Halo!

Si Tangan Sakti Chapter 101 (Tamat)

Memuat...

"Aku mengerti, Cia-te, dan agaknya kita me-mang saling membutuhkan.

Aku yakin Gak-twako tidak akan keberatan untuk ikut pula ke Lok-yang membantu adik Sim Hui Eng." "Ah, tentu saja!" kata Gak Ciang Hun dan dia pun nampak tersipu dan salah tingkah.

"Bahkan aku pun....

hemmm....

aku pun atau maksudku kami berdua, aku dan adik Gan Bi Kim, amat membutuh-kan bantuanmu, Yo-siauwte.

Aku pun ingin berterus terang saja.

Aku sudah mendengar dari adik Bi Kim bahwa oleh neneknya, ia telah ditunangkan denganmu, Yo-te, akan tetapi kenyataannya seka-rang, engkau saling mencinta dengan adik Sian Li, sedangkan adik Bi Kim....

ah, kami berdua saling mencinta dan sudah mengambil keputusan untuk berjodoh.

Nah, tanpa bantuan Yo-te, bagaimana kami berdua akan berani menghadapi keluarganya?" Kini enam orang itu saling pandang dan meledaklah tawa mereka.

Sian Li yang memang berwatak lincah jenaka itu tidak menyembunyikan tawanya karena geli hatinya.

"Hi-hik-hik, alangkah lucunya! Agaknya memang kita berenam ini sudah ditakdirkan untuk saling bantu dan harus melakukan perjalanan bersama.

Betapa menggembirakan! Kita saling kait mengait, saling membutuhkan bantuan!" Yo Han mengangguk-angguk.

"Memang aneh, dan agaknya memang Tuhan meng-hendaki demikian! Aku ditunangkan dengan Gan Bi Kim, akan tetapi adik Bi Kim berjodoh dengan Gak-twako dan aku ber-jodoh dengan Li-moi yang ditunangkan dengan Cia-te, sedangkan Cia-te berjodoh dengan Sim Hui Eng yang selama ini kita semua mencarinya! Baiklah, sekarang di-atur begini saja.

Pertama-tama kita se-mua pergi ke rumah orang tua adik Sim Hui Eng, karena bagaimanapun juga, pe-ristiwa bertemunya kembali adik Eng dengan ayah ibunya merupakan hal yang amat membahagiakan dan penting sekali.

Nah, setelah dari sana, kita tinggalkan dulu adik Eng bersama orang tuanya, dan Cia-te ikut dengan kami untuk menemui orang tua Li-moi.

Setelah itu, aku me-ninggalkan dulu Li-moi di rumah orang tuanya dan aku menemani Gak-twako untuk berkunjung ke rumah adik Gan Bi Kim.

Dengan demikian semua urusan akan menjadi beres!" Demikianlah, tiga pasang kekasih itu lalu mulai melakukan perjalanan berantai itu untuk saling bantu.

Mula-mula mere-ka berenam pergi berkunjung ke Lok--yang.

Pendekar Suling Naga Sim Houw dan isterinya, Can Bi Lan, menyambut keda-tangan mereka dengan gembira dan juga terheran-heran karena mereka mengenal Hui Eng sebagai gadis Paobeng-pai yang pernah membikin kacau pertemuan ke-luarga besar di rumah Suma Ceng Liong.

Akan tetapi, keheranan mereka berubah menjadi kejutan yang luar biasa ketika mereka mendengar bahwa gadis itu bukan lain adalah Eng Eng, atau Sim Hui Eng, anak kandung mereka! Mula-mula mereka merasa sukar untuk percaya, akan tetapi setelah Yo Han, Sian Li, dan Pangeran Cia Sun bercerita, ditambah lagi bukti tanda tahi lalat hitam di pundak kiri dan noda merah di ibu jari kaki di telapak kaki kanan, Can Bi Lan menubruk puteri-nya sambil menjerit dan menangis.

Ter-jadilah pertemuan yang amat mengharu-kan hati dan sukar dilukiskan betapa bahagia rasa hati Sim Houw dan Can Bi Lan ketika mereka dapat menemukan kembali puteri mereka yang hilang sejak kecil itu.

Setelah suasana keharuan mereda, dengan hati-hati Yo Han dan Sian Li menceritakan tentang hubungan kasih sayang antara Hui Eng dan Cia Sun, dan tentang semua pengalaman mereka, ten-tang pembelaan Cia Sun kepada Hui Eng.

Mula-mula, suami isteri itu tertegun.

Mereka menemukan kembali puteri mere-ka, akan tetapi juga mendengar bahwa puteri mereka berjodoh dengan seorang pangeran Mancu" Akan tetapi, suami isteri ini memang bijaksana.

Mendengar betapa pangeran calon mantu mereka itu adik angkat Pendekar Tangan Sakti Yo Han, juga dipuji-puji sebagai bekas calon suami Si Bangau Merah Tan Sian Li, juga bahwa pangeran itu berjiwa pendekar, tidak memusuhi para pejuang dan tidak setuju pula dengan penindasan, mereka pun dapat menerima dengan hati lapang.

Pada keesokan harinya Yo Han dan Sian Li, Ciang Hun dan Bi Kim, mengajak Cia Sun untuk melanjutkan perjalanan dan meninggalkan dulu Hui Eng bersama orang tuanya.

Cia Sun berjanji kepada keluarga itu untuk segera minta kepada ayah ibu-nya untuk mengajukan pinangan secara resmi.

Kemudian, Cia Sun mengikuti Yo Han dan Sian Li mengunjungi orang tua Si Bangau Merah, yaitu Pendekar Bangau Putih Tan Sin Hong yang tinggal di Ta-tung sebelah barat Peking.

Sekali ini, Tan Sin Hong dan Kao Hong Li menerima puteri mereka dengan gembira dan mereka berdua bahkan me-rasa berbahagia sekali ketika mendengar keterangan mereka semua tentang pem-batalan pertalian jodoh antara puteri mereka dengan Cia Sun yang dengan jujur mengakui bahwa dia saling mencinta dengan Sim Hui Eng.

Kini suami isteri ini dapat menerima pinangan Yo Han dengan rasa syukur karena bagaimanapun juga sebetulnya mereka pun amat me-nyayang Yo Han yang kini ternyata telah menjadi seorang pendekar sakti yang ber-nama besar sebagai Pendekar Tangan Sakti.

Suami isteri ini pun ikut merasa gembira mendengar bahwa puteri keluarga Sim yang hilang itu telah ditemukan kembali, bahkan akan menjadi jodoh Pa-ngeran Cia Sun, bekas calon mantu mereka.

Dari rumah orang tua Sian Li, Yo Han mengikuti Gak Ciang Hun dan Gan Bi Kim ke kota raja.

Juga Pangeran Cia Sun hendak pulang ke kota raja untuk minta kepada orang tuanya meminang Sim Hui Eng.Keluarga pembesar Gan Seng, juga nenek Ciu Ceng, menyambut pulangnya Gan Bi Kim dengan gembira pula.

Mereka agak tercengang ketika mendengar pengakuan Gan Bi Kim bahwa ia telah memutuskan pertalian jodohnya dengan Yo Han, karena Yo Han telah berjodoh dengan gadis lain.

Akan tetapi mereka pun merasa lega ketika diperkenalkan dengan Gak Ciang Hun sebagai pemuda yang dipilih Bi Kim sebagai calon jodoh-nya.

Apalagi Yo Han ikut bicara dan memberi penjelasan bahwa sebelum bertemu Bi Kim, sebetulnya dia sudah memiliki pilihan hati.

Keluarga itu bahkan merasa bangga mendengar bahwa calon mantu mereka, Gak Ciang Hun, adalah keturunan pendekar besar yang mem-punyai nama harum di dunia persilatan.

Demikianlah, tiga pasangan kekasih ini tidak menemui halangan apa pun dalam urusan perjodohan mereka.

Pihak orang tua telah menerima dengan senang hati dan pinangan resmi dilakukan, bah-kan pernikahan tiga pasang mempelai ini dirayakan dalam tahun itu juga.

Cia Sun mengajak isterinya, Sim Hui Eng, tinggal di kota raja, dan sekali waktu keduanya juga tinggal di rumah mertuanya di Lok-yang.

Gak Ciang Hun mengajak isterinya, Gan Bi Kim tinggal di Beng-san, bekas tempat tinggal orang tuanya, yaitu di puncak Telaga Warna yang indah.

Yo Han sendiri bersama isterinya, Tan Sian Li, melakukan perjalanan bulan madu jauh ke Lembah Naga Siluman, untuk menyampaikan berita duka tentang kematian Cu Kim Giok kepada keluarga Cu.

Berita itu tentu saja disambut de-ngan tangis oleh Cu Kun Tek dan Pouw Li Sian, dan mereka mendengarkan ke-terangan Yo Han dan Sian Li tentang puteri mereka, dan menerima pesan ter-akhir Kim Giok melalui Sian Li untuk mohon ampun kepada ayah ibunya.

Biar-pun hati mereka terasa hancur karena kematian puteri mereka, namun setidak-nya mereka terhibur juga bahwa pada saat terakhir, puteri mereka sadar dan bertindak sesuai dengan jiwa kependekar-an keluarga mereka.

Puteri mereka, Cu Kim Giok, tewas sebagai seorang pen-dekar wanita yang membela kebenaran.

Juga mereka tidak merasa penasaran karena pembunuh.

puteri mereka, yaitu ketua Thian-li-pang Ouw Seng Bu, telah menemui ajalnya pula.

Kemudian Pendekar Tangan Sakti Yo Han bersama isterinya, Si Bangau Merah Tan Sian Li berkunjung ke Bukit Naga dan di tempat itu, dibantu oleh isterinya, Yo Han menghimpun kembali perkumpulan Thian-li-pang.

Para anggauta lama yang semula memang tidak setuju dengan ke-sesatan Thian-li-pang dikumpulkan dan perkumpulan itu pun didirikan kembali dengan jumlah anggauta yang kecil.

Akan tetapi di bawah bimbingan Yo Han, Thian--li-pang bangkit kembali menjadi perkum-pulan para pendekar pejuang yang ter-kenal bersih dan di kemudian hari, Thian--li-pang memegang peran penting dalam perjuangan rakyat menentang kekuasaan penjajah Mancu.

Sampai di sini berakhirlah kisah Pen-dekar Tangan Sakti dengan harapan pe-ngarang mudahmudahan kisah ini ada manfaatnya bagi para pembacanya.

Se-perti tercatat dalam sejarah, setahun lebih kemudian (1796), Kaisar Kian Liong meninggal dunia dan tahta kerajaan Ceng dipimpin oleh Kaisar Cia Cing, putera Kaisar Kian Liong.

Kaisar Cia Cing me-merintah selama dua puluh empat tahun (1796 - 1820), kemudian dilanjutkan putera-nya, Kaisar Tao Kuang (1820 - 1850).

Akan tetapi semenjak wafatnya Kaisar Kian Liong, kerajaan Mancu ini mulai kehilangan pamornya dan kejayaannya mulai memudar.

Pemberontakan terjadi di mana-mana, ditambah lagi dengan masuknya kekuatan asing barat (orang kulit putih) yang mulai menancapkan kuku kekuasaan mereka di daratan Cina.

Sampai jumpa di lain kisah.

Tamat

Post a Comment