Tetapi engkau kulihat seorang yang pengecut !
Perihal kematian dari hartawan tua itu tidak ada artinya buatku, karena memang lawanmu, tetapi Istrinya itu kau binasakan dengan membokong mengunakan serangan dengan jarum !.
Inilah yang membuat aku tidak gembira!
Jika memang engkau berhasil membinasakannya dengan menggunakankepandaian yang kau miliki, itu lain pula persoalannya !
Dan yang membuat aku tambah tidak senang, kulihat tadi betapa nona itu dalam keadan tidak berdaya dan sedang pingsan, tetapi engkau mau membunuhnya juga.
Itulah suatu perbuatan yang sangat pengecut sekali!" Muka si iblis telah berobah merah padam tampaknya dia jengah berbareng juga gusar.
"Lalu apa maumu?" Bentaknya dengan suara yang bengis sekali!
"Mauku?
Ya .......membinasakan dirimu si iblis yang jahat!" Sahut si Rise Emas.
Yang tidak lain dari Kie Bouw.
Memang sejak tadi Kie Bouw telah bersembunyi dibalik semak itu.
Karena tadi dia kebetuilan lewat dimuka gedung ini dia mendengar suara bentakan2 seperti adanya suatu pertempuran.
Maka saking tertariknya Kie Bouw telah memasuki gedung itu secara diam2 Disebabkan Ginkangnya telah sempurna, maka orang2 sama sekali tidak mengetahui kedatangannya dan juga dia telah bersembunyi dibalik semak belukar itu.
Tetapi setelah dia mengerti duduk persoalan bahwa si iblis Siang- mo-kiam datang untuk membalas dendam, Kie Rouw semulanya mau berlalu, namun dia melihat betapa Siang-mo-kiaw selalu melancarkan seprangan-serangan dengan tikaman dan pukulan2 yang mematikan.
Peraturan rimba persilatan itu telah melarang siapa saja orang2 rimba persilatan, jika bertemu dengan pertempuran dimana seseorang tengah ingin membalas sakit hati dan dendam, maka urusan dendam itu tidak boleh dicampuri.
Kie Bouw sebagai orang rimba persilatan dia terikat oleh peraturan rimba persilatan .......
akhirnya, dia telah berdiam diri saja tidak mau campur tahu dengan urusan keluarga Silngkoan itu.Tetapi ketika itu, dia melihat betapa Siang-mo-kiam telah menggunakan cara yang rendah hina dan keji sekali, dengan membokong serangan jarum-jarum beracun membinasakan Siangkoan Hujin, Siiblis Siang-mo-kiam, tubuhnya telah mencelat untuk menerjang.
Dia mencabut pedang ditangan kiri dan kanannya, dan melancarkan serangan berbareng saling susul menyusul.
Kie Bouw jadi tambah mendongkol saja, ia ber-siap2 dan kedua kakinya tetap berdlri tegak ditempatnya tanpa bergerak, mengawasi dan menunggu tibanya serangan kedua pedang siiiblis Siang-mo- kiam.
Kala pedang Siang-mo-kiam mendekati, maka dengan cepat sekali dia mengeluarkan suara siulan yang panjang dan Kie Bouw mengulurkan kedua tangannya, memapak pedang itu dengan kedua jari tengah dan telunjuk tangannya masing2, dan kedua pedang itu telah dijepitnya.
Tentu saja Siang-mo-kiam Jadi terkejut bukan main, cepat dia telah mengerahkan sebagian besar tenaga dalamnya berusaha untuk dapat menarik pulang pedangnya itu Dan jari2 tangan dari Kie Bouw bagaikan jepit besi kuat maka dari itu si iblis jadi kaget setengah mati, dia menarik pedang itu se- kuat2nya Tetapi kembali gagal.
Kedua pedangnya itu tetap tidak bergerak.
"Ini adalah pelajaran pertama buatmu" Kie Bouw menggerakkan jari2 tangannya itu dengan perlahan.
"Trangg......." Pedang2 itu tetah terpatahkan.
Pedang itu terbuat dari baja yang ditempa, tetapi hanya dengan menggunakan jari telunjuk dan jari tengahnya Kie Bouw bisa mematahkannya, apa lagi pedang itu merupakan pedang pusaka . . . ......Inilah hebat!Siang-mo-kiam cepat menggerakkan sepasang tangannya, melancarkan serangan sekaligus dengan mempergunakan kedua tangannya.
Dengan mengeluarkan suara dengusan, Kie Bouw mengibaskan tangannya, seketika itu juga terjadi sesuatu hal yarg luar biasa.
Tampak tubuh si iblis Siang-mo-kiam telah terlempar keras ketengah udara, lalu meluncur keatas tanah, ambruk dengan bantingan yang keras.
Saat itu pula Kie Bouw telah menjejakkan kakinya, tubuhnya dengan cepat telah mencelat menubruk si iblis sambil tangan kanannya menghantam telak sekali dada Siang-mo-kiam.
"Hemm.......sebetulnya jika aku mau mengambil jiwamu semudah membalikkan telapak tangan, tetapi aku masih berlaku murah hati membiarkan kau hidup !
Tetapi aku telah memusnahkan seluruh kepandaian yang engkau miliki !
Tetapi jika dilain waktu aku bertemu dengan kau masih melakukan kejahatan lagi, hemm......., hemm......., disaat itu aku tidak bisa memberikan pengampunan buatmu !" Dan setelah berkata begitu, Kie Bouw mengayunkan kaki kanannya menendang pantat si iblis itu.
Dan akibat tendangannya itu, tubuh si iblis Siang-mo-kiam telah rubuh terjungkel lagi.
---oo~Dewikz.0.Tah~oo--- Kie Bouw berdiri mengawasi kepergian si iblis dengan sorot mata yang dingin.
Setelah Kie Bouw melihat Siang-mo-kiam dan bayangan telah lenyap.
Maka Kie Bouw menghampiri mayat Siangkoan Tat, dan istrinya, dia memeriksa kedua mayat itu, ternyata mereka memang telah binasa.Kie Bouw menghela napas panjang, wajahnya muram sekali.
Kie Bouw cepat2 menghampiri sigadis Siangkoan Nio, dia memeriksanya, ternyata Gadis ini tidak terluka apa2, Kie Bouw menghela napas lega, cepar menotok beberapa jalan darah ditubuh si gadis, agar gadis ini siuman dari pingsannya.
Seketika itu juga Siongkoan Nio telah tersadar dari pingsannya.
Si gadis dengan cepat telah melompat berdiri.
Dia mengiawasi sekelilingnya, waklu ia melihat mayat-mayat ayah dan ibunya si gadis jadi menangis sedih sekali, ditubruk mayat ibuoya dan sesambat.
"Ma........, mengapa engkau tega meninggalkan aku?" Berulang kali gadis sesambatan didalam tangisnya, sedangkan Kie Bouw hanya mengawasi saja.
Akhirnya setelah merasa cukup lama si gadis menangis barulah dia merangkapkan sepasang tangannya memberi hormat dan berkata .
"Koownio.......
manusia jahat itu telah kuhajar bercacad dan telah kumusnahkan seluruh kepandaiannya !
Tadinya aku ingin membinasakannya, tetapi aku mengingat bahwa persoalan ini adalah persoalan keluarga dan membalas dendam belaka, maka aku telah meringankan sedikit tangan!" Mendengar perkataan sipemuda, menoleh memandang ragu kearah Kie Bouw.
"Siapa kau ?" Tegurnya.
Kie Bouw cepat2 telah memperkenalkan dirinya, dia memberitahukan namanya.
Tetapi gadis ini masih ragu2 Maka, Kie Bouw telah menuturkan seluruh kejadiaan yang telah lewat tadi.
Mendengar semua itu, sigadis menangis ter-sedu2.
Tampaknya dia berduka sekali."Mulai hari ini aku menjadi seorang anak yatim piatu !" Katanya.
"Jangan berduka nona ......
semua yang telah terjadi ini walaupun suatu mala petaka, mungkin memang sudah tulisan !" Kata Kie Bouw.
"Maka didalam kesulitan dan penderitaan seperti ini, manusia harus tabah dan kukira nona tidak perlu menangisi yang telah pergi!" Si gadis mangangkat kepalanya, dia memandang Kie Bouw dengan air mata masih mengucur.
"Terimalah penghormatan Siauw moay, terima kasih atas pertolongan kongcu terhadap jiwa Siauw moay ...." Kata sigadis kemudian.
Tentu saja Kie Bouw jadi gugup menerima penghormatan seperti itu dari seorang gadis yang cantik seperti Siangkoan Nio, kie Bouw cepat2 menyingkir kesamping mengelakan diri dari penghormatan yang diberikan oleh sigadis.
"Jangan terlalu banyak peradatan nona!" Kata Kie Bouw tersipu2.
"apa yang kulakukan tadi hanyalah merupakan suatu bewajiban belaka!" "Tetapi kongcu yang telh menyelamatkan jiwaku!" Kata si nona She Siangkoan.
"Jika memang kongcu tidak menolong jiwaku, tentu aku pun telah menjadi mayat" "Sudahlah" Kata Kie Bouw yang tidak tahu apa yang harus dilakukannya, katanya dengan gugup sekali dan melihat betapa si gadis masih menangis dengan sedih.
"Biarlah mayat, kedua orang tuamu itu akan kukubur!" Kata Kie Bouw dia telah menggali dua buah lubang, kemudian mengubur mayat kedua orang tua Siangkoan Nio dengan rapih.Setelah tanah kuburan itu berbentuk dua gundukan tanah yang cukup tinggi, si gadis duduk berlutut bersembahyang dihadapan kuburan kedua orang tuanya itu.
Saat itu, Kie Bouw telah berdiri disampingnya dia mengawasi saja.
"Betapa cantiknya gadis ini" Diam2 Kie Bouw membathin didalam hatinya.
"Hemm....
jika saja dapat bersahabat dan mengikat tali persahabatan itu .....
!" Terapi berpikir begitu, tiba2 Kie Bouw merasakan pipinya jadi panas, berobah merah padam.
Rupanya dia malu sendiri oleh jalan pikirannya itu.
Disaat itulah tampak Siangkoan Nio telah selesai berrsembahyang, dia telah berdiri dan membalikkan tubuhnya memandang kearah Kie Bouw.
"Kongcu, ada sesuatu yang ingin kukatakan kepadamu.
entah engkau mau mendengarkannya atau tidak?" Tanya sigadis kemudian sambil mengawasi Kie Bouw dengan sorot mata yang ber-kaca2 karena air mata.
"Katakanlah nona." Kata Kie Bouw cepat.
"Aku mempunyai satu permintaan kepadamu, entah merepotkan dan memberatkanmu atau tidak ?!" Kata si gadis sambil menundukkan kepalanya.
Kie Bouw memandang si gads deagan hati agak tergoncang, tetapi tetap bnerusaha tersenyum "Katakanlah nona !" Katanya Si gadis terlihat ragu.
Tetapi kemudian katanya.
"Yahh......., sekarang ini aku telah menjadi anak yatim piatu yang tidak memiliki kedua orang tua dan tidak sanak famili.
Karena kedua orang tuaku merupakan jago2 rimba persilatan yang selalu hidup mengasingkan diri.
Namun sekarang ...........
dalam penderitaan seperti ini engkautelah menolongku, maka aku bermaksud akan mengikuti kemana saja engkau pergi.
untuk berlindung jika memang ini tidak memberatkanmu!" Setelah berkata begitu, si gadis menundukkan kepalanya, dia jengah sekali, pipinya juga telah berobah merah seketika.
Kie Bouw merasakan betapa hatinya berdebar keras, biar bagaimana pemuda ini merasakan bahwa si gadis menaruh hati padanya.
Mungkin juga hal ini disebabkan si gadis merasa berhutang jiwa pada pemuda ini.
Ketika tidak mendengar jiwaban Kie Bouw, maka akhirnya si gadis telah mengangkat kepalanya dia memandang Kie Bouw dengan sorot mata, yang tajam.
"Bagaimana Kongcu ?" Tanyanya.
"Apakah hal itu tidak memberatkan kau ?" Katanya kemudian sambil menatap mengandung harapan.