Halo!

Si Pedang Tumpul Chapter 34

Memuat...

eja depan tiga orang itu yang menjadi terkejut sekali.

Pria yang tertua itu berkata.

"Engkau tidak mau diberi sebegitu?

Lalu, berapa yang kauminta?" Pengemis itu menggapai ke arah pelayan yang kebetulan berada di dekat situ, lalu dia bertanya.

"Coba hitung, berapa harga semua hidangan tiga orang ini." Pelayan itu memandang heran.

Benarkah pengemis ini hendak membayar makanan tiga orang itu maka menanyakan harganya?

Dia menghitung-hitungkan lalu berkata.

"Semua sekeping uang perak," jawabnya.

Pengemis itu lalu menjulurkan tangannya ke arah tiga orang tamu itu.

"Nah, berikan sekeping perak kepadaku!" Tiga orang itu saling pandang dengan mata terbelalak.

Mana ada pengemis minta sedekah sebanyak harga makanan mereka bertiga?

Dengan paksaan pula!

Dan pelayan itupun kini mengerti bahwa pengemis baju hitam ini mencari gara-gara.

Pada waktu itu.

keadaan kota Lok-yang aman dan hampir tidak pernah ada gangguan kejahatan.

Hal ini membuat pelayan itupun berani menentang, merasa bahwa ada pasukan keamanan di Lok-yang.

"Bung, harap jangan memaksa dan membuat ribut di kedai ini, jangan mengganggu tamu kami." bujuknya.

Pengemis baju hitam itu menoleh.

memandang kepada pelayan itu, lain tangannya meraih ujung meja, mencengkeramnya dan ujung meja dari kayu keras itu remuk dalam cengkeraman si pengemis!

"Apakah kepalamu lebih keras dari pada kayu meja ini?" katanya lirih namun penuh seram.

Pelayan itu mundur dengan muka pucat, dan tiga orang tamu juga menjadi pucat.

Tamu tertua segera mengambil sekeping perak dan menyerahkannya kepada pengemis itu.

Tanpa bicara lagi, pengemis itu menerima uang sekeping perak, lalu meninggalkan meja itu.

Ketika dia memandang kepada Sui In dan Bwe Li, matanya terbelalak dan mulut yang tadinya kaku dan kejam itu menyeringai, matanya bersinar secara kurang ajar.

Dia kini menghampiri meja Sui In dan Bwe Li.

Agaknya sikap pengemis muda itu semakin berani ketika dia melihat wanita cantik yang lebih tua memandang kepadanya dengan tenang dan tidak malu-malu, sedangkan gadis yang manis itu bahkan memandang kepadanya sambil tersenyum-senyum!

"Aih, nona-nona yang cantik manis seperti bidadari kahyangan, berilah sedekah kepadaku, kudoakan semoga kalian semakin cantik dan semakin menggairahkan!" kata pengemis itu.

Sikap dan suaranya sama sekali bukan lagi seperti seorang pengemis yang minta-minta, melainkan seperti seorang laki-laki mata keranjang menggoda wanita.

Sui In tidak sudi melayani orang itu dan melanjutkan makan dan seolah-olah pengemis itu hanya seekor lalat saja.

Akan tetapi Bwe Li yang diam-diam menjadi marah karena pengemis itu berani mengeluarkan ucapan kurang ajar terhadap ia dan sucinya, bertanya.

"Hemm apa yang kau minta, pengemis?" Kalau tadi pengemis itu memperlihatkan kekerasan dan paksaan ketika minta kepada tiga orang tamu, Sui In dan Bwe Li hanya memandang saja dan sama sekali tidak perduli.

Mereka tidak ingin mencampuri urusan orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.

Akan tetapi sekarang, pengemis itu langsung mengganggu mereka!

Pengemis itu tersenyum semakin lebar dan matanya bermain dengan kedipan penuh arti.

"Perhiasan di rambut enci itu indah sekali, berikan kepadaku sebagai sedekah." Katanya sambil memandang kepada perhiasan burung hong dan teratai terbuat dari emas permata di rambut Sui In.

Bwe Li mendongkol bukan main.

Perhiasan sucinya itu adalah sebuah benda yang amat mahal harganya, apa lagi itu pemberian suhunya dan menurut sucinya, benda itu dahulu pernah menjadi perhiasan rambut seorang puteri kaisar Jenghis Khan dari Kerajaan Mongol.

Maka, selain mahal, juga benda itu merupakan benda pusaka yang tak ternilai harganya, dan kini seorang jembel minta benda ini begitu saja sebagai sedekah!

Ingin Bwe Li tertawa karena menganggap hal ini amat lucu.

Ia melirik kepada sucinya yang masih tenang dan enak-enak makan saja, maka ia tahu bahwa sucinya tidak sudi melayani pengemis itu.

"Kalau tidak kami berikan, lalu kau mau apa?" tanya Bwe Li, mengira bahwa pengemis itu tentu akan menjual lagak lagi dengan mempertontonkan kekuatan tangannya mencengkeram hancur ujung meja.

Akan tetapi, sekali ini pengemis itu agaknya tidak ingin menunjukkan kehebatannya.

Dia mendekatkan mukanya kepada Bwe Li dan berkata lirih, "Kalau tidak kalian berikan, boleh sebagai gantinya engkau ikut dengan aku dan melayaniku semalam ini, nona manis." Bwe Li terbelalak.

Mukanya berubah merah dan terasa panas bukan main.

Akan tetapi hanya sebentar.

Ia sudah menerima gemblengan seorang datuk besar seperti See-thian Coa-ong, maka tentu saja la sudah dapat menguasai perasaannya.

"Haii, kalian lihat ada monyet menari-nari!" teriaknya dan tiba-tiba saja tangannya sudah menggerakkan sisa kuah yang berada di mangkoknya.

Kuah itu mengandung saos tomat dan bubuk merica yang pedas.

Demikian cepatnya gerakan tangan Bwe Li sehingga sama sekali tidak disangka oleh si pengemis dan dia tidak sempat mengelak.

Kuah dengan sambalnya itu tepat mengenai mukanya, memasuki hidung dan matanya.

Dan seketika pengemis baju hitam itu berjingkrak-jingkrak seperti monyet menari-nari, persis seperti yang diteriakkan Bwe Li atau Lili tadi!

Semua orang menengok dan terdengar ada yang tertawa, terutama sekali tiga orang yang tadi kena diperas sekeping perak oleh si pengemis.

Hanya orang yang pernah terkena merica pada mata dan hidungnya yang dapat menceritakan bagaimana rasanya.

Pengemis itu berjingkrak-jingkrak, menggosok mata dan hidungnya, megap-megap seperti ikan dilempar ke darat, lalu berbangkis-bangkis dengan air mata bercucuran.

Makin digosok, makin pedas rasa matanya dan makin hebat "tangisnya".

Saking nyeri, pedih dan panasnya, dia membuat gerakan seperti monyet menari-nari, berlenggang-lenggok dengan kaki naik-turun, tubuh berputar-putar dan kedua lengan membuat gerakan yang lucu dan aneh-aneh.

Akhirnya, dibawah suara tawa para penonton, pengemis itu dapat membuka matanya yang menjadi merah, juga semua merica agaknya sudah keluar melalui bangkis-bangkis tadi, akan tetapi alr matanya masih bercucuran dari kedua mata yang masih terasa panas dan pedas!

Dia memandang kepada Lili dengan mata mendelik, walaupun harus sering berkedip menahan pedas!.

Lili dan Sui In masih melanjutkan makan, bahkan Sui In sudah selesai dan Lili juga sudah hampir selesai.

Pengemis itu mengeluarkan suara menggereng seperti seekor harimau marah dan para penonton sudah tidak berani tertawa lagi, dan kini memandang dengan hati tegang.

Apa lagi mereka yang tadi melihat betapa kuat tangan pengemis itu menghancurkan ujung meja.

Mereka mengkhawatirkan nasib dua orang wanita cantik itu.

Mendengar suara gerengan itu, Lili menoleh memandang.

"Ih, anjlng geladak ini sungpuh tak tahu aturanl" kata Lili sambil tersenyum mengejek.

"Sudah diberi kuah, masih tidak puas dan menggereng-gereng minta lagi.

Cepat pergilah dari sini, memualkan perut dan mengurangi selera makan saja.

Kau bau!" Dapat dibayangkan betapa marahnya pengemis baju hitam itu.

Dia menggereng lagi dan dengan kedua lengan dikembangkan, kedua tangan terbuka, dia menubruk ke arah Lili, hendak menangkap wanita itu.

Lili tidak bangkit dari duduknya, hanya kakinya mencuat dengan kecepatan kilat ketika tubuh orang itu sudah dekat dan kedua tangan itu sudah hampir menyentuh pundaknya.

"Ngekkkl" Ujung sepatu itu tepat memasuki perut di bawah ulu hati dan tubuh si pengemis baju hitam terjengkang, dan pantatnya terbanting keras ke atas tanah.

Sejenak dia hanya mampu bangkit duduk, tangan kiri menekan perut yang seketika terasa mulas, dan tangan kanan meraba-raba pantat yang nyeri karena ketika terbanting tadi, pantatnya menjatuhi sebuah batu sebesar kepalan tangan.

Dia menyeringai, akan tetapi seringainya tidak seperti tadi ketika dia menggoda dua orang wanita itu.

Dia menyeringai kesakitan, akan tetapi juga bercampur kemarahan.

Orang yang biasa mengagulkan diri sendirl memang tidak tahu diri, selalu meremehkan orang lain sehingga pelajaran yang diterimanya tadi tidak cukup membuat dia sadar, bahkan membuat dia semakin marah dan penasaran.

"Keparat, kubunuh kau ......!" bentaknya dan kini tangannya sudah memegang sebatang golok kecil yang tadi disembunyikan di bawah bajunya.

Akan tetapi pada saat itu, nampak sinar menyambar dari samping, ke arah muka pengemis itu.

"Crottt ......

aughhhh .....!" Pengemis itu terpelanting, goloknya terlepas dan kedua tangannya meraba mukanya dengan mata terbelalak.

Sebatang sumpit bambu telah menembus muka dari pipi kanan ke pipi kiri!

Sumpit itu memasuki kulit pipi, menembus geraham kanan sampai keluar dari kulit pipi yang lain sehingga muka itu seperti disate!

"Suci .....!" kata Lili memandang sucinya.

"Aku mendahului, agar engkau tidak membunuhnya.

Kita butuh keterangan darinya ........." Tiba-tiba dua orang wanita itu terkejut mendengar pengemis itu mengeluarkan suara aneh.

Ketika mereka memandang, tubuh pengemis itu berkelojotan dalam sekarat.

Tentu saja Sui In kaget.

Ia tadi menyerang dengan sambitan sumpit tidak dengan niat membunuh dan ia yakin bahwa orang itu hanya terluka dan tidak akan mati.

Kenapa kini tahu-tahu orang itu berkelojotan sekarat?

Tentu ada penyerang lain, pikirnya.

Akan tetapi pada saat itu, muncul dua orang pengemis berpakaian hitam.

Mereka adalah orang-orang yang berusia kurang lebih limapuluh tahun, sikap mereka berwibawa dan gerakan mereka ringan karena tahu-tahu mereka telah berkelebat dan muncul di situ.

Mereka memandang ke arah tubuh pengemis yang berkelonjotan, lalu mereka menghadapi Cu Sui In dan Tang Bwe Li, mengamati dua orang wanita itu sejenak, kemudian mereka menghampiri meja dua orang wanita itu.

"Siapakah di antara ji-wi (anda berdua) yang merobohkan dia?" tanya seorang di antara mereka yang tubuhnya tinggi kurus sambil menuding ke arah tubuh pengemis yang masih berkelonjotan.

"Aku yang melukainya dengan sumpit," kata Sui In tenang dan suaranya acuh saja seolah-olah tidak ada sesuatu yang perlu diributkan.

Lili yang galak segera berkata pula.

Post a Comment