Melihat gadis itu nekat menyerang bekas ketua Pao--beng-pai yang lihai itu, Sian Li merasa khawatir dan ia pun sudah menerjang maju membantu Hui Eng mengeroyok Siangkoan Kok.
Adapun Gak Ciang Hun dan Gan Bi Kim sudah membantu para perwira dan perajurit yang mengeroyok dua orang tosu dari Pat-kwa-pai dan Pek-lian-kauw.
Siangkoan Kok yang terkejut sekali melihat para tawanan sudah lolos, ter-paksa mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk menghadapi dua orang gadis yang tangguh itu.
Tingkat kepandaian bekas puteri dan muridnya itu sudah hampir menyusulnya, sedangkan Si Bangau Merah juga merupakan seorang wanita yang amat lihai, maka dia pun harus mengeluarkan seluruh kepandaian-nya untuk membela diri.
Jumlah pasukan yang menyerbu amat-lah banyaknya sehingga orang-orang Thian--li-pang menjadi kewalahan dan terdesak hebat.
Tiba-tiba muncul Cia Sun yang memimpin sebuah regu perajurit pilihan dan melihat betapa kekasihnya sudah bertanding melawan Siangkoan Kok di-bantu Tan Sian Li, dia pun segera me-merintahkan para perwira dan perajurit yang memiliki kepandaian untuk ikut pula mengeroyok.
Pertandingan berat sebelah itu tidak berlangsung terlalu lama.
Biar-pun mereka bertiga berhasil merobohkan banyak perajurit, namun Siangkoan Kok, Im Yang-ji, dan Kui Thian-cu setelah menderita banyak luka-luka, akhirnya roboh.
Siangkoan Kok tewas dengan dada tertembus pedang di tangan Hui Eng.
Im Yang-ji dan Kui Thian-cu juga tewas dengan tubuh penuh luka.
Cia Sun gembira sekali melihat Hui Eng selamat.
"Adik Sian Li, di sana ku-lihat kakak Yo Han sedang bertanding melawan Ouw Seng Bu." Sian Li mengeluarkan suara seperti sorak gembira mendengar ini dan ia pun berlari cepat menuju ke arah yang ditun-juk Cia Sun diikuti oleh yang lain.
Setelah tiba di tempat yang dimaksudkan, mereka tertegun menyaksikan sebuah pertandingan yang luar biasa hebatnya.
Ketika ada yang hendak bergerak mem-bantu Yo Han, Sian Li cepat berkata, "Jangan ada yang bergerak, Han-koko tidak akan kalah dan dia tidak senang kalau dibantu dengan pengeroyokan." Mendengar ucapan ini, semua orang mak-lum dan mereka menonton dengan kagum dan juga tegang, kecuali Sian Li yang percaya sepenuhnya bahwa kekasih hati-nya tidak akan kalah.
Pertemuan antara Yo Han dan Ouw Seng Bu tentu saja membuat ketua Thian--li-pang itu terkejut setengah mati.
Wa-jahnya menjadi pucat, matanya terbelalak, akan tetapi perlahanlahan wajah itu ber-ubah merah dan matanya menjadi men-corong liar penuh kebencian dan kemarah-an.
"Kau....?""!!" Seng Bu berseru dan suaranya terdengar dingin dan tajam mengiris jantung, mulutnya kini mem-bentuk senyum menyeringai yang amat bengis.
Yo Han sendiri merasa bulu teng-kuknya berdiri.
Orang ini tidak waras, pikirnya.
"Ouw Seng Bu, kenapa engkau mem-bunuh Lauw Pangcu dan para pimpinan Thian-lipang?" 310 Seng Bu merasa tidak perlu lagi me-rahasiakan semua perbuatannya dan dia tertawa."Ha-haha, mereka itu tidak ada gunanya, membuat Thian-li-pang menjadi lemah saja.
Thian-li-pang harus menjadi yang terkuat, harus dapat mengajak se-luruh kekuatan untuk menghancurkan penjajah Mancu.
Mereka itu orang-orang lemah!" "Ouw Seng Bu, engkau membunuh mereka dan menguasai Thian-li-pang, bukan demi perjuangan melainkan untuk mencari kedudukan tinggi.
Engkau ber-sekutu dengan golongan sesat, engkau membiarkan anak buah Thian-li-pang melakukan perbuatan jahat.
Bahkan eng-kau secara tak tahu malu dan curang sekali menjebak aku ke dalam sumur.
Heran sekali kenapa engkau, murid Lauw Pangcu yang dahulu amat dipercaya dan baik, mendadak berubah seperti iblis" Apakah engkau telah menjadi gila?" "Yo Han, semua orang Thian-li-pang memujamu.
Kau lalu menjadi sombong.
Kaukira hanya engkau yang telah mengua-sai Bu-kek Hoat-keng" Ha-ha-ha, aku pun telah menguasainya dan aku akan mem-bunuhmu untuk kedua kalinya!" Setelah berkata demikian, Ouw Seng Bu menyerang dengan gerakan yang aneh dan dahsyat sekali.
Dam-diam Yo Han merasa heran dan terkejut mendengar bahwa orang ini telah menguasai Bu-kek Hoat-keng, dan melihat serangan yang luar biasa itu.
Yang membuat dia heran adalah mengenal gerakan tangan Seng Bu ketika menyerang-nya.
Memang itu adalah gerakan dari Bu--kek Hoat-keng! Karena merasa heran, Yo Han ingin sekali melihat lebih banyak lagi gerakan itu dan dia pun mengelak cepat tanpa membalas, membiarkan Seng Bu menye-rang lagi bertubi-tubi.
Dan tidak salah lagi, jurus-jurus yang dimainkan Seng Bu ketika menyerangnya adalah ilmu Bu-kek Hoat-keng, akan tetapi semakin lama, semakin aneh saja perkembangan jurus--jurus itu.
Hebatnya, serangan itu me-ngandung hawa dingin yang aneh karena ketika satu kali dia menangkis, tangan-nya yang bertemu lengan lawan itu terasa panas! Pukulan Seng Bu itu mengandung hawa beracun yang amat ganas! Ber-bahaya sekali bagi lawan dan tidak meng-herankan kalau Lauw Kang Hui dan yang lain-lain tewas di tangan Seng Bu.
Dia sendiri kalau tidak menguasai Bu-kek Hoat-keng, tentu akan terpengaruh hawa beracun itu.
Seng Bu yang merasa bahwa dia telah memiliki ilmu yang tak terkalahkan, ma-kin berbesar hati melihat Yo Han tak pernah membalas dan hanya lebih banyak mengelak dan berloncatan untuk meng-hindarkan serangan-serangannya.
Akan tetapi dia pun merasa penasaran melihat dia belum juga berhasil.
Dia harus dapat membunuh Yo Han secepatnya agar dia mendapatkan kesempatan untuk melarikan diri, karena dia melihat betapa banyak-nya pasukan pemerintah menyerbu perkampungan Thian-li-pang itu.
Maka, dia segera berteriak memanggil anak buahnya dan sedikitnya dua puluh orang anak buah Thian-li-pang kini menggunakan senjata mereka mengepung dan mengero-yok Yo Han! Yo Han maklum bahwa Seng Bu men-cari kesempatan melarikan diri dan hal ini haruslah dicegah.
Maka, dia pun tidak pernah meninggalkan atau menjauhi Seng Bu.
Dia mulai menggunakan ilmunya untuk menyerang dan menutup jalan ke-luar Seng Bu, sedangkan para anak buah Thian-li-pang yang mengepung dan me-ngeroyoknya dengan ragu-ragu dan gentar, dia robohkan dengan tendangan dan tamparan saja, tidak membuat mereka ter-luka parah.
"Para anggauta Thian-li-pang, cepat kalian ajak teman-teman untuk melarikan diri! Jangan hiraukan lagi Ouw Seng Bu yang menyeret kalian ke dalam penyelewengan!" beberapa kali Yo Han berseru.
311 "Kelak aku sendiri yang akan mem-bangun kembali Thian-li-pang!" kembali Yo Han berseru.
Terjadi kebimbangan dalam hati para anggauta Thian-li-pang.
Mereka yang memang berwatak jahat dan lebih senang dipimpin Seng Bu karena di bawah bimbingan Seng Bu mereka dapat melampiaskan nafsu dan keserakahan mereka secara bebas, tidak mempeduli-kan seruan Yo Han ini dan mereka tetap melakukan perlawanan dan setia kepada Seng Bu.
Akan tetapi, lebih banyak lagi angauta yang hanya terpaksa mentaati ketua baru itu, dan kini para anggauta ini segera menyampaikan pesan kepada kawan-kawan sehaluan dan mereka pun mulai berserabutan mencari lubang untuk meloloskan diri dari penyerbuan pasukan pemerintah.
Mendengar teriakan Yo Han dan me-lihat betapa anak buahnya yang menge-royok Yo Han terpelanting ke kanan kiri sehingga dia tidak mendapat kesempatan sama sekali untuk meloloskan diri dari Yo Han, Seng Bu menjadi marah dan nekat.
"Yo Han, engkau harus mati di ta-nganku!" bentaknya dan dia pun menye-rang lagi sambil mengeluarkan teriakan yang menyeramkan, bukan teriakan ma-nusia lagi melainkan teriakan iblis.
Dan pada saat itulah Sian Li dan para tokoh lain muncul dan menjadi penonton.
Yo Han juga melihat mereka dan hatinya berdebar girang bukan main me-lihat Sian Li dalam keadaan sehat dan selamat.
Dia pun mengenal Hui Eng dan Cia Sun, membuat hatinya menjadi se-makin girang bahwa adik angkatnya itu telah bersatu dengan kekasihnya.
Akan tetapi hanya sebentar dia dapat melirik ke arah Sian Li dan yang lain-lain kare-na dia harus memperhatikan lawannya yang ternyata amat tangguh dan memiliki ilmu silat yang amat aneh itu.
"Hyaaattt....!!" Seng Bu nekat melihat munculnya para tawanan.
Tahulah dia bahwa dia harus membela diri mati-mati-an dan tidak ada jalan keluar kecuali dia dapat membunuh Yo Han.
Sambil me-ngeluarkan bentakan nyaring, dia me-nyerang dengan gencar, kedua tangannya melakukan pukulan dengan cara mendo-rong dengan telapak tangan, dan dari kedua tangannya itu menyambar hawa yang dingin seperti es, dan nampak pula uap hitam membiru keluar dari kedua telapak tangan itu.
"Hemmm....!!" Yo Han mengelak dan menampar dari samping.
Lawannya agak-nya mengenal gerakan serangan ini dan dapat mengelak dengan baik, lalu mem-balas dengan dorongan tangan kanan.
Diam-diam Yo Han semakin heran.
Dia mengenal benar gerakan kaki tangan Seng Bu itu.
Datang lagi serangan dahsyat dari Seng Bu yang mengerahkan seluruh tenaganya dalam setiap serangan.
Yo Han merasa aneh.
Dia yakin bahwa gerakan-gerakan itu benar ilmu Bukek Hoat-keng seperti yang pernah dipelajarinya dari kakek Ciu Lam Hok.
Bagaimana mungkin Seng Bu dapat mempelajarinya" Kakek itu telah meninggal, dan semua coret-moret di dalam lorong sumur tua telah dihapus.
Dia tidak tahu bahwa kakek Ciu Lam Hok pernah membuat coret-moret lain di sumur ke dua, yang ditemukan Seng Bu, catatan ilmu itu yang tidak lengkap sa-ma sekali dan yang telah dipelajari de-ngan keliru oleh Seng Bu.
Yo Han menge-nal semua gerakan itu, akan tetapi ilmu Bu-kek Hoat-keng yang dipelajarinya mempungai daya mengembalikan setiap pukulan lawan.
Bu-kek Hoat-keng bukan pukulan untuk merobohkan orang, melain-kan mempunyai daya tolak yang luar biasa sehingga serangan yang bagaimana hebat pun, akan membalik kepada pe-nyerangnya sendiri.
Akan tetapi, gerakan yang mirip Bu-kek Hoat-keng dan dimain-kan Seng Bu ini memiliki daya serang yang demikian dahsyatnya, mengandung hawa maut dan beracun! Kalau dia sen-diri mempergunakan tenaga Bu-kek Hoat--keng, tentu pukulan aneh dari Seng Bu itu akan membalik dan mana mungkin ada manusia dapat bertahan kalau ter-kena pukulan sehebat itu" Dia tidak ingin membunuh Seng Bu, walaupun dia tahu bahwa Seng Bu telah membunuh Lauw Kang Hui dan para pimpinan lain dan pemuda itu telah membawa Thian--li-pang menyeleweng.
Dia ingin menyadar-kan Seng Bu dan membuat pemuda itu bertaubat.
Tidak ada istilah terlambat untuk bertaubat selagi manusianya masih hidup.
Akan tetapi, justeru karena dia tidak mau membunuh lawan, maka perkelahian itu menjadi amat seru dan juga tidak mudah bagi Yo Han untuk menundukkan lawannya.
Karena dia memiliki ilmu Bu--kek Hoat-keng yang asli, tentu saja ting-katnya lebih tinggi dibandingkan Seng Bu.