Halo!

Si Rase Emas Chapter 31

Memuat...

Tetapi Kie Bouw telah mengangguk.

"Jika memang nona tidak memandang rendah kepadaku, aku justeru berbahagia sekali nona mau mengembara ber-sama2 denganku !" Kata Kie Bouw.

Mendengar Kie Bouw, menyanggupi, maka si gadis tampak jadi girang sekali.

Dia mengeluarkan suara seruan girang.

Dan telah cepat2 merangkapkan sepasang tangannya, dia telah memberi hormat.

Tampaknya memang mengembara seperti itulah yarg diinginkan.

Karena sekarang ini dia memang telah menjadi seorang anak yatim piatu yang sudab tdak memiliki sanak famili,Mau tidak mau memang si gadis juga merasa berhutang jiwa pada pemuda yang gagah ini, dia melihat betapa Kie Bouw seorang pemuda yang baik, disamping itu juga sangat lembut.

Maka dia percaya, jika dia berada disisi pemuda yang gagah dan tampaknya memiliki kepandaian yang tinggi jelas dia akan tenang dan tenteram hatinya.

Dan setelah ber-cakap2 sambil mempersiapkan barang untuk perbekalan si gadis, merekapun kemudian telah melakukan perjalanan meninggalkan tempat itu.

Selama dan perjalanan Kie Bouw berusaha menghibur si nona dengan menceritakan berbagai pengalamannya, agar sigadis she Siangkoan ini melupakan kedukaan hatinya mengenai kematian yang telahmenimpa kedua orang tuannya.

Dan memang dengan melakukan perjalanan bersama Kie Bouw, hati si nona Siangkoan merasa terhibur ......

sehingga tidak jarang terlihat senyumannya yang merekah...

---oo~Dewikz.0.Tah~oo--- BAGIAN 19 PAGI ITU Kie Bouw dan Siaogkoan Nio berada dilereng gunung Hoa-san dalam pengembaraan mereka.

Keduanya memang selalu melakukan perjalanan dengan gembira dan tampaknya memang mereka sangat cocok satu dengan lainnya, disamping memang tampaknya juga sangat sepadan sekali.

Melihat keindahan pegunungan Hoa-san yang demikian rnenarik, tidak hentinya Siangkoan Nio don Kie Bouw memujinya.

"Cobalah kau bacakan sajak yang pernah dibuat oleh penyair Siang hiang yang memuji keindahan Hoa-san !" Kata Kie Bouw kepada si gadis.

Kie Bouw mengajukan permintaan begitu, karena dia memang mengetahuinya bahwa si gadis adalah seorang yang khusus mempelajari pelajaran Bun, pelajaran surat.Si gadis tersenyum.

"Nanti engkau mentertawakan suaraku yang buruk" Kata si gadis.

Tamgaknya dia tersipu agak malu2, tetapi Kie Bouw mendesak terus agar si gadis mau membacakan sajak itu.

Akhirnya si nona Siangkoan membacakan sajak ciptaan Siang hiang itu Putih bagaikan salju, itulah awan, Merah bagaikan darah, itulah tanah, Hijau adalah warna sekelilingnya, Dan gemeritik merupakan musik indah air terjan.

Keindahan Hoa-san tiada tandingannya Kelembutan hutannya bagaikan suara lagu Kemesraan alamnya, memukau.

Hai..., hai..., asing dan tiada disini, Dan semuanya itu bercampur.

Menjadi satu dan berpadu Indah.

Tetapi juga memukau.

Mengharukan.

Menggembirakan.

Juga membuat manusia akan terlupakan pada segalanya, Hai...!

Hai.....!

Bila aku berada ditempat ini lagi......?!

Pada akhir dari kata2 .

"Hai...!

Hai....!

Bila aku berada ditempat ini lagi ?" Suara dari Siangkoan Nio terdengar semakin meninggi, Kie Bouw jadi memandang dengan hati yang melambung tinggi, dia jadi begitu kagum.Demikian pandai si gadis membawakan sajak itu, demikian cekatan dan suaranya demikian sesuai.

Disaat memuji kelembutan, suaranya begitu iembut, tetapi dikala dia memuji kekerasan antara hutan belukar, dia dapat membawakan suara yang keras.

Inilah yang membuat Kie Bouw semakin kagum saja pada si gadis.

Dengan bertepuk tangan, tidak hentinya Kie Bouw memujinya.

Muka si gadis jadi berobah merah seketika itu juga.

"Hebat......!" Kata Kie Bouw kemudian.

"Engkau memang pandai sekali, Nio moy !" Si nona rupanya tersipu malu.

"Engkau terlalu memuji, Koko......

sesungguhnya suaraku buruk sekali !" Dan keduanya tersenyum, saling pandang, dan sorot mata mereka saling bicara walaupun bibir mereka masing2 sama tertutup rapat tidak mengeluarkan sepatah katapun.

Tetapi diantara keheningan itu.

tiba2 terdengar suara orang tertawa dingin.

"Hmmm ......, apanya yang indah ?" Muncullah tiga sosok tubuh dengan gerakan yang sangat gesit, dan ketiga sosok tubuh yang baru muncul ini memecah diri seperti mengambil sikap mengurung.

Satu sosok tubuh itu bentuknya kecil dan pendek sekali, dia yang mengeluarkan kata2 ejekan itu.

Kie Bouw dan Siangkoan Nio jadi terkejut, mereka menoleh dan mengawasinya.

Ternyata Kie Bouw dapat mengenalinya dengan segera ......

salah satu dari mereka bertiga tidak lain dari Sam-kiam-hiap.

Mereka bertiga memandang kearah Kie Bouw dan Siangkoan Nio dengan sikap bermusuhan.

"Akhirnya kita bertemu lagi disini" Kata Sam-kiam-hiap dengan suara yang dingin.Kie Bouw tertawa sinis.

"mau apa engkau mengganggu kami lagi ?" Tegurnya.

"Hemm...jelas mengambil jiwamu !" Sahut Sam-kiam-hiap.

"Sesungguhnya kita tidak pernuh saling berkenalan, dan tidak pernah pula bermusuhan, mengapa tampaknya engkau menaruh dendam kepadaku ?" Kata Kie Bouw pula.

"Hemm...engkau merubuhkan diriku .....

inilah dendam yang tidak terhingga !" "Tetapi..." Kie Bouw masih berusaha untuk mengelakkan suatu pertempuran, karena dia melihatnya betapa Siangkoan Nio ketakutan bukan main.

Maka dari itu Kie Bouw tidak mau membuat kecut dan si nona ketakutan.

Kalau bisa Kie Bouw ingin mengelakkan suatu prrtempuran dengan jago2 yang ada dihadapannya ini yang tentunya memiliki kepandaian sangat tinggi.

Tetapi Sam-kiam-hiap mendengus.

"Ber-siap2lah !

Aku akan melancarkan serangan seorang diri !" "Jangan engkau melihat kami datang bertiga lalu engkau mengatakan bahwa aku ingin mengeroyokmu !

Hmm......., kedua kawanku ini hanya sebagai saksi saja !" Dan setelah berkata begitu, Sam-kiam-hiap ber-siap2 melancarkan serangan.

Sepasang alis Kie Bouw mengkerut.

Dia melihatnya bahwa suatu pertempuran tidak bisa dielakkan.

Maka dia meminta Siangkoan Nio menepi.

Setelah itu, Kie Bouw, ber-siap2 menerima serangan dari Sam- kiam-hiap,Rupanya Sam-kiam-hiap memang sakit hati waktu dia dirubuhkan oleh Kie Bouw tempo hari.

Maka dari itu, dia merawat dirinya agar cepat2 sembuh dari luka dalam dari gempuran Kie Bouw.

Dan setelah itu, Sam-kiam-hiap mencari kedua orang sahabatnya, yang bergelar Siang-mo Kui kwan (Sepasarg iblis dari kota Kui-kwan), dan mengajak mereka untuk menyaksikan sebagai saksi dalam pertempuran dengan Kie Bouw.

Mereka bertiga mengembara di rimba persilatan mecari jejak Kie Bouw, dan hari inilah mereka saling bertemu.

"sudah siap?" Tegur Sam-kiam-hiap dengan suara yang dingin.

Kie Bouw hanya mengangguk.

Saat itu Kie Bouw melirik dan melihat betapa Siangkoan Nio tengah menatap kearah dirinya dengan sorot mata mengendung kekuatitan, dan Kie Bouw merasakan sorot mata si gadis bagaikan setitik embun yang menyejukkan hatinya.

Maka dari itu Kie Bouw bertekad, dia harus memenangkan pertempuran ini.

Saat itu, Sam-kiam-hiap mengeluarkan suara bentakan yang nyaring, tampak tubuhnya ber-goyang2 semakin lama semakin keras.

Dia tidak menerjang maju, tetapi dengan tubuh ber-goyang2 seperti itu tampaknya Sam-kiam-hiap tengah mengerahkan tenaga dalamnya.

Dia mengerehkan seluruh kekuatan pada kedua telapak tangannya, karena dia memusatkan seluruh kekuatan pada kedua telapak tangannya itu.

Sam-kiam-hiap tidak berani berlaku ceroboh lagi.

Karena dia pernah merasakan betapa hebatnya kepandaian yang dimiliki oleh Kie BouwSaat itulah, tampak tubuhnya Sam-kiam-hiap tahu2 melayang ketengah udara bagaikan se-ekor burung rajawali, dia menubruk datang menerjang kearah Kie Bouw.

Sedangkan Kie Bouw hanya mundur selangkah.

Dengan cepat Kia Bouw menguasai keseimbangan tubuhnya, maka tanpa membuang waktu lagi dia melancarkan serang kearah lawannya tersebut.

Sam-kiam-hiap jadi kaget sekali, dia menyambuti serangan yang dilancarkan Kie Bouw......"Bukkkk...........'' kembali terjadi benturan yang keras.

Pertempuran yang berlangsung antara Kie Bouw dengan Sam- kiam-hiap merupakan suatu pertempuran yang hebat sekali, membuat Sam-kiam-hiap dan Kie Bouw sendiri dapat merasakan bahwa mereka tengah melakukan suatu pertempuran yang tidak boleh dibuat main2.

Kie Bouw mengeluarkan suara pekik nyaring mengandung kekuatan, tahu2 kedua tangannya di-gerak2kan dengan gerakan yang cepat dan dari kedua telapak tangannya itu keluar serangkum angin serangan yang luar biasa sekali kuatnya menghantam tubuh Sam-kiam-hiap sampai tergetar keras, Sam-kiam-hiap merasakan betapa tenaga serangan Kie Bouw itu membuat tubuhnya tergetar.

Dengan penuh kemurkaan tampak Sam-kiam-hiap memusatkan seluruh kekuatan yang ada padanya.

Dan dia menolaknya dengan kuat kearah Kie Bouw, terjadilah benturan kuat dan seketika itu juga tubuh mereka sating terhuyung kebelakang dengan tubuh yang doyong, karena dua kekuatan yang tadinya saling tindih itu, terlepas dan saling terpisah.

Begitu mereka terpisah, Kie Bouw yang terlebih dahulu bisa mengendalikan kedua kakinya, segera mengeluarkan suara seruan nyaring melancarkan serangan lagi.

Sam-kiam-hiap baru dapat mengendalikan kedudukan kakinya, tetapi serangan Kie Bouw menyambar datang terlebih dahulu.Sam-kiam-hiap, sedikitnya akan terluka parah atau cacad seumur hidup, kalau dia memaksakan diri menangkis serangan lawannya itu, terpaksa dia mengelak atau menghindar Kie Bouw yang gusar bukan main melarcarkan serangan berulang kali.

Dia berhasil mendesak lawannya.

karena Sam-kiam-hiap tampak selalu main mengelakkan diri.

Dan setiap kali itu pula tampak Sam- kiam-hiap hampir kena dirubuhkannya.

Disaat itu kedua kawan dari Sam-kiam-hiap, yaitu Siang-mo Kui- kwan telah mengawasi dengan sikap yang mulai ber-sungguh2.

Rupanya kedua iblis dari Kui-kwan ini begitu yakin bahwa Sam- kiam-hiap Yang akan memperoleh kemenangan.

Hal itu disebabkan mereka mengetahui benar bahwa sahabat cebol mereka itu memiliki kepandaian yang tinggi !.

Maka ketika melihat beberapa kali Sam-kiam-hiap kena didesak oleh serangan2 yang dilancarkan oleh Kie Bjuw, mereka jadi berkuatir dengan sendirinya.

Post a Comment