!"
Cambuk hitam itu melayang-layang ke udara kemudian turun meluncur dan melecut sampai tiga kali ke arah kepala Kam Hong, namun dengan tenang pendekar ini mengelak dua kali dan sambaran yang ketiga kalinya dia kebut dengan kipasnya. Aneh sekali ujung cambuk baja itu begitu kena dikebut, lalu menyimpang atau melecut ke samping, menyeleweng seperti sehelal rambut ditiup saja! Dan ujung cambuk itu luput mengenai kepala Kam Hong, menyambar ke bawah dan mengeluarkan ledakan nyaring, mengenai sebuah batu sebesar kepala orang yang pecah berantakan menjadi beberapa potong! Melihat ini, Ci Sian merasa betapa bulu tengkuknya meremang dan dingin. Batu saja terkena lecutan menjadi pecah berantakan, apalagi kepala manusia!
Akan tetapi Kam Hong tetap bersikap tenang, seolah-olah melihat batu pecah berantakan terkena ujung cambuk itu hanya merupakan permainan anak-anak baginya. Dan kini dia tidak membiarkan dirinya menjadi bulan-bulanan cambuk, melainkan kedua kakinya bergerak dengan langkah-langkah indah dan tahu-tahu dia sudah menyusup dekat melalui gulungan sinar hitam dari cambuk itu dan menggunakan ujung kipas untuk membalas serangan lawan dengan totokan-totokan ke arah jalan darah dari ubun-ubun sampai ke lutut lawan! Gerakan kipasnya cepat dan tak terduga-duga datangnya, karena dia telah mainkan ilmu silat kipas Lo-hai-san-hoat (Ilmu Kipas Pengacau Lautan) yang merupakan satu di antara ilmu silat warisan nenek moyangnya yaitu Pendekar Suling Emas!
Memang satu-satunya jalan untuk melawan musuh yang menggunakan senjata panjang hanya dengan cara melakukan perkelahian jarak dekat, apalagi kalau dia sendiri hanya bersenjata sebuah kipas yang amat pendek. Kam Hong juga melakukan siasat ini, dia menggunakan langkah-langkah Pat-kwa-pouw dari Ilmu Silat Pat-sian-kun-hoat dan dengan langkah-langkah ini dia dapat selalu mendekati lawan sehingga dapat menyerang dengan kipasnya. Akan tetapi Cu Kang Bu adalah seorang tokoh yang sudah mahir sekali menggunakan senjata yang diandalkannya itu, maka biarpun senjatanya merupakan senjata untuk menyerang dari jarak jauh, ujung cambuk bajanya itu dapat membalik dan menyerang dari arah belakang, kanan, kiri atau atas bawah!
Hebat bukan main gerakan cambuknya dan ujung cambuk itu seolah-olah hidup menurut segala gerakan pergelangan tangannya. Bukan main serunya perkelahian itu. Kipas di tangan kiri Kam Hong berobah-robah, sebentar terbuka untuk mengebut ujung cambuk lawan, kadang-kadang tertutup untuk menyerang dengan totokan-totokan yang amat berbahaya. Sukar dikatakan siapa di antara mereka yang mendesak dan siapa yang terdesak karena mereka seolah-olah saling menukar serangan yang selalu dapat dipecahkan dan dilumpuhkan oleh lawan. Kurang lebih seratus jurus telah lewat dan perkelahian itu diikuti oleh semua orang sambil menahan napas karena memang amat menegangkan hati.
Kam Hong sendiri merasa kagum. Semenjak tadi, dia hanya mempergunakan ilmu-ilmu yang telah dipelajarinya dari Sai-cu Kai-ong dan dari Sin-siauw Seng-jin, yang telah dikuasainya dengan matang sehingga akan sukarlah mencari lawan yang mampu menandinginya dengan ilmu-ilmu itu. Akan tetapi, dengan ilmu-ilmu itu dia hanya dapat berimbang saja dengan lawannya ini. Diam-diam dia merasa penasaran juga dan dikumpulkannyalah tenaga khi-kang yang diperolehnya ketika dia mempelajari ilmu pusaka yang tercatat di tubuh jenazah kuno. Dan tiba-tiba saja suara pernapasannya terdengar mencicit nyaring, makin lama makin tinggi sehingga tidak tertangkap oleh telinga, namun bagi Cu Kang Bu, dia merasakan getaran yang luar biasa hebatnya dari tubuh lawannya!
Dia terkejut sekali dan berusaha untuk meloncat mundur sambil menggerakkan pecut bajanya. Akan tetapi, kini Kam Hong mendesak ke depan, kipasnya terbuka dan kini begitu kipasnya mengebut, ada angin dingin menyambar ke arah muka lawan dan Cu Kang Bu hampir tidak kuat membuka matanya yang tersambar angin dingin. Begitu matanya berkejap, maka ujung kipas itu telah meluncur dan melakukan totokan-totokan, membuat Kang Bu kaget setengah mati dan terhuyung ke belakang sambil memutar cambuk dan tangan kiri melindungi tubuhnya. Akan tetapi lawannya mendesak dan akhirnya, maklumlah bahwa mempertahankan diri sama dengan mencari mati, Kang Bu meloncat jauh ke belakang lalu turun dan merangkap kedua tangan depan dada.
"Aku Cu Kang Bu mengaku kalah!"
Kam Hong membuka kipas depan dada dan dia merasa semakin kagum dan suka kepada bekas lawannya itu, seorang yang kasar jujur namun juga tidak keras kepala dan mampu menghadapi kekalahan sendiri secara jantan. Seorang yang benar-benar patut, bahkan terlalu baik mungkin, untuk menjadi jodoh Yu Hwi!
"Saudara Cu Kang Bu, kepandaianmu sungguh hebat, aku kagum sekali!"
Katanya membalas penghormatan orang. Akan tetapi dengan muka pucat Cu Han Bu melangkah maju. Pendekar ini diam-diam merasa penasaran bukan main melihat kekalahan adiknya. Hampir dia tidak dapat percaya bahwa adiknya dengan cambuk bajanya dapat dikalahkan lawan yang hanya memegang setangkai kipas! Sungguh kekalahan yang menghancurkan keharuman nama besar keluarga Lembah Suling Emas, apalagi di situ ada orang-orang lain yang menyaksikan seperti See-thian Coa-ong dan terutama sekali dara murid Coa-ong yang pandai bicara itu, yang tentu akan menyiarkan berita kekalahan keluarga Lembah Suling Emas ke seluruh dunia kang-ouw! Mukanya menjadi pucat karena marah dan penasaran.
"Saudara Kam Hong, harap jangan membikin kami penasaran dan jangan bertindak kepalang-tanggung. Kau kalahkan aku sebagai orang pertama dari Lembah Suling Emas, agar kami yakin benar bahwa di luar lembah ada orang yang lebih pandai daripada kami!"
Setelah berkata demikian sambil membungkuk dan memberi hormat,
Cu Han Bu melolos sebuah sabuk emas dari pinggangnya. Sikap orang ini sedemikian sungguh-sungguh sehingga Kam Hong maklum bahwa jalan satu-satunya baginya adalah memenuhi tantangan orang pertama dari Lembah Suling Emas ini. Pula, diam-diam dia pun merasa penasaran bahwa dialah yang benar-benar keturunan keluarga Suling Emas dan mereka ini hanya kebetulan saja memakai nama Lembah Suling Emas. Kalau dia dapat menangkan orang pertama dari keluarga lembah yang aneh ini, tentu dia berhak untuk minta dengan hormat kepada mereka agar nama Suling Emas tidak mereka pakai lagi. Kam Hong maklum bahwa sebagai orang pertama dari keluarga itu, tentu pria yang berpakaian sederhana dan bersikap halus dan dingin ini tentulah memiliki tingkat kepandaian yang hebat dan lebih tinggi daripada tingkat Kang Bu.
Padahal, Kang Bu saja sudah demikian lihainya. Maka dia pun tidak boleh main-main lagi dan dia tentu akan harus mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk mencapai kemenangan. Maka, sambil tetap membuka kipasnya dengan tangan kiri, tangan kanannya lalu meraih ke pinggang dan begitu bergerak, nampak sinar emas berkilauan dan tangan kanan itu telah memegang sebatang suling emas yang tadinya tersembunyi di balik jubahnya! Kalau tadi ketika Cu Han Bu mengeluarkan dan melolos sabuk emas dari pinggangnya nampak sinar keemasan yang menyilaukan mata, kini suling emas di tangan kanan Kam Hong itu mengeluarkan cahaya yang amat gemilang, apalagi karena gerakannya ketika mengeluarkan amat cepat sehingga selain mengeluarkan cahaya yang amat kemilau, juga terdengar suara mendengung seolah-olah suling itu ditiup!