Halo!

Si Tangan Sakti Chapter 93

Memuat...

"Kongcu, melihat Ji-wi yang muda--muda begini bersemangat untuk mem-bantu Si Bangau Merah, menentang ba-haya dengan gagah berani, kami yang tua-tua merasa malu kalau hanya tinggal diam saja.

Kami akan menemani Ji-wi membantu pendekar wanita Bangau Me-rah, walaupun kami tahu bahwa kekuatan kita ini tidak ada artinya dibandingkan kekuatan mereka yang mempunyai ratus-an orang anak buah." "Kita tidak bermaksud menyerang Thian-li-pang, Totiang, hanya hendak menyelidiki kalaukalau adik Sian Li terancam bahaya.

Kita harus membantunya." "Kami siap membantu, Kongcu." Demikianlah, malam itu mereka le-watkan dengan beristirahat dan meng-himpun tenaga karena siapa tahu, besok mereka akan menghadapi musuh dan bahaya yang harus ditentang.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ciang Hun, Bi Kim dan lima orang tosu Bu-tong-pai telah mendaki Bukit Naga.

Mereka bergerak cepat akan tetapi dengan hati-hati sekali dan tosu-tosu itu yang memimpin pendakian karena mere-ka lebih mengenal daerah itu daripada kedua orang muda yang baru pertama kali itu berkunjung ke situ.

Akan tetapi gerak-gerik tujuh orang ini tidak terlepas dari pengintaian anak buah Thian-lipang.

Ouw Seng Bu maklum bahwa sebelum pemuda yang datang ber-sama Sian Li dan Hui Eng itu tertangkap, tentu Thian-li-pang akan terancam ba-haya, apalagi ketika dia mendengar dari Siangkoan Kok bahwa pemuda itu adalah seorang pangeran Mancu! Maka dia me-merintahkan anak buahnya untuk melaku-kan penjagaan tersembunyi dan siang malam harus melakukan pengamatan terhadap seluruh permukaan bukit itu.

Karena itu begitu tujuh orang itu mendaki bukit, para anak buah Thian--li-pang telah mengetahuinya dan diam--diam setiap gerak-gerik mereka telah diamati dan diikuti.

Sementara itu, di dalam rumah ta-hanan Cu Kim Giok kembali datang me-ngunjungi dua orang tawanan, Hui Eng dan Sian Li.

Kini Sian Li telah dapat menekan kemarahan hatinya dan melihat munculnya Kim Giok, ia bertanya, suara-nya tenang saja.

"Kim Giok, apalagi yang hendak kaukatakan kepada kami?" "Sian Li, engkau melihat sendiri betapa Thian-li-pang bersikap baik kepada kalian yang bahkan tidak dianggap sebagai musuh, melainkan sebagai tamu.

Aku meng-harap dengan sepenuh hatiku agar kalian berdua dapat melihat kenyataan bahwa Thian-li-pang sesungguhnya mengharapkan persahabatan dan kerja sama dengan kalian, bukan permusuhan." "Kim Giok, aku sekarang mengerti bahwa engkau saling mencinta dengan Ouw Seng Bu, maka engkau membantu dan membelanya.

Aku tidak akan mem-persoalkan baik buruknya Ouw-pangcu itu, akan tetapi kalau memang benar Thian-li-pang hendak berbaik dan ber-sahabat dengan kami, kenapa kami di-jebak, dikeroyok dan ditahan di dalam kurungan ini" Kenapa kami tidak dibebas-kan saja" "Sian Li, percayalah, aku sudah minta--minta kepada pangcu agar kalian dibebas-kan, akan tetapi dia mengajukan alasan kuat sehingga aku sendiri pun tidak ber-daya karena alasannya memang tepat.

Dia mengatakan bahwa di dalam per-juangan, kita harus dapat membedakan mena kawan mana lawan.

Sekarang ini, kalian memperlihatkan sikap sebagai lawan, kalau kalian dibebaskan, sungguh amat berbahaya bagi perjuangan Thian--li-pang.

Kalian lihai, dan kalian dapat mendatangkan bencana kepada kami, kecuali tentu saja kalau kalian suka be-kerja sama dengan kami dan sama-sama berjuang menentang pemerintah penjajah Mancu.

Karena itu, aku memohon kepada kalian, jangan memusuhi Thian-li-pang, jangan memusuhi Ouw-pangcu, jangan memusuhi kami.

Sungguh aku bersumpah, kami tidak mempunyai niat buruk ter-hadap kalian, hanya ingin mengajak kali-an bekerja sama." "Cu Kim Giok, tidak perlu engkau membujuk kami, tentu engkau sudah tahu bahwa kami tidak akan sudi bekerja sa-ma dengan golongan sesat.

Sebetulnya, melihat engkau membantu Ouw-pangcu, hatiku tidak rela, dan aku tidak ingin lagi bicara denganmu.

Akan tetapi meng-ingat ayah ibumu, orang-orang yang men-junjung tinggi kebenaran dan keadilan, aku minta engkau berterus terang me-ngenai satu hal.

Benarkah Yo Han telah tewas di sumur tua itu?" Kim Giok menghela napas panjang.

Jawaban itu memang sudah diduganya.

Akan tetapi bagaimanapun juga, apa pun yang terjadi, ia akan tetap membela Seng Bu karena ia sudah benar-benar jatuh cinta kepada pemuda itu.

"Sian Li, dengan menyesal sekali ter-paksa kukatakan bahwa memang benar Yo Han tewas di dalam sumur," katanya lirih dan mendengar keterangan ini, Sian Li menahan jeritnya, mukanya menjadi pucat dan ia berdiri termangu seperti patung, kedua tangan yang dipasangi rantai pada pergelangannya itu meng-genggam dan melihat keadaan Si Bangau Merah itu, Hui Eng bertanya kepada Cu Kim Giok dengan suara yang tegas.

"Cu Kim Giok, katakan terus terang, demi nama baik nenek moyangmu yang terkenal sebagai pendekar-pendekar besar Lembah Naga Siluman, apakah engkau melihat sendiri kematian Yo Han itu?" Kini Cu Kim Giok memandang kepada Hui Eng dengan alis berkerut, "Hemmm, tidak perlu aku menjawab pertanyaanmu.

Engkau sendiri adalah puteri ketua Pao-beng-pai yang pernah mengacau dan me-musuhi keluarga besar bahkan kemudian menurut ayahmu, engkau menjadi seorang pengkhianat dan anak yang durhaka.

Aku mau bicara dengan Tan Sian Li, bukan denganmu!" "Kim Giok, engkau tidak tahu dengan siapa engkau bicara.

Ketahuilah bahwa enci Eng ini adalah Sim Hui Eng, puteri Paman Sim Houw yang hilang itu dan kini ia telah mengetahui siapa dirinya." "Ahhh....! " Cu Kim Giok terkejut.

"Kalau....

kalau begitu, kalian berdua harus mau bekerja sama, aku tidak ingin melihat kalian celaka.

Aku mohon kepada kalian, terimalah uluran tangan Ouw Pangcu untuk bekerja sama dan berjuang, atau setidaknya, jangan memusuhi kami.

Kalau kalian mau berjanji di depan pangcu, aku yang akan menanggung...." "Sudahlah, Kim Giok.

Sebaiknya kau jawab saja pertanyaan enci Hui Eng tadi.

Apakah engkau melihat sendiri tewasnya Han-koko di sumur tua itu?" tanya Sian Li tak sabar.

"Ketika Yo Han datang, aku memang melihatnya, bahkan kami berkenalan.

Dia pun bicara dengan baik-baik kepada Ouw--pangcu, kemudian dia bicara empat mata dengan Ouwpangcu.

Aku tidak tahu apa yang terjadi, akan tetapi tahu-tahu aku mendapatkan Ouw-pangcu sudah terluka parah terkena pukulan di dadanya, se-dangkan para anggauta Thian-li-pang melempar-lemparkan batu ke dalam su-mur tua, Barulah aku tahu bahwa Ouw--pangcu hampir terbunuh Yo Han dan karena bantuan para anak buah, Yo Han dapat didesak dan terjerumus ke dalam sumur.

Para anggauta Thian-li-pang me-nimbuni sumur itu dengan batu karena maklum bahwa kalau Yo Han dapat keluar, tentu akan mengamuk dan semua orang dibunuhi." Keterangan bahwa Kim Giok tidak melihat sendiri kematian Yo Han, mem-buat hati Sian Li merasa lega kembali.

Ia tetap tidak percaya bahwa Yo Han telah tewas.

Lebih tidak percaya lagi bahwa Yo Han membunuhi para pimpinan Thian-li-pang dan berusaha membunuh Ouw Seng Bu.

Ia mengenal pria yang di-kaslhinya itu.

Yo Han tidak mau mem-bunuh orang, apalagi para pimpinan Thian-li-pang di mana dia menjadi ketua ke-hormatan.

Tidak masuk di akal semua berita itu, walaupun ia percaya bahwa puteri Lembah Naga Siluman ini tidak berbohong.

Tentu gadis ini telah dipenga-ruhi Ouw Seng Bu dan tertipu! Pada saat itu, dua orang pengawal masuk dan berkata kepada Cu Kim Giok dengan sikap hormat, "Nona, pangcu minta agar Nona suka menemuinya di ruangan dalam." Sikap dan ucapan penjaga itu saja sudah membuktikan bahwa ketua baru Thian-li-pang amat menghormati gadisitu.

Ia bukan dipanggil, melainkan diminta! Cu Kim Giok menoleh kepada dua orang gadis tawanan, kemudian pergi meninggalkan tempat tahanan itu, diikuti dua orang penjaga dengan sikap hormat.

Setibanya di ruangan dalam, Ouw Seng Bu sudah menyambutnya dan kedua orang penjaga itu pun mengundurkan diri.

"Ada urusan apakah, Bu-Ko?" tanya Kim Giok.

"Giok-moi, ada lagi orang-orang yang menyelidiki tempat kita dan kini mereka telah tertangkap." "Siapakah mereka?" Kim Giok me-ngerutkan alisnya.

Di dalam hatinya ia merasa tidak setuju kalau Thian-li-pang menangkapi orang, apalagi kalau mereka yang ditawan itu tokohtokoh pendekar seperti Sian Li dan Hui Eng.

Kalau sam-pai Thian-li-pang memusuhi para pendekar dan perkumpulan para pendekar di dunia persilatan, hal itu sungguh tidak baik dan tidak benar.

Seluruh keluarganya tentu akan marah dan menyalahkan ia mem-bantu perkumpulan yang memusuhi dunia persilatan dan menawani para pendekar.

"Lima di antara mereka adalah para tosu Bu-tong-pai yang tempo hari, dan dua yang lain adalah seorang pemuda dan seorang gadis.

Bagaimana dengan hasil pembicaramu dengan Si Bangau Merah dan puteri Paman Siangkoan Kok tadi?" Kim Giok mengerutkan alisnya.

"Me-reka masih belum mau berbaik, dan pu-teri Paman Siangkoan Kok itu ternyata adalah puteri dari Paman Sim Houw yang hilang dicullik orang ketika masih kecil.

Ini menambah gawat keadaan, Koko, karena Paman Sim Houw adalah Pende-kar Suling Naga yang sakti, pendekar besar tokoh di Lok-yang.

Kalau ayah Sian Li, Pendekar Bangau putih dan Pen-dekar Suling Naga mengetahui puteri mereka ditawan di sini dan memusuhi kita, sungguh amat berbahaya bagimu, Koko.

Lalu siapa pula dua orang pemuda dan gadis yang tertawan bersama lima orang tosu Bu-tong-pai itu?" Ouw Seng Bu kelihatan muram dan berduka.

"Giok-moi, sesungguhnya engkau sendiri pun tahu bahwa aku tidak pernah mencari perkara dan tidak pernah me-musuhi mereka.

Adalah mereka sendiri yang datang memusuhi Thian-li-pang.

Aku pun merasa heran mengapa para pendekar itu tidak mau menyadari dan me-reka bahkan berpihak kepada kerajaan Mancu, penjajah yang mencengkeram tanah air dan bangsa" Nah, cobalah eng-kau temui dua orang muda itu dan syu-kur kalau dapat membujuk mereka dan lima orang tosu, menyadarkan mereka akan pentingnya persatuan antara kita untuk membebaskan rakyat daripada ceng-keraman penjajah." Kim Giok merasa lemas karena pe-kerjaan membujuk ini merupakan peker-jaan yang amat berat baginya.

Akan tetapi, ia yakin bahwa kekasihnya benar, maka ia pun siap untuk membelanya.

Bagaimana lima orang Bu-tong-pai dan dua orang muda itu dapat tertawan" Seperti kita ketahui, Gak Ciang Hun, Gan Bi Kim dan lima orang tosu men-daki Bukit Naga untuk melakukan penye-lidikan terhadap Thian-li-pang yang me-reka curigai kebersihannya.

Mereka tidak tahu bahwa gerak-gerik mereka telah diikuti oleh para anggauta Thian-li-pang.

Seorang di antara para anggauta itu melapor kepada Seng Bu yang segera ditemani Siangkoan Kok, Im-yang-ji dan Kui Thian-cu, juga beberapa orang tokoh sesat lain yang telah bergabung, menyam-but rombongan yang mendaki bukit itu.

Sebelum tiba di perkampungan Thian--li-pang, Gak Ciang Hun dan kawan-kawan-nya secara tiba-tiba saja sudah dikepung oleh puluhan orang Thian-li-pang dan mereka berhadapan dengan Ouw Seng Bu dan kawan-kawannya.

Post a Comment