kami, ji-wi li-hiap (pendekar wanita berdua).
Saya Souw Kiat ketua Hek I Kai-pang, merasa girang sekali bahwa ji-wi sudi datang berkunjung.
Tentu ji-wi akan memberi penjelasan tentang peristiwa yang terjadi di kedai nasi itu, bukan?" Melihat sikap gagah dan sopan dari ketua itu, baik Sui In maupun Bwe Li merasa senang dan tidak jadi marah yang tadi tlmbul melihat sikap para pimpinan pengemis di situ yang memandang marah dan siap mepgeroyok itu.
Sui In mengangguk.
"Bukan hanya memberi penjelasan, juga kami minta penjelasan tentang kai-pang pada umumnya." suara Sui In tenang, lembut namun penuh wlbawa.
"Silakan duduk, ji-wi li-hiap," kata Souw Kiat yang disambungnya setelah mereka duduk.
"Bolehkah kami mengetahui siapa nama ji wi dan dari partai mana?" "Cukup kau ketahui bahwa aku she Cu dan ini sumoi ku she Tang.
Souw-pangcu, seperti diceritakan dua orang pembantumu tadi, pengemis ini tadi mengganggu kami di kedai nasi ketika kami sedang makan.
Karena dia kurang ajar sekali, maka aku telah melukainya dengan sumpit.
Akan tetapi, bukan aku yang membunuhnya dengan jarum beracun walaupun aku memiliki pula jarum beracun, dan untuk membuktikan, dapat dibandingkan jarumku dengan jarum yang membunuh itu." Tiba-tiba nampak tangan kiri Sui In bergerak, tidak terlihat ia melemparkan jarum, akan tetapi ketika semua orang memandang, di dada mayat yang bajunya masih terbuka itu nampak pula tiga titik baru di dekat tiga titik yang lama.
Akan tetapi kalau tiga titik yang lama itu dikelilingi warna kehitaman pada tltik-tltik yang baru itu nampak jelas betapa kulit dan daging yang tertembus jarum itu mencair seperti terbakar!
Tentu saja semua orang terkejut bukan main.
"Ahhh .....
jarum-jarummu mengandung racun yang lebih dahsyat lagi, Cu-lihiap!" seru ketua itu.
Sui In tersenyum dingin.
"Ini hanya untuk membuktikan bahwa aku bukan pembunuh anak buahmu, pangcu.
Dan sekarang, sebelum bicara lebih lanjut, aku ingin sekali mengetahui bagaimana pertanggungan jawabanmu kalau ada anak buahmu yang begini menjemukan, melakukan kekerasan ketika mengemis, dan mengganggu wanita, mengandalkan kepandaiannya yang masih amat dangkal itu!" Wajah Souw Kiat berubah kemerahan.
Ucapan itu walaupun lembut, namun sungguh tajam seperti pedang menusuk ulu hatinya.
Sinar matanya menjadi keras dan marah ketika dia memandang ke sekeliling, ke arah para pembantunya.
"Kalian semua lihat baik-baik, anak buah siapa jahanam yang membikin malu nama Hek I Kai-pang ini!" Duapuluh empat orang ketua cabang itu segera menghampiri mayat dan melakukan pemeriksaan dengan teliti.
Akan tetapi, satu demi satu mereka mundur lagi dan menggelengkan kepala.
Akhirnya, duapuluh empat orangi itu semua menyangkal dan tidak ada yang mengakui mayat itu sebagai bekas anggauta mereka.
Melihat ulah itu, Lili yang nakal dan galak lalu berkata kepada sucinya, cukup keras sehingga terdengar oleh semua orang.
"Suci, pernahkah engkau mendengar ada orang berani mengakui cacat cela dan kesalahannya?
Aku sendiri belum pernah!" Sui In menjawab dengan suara dingin.
"Yang berani melakukan pengakuan seperti itu hanyalah orang-orang gagah saja, sumoi." Mendengar ini, wajah Souw Kiat menjadi semakin merah.
Matanya melotot dan dia memandang kepada dua orang wanita itu.
"Ji-wi li-hiap, bukan watak kami untuk menyangkal kesalahan yang kami lakukan.
Kalau para pembantuku ini mengatakan tidak, berarti memang tidak!
Kami bukan pengecut!
Akan tetapi kalau ji-wi tidak percaya, kamipun tidak dapat memaksa." Cu Sul In adalah seorang tokoh persilatan yang sudah banyak pengalaman dan-ia terkenal amat cerdik.
Dengan tajam matanya tadi menatap semua wajah pimpinan para pengemis ketika mereka satu demi satu memeriksa mayat itu, dan iapun mengamati wajah Hek I Kai-pangcu dengan seksama.
Ia percaya bahwa mereka memang tidak berpura-pura, dan ia teringat akan peristiwa yang terjadi di kedai itu.
Sikap pengemis baju hitam yang tewas itu terlalu menyolok, terlalu berani dan tidak sesuai dengan kepandaiannya yang tidak berapa hebat, seolah-olah dia sengaja hendak menarik perhatian dengan perbuatan dan sikapnya yang jahat dan membuat kekacauan.
Kemudian muncul pengemis baju kembang dan sepasukan penjaga keamanan yang agaknya sengaja memburukkan pengemis baju hitam.
Dan pembunuhan rahasia terhadap pengemis yang mengacau itu!
Semua itu merupakan serangkaian peristiwa yang kait mengait dan pasti ada apa-apanya.
"Pangcu, apakah Hek I Kai-pang di Lok-yang mempunyai musuh-musuh?" tiba-tiba Sui In bertanya.
Souw Kiat dan para pembantunya memandang wanita cantik itu dengan heran.
SOUW KIAT lalu menggeleng kepala.
"Sepanjang yang kami ketahui, Hek I Kai-pang tidak mempunyai musuh.
Musuh kami hanyalah orang-orang Mongol, akan tetapi setelah mereka diusir, kami tidak mempunyai musuh.
Kenapa li-hiap bertanya tentang itu ?" "Jawab sajalah," kata Sui In berwibawa.
"Bagaimana dengan Hwa I Kai-pang?
Apakah mereka bukan musuh Hek I Kai-pang?" Souw Kiat saling pandang dengan para pimpinan cabang.
"Hwa I Kai-pang?
Aih, lihiap, Hwa I Kai-pang adalah segolongan dengan kami.
Mereka adalah rekan-rekan kami dan Hwa I Kai-pang adalah perkumpulan yang menguasai daerah timur, sedangkan kami menguasai daerah barat.
Batasnya justeru di Lok-yang ini, maka di kota ini terdapat anggauta-anggauta kedua perkumpulan.
Akan tetapi di antara kami tidak pernah ada permusuhan." "Hemm, kulihat tadi sikap pengemis baju kembang itu tidak bersahabat terhadap pengemis baju hitam.
Bahkan dia memburukkan Hek I Kai-pang di depan umum dan di depan perwira yang memimpin pasukan penjaga keamanan." Sui In mendesak.
Souw Kiat mengerutkan alisnya.
"Hemmm, terus terang saja, lihiap, memang ada persaingan di antara kami, maklum karena Lok-yang merupakan perbatasan.
Kami sama-sama ingin agar hubungan kami lebih dekat dengan para penguasa, dan mendapat nama baik di kota sehingga banyak hartawan suka menderma kepada kami.
Hanya persaingan, akan tetapi bukan permusuhan, tidak pernah terjadi bentrokan ...." dia berhenti dan mengamati wajah cantik itu.
"Akan tetapi kenapakah, lihiap?" "Orang ini bukan anggauta Hek I Kai-pang akan tetapi dia memakai pakaian Hek I Kai-pang dan mengaku anggauta.
Dia bersikap jahat dan membuat kekacauan di tempat umum yang ramai.
Kemudian, dia dibunuh secara rahasia dan kebetulan sekali di sana muncul pasukan penjaga keamanan yang menyaksikan kejahatan yang dilakukan anggauta Hek I Kai-pang, diperkuat oleh pengakuan semua orang yang berada di sana.
Nah, kalau orang ini benar bukan anggauta Hek I Kai-pang, kemungkinannya hanya satu, yaitu bahwa orang ini palsu sengaja dibayar oleh pihak yang ingin memburukkan nama Hek I Kai-pang, lalu membunuhnya agar dia tidak membocorkan rahasia itu." "Ahhh ....." Souw Kiat dan para pembantunya berseru kaget dan penasaran.
"Tapi ......
tapi ......." "Souw pangcu, ceritakan, apakah di antara Hek I Kai-pang dan Hwa I Kai-pang terjadi perebutan sesuatu?
Sekarang atau dalam waktu dekat ini?" Souw Kiat mengerutkan alisnya.
"Tidak ada perebutan sesuatu atau .....
ah, mungkinkah?
Dalam waktu dekat ini, sebulan lagi, seluruh kai-pang di empat penjuru memang sedang direncanakan mengadakan pertemuan besar dan kami semua sudah sepakat untuk mengangkat atau menunjuK seseorang untuk menjadi pemimpin besar kai-pang yang menjadi atasan atau penasihat dari semua ketua empat kai-pang terbesar di empat penjuru.
Tapi ..........
" "Souw-pangcu, ceritakan kepadaku tentang semua itu, tentang keadaan semua kai-pang dan apa yang akan dibicarakan dalam pertemuan itu, dan siapa pula sekarang yang menjadi pemimpin besar kai-pang." Kini ketua Hek I Kai-pang mengubah sikapnya dan menatap tajam wajah Sui In.
Kemudian, terdengar suaranya yang tegas.
"Maaf, Cu-lihiap.
Semua itu adalah urusan pribadi kai-pang, tidak ada sangkut-pautnya dengan lihiap.
Kami tidak boleh bicara tentang urusan dalam kai-pang kepada orang luar.
Dan pula, untuk apa lihiap hendak mengetahui semua itu?
Tidak ada manfaatnya bagi lihiap." "Souw-pangcu.
Ketahuilah bahwa aku telah mengambil keputusan untuk mendapat dukungan Hek I Kai-pang, bahkan mewakili Hek I Kai-pang dalam pemilihan pemimpin besar kai-pang nanti." Tentu saja ketua itu terkejut, dan para pembantunya juga memandang heran dan kaget.
"Ah, apa maksud lihiap?
Bagaimana mungkin lihiap sebagai orang luar dapat mewakili perkumpulan kami?
Dan dukungan apa yang dapat kami berikan kepada lihiap?" "Tentu saja mungkin kalau memang engkau sebagai ketua Hek I Kai-pang menyetujui, pangcu.
Aku dan sumoiku dapat saja menjadi anggauta rombongan Hek I Kai-pang dalam pertemuan rapat besar itu.
Adapun dukungan yang kuminta itu agar Hek I Kai-pang mendukung dipilihnya calon yang akan kuajukan dalam rapat itu, yaitu calon pemimpin besar kai-pang!" Souw Kiat bangkit dari tempat duduknya, alisnya berkerut dan mukanya berubah merah.
Juga para pembantunya banyak yang bangkit dan memandang kepada dua orang wanita itu dengan marah.
"Cu-lihiap, permintaanmu itu sungguh tidak mungkin!
Pemimpin besar kai-pang kelak akan mewakili kai-pang untuk mengadakan pemilihan beng-cu di dunia persilatan!
Bagaimana seorang yang bukan pangemis dapat menjadi calon pemimpin besar kai-pang?
Dan juga lihiap tidak berhak untuk mencampuri urusan kai-pang!" Sui In tersenyum dingin dan memandang kepada ketua itu dengan sinar mata tajam.
"Souw Kiat, mengapa orang seperti engkau dapat diangkat menjadi ketua Hek I Kai-pang?
Tentu karena di antara semua tokoh Hek I Kai-pang, engkau yang paling lihai bukan?" Souw-pangcu memandang tak senang.
"Kalau benar begitu, apa hubungannya denganmu?" Sui In bangkit dengan tenang.
"Kalau begitu, aku akan merebut kedudukan ketua Hek I Kai-pang dari tanganmu dengan mengalahkanmu!
Kalau aku yang menjadi ketua, tentu aku akan dapat mencalonkan pilihanku itu untuk menjadi pemimpin besar kai-pang." Semua orang menjadi gaduh dan bicara sendiri-sendiri mendengar ucapan wanita cantik yang mereka anggap keterlaluan itu.
Souw-pangcu marah bukan main, ak