Kini Lili menghadapi Souw Kiat dan berkata dengan nada meremehkan.
"Nah, pangcu.
Apakah engkau juga masih berkeras tidak mau menyerahkan kedudukan kepada suciku ini?" Wajah Souw Kiat nampak suram.
Diapun sudah melihat sendiri kekalahan wakilnya dan diapun tahu bahwa melawan gadis remaja itu saja, dia tidak akan menang, Dia tidak sanggup mengalahkan Lu Pi seperti yang dilakukan gadis itu, sedemikian mudahnya!
Apa lagi kalau harus melawan kakak seperguruan gadis itu, seorang wanita yang tidak muda lagi walaupun masih nampak segar dan cantik, yang tentu lebih lihai lagi dibandingkan adik seperguruannya.
"Aku Souw Kiat menjadi Hek I Kai-pangcu mengandalkan kepandaian silatku.
Kalau ada yang hendak merampas kedudukan ini, harus juga melalui adu kepandaian," katanya akan tetapi dengan lemah seolah-olah tidak bersemangat.
"Kalau begitu bangkitlah dan mari kita mengadu kepandaian!" tantang Lili.
"Sumoi, apakah engkau ingin menjadi ketua Perkumpulan pengemis ini?" tanya Sui In.
Lili terbelalak dan menggeleng kepala kuat-kuat.
"Aih, siapa ingin mengetuai para jembel ini, suci?
Tidak, aku hanya mewakilimu merampas kedudukan ketua di sini!" "Kalau tidak, mundurlah, sumoi.
Aku yang ingin menjadi ketua, maka harus aku pula yang merampas kedudukan itu dari tangan Souw-pangcu." Dengan tenang Sui In bangkit dan melangkah ke tengah ruangan itu, lalu memandang kepada Souw Kiat dan berkata.
"Souw-pangcu, aku Cu Sui In menantangmu untuk mengadu kepandaian untuk menentukan siapa yang lebih pantas menjadi ketua Hek I Kai-pang!" Souw Kiat bangkit dan dengan lemas dia melangkah ke tengah ruangan menghadapi wanita cantik itu.
Dia maklum bahwa kedudukannya terancam.
Souw Kiat memberi hormat dan berkata.
"Cu-lihiap, sungguh sikap lihiap ini amat membingungkan hati kami.
Bagaimana seorang wanita cantik seperti lihiap begitu ingin menjadi pemimpin besar kai-pang?
Apakah alasannya?
Dan sebelum kita bertanding, kalau boleh kami mengetahui, dari partai manakah lihiap datang?
Kami Hek I Kai-pang selalu menghargai kegagahan dan ingin bersahabat dengan semua golongan." "Sudah kukatakan tadi, aku ingin menjadi ketua Hek I Kai-pang agar aku mendapat dukungan kalau ada pemilihan pemimpin besar Kai-pang.
Tujuanku bukan menjadi pemimpin besar kai-pang, melainkan agar aku dapat mewakili seluruh kai-pang untuk mengadakan pemilihan beng-cu." Souw Kiat terbelalak.
"Apakah .....
apakah?
lihiap yang semuda ini berkeinginan menjadi beng-cu?" Sui In menggeleng kepala.
"Bukan aku calon beng-cu, melainkan ayahku." "Siapakah ayah lihiap?
Bolehkah kami mengetahui nama besarnya?" "Ayahku adalah See-thian Coa-ong Cu Kiat." Mendengar ini, terdengar seruan-seruan kaget dan Souw Kiat sendiri segera memberi hormat lagi kepada Sui In.
"Ah, kiranya lihiap puteri locianpwe See-thian Coa-ong!" "Lu-siauwte, engkau tidak perlu merasa penasaran!
Engkau telah dikalahkan seorang murid dari locianpwe See-thian Coa-ong!" seru ketua Hek I Kai-pang itu kepada wakilnya dan wajah Lu Pi yang tadinya muram kini berseri.
Kalau dikalahkan seorang murid dari datuk besar itu tentu saja lain halnya.
Namanya tidak akan rusak, berarti dia tidak dikalahkan oleh gadis sembarangan!
"Cu-lihiap, kalau begitu kiranya tidak perlu lihiap menjadi ketua Hek I Kai-pang.
Kelak kalau ada pemilihan pimpinan seluruh kai-pang, lihiap akan kami dukung sebagai calon." "Souw-toako, bagaimana mungkin itu?
Kalau Cu-lihiap bukan ketua kai-pang, bahkan bukan anggauta, bagaimana mungkin diajukan sebagai calon pemimpin seluruh kai-pang?" Lu-pangcu mengingatkan ketuanya.
Souw Kiat mengangguk dan mengerutkan alisnya.
"Benar juga ucapan Lu-siauwte.
Bagaimana mungkin kami kelak mendukung kalau lihiap bukan seorang ketua ?" Dia menghela napas panjang.
"Agaknya tidak dapat dihindarkan lagi, terpaksa aku mohon petunjukmu, lihiap.
Kalau aku kalah, maka barulah lihiap berhak menjadi ketua Hek I Kai-pang." "Hemm, silakan maju, pangcu," kata Sui In dan dengan sikap tenang ia menanti ketua itu untuk bergerak menyerang.
Akan tetapi Souw Kiat nampak tidak bersemangat.
Begitu mendengar bahwa, wanita cantik ini puteri See-thian Coa-ong, dia sudah menjadi jerih.
Apa lagi tadi ia melihat wakilnya dengan amat mudah dikalahkan sumoi dari wanita ini.
"Cu-lihiap, dalam hal ilmu silat aku tidak akan menang melawanmu.
Akan tetapi kalau lihiap mampu mengalahkan aku dalam hal tenaga sin-kang, aku akan mengaku kalah, dan akan merasa bangga mempunyai ketua baru seperti lihiap." Sui In tersenyum.
"Baik, kau mulailah!" Ketua Hek I Kai-pang yang bertubuh tinggi besar itu lalu berdiri tegak, kedua lengannya diangkat ke atas kedua tangan dikembangkan dan diapun mengerahkan tenaga, membuat gerakan seperti memetik buah-buah dari atas, kemudian kedua tangan diturunkan ke bawah dan terdengar bunyi tulang-tulang lengannya berkerotokan.
Kedua tangannya berkembang ke bawah dan kembali membuat gerakan seperti mencabuti rumput-rumput dari bawah, kemudian kedua tangan naik lagi.
dengan jari-jari terbuka menempel di kanan kiri pinggang.
Mukanya berubah merah, seluruh tubuhnya tergetar, terisi tenaga sin-kang yang dihimpunnya tadi.
Sui In maklum bahwa lawan telah mengumpulkan tenaga sakti dan siap menyerangnya, maka iapun mengangkat kedua tangan ke atas, lurus, lain kedua tangan itu turun membuat gerakan melengkung seperti membentuk lingkaran, berhenti di depan dada seperti memondong anak, perlahan-lahan kedua tangan itu diturunkan ke kanan kiri tubuh, tergantung lepas dan lurus seperti tidak bertenaga lagi.
Ia tersenyum dan berkata.
"Aku telah siap, pang-cu.
Mulailah!" Souw Kiat tidak menjawab, melangkah maju sampai dekat di depan wanita itu.
Hidungnya mencium keharuman yang keluar dari pakaian Sui In dan dengan cepat dia mematikan penciuman itu agar tidak mengganggu konsentrasinya.
Kemudian, sambil mengerahkan tenaga dari bawah pusar, disalurkannya ke seluruh kedua lengannya, diapun membuat gerakan mendorong dengan kedua tangan terbuka, ke arah dada Sui In.
Terdengar angin yang dahsyat menyambar keluar dari kedua tangan itu.
Sui In segera menyambutnya dengan kedua tangan pula yang diluruskan ke depan, dengan jari terbuka pula.
"Plakkkk" Dua pasang telapak tangan itu saling bertemu, melekat dan mulailah keduanya mengerahkan tenaga sakti mereka untuk saling mendorong dan mengalahkan lawan.
Nampaknya kedua orang itu seperti main-main saja, namun semua orang maklum bahwa adu tenaga yang dilakukan secara diam tanpa bergerak ini bahkan lebih berbahaya dari pada adu silat yang penuh pukulan, tendangan, elakan dan tangkisan.
Souw Kiat memang cerdik.
Melihat ilmu silat Lili tadi saja, dia tahu bahwa dalam ilmu silat dia bukan tandingan wanita cantik ini.
Akan tetapi dia memiliki sin-kang yang terkenal kuat, maka dia hendak mencari kemenangan melalui adu tenaga sakti.
Ketika mula-mula kedua telapak tangannya bertemu dengan tangan wanita itu, dia merasa betapa telapak tangan itu lembut, lunak dan hangat.
Dia lalu mengerahkan tenaga untuk mendorong, akan tetapi bertemu dengan tenaga lunak itu, tenaganya seperti batu ditekankan ke air, tenggelam!
Kemudian, telapak tangan yang halus itu menjadi panas sekali.
Souw Kiat cepat mengerahkan tenaganya untuk melawan hawa panas yang seperti membakar telapak tangannya.
Namun, kedua telapak tangan halus itu makin lama semakin panas dan ada tenaga dorongan yang amat kuat keluar dari tangan itu.
Souw Kiat mengerahkan seluruh tenaga untuk bertahan dan tak lama kemudian, dahi dan lehernya sudah penuh keringat, dan dari kepalanya mengepul uap.
Merasa betapa kedua kakinya mulai goyah dan kuda-kudanya terbongkar, dia makin mempertahankan sekuat tenaga.
Semua orang yang menyaksikan pertandingan ini, walaupun tidak dapat merasakan, namun dapat melihat perbedaan antara kedua orang yang sedang bertanding sin-kang itu.
Kalau Souw Kiat berpeluh, kepalanya beruap dan mukanya sebentar merah sebentar pucat, wanita cantik itu masih tenang saja, nampak santai dan tersenyum mengejek.
Tiba-tiba Sui In mengeluarkan bentakan melengking dan tubuh Souw Kiat terangkat ke atas Kedua kakinya naik sampai satu meter dari tanah!
Biarpun Souw Kiat berusaha untuk membuat tubuhnya menjadi berat, tetap saja dia tidak mampu menandingi tenaga yang mengangkat tubuhnya itu.
Mukanya berubah pucat karena dia berada dalam bahaya maut!
Kalau dilanjutkan adu tenaga sin-kang ini, dia akan terpukul oleh tenaganya sendiri yang membalik dan akan terluka parah, mungkin tewas.
Dia berusaha melepaskan kedua tangan dari tangan lawan, namun dua pasang tangan yang bertemu itu seperti telah melekat dan tidak dapat dipisahkan lagi!
Mendadak, Sui In mengeluarkan bentakan nyaring, kedua tangannya mendorong dan tubuh Souw Kiat terlempar sampai empat lima meter jauhnya dan tubuhnya terbanting keras di atas lantai.
Dia menderita nyeri pada pinggul yang terbanting, akan tetapi tidak menderlta luka dalam.
Tahulah dia bahwa wanita itu selain sakti, juga tidak mempunyai niat buruk terhadap dirinya yang tadi sudah berada di ambang maut, Diapun bangkit, memberi hormat dengan hati kagum dan berkata.
"Saya mengaku kalah dan terima kasih atas pengampunan lihiap." "Hemm, sekarang engkau membolehkan aku menjadi ketua Hek I Kai-pang?
Atau masih ada anggauta kai-pang lainnya yang merasa tidak suka?" tanya Sui In.
Tidak ada seorangpun yang berani menjawab.
Bahkan mereka harus mengakui bahwa wanita cantik ini jauh lebih lihai dari pada pangcu mereka, dan sudah sepatutnya menjadi ketua baru.
Akan tetapi, merekapun tidak suka mendukungnya karena Hek I Kai-pang tentu akan menjadi bahan tertawaan para kai-pang yang lain kalau mereka mendengar bahwa Hek I Kai-pang diketuai oleh seorang wanita muda yang cantik.
"Cu-lihiap, saya dan seluruh anggauta Hek I Kai-pang, tentu akan suka sekali kalau lihiap memimpin kami.
Akan tetapi saya khawatir justeru Cu-lihiap sendiri yang tidak mau menjadi ketua kami." Lili bangkit dari tempat duduknya dan menudingkan telunjuk kanannya ke arah Souw Kiat.
"Heii, Souw-pangcu.
Jangan kau plintat-p